Budaya

Warga Nduga di Mimika Adakan Ibadah Syukuran untuk Almarhum Bupati Nduga

Perayaan ibadah syukur yang penuh hikmat ini dipimpin Pendeta Mathius Kalalembang

MIMIKA, BM

Kepergian almarhum Bupati Kabupaten Nduga, Yairus Gwijangge, S.Sos, M.Si pada 15 November lalu meninggalkan duka yang mendalam bagi seluruh masyarakat Nduga di Mimika.

Warga Ngduga domisili di Mimika merasa sangat kehilangan almarhum yang bukan hanya sebagai pimpinan dan orangtua namun juga merupakan sosok panutan dan lekat dengan masyarakat.

Sebagai tanda cinta, pengormatan dan ungkapan terimakasih atas pengabdiannya, warga Nduga khususnya Jemaat Betesda Irigasi I, Distrik Wania, Jalan Suakarsa RT 33 melaksanakan ibadah syukuran dan bakar batu pada Jumat (20/11).

Ibadah syukuran ini dipimpin Pendeta Mathius Kalalembang dan dihadiri masyarakat Nduga khususnya jemaat Betesda Irigasi I beserta tamu undangan lainnya.

Ibadah yang berjalan dengan penuh hikmat ini diawali dengan prosesi adat bakar batu bersama.

Perwakilan keluarga almarhum Bupati Paulus Gwijangge kepada BeritaMimika menerangkan bahwa proses pemakaman dan penutupan duka di Nduga sudah selesai.

"Jadi selama jenazah ada di Nduga, masyarakat dari sini yang memiliki KTP dan surat rapid tes berangkat ke Nduga dengan pesawat, bahkan sampai 15 kali penerbangan. Mereka yang tidak berangkat, menjadi tanggungjawab kami untuk kumpul bersama di sini mendoakan alamrhum melalui ibadah syukuran ini," terangnya.

Paulus mengatakan almarhum Bupati Yairus Gwijangge merupakan tokoh dan pemimpin pertama sekaligus perintis untuk Kabupaten Nduga. Ia dicintai karena sangat dekat dengan masyarakat dan low profile.

Salah satu bentuk penghormatan lain yang juga ditunjukan dalam ibadah syukuran ini adalah dengn memasang spanduk yang menggambarkan kedekatan almarhum dengan masyarakatnya.

"Kepergian beliau membuat kami semua rasa kehikangan dan terpukul sekali. Bapak ini selalu membantu masyarakatnya selama memimpin dua periode. Semua sayang dia. Kami juga minta bantuan kepada beliau dengan memasukan proposal untuk pembangunan Gereja. Sekarang bapak sudah pergi dan siapa yang nanti akan menjawab proposal kami ini,"ungkapnya dengan penuh sedih. (Ignas)

BPD-KKMU Mimika Periode 2020-2025 Dilantik, Mereka Diminta Bantu Pemerintah Berikan Kontribusi untuk Daerah

Wakil Bupati Mimika, Johanes Rettob menyerahkan bendera Pataka kepada Ketua BPD-KKMU,Marjan Tusang

MIMIKA, BM

Badan Pengurus Daerah (BPD) Kerukunan Keluarga Maluku Utara (KKMU) Kabupaten Mimika Periode 2020-2025 yang baru dilantik Kamis (12/11) di Gedung Tongkonan diminta berperan membantu Pemerintah Daerah dalam memberikan kontribusi untuk daerah.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Umum BPW KKMU Provinsi Papua, Dr.H. Muhdi. Mi Ibrahim SE.,MM dalam sambutan seusai melantik pengurus baru.

"Pengurus yang sudah dilantik jangan kalian membuat beban bagi pemerintah daerah, tapi harus bantu pemerintah daerah dan memberikan kontribusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," pesannya.

Diharapkan badan pengurus yang baru dilantik menjadikan momentum ini untuk mempererat hubungan dengan semua komponen masyarakat dalam segala aspek, terutama dalam menjaga toleransi antar seluruh umat agama.

