Sebuah Kenangan Ketika Saya Disangka Manajernya Glenn Fredly
Glenn Fredly (Foto google)
Penulis : Ronald Renwarin
“Biarkanlah kurasakan hangatnya sentuhan kasihmu. Bawah Daku penuhiku, berilah diriku kasih putih dihatimu...........
MIMIKA, BM
Glenn Fredly Deviano Latuihamallo telah berpulang ke pangkuan Sang Ilahi sekitar 2 pekan lalu. Kepergiaanya telah meninggalkan luka yang dalam bagi Indonesia, terutama mereka yang mengidolakan dan mencintainya.
Semasa hidupnya, pemilik lagu Kasih Putih dan Januari ini dikenal sebagai musisi tanah air yang selalu berdiri dari atas panggung
menyuarakan dan mengangkat ketertinggalan di Indonesia Timur terutama Papua dan Maluku.
Glenn adalah musisi yang fenomenal. Suara khas yang dipadukan dengan caranya bernyanyi membuat banyak orang mencintainya.
Ia dipuji para penggagumnya sebagai musisi yang paling memahami perasaan seseorang tentang cinta, pengorbanan dan ketulusan.
Ia juga dikenal sebagai pelantun yang romantis dan sering menghipnotis para penontong dengan ekpresinya di atas panggung. Inilah mengapa kaum hawa banyak yang mengidolakannya.
Bukan hanya itu, di industri musik Indonesia, Gleen Fredly merupakan seorang pejuang. Ia tidak pernah berhenti menyuarakan kebijakan keberpihakan pemerintah terhadap industri musik tanah air. Tidak heran, ia begitu dihormati dan dicintai bukan hanya oleh fansnya namun juga oleh musisi tanah air.
Glenn Fredly juga dikenal sebagai musisi yang revisioner dalam mendorong begitu banyak anak muda untuk terjun ke dunia musik. Ia ingin anak-anak muda Indonesia berprestasi dalam segala hal yang mereka lakukan.
Lelaki berdarah Maluku, nyong itam manis ini benar-benar begitu dicintai dan dikenang. Gleen Gredly telah pergi! Ia telah selesai berjuang melawan sakitnya yang hampir tidak pernah diketahui banyak orang.
Hidupnya untuk musik tanah air, menghibur masyarakat dan berkarya lewat keagungan lagu dan musik pun telah selesai.
Kita tidak akan lagi mendengar ia bernyanyi. Semua tentang Glenn Fredly kini tinggal kenangan dan cinta. Saat ini, Glenn sudah bersama Allah di surga. We always missing you brother!!!
Perjalanan Bertemu Sang Idola
Sekitar 2004 atau 2005 salah satu produsen rokok terbesar di tanah air menggelar acara musik berkonsep besar yang dikenal dengan sebutan A Mild Live Soundrenaline.
Kegiatan musik bertajuk festival ini menghadirkan puluhan musisi papan atas tanah air yang bernyanyi secara live menghibur ribuan penonton dari atas panggung.
Saat itu, salah satu kota yang menjadi tujuan pentas A Mild Live Soundrenaline adalah Cimahi, Jawa Barat.
Di Jawa Barat, acara ini dilangsungkan di Lapangan Brigif Cimahi, yang kebetulan berada di belakang Kampus Universitas Jenderal Achmad Yani, tempat kuliahku.
Dua hari sebelum acara di gelar, penulis mendapat kabar dari seorang teman yang berprofesi sebagai anggota TNI dan bertugas di Brigif Cimahi.
Anggota TNI ini berasal dari Maluku dan penulis sering ‘bakukumpul’ dengan dia dan rekan-rekanya yang lain yang juga berasal dari Maluku.
Dia ke kosanku ketika hari mulai sore dan menyampaikan bahwa Glenn Fredly juga akan hadir di A Mild Soundrenaline.
Saat bacarita di beta pung kos, ia mengungkapkan bahwa ia bersama rekan-rekannya yang lain ditugaskan untuk menjaga salah satu pintu masuk.
Jika saya dan teman-teman ingin menonton konser ini, lebih mudah masuk dari tempatnya berjaga. Bahkan kami dijanjikan hanya membayar setengah dari harga tiket masuk.
Siooo.. Beta gandong satu ini memang paling mangarti dan tahu kalau katong ini mahasiswa yang tra ada kepeng dan hidup susah di rantau orang.
Saya pun memintanya menyiapkan sekitar 10-15 tiket karena saya akan mengajak teman teman lain untuk menonton konser ini.
Dua hari setelahnya, saya bersama sekitar 12-14 mahasiswa ke lapangan brigif. Hari mulai sore. Kami menuju pintu masuk yang sudah ditunjukan. Saat itu banyak sekali anggota TNI yang berjaga.
