Hukum & Kriminal

Kasih Tunjuk Alat Kelamin Lewat Video Call, Pemilik HP Lapor Polisi


Kapolsek Mimika Baru AKP Dionisius Fox Dei Paron Helan

MIMIKA, BM

Micha Mansmembra (34) membuat laporan ke Polsek Mimika Baru karena handphone miliknya digunakan oleh orang tak dikenal untuk berbuat tindakan asusila mengatasnamakan dirinya melalui video call.

"Dia menelpon kontak saya baru dia perlihatkan kemaluannya. Saya tidak tahu siapa karena dia cuma perlihatkan badan dan kemaluan tapi mukanya tidak dikasih lihat," ungkapnya saat memberikan keterangan di Kantor Polsek Mimika Baru, Rabu (24/3).

Handphone merk Oppo miliknya telah hilang karena tertinggal di ATM Hotel Cendrawasih 66 pada 10 Maret 2021 lalu sekitar pukul 06.30 wit pagi.

"Saya sempat kembali ke ATM untuk cek HP tapi sudah tidak ada lagi, saya hubungi HP tapi sempat hilang kontak tapi selang dua setengah jam selanjutnya atau tepat jam 9 pagi, handphone saya aktif tapi digunakan menghubungi kenalan saya dan lakukan hal senonoh," ungkapnya.

Sementara itu Kapolsek Mimika Baru AKP Dionisius Fox Dei Paron Helan saat dimintai keterangan membenarkan adanya laporan tersebut.

"Benar ada laporan dari korban yang merasa kehilangan HP dan merasa dirugikan atas ulah oknum yang diduga pelaku dalam melakukan hal-hal senonoh," ungkapnya.

Oleh karena itu kata mantan Kabag Ops ini, pihaknya membutuhkan proses dalam lakukan penyidikan.

"Karena kejadiannya sudah 14 hari yang lalu dan ini jenjang waktu yang cukup lama. Ini jadi catatan buat tim penyidik untuk lakukan penyidikan, jadi nanti kami akan kumpul BB, cek TKP dan periksa saksi serta korban agar lebih jelas," terangnya. (Ignas)

Tidak Terima Ditegur, Adik Kandung Nekat Pukul Kakaknya

Korban ketika datang melapor di Polsek Mimika Baru

MIMIKA, BM

Seorang adik kandung melakukan penganiayaan terhadap kakaknya hingga berdarah akibat luka sobek pada pelipis mata kanan. Kejadian ini terjadi di Jalan Patimura Jalur 8, Rabu (24/3).

Berdasarkan penuturan korban yang adalah seorang ibu rumah tangga di Kantor Polsek Mimika Baru, kejadian bermula ketika ia menegur adiknya bernama Berto karena sering bertengkar dengan istrinya.

"Biar kami saudara kandung tapi saya datang laporkan kejadian ini biar diamankan supaya ada efek jera, karena kami dalam rumah sudah tidak tahan dengan sifatnya," tuturnya.

Ia juga mengakui, sifat adiknya berubah karena sering bergabung dengan saah satu kelompok bernama geng Amor.

"Mereka sering mabuk-mabukan dan mengisap lem dengan kelompok gengnya di dorang punya mabes," ungkapnya.

Usai menerima laporan dari korban, anggota Polsek Mimika Baru bersama Unit Perintis langsung menuju TKP untuk mengamankannya. Namun ketika tiba di TKP ternyata adik korban sudah melarikan diri.

Kapolsek Mimika Baru AKP Dionisius Fox Dei Paron Helan melalui Kanit Reskrim Ipda Rumthe Yongki Ateng, saat ditemui mengakui kejadian tersebut.

"Adiknya tadi melarikan diri jadi kami sarankan korban untuk kembali ke rumah. Jika adiknya kembali dan berulah lagi kami minta segera laporkan," ungkapnya.

Disampaikan juga bahwa tujuan korban datang melaporkan kejadian ini agar adiknya dapat menyesali perbuatannya sehingga ke depan tidak terulang lagi.

