Ari Sihasale Ajak Masyarakat Papua Tengah Bersatu Untuk Tanah Papua Damai
Ari Sihasale didampingi istri Nia Zulkarnaen menari tarian khas Papua tari seka bersama ibu-ibu
MIMIKA, BM
Calon legislatif (caleg) DPR-RI Daerah Pemilihan (Dapil) nasional Papua Tengah Ari Sihasale didampingi istri Nia Zulkarnaen nampak hadir di Car Free Day Mimika Sabtu (20/1/2024).
Kehadirannya dalam rangka Senam Sehat Riang Gembira bersama partai Gerindra tepatnya di Sekretariat Rumah Bersama Prabowo Gibran Jalan Cenderawasih.
Sontak para ibu-ibu yang hadir mengerumuninya dan meminta untuk berswafoto dan berseka bersama.
Disela-sela kegiatan kepada BeritaMimika Ari Sihasale mengajak seluruh masyarakat terutama Papua Tengah untuk bersatu.
“Kita harus bersatu, kerjasama supaya apa yang kita cita-citakan bisa tercapai terutama Tanah Papua Damai. Kalau damai anak-anak bisa belajar dan sekolah, tenaga kesehatan bisa ada dan pembangunan bisa lancar. Harus ada damai di Tanah Papua terutama Papua Tengah supaya semua bisa berjalan. Itu yang utama,” katanya.
Ia menuturkan untuk selalu ada kedamaian, tidak dapat berjalan sendiri dan menghindari diri dari sikap iri hati.
“Kalau hati damai tidak ada iri. Kita koreksi diri sendiri, kita maju bersama. Jangan lupa tanggal 14 Februari harus ke TPS masing-masing, jangan golput (golongan putih-red) karena masa depan itu kita yang menentukannya. Siapapun pilihan itu kembali kepada diri kita. Kita yang tahu siapa yang terbaik untuk tanah ini,” serunya singkat.
Sementara itu, Nia Zulkarnaen selaku istri memberikan dukungan penuh kepada Ari karena diketahui bahwa Ari merupakan kelahiran Tembagapura, Mimika, Papua Tengah.
“Kalau saya sebagai istri pasti selalu mendukung hal yang terbaik untuk suami, apalagi ini panggilan untuk kembali pulang ke tanah kelahiran,” tuturnya.
Ia berharap agar seluruh teman, keluarga dan masyarakat di Papua Tengah khususnya Mimika dan Tembagapura dapat mendukung Ari.
“Karena Ari lahir, besar dan sekolah di Tembagapura, kalau kita mau maju kita harus bersama-sama. Tidak bisa Kaka Ari sendiri, pemerintah sendiri. Kita harus baku (saling-red) tolong, baku topang, baku sayang baru bisa maju. Itu saja,” tandas Nia. (Elfrida Sijabat)






