Setelah baku kode, kamipun masuk dan masing-masing membayar setengah dari harga tiket yang dijual. Kecuali beta, saat itu beta masuk gratis. Bagaimana seng gratis, gandong samua yang jaga ini.
Sore itu lapangan brigif Cimahi sudah dipadati ribuan pengunjung. Lapangan yang luas, mulai tampak berdesak-desakan. Di areal ini ada sekitar 3-4 panggung besar yang memang diseting untuk puluhan artis yang sudah berderet di belakang panggung.
Teman-teman yang datang bersamaku termasuk penggagum Glenn Fredly, sehingga penampilannya sangat kami nantikan. Sebelum Glenn tampil, kami menikmati penampilan beberapa artis lainnya seperti Naif, Cokelat, Sheila On Seven dan lainnya.
Terlalu banyak artis saat itu yang manggung sampai saya lupa siapa-siapa saja. Intihnya kami menunggu aksi pemilik lagu Kasih Putih.
Beberapa waktu berselang, panggung terbesar malam itu tiba-tiba redup. Sepasang lampu sorot difokuskan hanya pada satu tempat. Glenn Fredly tiba-tiba mucul dalam sinar itu.
Ia berlari di atas panggung sembari membawah bendera merah Putih. Aksinya memasuki panggung membuat semua orang terkagum-kagum. Saya pun merasa merinding menyaksikannya.
Pesonanya sebagai seorang pemusik papan atas negeri ini benar-benar mampu menghipnotis ribuan orang di lapangan Brigif. Hampir semua yang hadir meneriakan namanya Glennnnn... Glenn Fredly... we love you dan berbagai macam panggilan lainnya.
Diantara keramaian ini, tanpa penulis sadari ada beberapa perempuan yang meneteskan air mata. Mereka menarik, berteriak sambil saling berpelukan dengan rekan-tekannya yang lain. Sepertinya mereka ini fans garis kerasnya Glenn Fredly.
Dibelakang barisan penulis, ada teriakan logat daerah seperti ini ‘Bu eee ale paling gagah. Cuman se yang terindah gandong eee. Katong ada di bawah ini datang par nonton ale. Ternyata mereka adalah mahasiswa-mahasiswa Maluku di Bandung yang juga datang menonton konser Glenn Fredly.
Dari atas panggung, Glenn Fredly bicara tentang keberagaman Indonesia. Tentang persatuan dan kesatuan, cintah tanah air, hidup bersaudara, Indonesia Timur dan secara khusus untuk Papua.
Saat Glenn Fredly melantunkan lagu-lagunya, semua orang ikut bernyanyi dan bergembira bersamanya. Ia terlihat begitu sempurna di malam itu. Hampir kurang lebih satu jam, ia membuat semua yang menontonya kala itu kini kembali mengenangnya.
Setelah ia selesai bernyanyi, Glenn Fredly bersama crewnya meninggalkan panggung. Aksi panggung selanjutnya diisi oleh para artis yang lain, tapi saya tidak ingat lagi siapa yang tampil usai Glenn Fredly.
Sebelumnya, di saat Glenn menyanyikan lagu terakhirnya, saya berbisik kepada teman-temanku agar kami ke belakang panggung menemuinya untuk bisa foto denganya.
Yang lainnya masih enggan meninggalkan aksi terkahir Glenn Fredly, saya bersama sekitar 6 teman langsung bergegas meninggalkan depan panggung.
Sulit untuk menembus barisan penonton namun teriakan “awas air panas lewat” mampu membuat kami terpisah dari kerumunan dan berhasil meninggalkan depan panggung.
Baru kami sadari, ternyata untuk bisa ke belakang panggung, harus melewati pagar trali setinggi dua meter dan pantauan puluhan anggota TNI yang berjaga di sepanjang pagar itu.
Hanya ada satu pintu masuk, namun di pintu itu ada belasan anggota TNI yang menjaganya. Tidak ada pilihan lain selain harus melompati pagar. Itupun bisa dilakukan kalau mereka lengah. Tiga orang temanku tiba-tiba merasa takut dan tidak berani melompati pagar.
Sambil mengatur strategi, saya menyuruh ketiganya pergi menemui para anggota yang berjaga dan meminta izin agar kami bisa masuk. Hal ini tidak akan mungkin diizinkan namun mereka harus lakukan itu agar perhatian anggota TNI yang yang berjaga tidak fokus.
Dengan bantuan temanku yang agak tinggi, saya berhasil melompati pagar dan masuk ke area belakang panggung. Dua temanku yang lain, satu asal Tanimbar dan satunya Flores juga berhasil melompati pagar pembatas.
