Tingkatkan Keterampilan, Dinkes Mimika Gelar Workshop TB DOTS Bagi Petugas Pustu
Suasana berlangsungnya workshop
MIMIKA, BM
Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika secara konsisten menggelar berbagai bimbingan teknis dan workshop, termasuk penanganan TBC (Tuberkulosis) dengan strategi DOTS. Inisiatif ini dilakukan untuk memperkuat deteksi dini dan layanan kesehatan dasar di tingkat akar rumput.
Workshop dan pelatihan ini ditujukan bagi petugas kesehatan di fasilitas pelayanan terdekat ata Pustu guna mengoptimalkan pengendalian penyakit menular di Mimika.
Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Grand Tembaga, Selasa (2/6/2026) ini untuk gelombang pertama bagi petugas Pustu di dalam kota dan gelombang kedua bagi petugas di pesisir dan pegunungan.
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular (P2M) di Dinkes Mimika, Kamaludin mengatakan,tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kapasitas petugas bagaimana dalam hal meningkatkan screening, diagnosis, pengobatan pencegahan dan investigasi kontak dengan pasien TBC di wilayah Pustu.
"Kita berharap setelah kegiatan ini, petugas Pustu punya peran sama besarnya dengan petugas kesehatan yang ada di induk yang selama ini kita sudah latih seperti bisa lakukan screening, diagnosis, mengobati, melanjutkan pengobatan, rujuk, investigasi ke pasien, mencatat dan melapor dan bisa melakukan terapi pencegahan TBC," kata Kamal.
Kamal mengatakan, bahwa program TBC dipegang oleh Puskesmas induk sehingga evaluasi akan dilakukan di Puskesmas induknya.
Dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat berjalan dan akan dievaluasi di bulan depan untuk mengunjungi Pustu di wilayah kota untuk mengetahui apakah pembelajarannya bisa diterima atau tidak dan bagaimana proses di lapangan apakah ada kendala atau tidak.
"Kami juga akan mendistribusikan pasien-pasien yang selama ini ada di kampung-kampung ke Pustu ke wilayah yang sesuai dengan Pustu mereka untuk bisa di treasing kontak, diawasi minum obatnya dan lainnya," ujarnya.
Kegiatan ini, kata Kamal baru pertama dilakukan dan tahun ini lebih fokus pada penguatan di Pustu karena, TBC ini sslah satu yang pengobatannya panjang, 6 bulan minimal.
"Ada TB tulang, ada meningitis TB 9 sampai 1 tahun. Kalau, pasien-pasien ini berada di daerah yang sulit itu bisa menyebabkan putus program. Oleh sebab itu, kita pilih tingkatkan kapasitas petugas Pustu agar nanti memperpendek rentan pasien mendapat penanganan," ungkapnya. (Shanty Sang)













