Kesehatan

Mimika Lakukan Vaksinasi Berkonsep "door to door" Bagi Pelaku Usaha

Tim Vaksinator saat memberikan vaksin kepada salah satu pemilik usaha di Jalan Budi Utomo

MIMIKA, BM

Guna mempercepat program pemerintah dalam pelaksanaan vaksinasi, tim vaksinator Polres Mimika bersama Dinas Kesehatan melakukan vaksinasi door to door bagi para pelaku usaha, Selasa (31/8) di sepanjang Jalan Budi Utomo.

dr Audio Titalesy, selaku kepala seksi Dokes Polres Mimika menyampaikan pelaksanaan vaksinasi door to door bagi para pelaku usaha merupakan inovasi kapolres Mimika.

"Ini sesuai perintah bapak kapolri dan arahan bapak kapolres untuk mempercepat program vaksinasi yang mana mengadakan gerai vaksinasi mobile. Jadi warga tidak ke gerai, tapi tim yang langsung ke pelaku-pelaku usaha," ungkapnya disela-sela kegiatan.

Lanjutnya, kegiatan ini juga guna mempercepat pencapaian vaksinasi menjelang pelaksanaan PON.

"Kalau berdasarkan perintah Presiden untuk vaksin harus sudah capai 70 persen. Tapi dari kapolri menginginkan agar harus capai 100 persen," lanjutnya.

Pelaksanaan vaksin tahap pertama ini menyasar 635 pelaku usaha berdasarkan data yang disampaikan. Sekitar 366 pelaku usaha akan divaksin sementara 128 lainnya telah melakukan vaksin mandiri di gerai-gerai vaksin.

"Tim juga sebarkan blanko dan yang nyatakan siap dilakukan vaksin. Jadi setelah suntik kami akan rekap, kemudian kami keluarkan kartu vaksinnya," ungkapnya.

Sementara itu salah satu pelaku usaha bernama Karyono mengaku senang telah divaksin dan didatangi langsung tim Polres.

"Sebenarnya saya sempat ke beberapa gerai yang ada, tetapi mengantri lama dan harus menjaga tempat usaha jadi saya batal vaksin. Yah ini kan aturan dan kita harus mendukung upaya pemerintah dalam menekan penyebaran covid-19,” tuturnya sambil memegang bahunya usai divaksin. (Ignas)

Akhirnya Pelajar Usia 12-17 di Timika Mulai Divaksin

Kepala Puskesmas Timika, dr Moses Untung

MIMIKA, BM

Kepala Puskesmas Timika, dr Mozes Untung mengatakan pelaksanaan vaksinasi covid-19 untuk anak usia 12-17 tahun mulai dilaksanakan hari ini, Senin (30/8).

Menurutnya sekolah merupakan tempat yang efektif untuk digelarnya vaksinasi cobid-19 tingkat pelajar.

"Dilakukan di sekolah supaya mereka bisa menerapkan pembelajaran tatap muka dengan cakupan siswa dan guru serta staf sehingga target memenuhi standar 70-80 persen terjadi kekebalan kelompok di lingkungan sekolah bisa tercapai," tutur Kepala Puskesmas Timika, dr Mozes Untung saat ditemui wartawan BM.

Katanya, sebelum siswa diberikan vaksin mereka terlebih dahulu telah diberikan advokasi di sekolah dan para guru mereka juga telah divaksin.

Ia mengatakan, vaksinasi covid-19 kepada anak juga berdampak baik karena orangtua tidak lagi waspada sehingga akan mengizinkan anak mereka kembali ke sekolah.

Selain di sekolah, di rumahpun orangtua tidak perlu lagi terlalu khawatir karena anak mereka telah memiliki kekebalan tubuh yang cukup.

Hanya saja ia mengingatkan bahwa setelah divaksin tidak menutup kemungkinan sesorang bisa terpapar covid. Namun jikapun terpapar, kekebalan tubuh karena telah divaksin membuat yang terpapar tidak akan mengalami kondisi yang parah.

