Kesehatan

Empat SD Wilayah Puskesmas Wania Terima Program BIAS

Nampak seorang murid sedang menerima imunisasi

MIMIKA, BM

Empat Sekolah Dasar (SD) di wilayah kerja Puskesmas Wania telah menerima layanan imunisasi dari Program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).

Program BIAS ini merupakan bagian dari upaya nasional untuk meningkatkan kekebalan tubuh anak-anak terhadap penyakit menular.

“Hari ini kita lakukan BIAS di 4 SD di wilayah kerja Puskesmas Wania,” kata Petugas BIAS Puskesmas Wania, Elis Meti usai melakukan program BIAS, Senin (11/8/2025).

Adapun, 4 SD tersebut yakni, SD Kasih Ibu untuk kelas II mencakup 11 anak dengan imunisasi Tetanus-Difteri (Td), kelas V mencakup 6 anak dengan vaksin Td, 4 anak Imunisasi HPV. SD Al Hidayah, Kelas II mencakup 6 anak imunisasi Td, kelas V mencakup 6 anak Imunisasi Td dan 1 anak Imunisasi HPV.

Kemudian, SD Umar Bin Khotib, kelas II mencakup 1 anak Imunisasi Td, kelas VI mencakup 1 anak Imunisasi HPV dan 1 anak Imunisasi Difteri-Tetanus (DT).

“Kemudian SD TPA Minhajul Atsar, kelas V mencakup 5 anak dengan imunisasi HPV 1 anak, dan imunisasi Td 5 anak,” ungkapnya. (Shanty Sang)

Tempo Kas Tuntas Malaria di Sekolah


Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra

MIMIKA, BM

Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Rizal Ubra mengatakan, bahwa sejak Januari hingga Juli 2025, ditemukan 94.348 penderita malaria di Kabupaten Mimika atau sekitar 22 persen dari 437.493 pemeriksaan darah.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika melalui elektornik Sistem Informasi Malaria (e-SISMAL) lebih 44 ribu atau terbanyak penderita malaria tropika dan lebih dari 33 ribu warga adalah penderita malaria tertiana.

"Penderita malaria tropika merupakan indikasi kejadian infeksi baru akibat gigitan nyamuk malaria, sedangkan malaria tersiana merupakan indikasi ketidakpatuhan penderita malaria dalam pengobatan sesuai dosis, cara dan waktu minum obat sampai tuntas," jelasnya.

Reynold mengatakan, puluhan ribu warga Mimika yang menderita malaria tropika dan malaria tersiana adalah gambaran sebagai alasan utama penyebab banyaknya penderita malaria di Mimika antara lain tidak ada upaya untuk membersihkan lingkungan supaya tidak digigit nyamuk dan tidak ada upaya supaya patuh minum obat malaria sampai tuntas.

Dari puluhan ribu warga Mimika yang menderita malaria ternyata lebih dari 32 ribu atau 34 persen penderita adalah anak usia 5-14 tahun.

"Ini berarti adalah anak pada jenjang pendidikan TK - SMP,"ujarnya.

Menurut, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) sekolah merupakan lembaga dimana aktifitas belajar dan mengajar diselenggarakan sesuai jenjang pendidikan atau usia, artinya bahwa institusi sekolah dapat berupaya supaya terjadinya peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku peserta didik termasuk upaya untuk menjaga agar siswa setiap saat tetap sehat dalam proses pembelajaran, seperti yang telah dilakukan oleh pemerintah melalui program nasional Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Apabila dihubungkan dengan ribuan siswa yang menderita sakit malaria, maka sudah seharusnya perlu ada cara untuk menciptakan lingkungan sekolah yang sehat, bebas jentik nyamuk melalui pemberantasan sarang nyamuk, pengelolaan sampah maupun wadah yang menjadi tempat perindukan nyamuk serta penerapan kurikulum pendidikan perilaku hidup bersih dan sehat sehingga dapat terwujud sekolah bebas malaria.

"Efek dari sekolah sehat bebas malaria akan berdampak positif terhadap keseharian siswa di rumah untuk menciptakan rumah bebas malaria,"tutur Reynold.

