Kamis Putih : Kebesaran Seorang Katolik Terletak Pada Pelayanan dan Kasih

Prosesi pembasuhan kaki oleh 6 isteri kepada suami mereka

MIMIKA, BM

Di hari pertama bulan April, Kamis (1/4) seluruh umat Katolik di dunia merayakan Kamis Putih, termasuk di Mimika.

Tahun ini tema yang diangkat yakni “Tuhan Sungguh Telah Bangkit dan Tetap Bersama Engkau, Alleluia” (Mazmur 139:5b, Lukas 24:34) dan Sub tema : “Meningkatkan Relasi Yang Harmonis Dengan Allah dan Berbelarasa Dengan Umat”.

Di Gereja Katolik Paroki Santo Stefanus Sempan Timika, umat merayakan Misa Kamis Putih dalam dua misa yakni pukul 16.00 wit dan 18.30 wit.

Kamis Putih merupakan ritual membasuh kaki yang biasanya dilakukan oleh pastor kepada umat.

Kamis Putih merupakan ritual untuk mengenang bagaimana Yesus mencium dan membasuh kaki 12 murid-Nya pada perjamuan malam sebelum ia ditangkap dan disalibkan.

Sehingga pada momen ini, di setiap Gereja Katolik, pembasuhan dilakukan oleh pastor kepada 12 umatnya. Namun karena pandemi, tahun ini di lakukan dalan suasana yang berbeda dari tradisinya.

Di Gereja Sempan, pembasuhan kaki dilakukan hanya oleh enam pasang suami istri. Para isteri yang melakukannya kepada suami mereka.

Dalam homili, Pastor Paroki Santo Stefanus Sempan Timika Maximilianus Dora, OFM mengatakan dalam tradisi gereja Katolik, Kamis Putih adalah simbol dari Tri Suci menjelang perayaan Paskah yakni hari Kebangkitan Yesus Kristus dari kematian di kayu salib.

“Kamis Putih secara khusus mengenang malam perjamuan terakhir Yesus bersama dua belas murid-Nya sebagai simbol pelayanan yang tulus dari seorang pemimpin. Tradisi ini terus dipertahankan dan masih ada pada setiap perayaan Kamis Putih. Hanya dalam kondisi pandemi tentu secara lain,” tuturnya.

Pastor Maxi mengemukakan bahwa Kamis Putih juga mengenang peristiwa sebelum Yesus disalibkan. Dalam perjamuan tersebut Yesus berbagi roti Paskah dan membasuh kaki para murid-Nya.

Hal ini menjadi teladan bagi umat Katolik dimana pun berada karena membasuh kaki dimaknai sebagai lambang kerendahan hati dan melayani.

“Yesus mengajarkan sebagai seorang pemimpin bukanlah pihak yang dilayani melainkan harus melayani bahkan yang hina sekalipun. Ia pun mengajarkan suatu hal yang penting yakni mencintai dan mengasihi dengan tulus ikhlas. Dia adalah sang guru cinta kasih,” imbuhnya.

Lanjutnya, Allah adalah kasih. Siapa yang mengasihi Dia adalah pengikut Sang Kasih. Kasih yang berasal dari Allah Bapa nyata dalam perbuatan bukan perkataan semata. Kasih harus dalam kerendahan hati, pelayanan, pengampunan dan pengorbanan diri.

Ia mengatakan kurang lebih setahun pandemi Corona terjadi di negeri ini. Bukan hanya itu, banyak keluarga juga dalam kondisi bermasalah. Ada terjadi kekerasan, perceraian, pisah ranjang, intimidasi, perselingkuhan, pelecehan seksual hingga pembunuhan.

“Agama, gereja dan kita semua harus menampilkan bait-bait Allah yang penuh belas kasih. Hanya orang yang rendah hati yang mau melayani dan melupakan diri sendiri demi kebahagiaan dan kegembiraan orang lain,” pesannya

Ia mengulas pada Kamis Putih 2016, Paus Fransiskus melakukan ritual mencium dan membasuh kaki para imigran Muslim, Katolik, Hindu dan Kristen.

Hal tersebut merupakan bentuk solidaritas ditengah sentimen anti migran. Paus Fransiskus mengatakan bahwa manusia adalah pendosa dan memiliki cacat. Manusia tidaklah sempurna maka harus saling melayani dan mengampuni.

“Semoga kita berani merendahkan diri menjadi pelayan, menjadi hamba yang rela dan mau membersihkan diri dalam karya-karya pelayanan. Hamba yang mau membersihkan kotoran dalam hati dan keluarga. Hamba yang mau dan memberi dirinya untuk orang lain dan hidup seturut kehendak Tuhan," harapnya.

"IA berkata kalau Aku Tuhan dan gurumu sudah membasuh kakimu, kamupun harus membasuh kaki sesamamu karena kebesaran seorang Katolik terletak pada pelayanan bukanlah kekuasaan,” tutupnya.

Perayaan Kamis Putih tadi malam sangat identik dengan warna putih. Umat yang hadir di Gereja Sempan sebagian besar menggunakan corak putih dalam perayaan ini.

Perayaan berlangsung khidmat dan dijaga ketat oleh puluhan pasukan gabungan yang terdiri atas TNI Polri dan organisasi masyarakat (ormas). Mereka berjaga di setiap sudut gereja hingga perayaan selesai dilaksanakan. (Elfrida)

Top