Budaya

Kerukunan Keluarga Arui Das Gelar Syukuran 1 Tahun Kepengurusan

Foto bersama Badan Pengurus KKAD dan Pastor RD Gusty Rumsory

MIMIKA, BM

Kerukunan Keluarga Arui Das (KKAD) cabang Timika menggelar syukuran satu tahun kepengurusan yang berlangsung di Nawaripi Minggu (19/10/2025) kemarin.

Syukuran diawali dengan misa yang dipimpin oleh Pastor RD. Gusti Rumsory dengan mengambil tema “Menjadi Garam dan Terang Bagi Sesama Warga”.

Ketua KKAD Timika Andreas Batfin mengatakan Arui Das sudah berkerukunan 20 hingga 30 tahun yang lalu, tetapi pada tahun 2024 baru dilantik badan kepengurusannya.

“Jadi, jangan kita berpikir bahwa Arui Das baru satu tahun. Ini adalah satu tahun badan kepengurusan KKAD,” katanya.

Lanjutnya, ia menyayangkan karena masih ada yang belum aktif dalam badan kepengurusan dan mengapresiasi mereka yang konsisten aktif.

“Oleh karena itu, bapak ibu sekali lagi terkhusus keluarga Arui Das. Lihat baik-baik moto kita “Daliem Les, Andaun Le, Yoyouk Les” pasti kita orang Tanimbar mengerti,” ucapnya.

Ia menyampaikan bahwa Daliem Les berarti selalu satu hati, sementara Andaun Les selalu satu pikiran dan Yoyouk Les berarti sejalan.

“Selama ini dalam kepengurusan kami menilai bahwa warga Arui Das sudah 100 persen hidup di tanah rantau sesuai dengan moto. Namun, terkadang juga dalam kepengurusan ada persoalan kecil,” ungkapnya.

Oleh karena itu, selaku ketua kerukunan ia menghimbau agar warga Arui Das saling bergandengan tangan hidup di tanah rantau untuk tetap Satu Hati Satu Tujuan Satu Perbuatan.

“Hari minggu kedepan saya minta seperti ini. Jangan sampai ibadah yang datang cuma 10 orang. Saya tegaskan kepada bapak ibu pengurus jangan asal nama. Sudah di sumpah tetapi tunjukkanlah rupamu karena warga Arui Das Timika mempercayakan kita untuk membawa warga kita selalu sehati dan sejiwa,” tandasnya.

Sementara itu, Max Warwuru yang Mewakili Ketua Ikatan Kerukunan Kepulauan Tanimbar (IKKT), Karel Watunwotuk mengatakan satu tahun telah berlalu untuk kepengurusan KKAD ia mengucapkan terimakasih kepada badan pengurus yang telah bekerja dengan baik.

“Satu tahun berjalan tidak ada hal-hal sifatnya merusak nama baik kita. Saya mau menghimbau kepada warga Arui Das, jangan sekali-kali ada warga kita yang tidak mau bergabung di kerukunan kita,” harapnya. (Red)

Daerah Bertuan, PTFI Diminta Libatkan Unsur Adat Dalam Pencarian 7 Karyawan yang Terjebak

Area underground PT Freeport Indonesia 

MIMIKA, BM

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Peribahasa ini mengandung arti bahwa apapun bentuknya, siapapun kita, baik itu personal maupun kelompok bahkan perusahaan sekalipun wajib menghormati, menghargai dan mengakui aturan dan adat istiadat tempat dimana ia berada.

Keadaan ini mencerminkan sebuah penghormatan lebih pada nilai-nilai kearifan lokal tempat tersebut. Bahkan hal ini diakui terkadang menjadi dasar kuat dalam mencapai kesuksesan dan keberhasilan di tempat baru yang ditempati.

Peribahasa ini sebenarnya hanyalah sebuah pengingat sederhana yang tidak menjustifikasi apapun terhadap persoalan yang sedang terjadi di Mimika saat ini.

Perlu diketahui, sepekan sudah terhitung Senin (8/9/2025) hingga Senin (15/9/2025), PT Freeport Indonesia terus berupaya melakukan evakuasi terhadap ketujuh karyawannya yang hingga kini masih terjebak longsor di tambang bawah tanah Grasberg Block Cove (GBC).

Proses penyelamatan oleh Tim Tanggap Darurat PTFI dilakukan terus menerus secara ekstra guna membuka akses ke lokasi perkiraan keberadaan ketujuh karyawan tersebut yang diketahui hingga saat ini dalam keadaan hidup.

Bahkan, dalam proses evakuasi PTFI bekerjasama dan terus melakukan koordinasi dengan Tim Inspektur Tambang Kementerian ESDM, MIND ID, Freeport McMoran, Pemda Provinsi Papua juga Pemda Mimika.

Selain terus berupaya melakukan evakuasi, PTFI juga menghentikan semua operasional dan terkini, telah mendatangkan keluarga dari ketujuh karyawan yang masih terjebak ke Mimika.

Upaya evakuasi ini juga mendapat dukungan dan doa dari pemerintah daerah dan masyarakat Mimika.

Salah satu perhatian yang diberikan masyarakat terkait persoalan ini adalah, mereka meminta agar proses evakuasi harus dlilakukan PTFI dengan melibatkan unsur adat seperti pemilik hak wilayat.

Menurut mereka, pendekatan tradisional juga perlu dilakukan karena bagaimanapun negeri ini bertuan teruatama di areal operasional PTFI sehingga dipercaya hal ini dapat membantu upaya penyelamatan walau dalam sudut pandang yan berbeda.

