Ribuan Tablet Obat Malaria Biru Tersedia di Mimika, Bertahan Hingga Desember 

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra

MIMIKA, BM

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra mengatakan saat ini stok obat Malaria jenis obat Dehidro Artemisinin Piperaquine (DHP) Frimal atau obat biru di Mimika diperkirakan bisa bertahan hingga Desember 2025.

Sebab saat ini Kabupaten Mimika telah mendapatkan penambahan stok obat malaria biru sebanyak 35 ribu tablet dan akan dikirim lagi.

"Obat malaria sudah ada, di akhir Juni itu kami sudah dapat pengiriman dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah," kata Reynold saat ditemui, Senin (7/7/2025).

Sebelumnya, di Mimika mengalami kekosongan obat biru sejak Maret 2025 lalu. Oleh karena itu, Kemenkes menyiapkan obat malaria D-arteep Dispersible berwarna putih sebagai pengganti sementara. 

Reynold menjelaskan, bahwa sebenarnya baik obat biru maupun putih itu isinya sama hanya saja dosisnya berbeda.

"Stok obat malaria atau obat biru ini cukup sampai Desember 2025. Yang kemarin kami terima sekitar 35 ribu tablet dan nanti akan dikirim lagi," ujarnya.

Lanjutnya, dalam setahun masyarakat Mimika menghabiskan obat biru sebanyak 2 juta biji atau butir. Sedangkan, stok obat biru yang didapatkan rata-rata hanya diantara 1,2 sampai 1,5 juta biji atau butir.

"Kebutuhan kita itu 2 juta, tapi yang masuk itu 1,2 sampai 1,5 biji. Namun, sebenarnya intinya adalah obat itu bukan hidup atau makanan kita melainkan kepatuhan dalam minum obat sampai habis kemudian diperiksa lagi," jelasnya.

Ia memaparkan bahwa angka malaria tinggi dikarenakan dua hal yakni pertama ketidakpatuhan orang minum obat sehingga parasit dalam tubuh kambuh kemudian ketika nyamuk menggigit bisa menyebarkan ke orang lain.

Kedua, pengendalian lingkungan menjadi kuncinya.

"Sangat sering kami menyampaikan bagaimana lingkungan tempat perindukkan nyamuk kita kendalikan vektor. Karena kita tidak mengendalikan lingkungan akhirnya DBD juga menjadi masalah, diare juga menjadi masalah," ujarnya. 

Jadi, lanjut Reynold sebenarnya kembali kepada kesadaran setiap individu. Sehingga hanya bisa dilakukan dalam 2 pendekatan saja, minum obat secara rutin, tepat dosis, selesai periksa lagi kemudian kendalikan tempat perindukkan nyamuk.

"Kita sudah perkuat pos-pos pelayanan pemeriksaan darah supaya lebih banyak lagi dan gratis lagi," pungkasnya. (Shanty Sang)

Top