Warga Jangan Panik, Itu Simulasi Pencegahan Covid-19 di Mimika

Simulasi mengantar pasien corona ke RSUD

MIMIKA, BM

Beredar video dan foto di media sosial baik facebook maupun whatssap bahwa ada warga Mimika yang sudah terkontaminasi Covid-19 sehingga di rujuk ke RSUD, sempat membuat panik masyarakat Mimika.

Pasalnya walau penyebaran video dan foto-foto tersebut di media sosial tujuannya baik untuk mengingatkan warga tentang bahaya virus ini, namun sayangnya kurang disertai dengan keterangan dan penjelasan (caption) yang benar bahwa kegiatan tersebut merupakan simulasi pencegahan Covid-19.

Menyikapi hal ini, Ketua Tim Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 di Mimika, Marthen Paiding mengingatkan warga Mimika agar jangan panik.

“Itu simulasi atau sosialisasi tentang bagaimana pencegahan dan penanganan pasien covid yang dilakukan oleh Tim Gugus Tugas. Warga jangan panik, tetap ikuti istruksi pemerintah karena apa yang saat ini kita lakukan adalah untuk melindungi kita semua dan Mimika dari virus ini,” ujarnya melalui telepon.

Ketua Tim, Marthen Paiding juga meminta dukungan media di Mimika agar berperan aktif mendukung pemerintah dengan mengabarkan segala hal yang berhubungan dengan pencegahan virus ini agar dipahami warga Mimika.

Sebelumnya, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Mimika melalui tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 melaksanakan program simulasi, pada Sabtu (27/03).

Simulasi ini dilakukan dalam dua tahap yakni, tahap pasien Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP).

Simulasi dimulai dengan rekayasa korban dengan gejala Covid-19 yang ditangani pertama kali oleh tim medis Puskesmas Timika Jaya.

Setelah pemeriksaan, pasien yang terindikasi sebagai Orang Dalam Pemantauan (ODP) akan diisolasi di Wisma Atlet SP II sementara pasien PDP langsung di bawah ke RSUD.

Dalam simulasi ini juga ditunjukan bahwa jika pasien meninggal dunia maka pihak RSUd langsung menyerahkan ke dinas sosial untuk melakukan pemakaman.

Ketua Harian Tim Gugus Tugas, Yosias Losu mengatakan simulasi dilakukan agar Mimika memiliki kesiapan dan kesiagaan dalam menghadapi kasus ini.

“Supaya kita tahu apa yang harus disiapkan dan dilakukan. Jadi saat sampel di kirim ke Jayapura kita sudah siap bahkan sampai pasien meninggal dunia,"ungkapnya.

Sementara Asisten 3 Setda Mimika, Nicolas Kuahaty menambahkan, simulasi ini tujuannya untuk mendapat satu model yang bisa diterapkan ketika terjadi kondisi yang sesungguhnya.

Ia menjelaskan dalam simulasi ini ada tiga kasus yakni pasien yang dikategorikan ODP kemudian di bahwa ke rumah rusun yang merupakan homebase isolasi, pasien PDP dilarikan di RSUd dan satu pasien yang meninggal diberikan penanganan kepada dinas sosial.

"Wisma ini ada 42 kamar. 1 kamar ada 3 tempat tidur jadi asumsi kita diatas 100 orang bisa tapi kalau kita mengamankan 1 kamar hanya untuk 1 orang berarti wisma hanya untuk 42 orang saja,"tuturnya.

Menurutnya, fasilitas di wisma ini sudah cukup memadai, pemerintah sedang mengupayakan agar standar minimalnya setara hotel bintang 3.

Secara teknis dalam simulasi ini, ada seorang pasien dengan status datang melakukan pemeriksaan di puskesmas. Ia memiliki riwayat dari luar daerah. Setelah dilakukan perekaman medic sesuai PSC 119, maka akan diputuskan pasien ini ada dalam kategori ODP atau PDP.

“Kalau ODP akan di dorong ke wisma, artinya ODP itu tidak berarti bahwa orang itu sakit hanya saja dia dari daerah yang terinfeksi atau terjangkit sehingga untuk melokalisir dia maka di bawa ke wisma,"ujarnya.

Katanya, Jika ODP ini melakukan pemeriksaan di klinik swasta maka berdasarkan riwayatnya tim kesehatan di klinik akan akan menghubungi PSC 119.

"Ini langsung di bawah kendali tim gugus tugas. Di wisma ini juga ada tim medis. Simulasi ini terdiri dari penanggungjawab BPBD, PsC 119, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Perhubungan, Dinas Kominfo, Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman dan pengamanan dari Satlantas Polres Mimika,” jelas Kuahaty. (Shanty

Top