Terkait masukan dari masyarakat ini, BeritaMimika kemudian menghubungi salah satu tokoh pemuda Amungme yang kini menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi Papua Tengah, yakni Yohannes Kemong.

Kepada BM, Yohannes Kemong membenarkan hal tersebut. Ia bahkan mendukung dan meminta PT Freeport Indonesia tidak mengabaikan hal ini.

Kemong mengatakan bahwa sudah ada beberapa kejadian yang tidak jauh berbeda dengan peristiwa saat ini dan ketika unsur adat dilibatkan, selalu membuahkan hasil positif.

“Ada beberapa persitiwa dan satu yang saya paling ingat sampai saat ini, dulu ada salah satu komandan yang hilang selama hampir seminggu. Tokoh-tokoh adat kemudian dikumpulkan, mereka buat adat dan berdoa, tidak lama dia kembali dari hutan,” ungkapnya.

Kemong mengatakan sudah pasti PT Freeport Indonesia dengan segala SDA yang mumpuni dengan berbagai peralatan canggih sudah dikerahkan namun tidak salah jika mereka juga melakukan pendekatan budaya.

“Saya sangat mendukung apa yang diusulkan oleh masyarakat dan saya berharap PT Freeport mempertimbangkan hal ini juga karena faktor alam dan keadaan setempat kadang butuh pendekatan adat-istiadat,” ujarnya.

Kemong kemudian mengatakan bahwa di areal PTFI itu ada beberapa marga besar (Amungme) yang memiliki pertuanan. Khusus untuk wilayah Gresberg dan sekitarnya, kepemilikannya olah tiga marga yakni Natkime, Jamang dan Omabak.

“Harus libatkan tiga marga ini karena itu pertuanan mereka. Mereka yang punya wilayah itu. Libatkan masyarakat adat untuk proses pencarian atau evakuasi ini. Karena kadang biar alat canggih tapi kalau tuan tanah sembunyi, kadang juga sulit. Artinya ini faktor lain tapi untuk persoalan kemanusian, tidak ada salahnya dilakukan. Dan saya sangat mengapresiasi ide masyarakat ini,” ungkapnya. (Ronald Renwarin

 

 

Muhammad Hafidz AL Mubarok dan Syarif Hidayatullah Juara 1 Lomba Adzan

Kepala Bagian Kesra Ricard Wakum menyerahkan trofi kepada juara 1 lomba adzan tingkat SD Bima Ardiansyah Simanjuntak 

MIMIKA, BM

Muhammad Hafidz AL Mubarok perwakilan dari SMP atau MTS Al Fatah dan Bima Ardiansyah Simanjuntak perwakilan dari SDIT Smart Kids berhasil meraih juara 1 dalam lomba adzan yang diadakan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Mimika di Aula Muslimat NU, Rabu (10/9/2025).

Keduanya menunjukkan kebolehannya dalam melantunkan Adzan dengan indah dan penuh khidmat, memenangkan hati para juri dan peserta lainnya.

Untuk perwakilan SMP, juara 2 diaraih oleh Andika Saputra dari SMP Cordova dan juara 3 diraih oleh Muhammad Rizki Sukardi Bakti dari MTS Plus Al Ishlah Bondowoso.

Juara harapan 1 diraih oleh Fahrudin Uzair dari SMP Integral Hidayatullah, harapan 2 diraih oleh Indra Alamsyah Rusdi dari SMPIT Permata Papua dan harapan 3 diraih Amiruddin dari SMP Negeri 4 Mimika.

Sementara itu, juara 2 perwakilan SD diraih Imam Zikrai Imran Said dari SD Integral Hidayatullah dan juara 3 diraih oleh Al Fajar Marhafaz Kalinya dari SD Plus Al Ishlah.

Juara harapan 1 diraih oleh Syarif Hidayatullah Ugar dari SD Cordova Indonesia, harapan 2 diraih oleh Erico Kane Wijaya dari SD YPMNU Bina Bakti Wania, SP1 dan harapan 3 diraih oleh Rifqi Achmad Ar Rasyid dari SD Inpres Timika 2.

Kepala Bagian Kesra Setda Mimika, Richard Wakum, mengatakan, lomba ini dibuat untuk mengasah kemampuan vokal keagamaan dan juga menanamkan nilai spiritual anak.

Ia mengatakan peserta lomba adzan adalah siswa SD dan SMP di Mimika. 45 pelajar ini berasal dari 45 sekolah yang mengirimkan masing-masing satu perwakilan untuk mengikuti lomba Adzan.

“Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang perlombaan semata tetapi juga dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 12 rabiul awal 1447 H,” ujarnya.

Ia mengatakan, lomba ini diharapkan menjadi wadah pembinaan karakter anak di bidang agama Islam, dan juga kecintaan terhadap Islam dikalangan pelajar.

"Perlombaan ini melibatkan pihak MUI dan PCNU untuk menjadi juri lomba. Kegiatan ini juga jadi wadah silaturahmi antar sekolah dan komunitas Muslim Mimika,” katanya

Diakuinya, lomba adzan ini baru pertama kali dilakukan, tetapi antusias peserta sangat luar biasa. Ia bahkan berencana melakukan perlombaan yang lebih besar dengan jumlah peserta yang lebih banyak lagi.

“Ini kita buat pertama kali di momen Maulid ini, semoga tahun depan kita bisa buat dengan libatkan yang lebih besar,”ungkapnya.

Diharapkan prestasi dari pemenang ini menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya, dan semoga melalui kegiatan ini silaturahmi terus terjaga antara peserta. (Shanty Sang)

Top