Bergerak Cepat, Mimika Antisipasi Cuaca Ekstrim La Nina

Wabup John didampingi Kapolres dan Dandim Mimika mengecek kesiapan pasukan pada Apel Siaga Bencana

MIMIKA, BM

Dalam rangka mengantisipasi cuaca ekstrim La Nina, seluruh unsur Forkopimda menggelar Apel Siaga Bencana yang diselenggarakan oleh Polres Mimika, di lapangan eks Pasar Swadaya, Kamis (12/11).

Sebagai inspektur, Wakil Bupati Mimika Johanes menyampaikan Mimika harus bergerak cepat mempersiapkan diri guna mengantisipasi cuaca ekstrim La Nina. Hal ini dilakukan sesuai amanat Undang-undang nomor 24 tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana.

Wabup John Rettob menjelaskan, wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis termasuk  demografis yang mana sangat memungkinkan terjadinya bencana.

Baik bencana yang disebabkan oleh faktor alam, non-alam dan faktor manusia yang menyebabkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis yang dalam keadaan tertentu dapat menghambat pembangunan nasional.

Hingga akhir September 2020 lalu, pemantauan terhadap anomali iklim global di samudera pasifik ekuator menunjukkan bahwa suhu permukaan laut di wilayah pasifik tengah dan timur dalam kondisi dingin selama enam dasarian terakhir, dengan nilai anomali telah melewati angka –0,5°c.

Selain itu Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Mimika  juga telah menyatakan curah hujan tinggi yang terjadi disebabkan efek fenomena La Nina yang terjadi di samudera pasifik di sebelah barat.

"Curah hujan di Mimika tertinggi terjadi pada bulan Juni, Juli hingga Agustus. Namun karena efek dari fenomena La Nina, curah hujan masih cukup tinggi terjadi hingga saat ini," ungkap Wabup.

Lanjut Wabup, fenomena La Nina diperkirakan akan terus meningkat hingga akhir tahun 2020, sehingga diharapkan kepada masyarakat untuk waspada terhadap timbulnya bahaya bencana yang diakibatkan luapan air serta angin besar.

"Pada bulan Oktober, wilayah Kabupaten Mimika pada masa pancaroba, yaitu masa peralihan dari kemarau ke musim hujan (atau sebaliknya), pada masa peralihan ini biasa ditandai dengan sering terjadinya hujan deras dengan durasi singkat disertai guntur dan angin kencang,"ujar Wabup.

Musim hujan di Kabupaten Mimika, disampaikan Wabup John, dimulai pada bulan April hingga November, dengan puncak musim hujan akan terjadi pada bulan Desember.

"Mimika diperkirakan terkena dampak La Nina pada bulan Desember 2020 hingga Februari 2021. Dengan demikian dengan adanya La Nina yang terjadi bersamaan pada periode musim hujan ini, curah hujan pada bulan Desember 2020 hingga Februari 2021 diperkirakan akan meningkat 20-40 persen dari curah hujan rata-rata pada musim hujan," jelas Wabup.

Agar semua siap menghadapi kondisi ini, wabup mengatakan pemerintah daerah menghimbau seluruh masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

"Selain dimasa menghadapi pandemi Covid -19 ini, saya menghimbau dan mengharapkan semua pihak untuk siaga mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana hidrometerologi, sehingga kita perlu melakukan koordinasi dan komunikasi yang baik dan intens antara seluruh stakeholder yang ada," jelas Wabup John. (Ignas)

Top