Luar Biasa, Stunting di Distrik Wania Turun Hingga 50 Persen

Asisten I Yulianus menyerahkan bantuan makanan dan vitamin kepada ibu dan anak
MIMIKA, BM
Guna mencegah stunting Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Mimika memberikan bantuan berupa makanan, multivitamin dan obat-obatan untuk ibu hamil dan anak-anak.
Tidak hanya itu, bantuan berupa buku-buku membaca, alat peraga bermain berupa puzzle dan seluncuran juga diberikan kepada Paud di Kampung Nawaripi.
Hal tersebut dikemas dalam kegiatan penguatan jejaring antar lembaga penyedia layanan perlindungan perempuan yang berlangsung di Kampung Nawaripi, Selasa (31/8).
Asisten I Bidang Pemerintahan Setda Mimika, Yulianus Sasarari mengatakan, stunting adalah gagal tumbuh pada anak usia dibawah 5 tahun (Balita) akibat kekurangan gizi kronis intensi berulang dan stimulasi psikososial yang tidak memadai terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan yaitu dari janin hingga berusia 2 tahun.
Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar tahun 2018 menunjukkan penurunan prevalensi stunting balita di tingkat nasional sebesar ar-rum, 4 persen selama periode 5 tahun yaitu dari 37,2 persen tahun 2013 menjadi 30,8 persen tahun 2018.
"Strategi nasional percepatan pencegahan anak kerdil atau stunting tujuannya agar mempercepat pencegahan stunting dalam kerangka kebijakan dan institusi yang ada," ujarnya.
Menurutnya ha ini telah tertuang dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional tahun 2000 sampai 2024 yang menetapkan target penurunan prevalensi stunting sebesar 14 persen pada tahun 2024," tutur Yulianus.
Harapan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika melalui DP3AP2KB tahun ini adalah melakukan kegiatan penguatan jenjang antar lembaga penyedia layanan perlindungan perempuan khususnya pembagian vitamin dan makanan tambahan kepada anak balita yang mengalami stunting dan ibu hamil
"Semoga dengan bantuan ini dapat membantu penurunan angka stunting di Kabupaten Mimika secara khusus di Distrik Wania," ungkapnya.
Sementara, Kepala DP3AP2KB Maria Rettob mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk menuntaskan stunting. Hal ini ni juga berkaitan dengan instruksi Presiden RI untuk menurunkan stunting.
"Sehingga dengan Dinas Kesehatan kami bersama-sama memberantas kasus stunting dengan memberikan makanan tambahan dan memberikan vitamin untuk tumbuh kembang anak. Kegiatan ini bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK)," tutur Maria.
Maria mengatakan, bahwa stunting ini untuk anak yang hanya dari kandungan, sehingga diberikan vitamin kepada ibu hamil untuk anak-anak didalam kandungan sehat.
Katanya, kegiatan ini sudah setiap tahun dilaksanakan. Bahkan di kampung-kampung daerah pesisir dan pedalaman juga dilakukan hal yang serupa.
"Kami mulai fokus dulu di kampung terdekat dulu yaitu wilayah Distrik Wania. Karena kebetulan Distrik Wania adalah salah satu locus stunting yang ada di Kampung Nawaripi dan Kamoro Jaya," ujarnya.
Untuk Mimika, stunting tertinggi ada di Kampung Nawaripi dan Kamoro Jaya, sehingga fokus di wilayah Distrik Wania khususnya Kampung Nawaripi. Setelah itu, program ini akan menyasar di kampung-kampung lain guna pencegahan stunting.
Pada tahun 2020 jumlah stunting di Distrik Wania sebanyak 86 dan di tahun 2021 mengalami penurunan menjadi 40 kasus dan sekarang mengalami penurunan menjadi hanya 36 kasus.
"Yah mudah-mudahan kita menekan terus karena ini tidak bisa langsung, tidak semudah membalik telapak tangan langsung selesai, ini butuh waktu dan proses. Bahkan, ini bukan hanya pemerintah daerah tapi kita harapkan semua pihak masyarakat kita sama-sama menurunkan stunting ini," kata Maria.
Selanjutnya, Kepala Kampung Nawaripi, Norman Ditubun mengatakan, sebenarnya yang harus hadir sesuai data stunting Kampung Nawarpi untuk tahun 2021 ini 40 orang yang kena dampak stunting namun karena pertimbangan pandemi sehingga hanya 2 orang yang diutus mewakili.
"Nawaripi ini termasuk penanganan stunting yang bagus. Tahun lalu itu 86 orang stunting dan tahun 2021 ini sudah turun jadi 40, berarti ini termasuk kerja keras pustu, Puskesmas Wania dan aparat kampung yang bekerja keras sampai kita bisa memangkas dari 86 turun menjadi 40 orang," tutur Norman.
Ia menganggap itu suatu keberhasilan karena tinggal menyisahkan setengahnya. Lebih lanjut, stunting ini juga merupakan tanggungjawab pemerintah kampung namun pihaknya tidak bisa berjalan sendiri karena masalah stunting ini berhubungan dengan SDM.
"Kalau SDM bagus yah baru kita bisa tahu kalau kawin umur 16 tahun maka sudah bertentangan dengan ilmu Kesehatan. Kenapa begitu karena SDMnya. Jujur bahwa SDM kami disini masih rendah," ujarnya.
Nor juga mengucapkan terima kasih kepada Kepala Puskesmas Wania yang mana telah membantu pemerintahan kampung untuk penanganan stunting dengan cepat.
"Terima kasih juga kepada bupati, kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan karena telah memilih Nawaripi. Saya berterima kasih banyak karena sudah ada perhatian dari pemerintah daerah," ungkapnya. (Shanty)