"Hampir semua paguyuban ada di Papua, namun paguyuban Maluku Utara itu berbeda karena ada historisnya. Saya mengajak warga Maluku Utara di Papua khususnya Mimika untuk tetap menjaga keharmonisan hidup, karena kita samua adalah bersaudara. Mari kita jaga hubungan toleransi dengan semua paguyuban yang ada disini," harapnya.

Wakil Bupati Kabupaten Mimika, Johanes Rettob menyampaikan dengan pelantikan kepengurusan baru ini maka diharapkan seluruh warga KKMU dapat bekerja sama dan menjaga solidaritas serta berkolaborasi dengan seluruh masyarakat di Mimika untuk mensejahterakan kabupaten ini.

"Kita datang tinggal di Tmika dan hidup bersama dengan masyarakat dari paguyuban lainnya terutama dua suka besar pemilik negeri ini yakni orang Amungme dan Kamoro, maka itu kita harus terus menjaga dan melakukan koordinasi untuk meningkatkan kerjasama dengan semua," harap Wabup.

Wabup juga berharap, kerukunan Maluku Utara dapat membangun komunikasi yang lebih baik dengan pemerintah daerah serta warga lainnya sehingga visi dan misi paguyuban ini dapat tercapai demi pembanguan Mimika yang lebih baik.

Marjan Tusang, Ketua Badan Pengurus Daerah (BPD) Kerukunan Keluarga Maluku Utara (KKMU) Kabupaten Mimika Periode 2020-2025,  mengatakan ia dan badan pengurusnya akan melaksanakan apa yang telah menjadi amanah dan berkomitmen mengedepankan "Marimoi Ngone Futuru" yaitu bersatu kita teguh, bersatu kita kuat.

"Paguyuban adalah organisasi masyarakat dan kami akan hormat dan taat pada adat istiadat yang ada di Kabupaten Mimika. KKMU Mimika akan menjadi mitra dengan semua dan senantiasa menjaga kerukunan karena KKMU adalah bagian dari warga Papua khususnya sebagai warga Mimika," ungkapnya.

Marjan juga menjelaskan bahwa, KKMU wilayah Mimika telah berdiri sejak tahun 2004 dan badan pengurus saat ini merupakan generasi ke empat.

"KKMU ini memiliki 7 pilar dan dengan jumlah populasi warga KKMU di Mimika sekitar 3000 jiwa. Kami akan terus menjaga hubungan baik dengan seluruh masyarakat Mimika, paguyuban-paguyuban, TNI-Polri dan pemda untuk terus memelihara persatuan dan kesatuan yang aman dan damai," tegasnya.

Pelantikan Marjan Tusang sebagai Ketua Badan Pengurus Daerah (BPD) Kerukunan Keluarga Maluku Utara (KKMU) Kabupaten Mimika Periode 2020-2025 bersama badan keanggotaanya, mendasari SK nomor 04/a/KPTS/IX/2020/KMU tentang Pengesahan Pengurus Daerah KKMU Kabupaten Mimika Periode 2020-2025. (Ignas)

Lirik Lagu 'Home' Mewakili Curhatan Masyarakat 3 Kampung yang Rindu Rumah Mereka

Warga 3 kampung foto bersama Kuasa hukum FPHS Haris Azhar usai menyampaikan curhatan mereka 

MIMIKA, BM

'Home Sweet Home' adalah ungkapan yang sering digunakan banyak orang untuk mewakili rasa rindu akan rumah dan kampung halaman.

Rumah merupakan tempat terakhir yang paling dirindukan tiap orang karena di sana semuanya berawal. Di rumah selalu ada cinta dan senyum, tawa dan keceriaan, kebersamaan dan kenangan, walau semuanya mungkin dilalui dengan begitu sederhana.

Mimika adalag rumah bagi semua orang namun untuk masyarakat yang tinggal di pedalaman dan pesisir, di sanalah merupakan rumah mereka yang sesungguhnya.

'Let me go home, I'm just too far, From where you are, I wanna come home' yang merupakan penggalan bait dari lagu Home yang dinyanyikan Michael Buble merupakan ungkapan kerinduan masyarakat tiga kampung yang kini berada di Mimika terhadap kampung halaman mereka di Distrik Tembagapura.

