Kesehatan

RSUD Paparkan 10 Besar Penyakit Rajal dan Ranap Sepanjang 2021

Direktur RSUD Mimika, dr Anton Pasulu

MIMIKA, BM

Pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Mimika melaporkan jumlah 10 kasus Rawat Jalan (Rajal) dan Rawat Inap (Ranap) terbanyak sepanjang 2021.

Kepada BeritaMimika melalui pesan whatssap, Direktur RSUD Anton Pasulu mengatakan Covid-19 dan malaria merupakan dua kasus yang mendominasi untuk Rajal maupun Ranap.

Untuk 10 kasus Rajal, urutan pertama dinominasi Covid-19, disusul malaria tersiana, malaria tropika, dyspepsia, common cold, gastroenteritis akut, infekso saluran kemih, pneumonia, hypertensi essensial dan ke-10 adalah asma bronkial.

10 kasus Ranap tertinggi untuk urutan pertama juga didominasi kasus Covid-19 disusul pneumonia, gastroenteritis akut, malaria troika, infeksi saluran kemih, malaria tersiana, bronchopneumonia, TB paru BTA, appendisitis dengan edheison dan appendisitis akut.

"Untuk rawat jalan dan rawat inap kasus terbanyak adalah Covid-19. Begitu juga kasus malaria masih menjadi bagian dari 10 kasus terbanyak di RSUd sepanjang 2021 disusul pilek, infeksi paru, infeksi saluran kemih, infeksi saluran pencernaan dan hipertensi," ungkapnya.

Sementara itu untuk kasus Covid-19 secara keseluruhan di RSUD, dr Anton sebelumnya telah menyampaikan bahwa jumlah kasus Covid-19 di RSUD sepanjang 2021 berjumlah 2.344 pasien positif, 2.255 pasien sembuh dan 89 meninggal dunia.

"Kita bersyukur karena sejak tanggal 19 Desember 2021 sudah tidak ada pasien covid yang dirawat di RSUD begitu juga sampel PCR yang diperiksa positivity rate 0 persen atau tidak ditemukan sampel yang positif. Ini berkat kerja keras dari kita semua untuk melawan dan menekan penularan Covid-19 di Mimika," katanya. (Ronald)

Awal Tahun 2022, Covid-19 di Mimika Tercatat Zero Case! Bukti Sebuah Keberhasilan

Reynold Ubra, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika

MIMIKA, BM

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika, Reynold R Ubra mengatakan, bahwa kabupaten ini berhasil menekan angka kasus covid-19 yang beberapa tahun terakhir ini melanda dunia termasuk Mimika.

Diketahui, awal Januari 2022 ada 109 spesimen yang diperiksa. Namun data per 2 Januari 2022, tercatat 0 atau zero case.

"Zro case covid-19 di Mimika merupakan gambaran pola yang sama seperti daerah lainnya di Indonesia. Jadi bukan hanya di Mimika saja," Kata Kadinkes Mimika, Reynold Ubra saat dikonfirmasi, Selasa (4/1).

Reynold mengakui, penurunan kasus covid-19 telah terjadi sejak pertengahan Desember 2021 lalu. Hal tersebut dikarenakan penerapan protokol kesehatan dan vaksinasi yang konsisten merupakan salah satu kunci keberhasilan zero case.

Secara kumulatif menurut laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika per 2 Januari 2022, jumlah kumulatif kasus positif covid-19 di Mimika sebanyak 9.727.

Jumlah pasien isolasi sebanyak 9.534, jumlah pasien yang meninggal sebanyak 193 dan jumlah spesimen yang telah diperiksa sebanyak 110.270

Hal serupa juga dibenarkan oleh Direktur RSUD Mimika, dr. Antonius Pasulu bahwa di Mimika sudah beberapa waktu mengalami masa zero Cases covid-19.

"Sejak tanggal 19 desember 2021 sudah tidak ada pasien covid yang dirawat di RSUD begitu juga sampel PCR yang diperiksa positivity rate 0 persen atau tidak ditemukan sampel yang positif," katanya.

