Efek Covid-19 dan Merosotnya Ekonomi di Mimika

Reynold Ubra
MIMIKA, BM
Sudah 5 bulan Virus Wuhan menyerang Indonesia dan Mimika. Selama pandemi ini pula, Pemda Mimika melalui Tim Gugus Tugas Covid-19 telah 8 kali memberlakukan Status Tanggap Darurat.
Mimika melakukan dua kali masa inkubasi Pembelakukan Pembatasan Sosial Secara Meluas (PSSM), dua kali Pembatasan Sosial Diperluas dan Diperketat (PSDD), satu kali Adaptasi New Normal dan tiga kali New Normal.
Di musim pandemi ini pula secara kasat mata perekonomian di Mimika terlihat seperti aman, stabil dan normal saja, namun sebenarnya rapuh dan memprihatinkan.
Jika Pemda Mimika tidak segera memberlakukan kelonggaran terhadap status tanggap darurat maka dipastikan banyak tempat usaha mengundurkan diri alias tutup dan akan banyak terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Selama periodik ini saja, Tempat Hiburan Malam (THM) mengalami kerugian berkisar antara Rp400-700 juta. Hunian hotel-hotel di Timika tidak lebih dari 30 persen, bahkan ada yang tidak mencapai 10 persen.
Dunia perbankan pun goyang, ada bank di Mimika yang jumlah investasi nasabanya turun 20-30 persen. Angka ini mungkin kecil namun jika nilai yang diinvestasikan mencapai Rp1,4 triliun maka sudah bisa dibayangkan efeknya.
Rasio ekonomi kelas menengah ke bawah pun morat-marit karena putaran uang di pasar sangat rendah. Banyak pedagang kecil di pasar, kios dan rumah makan hingga tukang ojek dan tukang cukur rambut mengaku minim pendapatan.
Dengan kondisi ini, walau kasus positif masih saja ada dan kadang meningkat namun pemberlakuan Adaptasi New Normal dan 3 kali New Normal merupakan pilihan terbaik dan paling bijak yang dilakukan Pemda Mimika untuk menyelamatkan ekonomi daerah,
Juru Bicara Tim Gugus Tugas Covid-19 Mimika, Reynold Ubra mengatakan perekonomian jadi terbengkalai akibat Covid-19 dan membuat salah satu komponen pembangunan terutama ekonomi mikro terdampak sehingga di masa New Normal III ini Mimika harus bangkit.
"Bupati sudah meresmikan gedung elang (ruang isolasi pasien covid-red) RSUD, PTFI menyiapkan tempat isolasi dan tim gugus menyiapkan shelter. Ini semua adalah ketahanan kesehatan untuk menghadapi Covid-19. Jadi kalau sudah diinvestasi oleh pemerintah daerah untuk apa kita takut dan panik. Masyarakat harus tetap kembali produktif dan sehat," ujarnya.
Ia mengatakan selama dua bulan terakhir, Pemda Mimika terus berupaya membangkitkan gairah ekonomi namun tetap memperhatikan penerapan protokol kesehatan di Mimika.
Salah satunya dengan membentuk Tim Kelompok Kerja (Pokja) untuk membackup kerja Tim Gugus Tugas Covid-19.
Sesuai hasil kesepakatan bersama, pembentukan Tim Pokja untuk melihat bagaimana kesiapan sektor ekonomi (dunia usaha-red) dalam melaksanakan protokol kesehatan.
"Kemarin kami jalan ada yang mengeluh lima bulan omset turun 400 juta ada yang 700 juta dan karyawan dirumahkan. Pemda membentuk pokja ini untuk memotret bagaimana sektor ekonomi saat ini dan bagaimana penerapan protokol kesehatan di setiap tempat usaha dan pusat keramaian," ujarnya.
Ubra mengatakan ketua tim pokja adalah asisten I setda Mimika, wakil ketua kepala BPBD, sekretaris kepala dinas perhubungan sementara anggotanya terdiri atas dinas kesehatan, disperindag, PTSP, satpol PP dan bagian hukum.
"Kami bekerja dalam dua minggu saja hingga akhir new normal edisi III. Dalam berapa hari ini kami jalan ke tempat-tempat usaha dan saya pikir para pengusaha bersedia dan akan mengikuti protokol kesehatan. Ini merupakan kerjasama yang baik," ujarnya.
Dikatakan, setelah tim pokja melakukan pemantauan secara menyeluruh tentang kesiapan dunia usaha (ekonomi-red), maka tim pokja selanjutnya akan melaporkan hal ini kepada bupati pada 16 Agustus nanti yang merupakan akhir dari New Normal edisi III.
"Laporan tim pokja akan menentukan apakah sektor ekonomi sudah bisa dijalankan atau tidak seperti tempat bermain anak dan rumah bernyanyi hingga tempat hiburan malam (THM). Ini semua tergantung putusan bupati nanti," ujarnya. (Ronald)



