Pendidikan

Di Balik Keterbatasan, Anak Down Syndrome Asal Mimika Mampu Bersinar di Ajang Nasional

Avrillia Fransina Beatrick Beanal didampingi Kepsek SLB Negeri Mimika Sunardi

MIMIKA, BM

Di balik keterbatasan seorang anak Down Syndrome atau Syndrome Seribu Wajah ada seorang putri daerah asal Papua tepatnya Kabupaten Mimika yang berhasil menorehkan prestasi di ajang tingkat nasional.

Adalah Avrillia Fransina Beatrick Beanal seorang siswa kelas IV dari SLB Negeri Mimika yang berhasil mengharumkan Mimika dan memperoleh emas pada Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) cabang olahraga BOCCE.

Ajang ini dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia yang dilaksanakan secara daring (online-red) pada tanggal 5-9 September 2022 lalu.

BeritaMimika berkesempatan berbincang-bincang dengan Avrillia Fransina Beatrick Beanal yang didampingi oleh Kepala Sekolah SLB Negeri Mimika Sunardi Rabu, (5/4/2023).

Sunardi menjelaskan anak Down Syndrome memiliki hambatan yang lebih unik daripada tuna grahita atau bisa dikatakan seribu wajah.

“Secara akademik memang dia memiliki keterbatasan tetapi kalau di tes IQ secara psikologi memiliki kemampuan diatas rata-rata,” katanya.

Disebut ada perbedaan yang sangat nampak antara penderita Down Syndorme yang disekolahkan dan tidak.

“Yang tidak sekolah akan membuat sesuatu menjadi bahan perhatian, atau kalau senang komunikasikan dengan orang asal saja atau sok tahu sok kenal. Kalau tidak sekolah mereka tidak tahu ada tamu, upacara bendera dan sebagainya,” jelasnya.

“Kalau disekolahkan mereka akan menjadi anak yang memiliki kemandirian, kedisiplinan dan etika. Kelihatan sekali kemampuan pribadinya.

Dijelaskan, di sekolah mereka diajarkan hal sederhana seperti mewarnai, menggambar, dan aktivitas belajar ke arah bagaimana mereka mampu mengurus diri sndiri.

"Kalau dimanja sampai besar tidak akan bisa apa-apa,” imbuhnya.

Dikatakan penderita ini pun akan mengalami masa pubertas dimana ada masa ketertarikan dengan lawan jenis dan bagi perempuan akan mengalami masa monopause.

“Paling tidak mereka mengerti perintah sederhana dan tahu mana yang boleh atau tidak. Anak-anak jadi tahu tata krama. Untuk yang perempuan yang mengalami monopause tahu cara memakai pembalut dan mandiri. Minimal tahu kebutuhan dirinya,” paparnya.

Sunardi menuturkan anak adalah titipan Tuhan begitu juga Down Syndrome. Tidak semua orang tua diberikan berkat dari Tuhan. Selama percaya dan mau menerima pasti ada rejeki tersendiri dari Tuhan.

“Secara fisik bagus, hanya yang jadi hambatan itu kemampuan intelektualnya sehingga kita maksimalkan kemampuan bina diri, mengurus diri, bersosialisasi, beradaptasi dan potensi yang bisa dikembangkan seperti Beatrick dia dari bidang olahraga,” ucapnya.

Sunardi pun melihat bahwa animo dan perhatian masyarakat akan anak berkebutuhan khusus sudah mulai terbuka. Hal ini terlihat dari jumlah murid yang ada yang mana pada tahun kemarin ada anak yang usia sudah lewat baru disekolahkan.

“Ini berarti sudah ada kepedulian dari orang tua bahwa mereka punya hak yang sama untuk mendapatkan layanan pendidikan. Kewajiban kita memberikan layanan itu karena di Timika ada satu sekolah. Kalau anak seperti ini tidak dimaksimalkan, dimandirikan atau tidak sekolah mungkin diluar menjadi bahan bullyan dan olokan. Anak ini haris dimandirikan bukan dilayani,” tandasnya. (Elfrida Sijabat)

SLB Negeri Mimika Berterimakasih Atas Perhatian Pemda Mimika

Bangunan SLB Negeri Mimika yang berlokasi di Jalan Poros SP II-V

MIMIKA, BM

Akhirnya setelah penantian panjang perhatian pemerintah daerah (pemda) Kabupaten Mimika kepada Sekolah Luar Biasa (SLB) Mimika datang.

Pemda Mimika telah menyediakan satu unit bis sekolah guna mengantar jemput anak-anak siswa SLB Negeri Mimika yang berada didalam kota.

Selain itu, mereka pun diwacanakan memperoleh hibah berupa lahan seluas lebih dari dua hektar untuk dibangun Unit Sekolah Baru (USB) yang direncanakan akan di bangun di jalan Poros II.