Sayangnya, aksi mereka berdua diketahui anggota TNI yang berjaga. Dari jauh saya melihat keduanya ditangkap dan dirotan oleh dua orang anggota sambil diantar keluar pagar.
Di belakang panggung, disediakan satu ruangan khusus yang cukup besar. Di ruangan ini semua artis yang akan tampil dan usai tampil dari panggung A Mild Live Soundrenaline kumpulnya di sini.
Entah sedang bermimpi atau sedang ketiban durian runtuh, saya merasa menjadi orang paling beruntung karena bisa melihat dari dekat bahkan seruangan dengan puluhan artis-artis papan atas negeri ini.
Terlalu banyak sampai saya pun lupa siapa-siapa saja di dalam ruangan ini. Satu yang cukup berkesan, parfumnya Vokalis Band Naif, David Bayu DanangJaya paling harum di ruangan itu.
Satu lagi yang unik, di depan pintu masuk ada dua anggota TNI yang berjaga dengan atribut lengkap. Sebelum masuk keruangan artis, saya harus melewati keduanya. Dalam keadaan ini, saya harus berpikir 1000 kali lipat agar tidak ditahan.
“Abang berdua izin Bung Glenn Fredly sudah selesai manggung, habis dari atas panggung dia dan crewnya langsung ke sini,” ujarku parlente agar bisa meyakinkan keduanya. (Jantungku saat itu berdetak kencang).
“Oh oke siap bung. Makasih infonya, kami juga sudah diinfokan,” ujar salah satu anggota.
Saya pun masuk ke dalam ruangan itu. Saat melewati keduanya, saya hanya berdoa dalam hati, Tuhan biarkanlah saya masuk dan mereka tidak menghalangi apalagi menangkapku.
Entah kenapa mereka tidak menahanku. Saya berpikir, mungkin wajahku yang adalah ‘Made In Maluku’ dan sedikit mirip dengan Glenn Fredly, membuat mereka pasti yakin bahwa saya adalah bagian dari team worknya Glenn.
Tidak lama berselang Glenn Fredly bersama manager dan crewnya memasuki ruangan itu. Ia kemudian bersalaman, berpelukan dan saling menyapa dengan artis-artis lainnya.
Setelah itu, Glenn Fredly kemudian mengumpulkan semua crewnya dan mereka langsung membentuk lingkaran kecil, berdoa dan mengucap syukur kepada Tuhan.
Saya pun ikut berdoa bersama mereka. Glenn bukan hanya mensyukuri penyertaan Tuhan dalam aksinya namun ia juga berdoa untuk kedamaian dan persatuan Indonesia, musik di Indonesia termasuk kedamaian di Papua. Mereka mendoakan banyak hal.
Setelah memanjatkan doa, manager Glenn Fredly (dia seorang perempuan) menyampaikan akan ada sesi pers di room sebelah. Mendengar itu saya pun segera berpikir panjang.
Saya datani lagi kedua anggota TNI yang berjaga dan menyampaikan bahwa Glenn Fredly akan bergeser ke ruangan pers untuk melakukan konferensi pers.
Ketika keluar room para artis, Glenn Fredly tiba-tiba menyapaku.
“Nyong... apa kabar? Sendiri ka? baru teman-teman yang lain mana?” Tanyanya.
“Bae-bae saja ini kaka bu. Beta dengan yang lain mar dong dapa tahan di depan oleh anggota. Seng bisa masuk. Beta saja yang lolos karena lompat pagar,” ujarku.
Sambil berjalan bersama, Glenn Fredly tertawa mendengar penjelasanku. Saya pun tidak pernah menyangkah bawah semua pembicaraan ini terjadi begitu natural. Dia seperti merasa mengenalku dan saya pun merasa nyaman dibuatnya.
Dalam perjalan, saya memintanya untuk memberikan topi biru putih yang dia pakai. Karena hanya berdekatan, tidak terasa kami sudah di room sebelah.
“Beta ketemu wartawan-wartawan dolo ee. Habis itu baru katong lanjut,” ujarnya ketika kami sudah di ruangan pers.
Glenn meladeni sekitar 10-15 pertanyaan wartawan di ruangan ini. Mereka bertanya tentang rencana album baru, cita-cita dan harapannya untuk musik Indonesia, bagaimana tanggapannya tentang regulasi musik di Indonesia hingga kisah cintanya Glenn Fredly. Kebetulan saa itu ia digosipkan sedang dekat dengan salah seorang artis yang juga penyanyi.
