Uskup Timika : Semoga 2026 Menjadi Tahun Rahmat

Suasana perayaan misa akhir tahun di Gereja Katedral Tiga Raja

MIMIKA, BM

Ribuan umat katolik memadati Gereja Katedral Tiga Raja mengikuti misa tutup tahun 2025 pada Rabu 31 Desember 2025.

Misa dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, didampingi Pastor Amandus Rahadat, Pr dan Pastor Rinto Dumatubun, Pr.

Dalam homilinya, Uskup Bernadus menyampaikan bahwa misa malam ini merupakan malam terakhir di tahun 2025 dan sekaligus momentum refleksi atas perjalanan waktu yang telah dilalui manusia.

Hitungan tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit serta detik adalah suatu kategori waktu yang dinamai manusia.

"Tahun adalah akumulasi bulan, bulan adalah akumulasi minggu, minggu adalah akumulasi hari dan akumulasi hari adalah jam dan jam adalah menit dan menit adalah detik serta detik adalah nol dan ketiadaan kedalam kekekalan keabadian,"kata Uskup Bernadus.

Dikutip dari Santo Agustinus, Uskup Bernadus menjelaskan bahwa tidak ada pemisahan antara waktu dan sejarah hidup manusia. Waktu pada hakekatnya adalah ruang dimana manusia hidup.

Didalam ruang itulah manusia menggunakan momen ini untuk mengukir sejarah. Sejarah kebaikan atau sejarah keburukan dalam rentangan hidup manusia.

Maka bagi Santo Agustinus tidak ada waktu, waktu hanya ada hari yang telah berlalu maka memoria waktu masa lalu adalah kenangan dan sejarah dan hari akan datang adalah harapan, impian, mimpi tentang sesuatu yang akan terjadi tahun 2026.

"Tapi yang pasti kita tahu bahwa ada sejumlah peristiwa yang telah kita lalui, dan apakah itu terulang lagi pada waktu yang sama pada tahun yang akan kita lalui," ujarnya.

Ia mengatakan, Santo Agustinus menyatakan apa yang dimaksud dengan sejarah pada hakekatnya adalah waktu itu sendiri dimana manusia dan makhluk hidup yang lain berada, memberi makna pada perjalanan.

Oleh karena itu, bagi Santo Agustinus segala peristiwa yang dilakukan dan terjadi saat ini kemudian berlalu menjadi suatu kenangan memoria dan  adalah sejarah.

Pandangan tersebut, lanjut Uskup Bernardus, sejalan dengan pemikiran filsuf asal Republik Ceko, Edmund Husserl, yang menegaskan bahwa makna sejarah tidak perlu dicari di luar diri manusia. Sejarah dan waktu hidup di dalam jiwa manusia yang bersatu dengan Sang Pencipta.

“Sang Pencipta masuk ke dalam ruang dan waktu sejarah manusia, berbelarasa dengan manusia, dan membawa manusia menuju kekekalan dalam terang-Nya menuju kebahagiaan sejati,” ucapnya.

Uskup Bernardus menegaskan bahwa Allah rela turun ke dalam ruang kehidupan manusia agar manusia mampu menghadirkan karya-karya hidup yang selaras dengan rencana Tuhan, yakni membangun Kerajaan Allah, kerajaan damai, kebaikan, dan keselamatan, bukan kerajaan kejahatan, perpecahan, dan kehancuran.

Ia berpesan, jika di tahun 2025 masih terdapat rencana yang belum tercapai atau karya yang belum sempurna, maka tahun 2026 harus menjadi kesempatan untuk melanjutkan dan menyempurnakannya, baik dalam kehidupan keluarga maupun di seluruh Tanah Papua.

Menutup homilinya, Uskup Bernardus mengajak umat menjadikan segala kekurangan dan kegagalan di tahun 2025 sebagai bahan refleksi dan pertobatan, agar dapat kembali berjalan di jalan Tuhan.

“Kalau di tahun lalu memori kita belum sempurna, mari kita sempurnakan di tahun ini. Apa yang kurang di masa lalu jadikan refleksi untuk diperbaharui. Dan semoga di tahun 2026 menjadi tahun Rahmat Tuhan sebagaimana Tuhan  menerima kabar dari malaikat. Mari kita lakukan karya-karya kebaikan di tahun 2026,”pesannya. (Shanty Sang)

Top