Beredar Draft Tarif Kenaikan Harga Ojek Ternyata Baru Wacana



Para tukang ojek Timika saat mendengarkan arahan

MIMIKA, BM

Draft tarif kenaikan ojek di Mimika yang ramai diperbincangkan masyarakat dan disebarkan di berbagai grup media sosial ternyata masih wacana, belum fix atau resmi.

"Saya heran kenapa draf rancangan ini bisa tersebar karena ini masih wacana. Hal ini harus kami bicarakan dengan tukang ojek lainnya lagi dan juga ketua ojek yang diketuai oleh Tanzil yang juga sebagai anggota DPRD Mimika," Kata Ketua Pangkalan Ojek Diana, Steven saat memberikan arahan kepada tukang ojek lainnya di lapangan eks Pasar Swadaya, Senin (17/1).

Steven meminta kepada seluruh tukanh ojek agar tidak dulu menaikkan tarif ojeknya karena harus serentak atau satu komando. Agar semua satu suara maka dalam minggu ini akan dilakukan pertemuan bersama.

"Jadi selama belum ada keputusan, saya harap jangan ada gerakan tambahan. Semua harus satu komando,” ujarnya.

Steven mengaku, bahwa kenaikan tarif ini sudah sangat wajar, karena sudah 10 tahun standar Rp5 ribu diberlakukan. Apalagi sekarang harga BBM juga sudah mulai mengalami kenaikan.

Atas dasar inilah Steven bersama ketua pangkalan lainnya mewacanakan kenaikan tarif tersebut.

"Ketika BBM Premium dihapuskan maka kami harus menggunakan pertalite yang harganya Rp7.850 per liter. Sedangkan dalam sehari kami menggunakan paling rendah 3 liter BBM,” katanya.

Belum lagi, kata Steven harga sebagain besar barang khususnya bahan pokok juga sudah mulai mengalami kenaikan, dan jika penghasilan mereka tidak mengalami kenaikan maka, bisa saja mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan kehidupan keluarga.

"Jadi kedua hal ini menjadi dasar kami untuk kami naikkan tarif ojek. Jika tidak dinaikkan maka bisa-bisa nanti kami yang tinggal di kontrakan ini tidak bisa bayar kontrakan," ujarnya.

Jikapun tarif kenaikan ojek resmi diberlakukan namun tarif tersebut nantinya tidak akan diberlakukan bagi anak sekolah. Khusus untuk mereka masih tetap dengan tarif yang lama.

"Doakan semoga minggu ini sudah selesai dan minggu depan kita bisa berlakukan tarif baru ini,” harapnya.

Meski baru wacana, namun hal ini sudah mendapatkan protes dari masyarakat. Warga merasa jika tarif tersebut sangat tinggi.

"Kami kaget dengan tarif ojek yang naik ini. Bahkan ada beberapa tukang ojek yang ternyata sudah terapkan. Tadi pagi, saat saya antar anak ke sekolah dari Kebun Sirih ke SD Koperapoka ini saja sudah diminta Rp10 ribu," kata Ibu Herlin.

Ia menilai kenaikan harga ojek di dalam kota Rp10 ribu terlalu tinggi. Menurutnya, jika naiknya Rp7 ribu masih wajar. Jika naiknya Rp10 ribu dengan kondisi sebagai IRT yang selalu mengantar dan menjemput anak sekolah, sangat berat baginya.

"Tidak hanya kami, tapi para pedagang juga yang jika gunakan transportasi ojek dengan tarif mahal maka pasti dagangannya pun terpaksa harus dinaikkan juga. Bagi orang yang ekonomi besar mungkin tidak masalah tapi kalau yang ekonomi rendah kan kasihan," Ungkapnya. (Shanty

 

BERITA EKONOMI & PEMBANGUNAN

Top