Sampah di Timika seperti Judul Lagu Almarhum Glenn Fredly 'Sedih Yang Tak Berujung'

Jika tidak ditegur, maka sebagian warga Timika akan terus membuang sampah di samping pasar lama
MIMIKA, BM
Persoalan sampah di Kabupaten Mimika masih menjadi momok yang belum mampu diselesaikan dengan baik.
Pasalnya, hingga saat ini kita masih dapat menjumpai sampah yang berceceran di pinggiran jalan, salah satunya seperti di Jalan Budi Utomo baru.
Di beberapa titik bahkan masih nampak sampah yang berserakan diatas pukul 06.00 Wit.
Petugas kebersihan sebenarnya telah berupaya untuk memungut sampah tersebut namun tak berselang waktu masih ada yang membuang sampah bukan pada tempat dan waktu yang telah ditentukan oleh pemerintah.
Hal ini masih menjadi permasalahan yang tak berujung, entah karena lokasi Tempat Pembuangan Sampah (TPS) legal yang ditentukan oleh pemerintah jauh dari lokasi rumah warga ataukah memang kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya minim.
Plh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mimika Syahrial mengatakan bahwa setiap hari sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sebanyak 27 ton.
Walau DLH Mimika kini memiliki 164 pekerja, 20 unit dump truck, 12 unit amroll serta 8 unit kendaraan roda tiga yang telah diserahkan ke kelurahan namun belumlah mampu sepenuhnya menangani 27 ton sampah di kota ini tiap hari.
Syahrial meyebutkan terdapat enam titik TPS legal di kota Timika yang aktif diantaranya di pasar lama, dolog, busiri dan SP2.
“Enam ini sebenarnya kurang tetapi tempat yang bisa kita pakai sementara hanya itu karena masyarakat juga menolak ditaruh tong sampah. Kita selalu minta lurah untuk mencari tempat yang strategis,” katanya.
Menurutnya, tugas DLH adalah memfasilitasi, transportasi dan distribusi sampah, bukan mencari tempat untuk membantu sebagai tempat pembuangan sementara.
"Kan kita sudah bagi tugas, masalah lokasi silahkan dicari kalau memang perlu anggaran kita usulkan ke pertanahan untuk dibiayai dengan begitu kita punya tempat permanen tetapi kenyataanya, lurah juga susah mencari lokasi TPS legal,” lanjutnya.
Walau DLH terus mengupgrade segala hal untuk menangani sampah, namun jika masyarakat sebdiri belum memiliki kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya, maka seberapa besar pun anggaran maupun fasilitas, semua akan terlihat percuma.
“Masyarakat kita ini tidak mau susah, kalau mereka sadar maka sudah pasti buang sampah pada TPS legal. Semua kembali ke masyarakat juga. Apapun upaya kita, berapa pun besar kekuatan kita baik anggaran dan fasilitasi kalau tidak dibarengi kesadaran masayarakat membuang sampah pada tempatnya, maka itu sia-sia karena kita juga kesulitan mencari tempat yang strategis. Kota ini terlalu padat,” ungkapnya.
Pemerintah daerah melalui DLH juga telah menempatkan kendaraan truk sampah di beberapa titik dengan harapan masyarakat dapat memanfaatkan itu untuk membuang sampah. Hanya saja, kondisi ini terus saja diabaikan.
“Kita (lurah-red) memang sangat kesulitan menemukan lokasi TPS karena mana ada orang mau kasih lahan cuma-cuma untuk dibuang sampah karena polusi atau bau dan lain-lain,” tukasnya.
Sementara itu, terkait permasalahan sampah medis, Syahrial mengemukakan perlu ada satu program khusus untuk menanganinya.
“Sampah medis sebenarnya penangannya perlu diperbaiki, sekarang hanya punya PTFI dan rumah sakit. Ini yang perlu kita tangani secara baik oleh karena itu perlu satu program tambahan untuk menangani masalah sampah medis ini,” ucapnya.
Sementara untuk sampah plastik menurutnya perlu penyediaan mesin pencacah dengan kapasitas besar agar dapat bernilai ekonomis.
“Sampah plastik memang belum bisa kita tangani secara keseluruhan. Sampah botol sudah dipilah oleh beberapa pengepul namun yang masalah adalah kantong plastik karena pemanfaatannya belum begitu banyak bisa kita lakukan," ungkapnya.
"Ada upaya pemerintah daerah berpikir akan mecoba mengolah sampah plastik, kalau kita tangani secara baik mungkin akan bernilai ekonomis,” tandasnya.
Selain itu ia mengatakan perlu ada peningkatan kualitas untuk mesin pencacah yang saat ini sudah dimiliki oleh DLH Mimika.
“Kita akan bermitra dengan komunitas KAMGAS, kalau kita sudah bermitra maka kapasitasnya harus ditambah karena percuma kita kumpul dalam jumlah sedikit maka akan lama tetapi kalau dalam jumlah besar pasti akan ada perputaran ekonomi," ujarnya.
"Kita ada rencana melakukan penerobosan terhadap sampah plastik karena ini rumit juga dan perlu didaur ulang. Kita akan berupaya mengurangi beban sampah plastik di Mimika,” pungkasnya. (Ronald Renwarin)






















