Nasional

500 Bendera Merah Putih Dikibarkan Di Kampung Banti Hingga Opitawak Sambut HUT Ke-77 RI

Terlihat personil gabungan TNI-Polri tengah memasang bendera Merah Putih dibantu beberapa warga

MIMIKA, BM

Menyogsong peringatan HUT Ke-77 Kemerdekaan RI Tahun 2022, ada hal berbeda dan meriah yang dilakukan oleh personil gabungan TNI Polri dan masyarakat Kampung Banti hingga Opitawak di Distrik Tembagapura.

Pada momen ini, mereka melakukan pemasangan 500 bendera merah putih yang dikibarkan di Kampung Banti hingga Opitawak.

Aksi cinta NKRI ini dipimpin langsung oleh Kapolsek dan Danramil Tembagapura.

"Kegiatan yang dilakukan ini guna menanamkan rasa nasionalisme dan rasa cinta kami kepada tanah air Indonesia," kata Kapolsek Tembagapura, Kapolsek Tembagapura AKP. Ahmad Dahlan.

Ia juga mengungkapkan bahwa situasional di wilayah kerjanya ini dalam keadaan aman dan damai. Aktifitas masyarakat juga berjalan sebagaimana biasanya.

Sementara itu, terkait dengan kemeriahan menyambut HUT Ke-77 tahun ini, Bupati Mimika, Eltinus Omaleng pada hari Jumat (29/7/2022) telah mengeluarkan surat edaran (SE) nomor yang Nomor: 003.1/486/2022 tentang Partisipasi Menyemarakkan Peringatan Hari Ulang Tahun ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2022.

Melalui SE tersebut, Bupati Omaleng mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi menyambut semarak HUT Kemerdekaan RI sebagai wujud ekspresikan rasa cinta pada tanah air.

Hal utama yang disampaikan dalam surat edaran tersebut adalah masyarakat maupun seluruh instansi diwajibkan untuk mengibarkan bendera merah putih secara serentak di lingkungan masing-masing mulai tanggal 1 sampai dengan 31 Agustus 2022. (Ignas)

Dukung Agenda G20, Freeport Tekan Emisi Gas Rumah Kaca dengan Inovasi Teknologi dan Kolaborasi

Freeport Indonesia sudah menjalankan program reboisasi di lahan seluas 3 ribu hektar dan penanaman 5 juta pohon, yang telahberkontribusi terhadap penyerapan karbon

JAKARTA, BM

PT Freeport Indonesia (PTFI) secara konsisten mendukung fokus agenda G20 2022 dalam menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK).

Hal tersebut tersampaikan dalam dialog Bincang Dua Puluh bertajuk “Misi Keberlanjutan melalui Penurunan Emisi” pada Kamis (7/7) lalu di Jakarta, bertepatan dengan momentum presidensi Indonesia di rangkaian acara pertemuan G20 2022.

Bersama dengan Kompas, Climate Stewardship Working Group (CSWG) G20, Yayasan Kehati, Universitas Papua, dan pemerhati lingkungan, PTFI sepakat bahwa kolaborasi multipihak diperlukan dalam percepatan upaya mitigasi pengurangan emisi GRK di tingkat nasional dan global.

Melalui kegiatan operasional tambang perusahaan dan kemitraan multipihak yang telah terjalin, PTFI berperan serta dalam upaya penurunan emisi GRK.

Presiden Direktur PTFI Tony Wenas dalam paparan keynote speech yang membuka dialog Bincang Dua Pulu mengatakan, PTFI percaya bahwa sektor swasta memegang peran penting untuk mendorong implementasi program pengurangan emisi GRK.

Ia mengungkapkan bahwa sebagai bagian dari komitmen perusahaan akan keberlanjutan, PTFI memiliki strategi iklim untuk mendukung ekonomi hijau dan memberikan nilai tambah bersama bagi para pemangku kepentingan.

"Kami juga sepenuhnya mendukung target pemerintah di presidensi G20 2022 untuk mencapai emisi nol (zero emission) pada tahun 2060, dan berharap momentum ini dapat menjadi wadah transformasi untuk mewujudkan dunia yang bebas dari emisi GRK,” ungkapnya

Sebelumnya, PTFI telah berkomitmen untuk mengurangi emisi GRK sebesar 30% pada tahun 2030 dalam kesempatan di Conference of the Parties (COP) ke-26 di Glasgow, Skotlandia, Britania Raya.

Komitmen tersebut kemudian terbukti dengan upaya perusahaan menyediakan pasokan tembaga untuk menyokong penggunaan teknologi ramah lingkungan di berbagai industri.

Penggunaan energi terbarukan yang kini aktif digencarkan berbagai pelaku industri akan membutuhkan tembaga lebih banyak, sehingga PTFI akan menyeimbangkan peningkatan produksi tembaga sejalan dengan dukungan perusahaan untuk menjalankan ekonomi hijau.

Meski demikian, PTFI menekankan bahwa upaya keberlanjutan yang perusahaan telah jalankan perlu didukung dengan kemitraan dan sinergi multipihak sehingga target keberlanjutan dapat tercapai secara optimal.

