Setelah Anjing Bernyanyi dan Kepiting, PTFI Kembali Temukan Jenis Katak Baru di Papua

Litoria lubisi, memiliki warna yang lebih mencolok dibandingkan katak hijau lainnya,  ukurannya dapat mencapai 70 mm

MIMIKA, BM

Sungguh kaya dan begitu diberkati Bumi Cenderawasih ini. Negeri yang indah dan elok ini tidak hanya memiliki hasil alam tambang saja yang melimpah namun juga kekayaan flora dan faunanya.

Kekayaan alam ini dibuktikan dengan terus ditemukannya sejumlah spesies baru selama berapa tahun terakhir oleh tim peneliti PT Freeport Indonesia yang bekerjasama dengan sejumlah universitas terkemuka di Indonesia dan lembaga peneliti.

Pada 2018 lalu, PTFI yang bekerjasama dengan Universitas Cenderawasih (UNCEN) dan Universitas Negeri Papua (UNIPA) serta New Guinea Highland Wild Dog Foundation (NGHWDF) menemukan Anjing bernyanyi di dataran tinggi Papua.

Di tahun 2020, PTFI dan LIPI kembali menemukan Dua Spesies Kepiting Baru di Kawasan Muara Sungai Ajkwa. Setelah melalui proses pengkajian selama hampir 4 tahun, kedua spesies tersebut pun dinyatakan sebagai spesies baru. Adapun kekhasan ciri fisik utama keduanya terletak pada bentuk tubuh dan capitnya.

Tidak hanya itu, di tahun yang sama bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, PT Freeport Indonesia (PTFI) mengumumkan penemuan satu spesies tumbuhan baru di area kerja PTFI di Mimika yang dinamakan Diplycosia puradyatmikai Mustaqim, Utteridge & Heatubun sp. nov.

Penemuan spesies baru ini telah dipublikasikan secara resmi dalam jurnal internasional Phytotaxa 442: 52–60 tanggal 11 Mei 2020.

Memasuki pertengahan tahun 2021 ini, PT Freeport Indonesia yang bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan South Australian Museum kembali menemukan adanya spesies katak baru di Mimika, Papua.

Spesies yang ditemukan adalah Litoria lubisi, sejenis katak pohon hijau besar yang merupakan anggota keluarga Litoria infratrenata.

Penemuan spesies baru ini telah dipublikasikan secara resmi di jurnal internasional Zootaxa 4903 (1): 117 – 126. Nama lubisi diambil dari Dr. Rusdian Lubis yang waktu itu menjabat sebagai Senior VP untuk bidang lingkungan dan keselamatan kerja.
 
Litoria lubisi memiliki fisik yang cukup unik karena ukurannya yang cenderung besar, dengan panjang dapat mencapai 70 mm. Selain itu, katak ini juga terlihat kuat serta memiliki warna yang lebih mencolok dibandingkan dengan katak hijau lainnya.

Katak yang hidup di dataran rendah ini juga memiliki mulut yang lebar dengan masing-masing kerangka giginya terdiri dari 10 gigi kecil dengan garis rahang yang tidak begitu tegas pada permukaan kulitnya.

Katak ini memiliki tiga selaput memanjang di antara keempat jarinya, dengan bentuk kaki memanjang yang memperkokoh genggaman dan cengkramannya.

Bagian tubuh hewan ini meliputi beberapa warna yang terdiri dari warna kuning di bagian bawah badan dan ujung jari kaki, warna biru pucat di sepanjang lipatan kulit, serta warna coklat kemerahan pada beberapa garis di bagian perut dan selaput kaki. Katak ini ditemukan hanya di hutan sagu yang ada di Mimika, Papua.
 
Penelitian terhadap Litoria lubisi ini sudah dilakukan sejak tahun 2006 oleh dua penulis dan peneliti, yakni Stephen Richards dari South Australian Museum dan seorang peneliti independen Burhan Tjaturadi yang telah bekerja di Tanah Papua sejak tahun 1999 saat bergabung dengan WWF dan Conservation International.

Keduanya melakukan penelitian keanekaragaman hayati di hutan rawa sagu di selatan Timika, Papua, dan berhasil mengumpulkan satu spesimen dari spesies tambahan yang menunjukkan atribut morfologi dari grup Litoria infratrenata.

Penelitian ini kemudian dilanjutkan oleh tim peneliti LIPI, yaitu Mumpuni, Hellen Kurniati, dan Evy Arida. Setelah melalui penelitian selama 15 tahun, akhirnya tim peneliti dapat mengonfirmasi bahwa spesies yang diteliti merupakan spesies baru yang belum pernah dicatat dalam silsilah taksonomi.

Penelitian ini memakan waktu yang cukup lama melalui beberapa tahap identifikasi dan verifikasi. Hasil penemuan ini pun telah dicatat dan dipublikasikan dalam jurnal internasional Zoo Taxa yang sekaligus mengkonfirmasi sebagai spesies baru.
 
“Salah satu tantangan utama kami dalam melakukan penelitian ini adalah medan yang cukup sulit. Kami berterima kasih kepada PT Freeport Indonesia yang telah membantu kami menyelesaikan penelitian ini dengan memberi dukungan fasilitas selama penelitian dilaksanakan. Ke depannya, kami berharap dapat melanjutkan kerja sama dengan PTFI untuk terus menyibak kekayaan alam yang ada di Papua dan memajukan ilmu pengetahuan di Indonesia,” ujar Burhan Tjaturadi, peneliti independen yang terlibat dalam penelitian ini.
 
Environmental Senior Manager PTFI Gesang Setyadi menyampaikan bahwa penemuan spesies baru ini sekali lagi menunjukkan keanekaragaman hayati di area kerja PTFI.

"Area kerja PTFI masih menyimpan potensi kekayaan flora dan fauna yang belum dapat dipelajari secara menyeluruh. Untuk itu, PTFI selalu menjalankan kebijakan lingkungan yang salah satunya adalah berkontribusi dalam konservasi keanekaragaman hayati. Oleh karena itu kami selalu bekerja sama dengan berbagai pihak dalam berbagai upaya konservasi dan keanekaragaman hayati, khususnya di area kerja PTFI,“ kata Gesang.
 
Penelitian dan pemantauan keanekaragaman hayati PTFI tidak terbatas untuk suatu lembaga tertentu saja, namun juga melibatkan banyak pihak lain, seperti lembaga pendidikan, kantor Konservasi Sumber Daya Alam, badan penelitian, museum, ataupun peneliti mandiri.

Sebagai contoh, selain bermitra dengan LIPI, PTFI juga secara rutin berkolaborasi dengan Natural History Museum of United Kingdom (NHMUK), South Australian Masters Athletics (SAMA) of Adelaide, dan University of Papua New Guinea (UPNG).

Hal ini dilakukan untuk memperkaya khazanah keanekaragaman hayati di tanah Papua. “PTFI akan terus berupaya merealisasikan komitmen untuk berkontribusi terhadap lingkungan melalui program pelestarian dan perlindungan alam, maupun mendukung berbagai program kegiatan penelitian yang dapat menguak kekayaan keanekaragaman hayati yang ada di  Papua,” tutup Gesang.

Penemuan ini menambah daftar panjang penemuan spesies baru di area kerja PTFI (sejak tahun 1997 yang terbentang dari kawasan pesisir hingga hutan alpin berketinggian lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut menjadi 29 flora dan 101 fauna, terdiri dari 50 spesies serangga, 2 spesies mamalia, 26 spesies reptil, 2 jenis ikan, 21 jenis kepiting, dan beberapa jenis lainnya. (Red)

Top