"Jadi syaratnya memang harus vaksin supaya di sekolah itu terbentuk kekebalan kelompok untuk mereka yang terlibat dalam proses belajar mengajar. Mau ada masalah secara kelompok mereka sudah memiliki daya tahan tubuh yang kuat," ujarnya.

Nantinya, anak-anak yang akan divaksin akan discreening terlebih dahulu sebelum penyuntikan. Setelah itu, juga akan dilakukan observasi usai injeksi dilakukan.

Adapun syarat yang harus dipenuhi untuk bisa melakukan vaksin bagi anak adalah membawa kartu keluarga atau dokumen lain yang mencantumkan NIK anak seperti KTP dan KIA serta wajib didampingi orang tua.

Vaksin untuk kategori pelajar pada hari ini dilakukan di 3 sekolah yakni SD YPPK, SMP YPPK dan SMA YPPK. Sepanjutnya pada Rabu (1/9) nanti dilakukan di SD, SMP dan SMA Yapis. Pelayanan vaksin dimulai pukul 08.30 - 12.00 WIT.

"Kita lakukan vaksin di sekolah agar tidak bentrok dengan program vaksinasi yang jauh lebih beresiko yaitu 18 tahun ke atas," ungkapnya. (Shanty)

2.941 Anak Sekolah di Wilayah Kerja Puskesmas Timika Mulai Diimunisasi

Seorang Siswa SD Negeri 3 menahan rasa takut saat diberikan Imunisasi pada program BIAS

MIMIKA, BM

2.941 anak Sekolah Dasar (SD) di Timika mulai diberikan imunisasi pada program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).

Kegiatan imunisasi yang dilakukan khusus di wilayah Puskesmas Timika ini sudah dimulai sejak Senin 23 Agustus 2021 di 13 sekolah.

Adapun sasaran untuk kelas 1 totalnya 993 anak, kelas 2 sasarannya 929 anak dan sementara kelas 5 sasarannya 1.019 anak.

Adapun 13 sekolah yang berada di wilayah kerja Puskesmas Timika yakni, SDN 3 Mimika, SD Koperapoka 1, SD Muhammadiyah dan SD Yapis Alfurqon.

Selain itu YPPK Waonaripi, SD YPPK Ebenhaeser, SD Efata School, SD Inpres Nayaro, SD Inpres Kami 2, SDN 4, SD Shining Star, SD Madani dan sekolah Advent.

Kepala Puskesmas Timika, dr Mozes Untung saat ditemui BM mengatakan, imunisasi anak sekolah ini diberikan kepada siswa kelas 1, 2 dan kelas 5 tingkat sekolah dasar. Untuk jenisnya juga berbeda yakni imunisasi TD, DT dan Campak rubella.

"Jadi mereka mendapatkan 3 jenis vaksin. Ketiga jenis imunisasi ini untuk mencegah penyakit difteri, campak dan rubella," ujarnya.

Ia menjelaskan, ketiga penyakit ini memberikan dampak yang sangat besar dalam pertumbuhan anak dan bahkan dapat menyebabkan kecacatan.

"Kita harus berikan imunisasi ini kepada anak-anak sedini mungkin agar mereka terlindungi dari tiga penyakit tersebut," ungkapnya.

Dengan imunisasi, walaupun anak kemudian terkena sakit gejalanya akan ringan dan tidak sampai menimbulkan kecacatan atau kematian.

"Karena penyakit ini akan menyebabkan cacat. Campak kan bisa menyebabkan buta sampai kematian. Sementara diftery kalau kena anak-anak bisa menyebakan gangguan jantung dan rubella menyebabkan cacat," ujarnya.

Ditanya apakah ada penolakan dari orang tua pada program BIAS? dr Mozes mengatakan BIAS merupakan salah satu cara meningkatkan kualitas kesehatan anak agar dalam perkembangannya mereka menjadi generasi yang sehat.

"Selama pemberitahuannya dilakukan dari awal, kerja sama dengan pihak sekolah dan advokasi kepada orang tua dilakukan baik maka penolakan tidak terlalu berarti," ungkapnya. (Shanty)

Top