Berhasil Tangani Penyakit Kaki Gajah, Pemda Mappi Terima Sertifikat Eliminasi Filariasis Dari Pusat

Pj Bupati Gomar saat menerima sertifkat dari Menteri Kesehatan, Budi Gunadi
JAKARTA, BM
Keberhasilan Pemerintah Kabupaten Mappi dalam menangani filariasis atau penyakit gajah mendapat pengakuan dari Kementerian Kesehatan dalam bentuk sertifikat eliminasi filariasis.
Serifikat diserahkan langsung okeh Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin kepada Pj Bupati Mappi, Michael R. Gomar, bertepatan pada peringatan Hari Neglected Tropical Diseases (NTDs) yang digelar di Krakatau Grand Ballroom Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, Selasa (21/3/2023).
Kabupaten Mappi merupakan satu-satunya daerh di Provinsi Papua Selatan yang menerima sertifikat eliminasi filariasis dari Kementerian Kesehatan. Sementara secara nasional, ada empat kabupaten lain yakni Kabupaten Subang, Bekasi, Supiori dan Kota Bekasi.
Usai menerima sertifikat eliminasi filariasis, Pj Bupati Mappi, Michael R. Gomar mengatakan penghargaan sertifikat eliminasi filariasis (kaki gajah) ini dipersembahkan untuk masyarakat Mappi dan juga sebagai motivasi untuk Dinas Kesehatan yang telah bekerja dengan luar biasa dalam penanganan eliminasi filariasis sejak tahun 2008.
Pj Gomar menyatakan komitmennya secara berkelanjutan dalam penanganan filariasis di Kabupaten Mappi.
“Kami berkomitmen memberikan dukungan kebijakan program kegiatan dan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) pada tenaga kesehatan baik secara umum maupun secara khusus melalui APBD setiap tahun secara berkelanjutan," ungkapnya.
"Sekali lagi atas nama kepala daerah saya menyampaikan terimakasih atas kinerja yang telah dibuktikan oleh kepala Dinas kesehatan bersama jajarannya, kami berharap ini akan terus menjadi motivasi dan terus ditingkatkan kedepannya,"tambahnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mappi, dr. Ronny Herry Tombokan mengatakan pada tahun 2008 - 2012 Pemberian Obat Pencegahan Masal (POPM) Filariasis menjadi prioritas dari dinas Kesehatan Kabupaten Mappi.
Pasalnya Mappi adalah satu kabupaten yang tergolong daerah endemis filariasis pada tahun 2008.
Melalui program Survey Pengambilan darah hapusan tebal pada waktu tertentu menunjukan 60-70 persen sampel darah yang diambil mengandung Mikrofilariasis Khususnya daerah Kaibar, Citak Mitak dan Koroway Kombay, sehingga berdasarkan survey tersebut Kabupaten Mappi wajib melaksanakan kegiatan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM Filariasis) selama 5 Tahun.
Kegiatan rutin ini kemudian menjadi atensi dari Dinas kesehatan dan berbuah manis, dimana pada tahun 2022 tepatnya bulan Maret, TIM Kementrian Kesehatan bersama Tim RTI dengan Dinas Kesehatan Provinsi Papua beranggotakan 8 orang tiba di Kabupaten Mappi.
Mereka kemudian melaksanakan survey dengan hasil jumlah sampel minimal hasil SSB sebesar 1.555 sampel dengan cut-off atau batas kritis adalah 18 sampel.
Jumlah sampel yang diperiksa telah melebihi sampel minimal maka dapat dinyatakan bahwa survey telah memenuhi kriteria.
Hasil pengujian dengan FTS/Filaria Test Strip adalah keseluruhan sampel yang diperiksa menunjukkan hasil 1569 sampel negative, 2 sampel positif dari cluster SD Inpres Tukumau Distrik Tizain pada wilayah kerja Puskesmas Kumaban.
Kadis Kesehatan juga menjelaskan bahwa adapun tahapan yang dilakukan secara berkelanjutan oleh pihaknya adalah melaukan evaluasi mulai survei pra TAS 1. Setelah survei TAS 1 dan TAS 2 lolos maka dilakukan TAS 3 pada tahun 2022.
“Jadi sertifikat eliminasi diberikan sesudah semua syarat kriteria teknis yang ditentukan sudah tercapai,” ungkapnya.
Selain penyerahan sertifikat eliminasi filariasis, Kementerian Kesehatan juga turut memberikan sertifikat bebas Frambusia kepada 103 bupati dan walikota di Indonesia. (Red)