Para pembicara dialog Bincang Dua Puluh pun sepakat bahwa kolaborasi multipihak merupakan salah satu solusi untuk menjawab permasalahan emisi GRK yang kian meningkat dari tahun ke tahun.

Ketua CSWG G20 Laksmi Dewanthi mengungkapkan, kolaborasi pemerintah, sektor bisnis, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) berperan penting dalam mencegah bencana krisis iklim dan mencapai target nasional untuk mengurangi emisi GRK sebesar 29% pada tahun 2030.

"Upaya yang telah PTFI jalankan selama ini sepatutnya menjadi tolak ukur bagi para pemangku kepentingan lainnya agar dapat menyeimbangkan aktivitas bisnis dan dampak lingkungan, sekaligus bergerak dan mengambil peran untuk mencapai target keberlanjutan,” terangnya.

Lebih lanjut, Vice President Environmental PTFI Gesang Setyadi, juga mengungkapkan bahwa upaya keberlanjutan PTFI dalam mendorong penurunan emisi GRK mencakup transformasi di berbagai lini operasional perusahaan.

Ia menjelaskan, bahwa sejak tahun 2019, PTFI telah beralih ke tambang bawah tanah dan menggunakan kereta api listrik rendah emisi untuk membawa bijih hasil tambang.

Dikatakan Gesang Setyadi, PTFI juga telah mendapatkan izin untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Minyak dan Gas (PLTMG) yang dapat dioperasikan dengan biodiesel sekaligus menggantikan bahan bakar pembangkit listrik bertenaga batubara menjadi liquefied natural gas (LNG), sehingga lebih efisien dan ramah energi.

"Jika upaya ini terus dilanjutkan dan mendapatkan dukungan dari pemangku kepentingan lainnya, PTFI diperkirakan dapat melampaui target penurunan emisi GRK hingga 50% sebelum tahun 2030,” jelas Gesang Setyadi.

Dalam lingkup program lingkungan, PTFI sudah menjalankan program reboisasi di lahan seluas 3 ribu hektar dan penanaman 5 juta pohon, yang telah berkontribusi terhadap penyerapan karbon.

Selain itu, PTFI di tahun ini juga berencana untuk menjalankan reboisasi dan menanam pohon di lahan seluas 3.810 hektar di Jayapura. Pencapaian ini selanjutnya akan dilengkapi dengan penerbitan rencana operasional dan aksi mitigasi yang terkait dengan kehutanan dan pemanfaatan lahan.

“Tuntutan masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan terkait energi terbarukan dan upaya penurunan emisi GRK semakin mendorong perusahaan seperti PTFI untuk terus berinovasi dan bertransformasi. Kami akan selalu terbuka untuk menjalin kemitraan strategis sekaligus mengeksplorasi upaya lain yang dapat menghasilkan nilai tambah bagi berbagai pemangku kepentingan,” tutup Presiden Direktur PTFI Tony Wenas. (Red)

Riza Pratama : PT Freeport Indonesia Tidak Terlibat Sedikitpun Dalam Politik Pemekaran

VP Corporate Communications PT Freeport Indonesia, Riza Pratama (Foto Google)

MIMIKA, BM

PT Freeport Indonesia menegaskan bahwa mereka tidak terlibat sedikitpun dalam proses politik penentuan Daerah Otonomi Baru (DOB) Provinsi Papua Tengah yang beribukota saat ini di Nabire.

Pernyataan tegas ini disampaikan oleh VP Corporate Communications PT Freeport Indonesia, Riza Pratama saat dihubungi BeritaMimika, Senin (4/7/2022).

Penegasan ini sekaligus menjawab segala opini dan isu yang sempat berkembang dan menyebutkan bahwa PTFI menjadi dalang penentuan Nabire sebagai Ibu Kota Provinsi Papua Tengah.

"PTFI tidak pernah terlibat dalam hal pemekaran provinsi dari dulu sampai sekarang," tegasnya.

Riza Pratama mengatakan bahwa PTFI patuh dan tunduk pada hukum dan kebijakan pemerintah sehingga tidak ada alasan apapun bagi manajemen untuk terlibat dalam berbagai persoalan terutama yang berhubungan dengan pemekaran.

"PTFI adalah entitas bisnis yang tunduk terhadap hukum dan kebijakan Pemerintah RI. Dan sesuai kebijakan perusahaan, kami tidak dapat ikut terlibat dalam keputusan politik apa pun, tidak terkecuali penentuan Daerah Otonomi Baru (DOB)," ungkapnya.

Ia berharap penjelasan ini dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tidak terhasut atau terprovokasi dengan persoalan dan dinamika yang akhir-akhir ini berhubungan dengan pemekaran, apalagi dihubungkan dengan keberadaan PTFI di Mimika.

Keberadaan PTFI di Papua akan terus bersinergi bersama pemerintah dan masyarakat, dan PTFI juga tetap akan berkontribusi dalam hal lain seperti memberikan dukungan pengembangan ekonomi, kesehatan, pendidikan dan infrastruktur. (Ronald Renwarin)

Top