Selama tujuh bulan diungsikan ke Timika karena faktor keamanan yang mereka alami, membuat rasa rindu akan kampung halaman tidak lagi terbendung. Bagaimanapun keadaanya nanti, mereka minta segera dipulangkan.

Curhatan ini disampaikan masyarakat Kampung Banti dan Opitawak melalui tokoh perempuan, Ibu Marta Kelanangame dan kepala suku Banti Kolinus Beanal kepada kuasa hukum Forum Pemilik Hak Sulung (F PHS), Haris Hazar.

Marta Kelanangame saat bertemu kuasa hukum F PHS menjelaskan bagaimana awal mula kisah mereka diturunkan ke Timika dan bagaimana kerasnya menghadapi kehidupan sehari-hari di sini.

Dikisahkan, mereka diungksikan karena adanya kontak tembak antara pihak TNI Polri dan TPN-OPM.

Saat itu banyak masyarakat yang menginginkan untuk dievakuasi ke sporthall di Tembagapura, sehingga jika situasi sudah kembali kondusif bisa langsung dikembalikan ke rumah, namun mereka dievakuasi ke Timika.

Setibanya di Timika, masyarakat yang dievakuasi langsung diantar ke lokasi dan tempat dimana keluarga mereka berada.

Sayangnya, apa yang disampaikan dan dijanjikan kepada mereka berbeda dengan kenyataan yang mereka alami. Banyak warga merasa diabaikan. Bahkan untuk mencari tempat tingga saja mereka kesulitan.

Wanita paruh baya itu mengungkapkan, selama kurang lebih 7 bulan, ada beberapa warga yang meninggal karena tidak bisa beradaptasi dengan iklim di Mimika, bahkan untuk makan saja, mereka kadang begitu kesulitan.

"Sejak dievakuasi ke Timika, kami hidup sangat susah. Banyak hal yang kami rasakan dan alami, kami rasakan sendiri," kata Martha, di honai F PHS jalan C Heatubun, Senin (26/10) saat menceritakan kisah mereka selama dievakuasi awal tahun 2020.

Martha mengatakan hidup di Mimika bebanya begitu berat karena semua menggunakan uang. Sedangkan masyarakat yang dievakuasi tidak memiliki cukup uang untuk sekedar memenuhi kebutuhan mereka.

Berbeda halnya dengan kehidupan di kampung, walau tidak mewah dan penuh kesederhanaan, namun segala sesuatu sudah ada. Mereka tinggal megambilnya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Ia meminta kuasa hukum F PHS agar membantu dan mengupayakan caranya agar memulangkan mereka ke kampung halaman.

"Kami cuma minta pulang ke rumah, kami tidak inginkan apa-apa," kata Martha sambil menyeka air mata dipipinya.

Sementara itu kepala suku Banti Kolinus Beanal menegaskan, masyarakat meminta sebelum hari Natal 2020, mereka sudah kembali ke kampung halaman, sebab ini merupakan kerinduan mereka.

"Kami semua mau sebelum desember kami sudah pulang ke kampung, itu saja permintaan saya mewakili warga," kata Kolinus, Senin (26/10).

Menanggapi keluhan masyarakat, Kuasa hukum F PHS, Haris Azhar mengungkapkan, perwakilan masyarakat dan F PHS beserta kuasa hukum akan bertemu untuk membicarakan semua hal terkait rencana memulangkan masyarakat.

"Nanti kita semua bertemu lagi secara bersama-sama untuk bicara  masalah ini, apapun halangan tetap kita harus hadapi," tegas Haris.

Terkait stabilitas keamanan di wilayah Distrik Tembagapura, khususnya kampung masyarakat, Haris menegaskan jangan lagi ada alasan yang membuat masyarakat selalu menjadi korban.

Masalah stabilitas keamanan merupakan menjadi tanggung jawab TNI Polri, untuk itu negara harus menjamin rasa aman kepada warga negara.

"Setiap kejadian di beberapa daerah di Papua, masyarakat yang menjadi korban, dan ini menjadi tanggung jawab pihak keamanan," kata Haris. (Rafael)

Top