"Itu yang korban inginkan supaya adiknya kita amankan di Polsek untuk diberikan pembinaan," ujarnya. (Ignas)

Baru 3 Bulan Kasus Kekerasan Terhadap Anak di Mimika Meningkat

Kepala P2TP2A Kabupaten Mimika Andarias Nauw

MIMIKA, BM

Laju angka kasus kekerasan terhadap anak dibawah umur selama periode Januari hingga Maret 2021 terhitung meningkat. Jika tidak segera disikapi secara serius maka dipastikan jumlah ini akan terus bertambah.

Selain kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak-anak di Sekolah dan Asrama Taruna Papua, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Mimika sudah mencatat ada 9 kasus.

Jika dibandingkan, jumlah 9 kasus ini sudah hampir mencapai setengah kasus kekerasan pada anak yang dicatat oleh P2TP2A di Tahun 2020 yakni 24 kasus.

Bahkan untuk kasus kekerasan dan pelecehan seksual di Sekolah dan Asrama Taruna Papua, P2TP2A mencatat ada 31 kasus. 30 anak lelaki dan 1 anak perempuan.

Hal ini menunjukkan bahwa kekerasan seksual terhadap anak bisa terjadi dimana saja bahkan di rumah maupun lingkungan sekolah yang dilindungi sekalipun.

Terkait dengan persoalan di Sekolah dan Asrama Taruna Papua, ditemui di ruang kerjanya, Kepala P2TP2A Kabupaten Mimika Andarias Nauw mengatakan pihaknya telah melakukan pertemuan dengan pihak Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK).

Pertemuan dan koordinasi telah dilakukan langsung dengan Direktur YPMAK Vebian Magal terkait penanganan para korban dikarenakan anak-anak tersebut memerlukan theraphy healing secepatnya.

“Kami belum sampai ke penanganan, Jumat lalu bersama Polres kami melihat anak-anak saat dimintai keterangan. Setelah itu, kami berkoordinasi dengan direktur YPMAK untuk koordinasi proses penanganannya seperti apa, kami sudah menyampaikan permohonan tapi kami masih menunggu petunjuk dari YPMAK,” tuturnya.

Dikatakan bahwa para korban harus segera mendapatkan theraphy healing untuk pemulihan dan menghilangkan trauma hingga merka dapat beraktifitas seperti semula. Theraphy healing harus dilakukan sebanyak 12 kali dalam sebulan.

“Jika mereka percayakan pada PT2TP2A, kami akan segera tangani secara psikis karena ada kekerasan dan ini merupakan ranahnya polisi,” ungkapnya.

“Saat anak-anak diminta keterangan, kami dampingi dan membangun komunikasi dengan mereka. Kami ajak mereka bermain. Kondisi anak-anak waktu itu tidak mau buka suara atau komunikasi dan hanya diam,” imbuhnya.

Ia sangat berharap agar apa yang disampaikan kepada YPMAK segera mendapatkan jawaban.

“Kejadian seperti ini tidak bisa diprediksi. Namun untuk pencegahan harus ada sosialisai di berbagai komunitas, orang tua dan sekolah untuk melindungi anak-anak dari kekerasan. Di lingkungan sekolah saja bisa terjadi apalagi di luar,” tandasnya

Kekerasan terhadap anak dapat terjadi akibat adanya oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab terlebih dengan memanfaatkan kepolosan anak-anak.

“Kebanyakan kasus-kasus sebelumnya terjadi pada saat anak tunggu jemputan di sekolah. Ada oknum yang mengaku disuruh orang tuanya untuk menjemput," ujarnya.

"Dengan keadaan saat ini kami berharap semua orang tua harus waspada, mengedukasi anak masing-masing tentang mana hal yang baik dan tidak baik. Anak-anak yang di jemput di sekolah harus dipastikan jangan sembarang ikut orang asing,” pungkasnya. (Elfrida)

Top