Meski demikian, diharapkan kepada masyarakat agar tidak lengah dan terus menerapkan protokol kesehatan yang ketat, jangan kendor dengan penerapan prokes yang selama ini dilakukan.

"Kami harap masyarakat jangan senang jika kasus covid sudah menurun. Tetap kita harus antisipasi timbulnya virus-virus lain lagi atau pun juga kasus covidnya," Harapnya.

Dokter Anton mengatakan, secara kumulatif pasien covid-19 yang di rawat di RSUD Mimika sepanjang tahun 2021 sebanyak 2344 pasien positif, 2255 pasien sembuh, dan 89 meninggal dunia. (Shanty

 

Hampir 100 Persen Karyawan Freeport Indonesia Sudah Divaksin


Direktur PTFI Claus Wamafma

MIMIKA, BM

Direktur PT Freeport Indonesia Claus Wamafma menyebut perusahaan pertambangan yang beroperasi di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua itu telah menyuntik vaksin COVID-19 pada 90 persen karyawan dan keluarga mereka yang tinggal di area perusahaan yang diperkirakan berjumlah lebih dari 20.000 orang.

"Perkembangan terakhir program vaksinasi COVID-19 di Freeport sudah mencapai 90 persen. Ini sesuatu yang menggembirakan sehingga kami mempunyai kepercayaan diri yang cukup untuk mulai membuka secara bertahap fasilitas umum di area perusahaan," kata Claus di Timika, Jumat.

Menurut dia, pandemi COVID-19 yang juga melanda hingga ke area PT Freeport Indonesia baik di kawasan dataran tinggi Tembagapura dan sekitarnya maupun di kawasan dataran rendah yaitu Kuala Kencana, Pelabuhan Portsite Amamapare dan sekitarnya sejak April 2020 hingga saat ini menjadi tantangan paling serius yang dihadapi perusahaan tersebut.

Namun dengan penanganan yang sangat baik, katanya, kini kasus COVID-19 di area Freeport telah menurun sangat drastis, bahkan temuan kasus baru sangat sedikit.

"Kalau COVID-19 bisa kita kontrol secara baik maka tentu karyawan bisa bekerja tanpa rasa takut dan produksi bisa terjaga. Pada akhirnya semua pemangku kepentingan tentu bisa merasakan dampak dari operasi perusahaan," ujar Claus.

Sejak beberapa waktu lalu, manajemen PT Freeport Indonesia secara bertahap sudah mulai membuka kembali fasilitas umum di area perusahaan seperti tempat ibadah yaitu gereja dan masjid sudah bisa dihadiri penuh oleh umat yang beribadah dengan penegakan protokol kesehatan, fasilitas gym, restoran dan lainnya.

Adapun aktivitas persekolahan di YPJ Kuala Kencana dan YPJ Tembagapura kini dibuka terbatas dua hari untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka, sementara tiga hari lainnya menggelar pembelajaran dengan sistem daring.

Demikian pun dengan jadwal libur kerja mingguan karyawan (shift day off/SDO) menggunakan bus dari Tembagapura ke Timika kini sudah dibuka kembali, meskipun belum normal seperti kondisi sebelum pandemi COVID-19.

"Semua masih dalam kajian secara bertahap. Kita akan melihat semua, tentu menjadi kerinduan semua karyawan dan keluarga agar semua pelayanan bisa kembali normal seperti sebelumnya," ujarnya.

Claus menyebut puncak penularan COVID-19 tertinggi di area Freeport terjadi pada periode akir Juni hingga awal September lalu.

"Periode Juni sampai Agustus itu yang benar-benar mengkhawatirkan. Angka kasus COVID-19 di area perusahaan sangat tinggi, kita juga dihadapkan dengan kelangkaan oksigen medis, keterbatasan peralatan medis dan lainnya," jelasnya.

Selama dilanda pandemi COVID-19, jumlah karyawan PT Freeport dan perusahaan subkontraktornya yang meninggal dunia sekitar 15 orang. (Red)

Top