Harga Air Per Galon Naik Rp10 Ribu, Warga Tanyakan Dimana Fungsi Pengawasan Pemerintah : Masyarakat Bawah Kesulitan Dengan Tarif Ini

Ilustrasi air galon

MIMIKA, BM

Belum semua pengusaha depot melakukannya namun ternyata sebagian sudah menjual air isi ulang per galon dengan harga Rp10 ribu untuk beberapa wilayah di seputaran Kota Timika.

Tadi malam, Kamis (6/10/2022), kepada BeritaMimika, seorang Ibu namanya Mama Vian mengaku barusan membeli air per galon dengan Rp10 ribu.

"Saya malam ini baru saja pesan air galon dan sudah naik Rp10 ribu. Saya juga heran. Penjual bilang kalau harga naik mulai Senin kemarin karena harga air tangki juga sudah naik," ungkapnya.

Ia mengatakan bahwa kenaikan harga air isi ulang per galon bagi sebagian orang mungkin tidak terlalu berdampak namun bagi masyarakat kecil, kenaikan ini sangat menyulitkan mereka.

"Kami ibu rumah tangga, air galon itu biasa untuk kebutuhan minum dan masak tiap hari. Dalam dua hari bisa 3-4 galon. Bayangkan saja dalam seminggu berapa uang yang kita keluarkan untuk beli air? Kasihan banyak masyarakat mengeluh hal ini. Jemput anak di sekolah saja, banyak ibu-ibu mengeluh hal ini," ungkapnya.

Hal ini menunjukan bahwa ada sebagian pengusaha air galon seenaknya menaikan harga air galon. Karena sebelumnya, pengakuan salah satu penjual air galon kepada BM mengatakan bahwa mereka masih menjual air per galon Rp7 ribu.

"Kami masih jual Rp7 ribu per galon tapi mungkin minggu depan sudah naik Rp10 ribu. Katanya setelah bos kami (pengusaha depot air) mereka ketemu dengan pemerintah dulu baru dinaikan," ujarnya kepada wartawan BM di Jalan Soter Elmas Nawairpi, Senin (3/10/2022).

Menyikapi kenaikan harga air galon yang terus merangkak dengan berbagai alasan yang mendasarinya, warga Mimika Timika meminta agar Pemda Mimika melakukan pengawasan ketat terhadap hal ini.

"Jangan tunggu naik baru Aspada dipanggil, sudah terjadi baru suruh kasih turun. Ini jadi masalah karena kalau air saja sudah mahal, maka sudah pasti barang lain juga akan naik dengan sendirinya," ujar Roni, warga Jalan Soter Elmas.

Ia juga mengakui bahwa tarif air isi ulang yang biasa di jual per galon di Mimika memang bervariasi, tergantung dari sumber mata airnya.

Ada beberapa yang bermerk memang mahal namun rata-rata warga Mimika mengkonsumsi air isi ulang yang biasanya dijual dengan harga Rp7 ribu per galon.

Menurutnya, kenaikan tarif air galon di Timika bisa jadi diakibatkan karena efek dari kenaikan harga BBM.

"Masa BBM naik, air galon juga naik? Tidak masuk akal, makanya pemerintah harus awasi hal ini. Dalam kurun 2 tahun saja air galon naik sampai 50 persen. Dulu Rp5 ribu, naik Rp7 ribu, kemudian Rp8 ribu dan sekarang sudah Rp10 ribu. Tahun depan pasti Rp15 ribu," ungkapnya dengan kesal.

Roni kemudian berkilah bahwa harga air galon juga tidak bisa dinaikan sesuka hati oleh para pengusaha air galon jika proyek air bersih (PAM) yang selama ini didengungkan Pemda Mimika sudah dijalankan.

"Sudah lama sekali saya baca berita tentang air PAM masuk ke rumah-rumah tapi sampai saat ini masih pipanisasi terus. Air galon naik seenaknya karena sumber air selama ini banyak berharap hanya pada depot air galon," unarnya.

"Harapan kita masyarakat ya proses air PAM itu bisa dipercepat, kalau mungkin terlalu besar, minimal fokus dulu di satu dua wilayah kota supaya kita tahu Air PAM itu sedang dikerjakan, yang lain mengusul tidak apa-apa," ungkapnya.

Pemda Pastikan 2024 Alirkan Air Bersih Ke Rumah Warga

Terkait dengan progres pengerjaan air bersih (air PAM) di Timika, Plt Bupati Mimika, Johannes Rettob mengatakan Pemda Mimika
menargetkan masyarakat sudah bisa menikmati air bersih di tahun 2024 mendatang.

Plt Bupati John menjelaskan, saat ini yang belum dibuat adalah infrastruktur jaringan (pipanisasi) untuk masuk sampai ke rumah warga.

"Kalau jaringan sudah siap maka air bersih sudah jalan, ini hanya karena jaringan kita saja yang masih kurang dan masih dalam pengerjaan,” tutur John beberapa waktu lalu.

“kita akan usahakan mudah-mudahan di tahun 2024 kita sudah bisa nikmati air bersih ini,” ujarnya.

Plt John Rettob mengakui bahwa kebutuhan air bersih selama ini, masyarakat hanya tergantung pada sumur bor, air isi ulang termasuk air mineral kemasan.

“Ini yang makanya saya terus tekan kepada Dinas PU sebagai penanggung jawab air bersih untuk mempercepat pemasangan jaringanya,” ujarnya.

Water Treatment Plant yang Dibangun Freeport Sudah Ready Sejak 2019 lalu

Sementara itu, Direktur PT Freeport Indonesia, Claus Wamafma mengaku kesiapan Freeport dalam program air bersih yang telah dibuat kesepakatannya bersama Pemda Mimika sudah rampung. Pihaknya kini menunggu pemasangan jaringan ke rumah warga.

Dalam kesepakatan kerjasama layanan air bersih, Pemda memberi tanggung jawab kepada Freeport untuk membangun water processing plant (water treatment plant) atau instalasi pengolahan air.

Water Treatment Plant ini kata Claus sudah selesai dibuat di Kuala Kencana dan telah ready sejak 2019 lalu.

"Water Treatment Plant sudah siap dengan kapasitas besar 200 liter per detik. Dan kalau ini dijalankan maka semua yang ada di Timika akan minum air yang sama dengan air yang saya minum di Kuala Kencana,” ujar Claus.

Diakuinya, menikmati air bersih ini merupakan kerinduan semua pihak, karena jika dikaitkan dengan hasil riset kesehatan di Mimika, air bersih menjadi ibu dari semua masalah kesehatan.

Tetapi yang penting adalah tidak lagi menghilangkan kesempatan bertahun-tahun untuk memulai program ini.

“Kalau kita bisa selesaikan ini, kita bisa kurangin 30 sampai 40 persen mengenai isu kesehatan,” tutup Claus. (Shanty Sang)

BERITA EKONOMI & PEMBANGUNAN

Top