Ketiga, meski secara regulasi SLB Negeri Mimika menjadi tanggung jawab Provinsi Papua Tengah, namun hak-hak guru sudah dibayarkan oleh pemda Mimika.

Hal ini diungkapkan Kepala Sekolah SLB Negeri Mimika, Sunardi kepada BeritaMimika Rabu (5/4/2023) di ruang kerjanya.

“Perhatian pemda terhadap SLB satu dua tahun terakhir ini sudah ada. Dalam hal pengadaan tanah untuk SLB dan sementara dalam persiapan. Tanah ini sepenuhnya dihibahkan dari pemda untuk SLB,” katanya.

Lanjutnya, tanah tersebut nantinya akan dihibahkan oleh pemda Mimika namun untuk pembangunan sepenuhnya diserahkan kepada provinsi Papua Tengah.

“Belum dihibahkan tetapi pernyataan secara lisan dan diwacanakan lokasinya untuk SLB, sekarang proses untuk disetujui. Dengan adanya lahan itu provinsi mengupayakan ada USB. Buktinya kemarin Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua Tengah dan Kepala Bidang Pendidikan sudah berkunjung kesini,” ungkapnya.

“Ini menjadi dasar bagi atasan kami di dinas pendidikan provinsi untuk mengajukan pengadaan sekolah baru ke pusat,” imbuhnya..

Ia menuturkan status SLB Negeri Mimika di masa transisi ini merupakan titipan. Bangunan SLB Negeri Mimika saat ini merupakan bantuan dari pemerintah pusat. Ruangan kelas yang tersedia menurutnya terbatas dan belum cukup untuk melayani jumlah murid yang sudah mencapai ratusan.

“Seharusnya memang kelas dipisah dan diatur sedemikian rupa. Kami melayani lima kekhususan yakni tuna netra, tuna rungu, tuna daksa, tuna grahita dan autisme untuk jenjang SD hingga SMA. Sementara jumlah guru ada 15 yakni ASN 2, PPPK tiga selebihnya honorer 10 orang,” jelasnya.

Sekolah ini pun telah membawa harum nama Papua dengan meraih emas pada ajang Olimpiade Olahraga ssiswa Nasional (O2SN) cabang olahraga BOCCE yang dilaksanakan secara daring (online-red) pada tanggal 5-9 September 2022.

“Tahun kemarin murid kita juara satu tingkat nasional, nama Papua terangkat atas nama Avrillia Fransina Beatrick Beanal dengan meraih emas. Untuk SLB Mimika ini yang pertama,” ucapnya.

“Saya ucapkan terimakasih kepada Tuhan dan pemda Mimika yang telah memfasilitasi. Kami sudah mendapat satu bis sekolah antar jemput dan akan diupayakan lagi dari Dinas Perhubungan. Jadi, siswa kami didalam kota sudah terakomodir dalam satu bis,” paparnya.

Ia berharap agar kedepan perhatian pemda Mimika terus ada, terutama untuk bantuan terkait pendidikan atau dana BOS daerah, SLB Negeri Mimika juga ada.

“Secara regulasi sekolah ini memang ada di Provinsi Papua Tengah tapi kami ada di Mimika dan melayani anak-anak Mimika. Disini beban kerjanya luar biasa bukan hanya sebatas mengajar tetapi menjadi pendidik, pelayan, baby sitter dan sebagainya. Kami dituntut untuk bekerja dengan hati dan penuh kesabaran,” tandasnya. (Elfrida Sijabat)

Pemda Mimika Prioritaskan Kesejahteraan Guru

Pj Sekda Mimika Petrus Yumte

MIMIKA, BM

Pj Sekda Mimika, Petrus Yumte mengatakan, Pemerintah Daerah (Pemda) Mimika sedang berjuang untuk meningkatkan kualitas para guru, karena guru merupaka benteng utama selain orang tua.

"Kami sudah sampaikan kepada Dinas Pendidikan untuk perhatikan kesejahteraan para guru. Jadi gaji mereka, TPP mereka harus dibayar tepat waktu, hak-hak lain yang bisa diperhatikan maka perhatikan supaya mereka nyaman," Kata Pj Sekda Mimika, Petrus Yumte.

Menurutnya, jika para guru nyaman maka tugas bisa dijalankan dengan baik. Bahkan Plt Bupati Mimika Johanes Rettob pun menyampaikan agar tidak ada lagi diskriminasi pendidikan swasta dan negeri, semua pendidikan akan mendapat porsi yang sama.

"Soal anggaran pemerintah punya standar, sekolah negeri pasti menjadi perhatian, sekolah swasta juga akan mendapat perhatian dari pemerintah. Pendidikan kan mandatory artinya wajib dianggarkan. Nanti porsinya kita fokus untuk kesejahteraan para guru," terangnya.

Namun Yumte juga berpesan, jika diperhatikan dengan tepat hak para guru maka mereka juga berkewajiban menjalankan tugasnya dengan baik. (Shanty Sang) 

Top