Yang terekam di ingatanku dari penjelasaanya saat itu adalah Glenn Fredly ingin agar musik dan penyanyi Indonesia go internasional.
Ia ingin agar hak cipta (lagu) musisi tanah air tidak dibajak. Glenn ingin pemerintah Indonesia membuat regulasi ketat untuk melindungi hal ini karena musisi tanah air hidup dari karya yang mereka ciptakan.
Lagi asik menyimak wawancara yang begitu dekat dimataku, tiba-tiba saya dikagetkan oleh suara seorang perempuan.
Dia menyapaku dan memperkenalkan dirinya sambil menunjukan id-card yang terpajang di dadanya. Gadis cantik ini ternyata seorang wartawan salah satu majalah ternama di Indonesia.
“Abang minta maaf saya mengangu. Kenalakan saya ... dari majalah .... kami berencana ingin memuat tulisan exclusive Bung Glenn Fredly di majalah kami tentang harapannya agar musik Indonesia go internasional. Kalau boleh kami minta nomor kontak abang sebagai managernya agar suatu saat kami bisa wawancara khusus dengan Bung Glenn Fredly,” jelasnya kepadaku.
Masih dalam keadaan tidak percaya karena dikira manager Glenn Fredly, saya ingin langsung menghentikan penjelasannya. Karena bukan hanya bertanya tapi dia juga menyampaikan beberapa penjelasan detail tentang rencana pemberitaan Glenn Fredly.
Setelah menjadi wartawan, saya menyadari bahwa teknik seperti itulah yang harus dimiliki oleh seorang wartawan untuk meyakini orang lain atau narasumber kita.
Caranya begitu sempurna, jika saya managernya Glenn Fredly, saya pasti akan mengiyakan rencana wawancara tersebut.
Sayangnya, dia sedang bertanya kepada orang yang salah.
“Mba minta maaf, saya ini saudaranya Glenn Fredly tapi saya bukan managernya. Managernya Bung Gleen adalah nona itu,” ujarku sambil menujuk ke arah manager Glenn Fredly.
“Ohh saudaranya. Pantasan mirip wajah abang dengan Bung Glenn,” ungkapnya sambil menanyakan apakah boleh dia langsung berkomunikasi dengan managernya Glenn, saya mengiyakan boleh.
Tidak bermaksud berlebihan, namun sewaktu kuliah di Universitas Jenderal Ahmad Yani Cimahi saya biasa dipanggil Glenn oleh teman-temanku. Banyak yang bilang wajahku saat itu (waktu masih kurusan dan belum berjenggot) mirip Glenn Fredly. Mungkin juga karena kami sama-sama dari Maluku.
Ketika Glenn Fredly usai diwawancarai dia langsung menghampiri saya dan mengatakan ini kepadaku.
“Gandong jang marah eee. Beta seng bisa kasih topi ini. Soalnya anak perempuan komandan brigif sudah minta duluan. Beta sudah janji par dia setelah menyanyi beta kasih dia. Beta kasih gandong ini saja eee,” ujar Glenn Fredly sambil meraba kantong celananya.
Malam itu, Glenn Fredly memberikanku pic gitar yang dia gunakan saat manggung di atas panggung. Pic gitar itu bergambar wajahnya menggenakan topi. Saya juga meminta dia membubuhkan tandatanganya di topiku.
“Peace, Love and Respect” adalah tiga kata indah yang dia tulis sebagai kenangan untukku, yang diakhiri dengan tanda tangan dan tulisan nama Glenn Fredly di topiku yang berwarna putih!
Sebelum berpisah saya mengucapkan terimakasih dan memeluknya, bahkan dua kali kami berpelukan. Kamipun sempat berfoto bersama mengabadikan momen ini.
.......... Terimakasih brother
Karyamu yang kini menjadi abadi bersama kehidupan kami, bukan hanya tentang lagu dan musik. Karya terindah yang engkau berikan untukku, penggemarmu dan Indonesia adalah HATI dan JIWAMU.
Brother eeee...
Katong semua yakin dan percaya Ale sudah bahagia bersama BAPA di Surga. Karena orang sepertimu, tempatnya di sana.
Terimakasih untuk kenangan ini........
Ohhhh iya... sebelum saya keluar dari areal ini, salah satu dari tiga rapper yang bersama Glenn Fredly bernyanyi di lagunya “You are My Everything” meminta rantai salib besi putih yang saya pakai.
Saya menolak memberikan untuknya karena itu merupakan rantai salib yang dikirimi mama di kampung untukku.
Tapi kalau seandainya Glenn Fredly yang memintanya waktu itu, saya pasti akan memberikan dan mamaku pasti menyetujuinya. (***)



