Hasil Rapid Tes, 145 Orang Di Mimika Positif Virus Corona
Kumulatif kasus positif Covid-19 di Mimika, Senin (27/4)
MIMIKA, BM
Bupati Mimika Eltinus Omaleng pada siang tadi kepada wartawan mengatakan bahwa dari 300 warga Mimika yang melakukan rapid tes, 110 hasilnya positif. Namun hingga malam ini, jumlah tersebut meningkat menjadi 145 orang.
Juru Bicara Tim Pencegahan Covid-19 Mimika, Reynold Ubra mengatakan secara keseluruhan, 560 orang di Mimika sudah dilakukan pemeriksaan rapid tes.
Pemeriksaan 560 orang ini merupakan hasil tracing kontak yang dilakukan sejak 24 Maret hingga 27 April 2020 (hari ini-red) dari pasien-pasien positif Covid-19 yang di rawat.
Bahkan menurutnya jumlah ini diperkirahkan akan mengalami peningkatan karena besok dan selanjutnya akan pula dilakukan rapid tes secara berkala.
“Dari 560 orang yang dilakukan rapid tes dan positif, jumlahnya 145 orang. Hingga siang tadi itu 110 orang tapi ada penambahan dari lapangan sehingga sampai malam ini totalnya 145 orang,” jelasnya kepada media lewat confrence yang difasilitasi Diskominfo Mimika, Senin (27/4) malam.
Ia menyebutkan, secara keseluruhan banyak hasil tracing kontak mereka lakukan di Gorong-gorong, Jalan Busiri Ujung, Hasanuddin, Ki Hahar Dewantara, Jalan Patimura, Samratulangi, Nawaripi, Kampung Asmat (Puskesmas Mapurujaya) dan Puskesmas Timika.
Secara presentasi, Ubra mengatakan jumlah orang yang positif dari pemeriksaan ini adalah 25,89 persen. Jumlah kasus positif masih didominasi oleh Cluster Lembang. Dan perkirahkan rantai penularan ini belum selesai dan masih akan terjadi.
“Satu hal positif yang bisa dipantau dari hasil rapid tes ini adalah bagaimana agar fenomena gunung es ini bisa kita bongkar dan melakukan pencarian sesuai dengan hasil tracing kontak yang ada,” ungkapnya.
Dari hasil pemeriksaan, 145 warga Mimika yang terpapar Covid-19 ini diakibatkan karena adanya transmisi lokal (penularan virus secara lokal).
“Kita tahu bahwa ketika transmisi lokal terjadi maka kita semua memiliki resiko yang sama untuk terpapar. Makanya pemerintah dari awal sudah instruksikan untuk tetap tinggal di rumah, keluar gunakan masker, rutin cuci tangan, menjaga imunitas dengan istirahat yang cukup, menjaga pola makan dan olahraga yang teratur,” ujarnya.
Walau jumlahnya kini meningkat pesat menjadi 145 pasien positif namun Reynold Ubra menegaskan bahwa golden cek untuk penetapan kasus positif Covid-19 adalah pemeriksaan dengan metode Real Time Polymerase Chain Reaction (RT- PCR) atau metode PCR.
“Pemeriksaan rapid tes adalah penjaringan kasus yang dicurigasi kemungkinan terinfeksi. Oleh karena itu dari kasus 145 positif akan dikirimkan namanya ke RSUD untuk dilakukan swab,” ujarnya.
Ia mengatakan, penelusuran virus Covid-19 ini agak berdeda dan menarik. Hal ini karena ketika pasien diperiksa menggunakan rapid tes dia positif namun bisa saja pemeriksaan swab ternyata hasilnya negatif. Begitupun sebaliknya.
“Makanya pada rapid tes kami harus laporkan antibodi mana yang positif. Anti bodi yang terdeteksi yang ada dalam kaset rapid tes adalah IgG Immunoglobulin G (IgG) Immunoglobulin M (IgM). Keduanya merupakan bentuk dari antibodi atau bagian dari sistem kekebalan tubuh,” ujarnya.
Ia menjelaskan, antbodi IgG bertugas untuk melindungi tubuh dari infeksi dengan cara mengingat bakteri atau virus yang sebelumnya pernah terpapar di tubuh.
Sementara IgM adalah antibodi yang terbentuk saat pasien pertama kali terinfeksi oleh virus ataupun bakteri jenis baru. IgM sendiri merupakan garda terdepan pertahanan tubuh manusia.
“Jika dalam pemeriksaan IgM positif maka dilakukan swab dan itu menggambarkan infeksinya sedang berlangsung. Kalau swab negatif maka akan diulang lagi untuk swab kedua. Sebaliknya kalau IgG positif, kemudian dilakukan swab ternyata pasien negatif maka pasien itu negatif. Karena gambaran IgM itu infeksi yang sedang berlangsung kalau IgG adalah infeksi yang sudah selesai,” jelasnya.
Dikatakan, dari hasil pemeriksaan terhadap 145 pasien ini, hampir sebagian besar menunjukan IgG dan IGM positif. Artinya kemungkinan ada pasien yang sudah terpapar dua kali. Pasien sudah terpapar sekali kemudian sembuh namun terpapar lagi. Ini terjadi karena respon imunitas tubuh.
“Kasus rapid tes yang kami periksa sebagian besar didominiasi oleh antibodi IgG dan IgM yang positif. Namuan apapun yang positif baik IgG maupun IgM ataupun kedua-duanya positif, tetap harus dilakukan swab untuk memastikan. Hasil swab ini juga yang akan membuat kita melihat kecenderungan kasus apakah naik atau turun,” ungkapnya.
“Saya pikir lebih cepat kita menemukan kasus akan jauh lebih bagus penanganan kita dan antisipasi menyiapakn sekenario-skenario selanjutnya,” ujarnya.
Terkait penelusuran tracing kontak, dalam waktu dekat Tim Gugus Tugas melalui Dinas Kesehatan akan menentukan wilayah-wilayah sentinel yang banyak ditemukan kasus positif baik rapid tes maupun PCR.
“Disitu akan jadi gardu. Jika di situ dilakuan interevensi dan isolasi dengan cara maksimal, tidak ada pergerakan maka akan memberikan efek kepada wilayah lain dan Mimika.
“Mereka yang diisolasi ini tidak boleh keluar dan dijaga secara ketat karena kalau kita lihat Wania dan Distrik Mimika Baru merupakan wilayah industri dan jasa sehingga tarik-menarik ekonomi di dua wilayah ini terus membuat masyarakat akan bergerak untuk keluar. Ini pilihan yang harus kita lakukan ke depan,” ungkapnya. (Ronald)