Tempo Kas Tuntas merupakan akronim dari Tanggulangi Eliminasi Malaria melalui Periksa dan Obati serta menjaga Kepatuhan sampai tuntas adalah inovasi percepatan eliminasi malaria di Kabupaten Mimika dengan dua pendekatan utama, yang pertama penderita malaria diawasi kepatuhan minum obat sampai tuntas dan yang kedua, hindari gigitan nyamuk melalui pemberantasan sarang nyamuk atau pengedalian tempat perindukan nyamuk.

"Peran ribuan siswa sekolah di Kabupaten Mimika dapat digerakan untuk menciptakan sekolah sehat bebas malaria melalui Gerakan kebangkitan kesehatan masyarakat atau gerbang emas menuju Kabupaten Mimika bebas malaria,"ungkapnya. (Shanty Sang)

Jadi Masalah Klasik, Pemkam Nawaripi Seriusi Kebersihan Lingkungan : 100 Ton Sampah Berhasil Dimuat


Kepala Kampung Nawaripi, Norman Ditubun memimpin langsung pembersihan sampah

MIMIKA, BM

Pemerintah Kampung Nawaripi terus bertekad membersihkan lingkungan mereka dari masalah sampah yang selama ini jadi satu persoalan klasik di Nawaripi.

Menurut Kepala Kampung Norman Ditubun, sampah adalah biang kerok hadirnya penyakit. Jika masalah ini tidak diseriusi maka akan berdampak pada kesehatan masyarakat.

Norman juga mengatakan bahwa penumpukan sampah termasuk membuang sampah di sembarang tempat juga merupakan kebiasaan hidup masyarakat sehingga kedepan ia bahkan akan mendirikan Pos Pemantauan di lokasi pembuangan sampah.

Ia dan perangkatnya juga secara rutin akan mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan di lingkungan masing-masing termasuk membuang sampah pada tempat yang sudah ditentukan.

Guna menjaga Nawaripi dari persoalan sampah, pada Rabu (6/8/2025) kemarin ia bersama aparatur kampung bersama sebagian masyarakat melakukan pembersihan sampah di beberapa lokasi terutama yang berserakan di pinggiran jalan.

Dalam aksi pembersihan hari ini, menurut Ditubun, pihaknya menggunakan 12 truk yang mana masing-masing-melakukan dua kali muat, sehingga total yang diangkut mencapai 24 kali dengan estimasi 5 ton per truk. Artinya, sekitar 100 ton sampah berhasil dibersihkan dari lokasi tersebut.

“Kami hari ini lakukan pembersihan sampah terutama yang berserakan di jalan-jalan. Sampah yang dipungut ini bahkan hampir 100 ton. Kami mulai tadi pagi jam 8 sampai jam 5 sore,” ungkapnya.

Norman mengatakan sebelumnya pembersihan serupa sudah mereka lakukan sebanyak tiga kali namun sampah di Nawaripi bukanlah sebuah persoalan mudah dan bisa diatasi begitu saja.

“Kami sudah tiga kali lakukan pembersihan bersama Distrik Wania dan pasang plang larangan buang sampah di lokasi ini, tapi tetap saja diabaikan. Kali ini kami kembali membersihkan dan berharap jadi yang terakhir,” tegasnya.

Norman berujar, pembersihan kali keempat ini menggunakan dana Alokasi Dana Desa (ADD) Kampung Nawaripi. Diakuinya sedikit mengalami keterlambatan karena keterbatasan anggaran operasional.

“Setelah ADD cair, kami segera mengalokasikan sebagian dana untuk penanganan sampah karena ini masalah serius yang kami hadapi disini,” ujarnya.

Guna pencegahan sekaligus sebagai langka untuk mengedukasi masyarakat, Pemerintah Kampung Nawaripi berencana akan membuat pos pemantauan dan pencegahan khusus di lokasi pembuangan sampah.

“Setelah pembersihan ini, kami akan bangun satu pos jaga di titik ini. Harapannya agar tidak ada lagi yang membuang sampah sembarangan,” tegas Norman.

Norman meminta kepada warga agar menghentikan kebiasaan membuang sampah di sembarang tempat, karena pemerintah telah menyiapkan titik-titik resmi untuk pembuangan sampah dimalam hari, kemudian akan diangkut oleh DLH.

“Kami mohon kesadaran masyarakat Nawaripi dan sekitarnya. Jangan lagi buang sampah di tempat ini. Mari jaga lingkungan kita bersama,” himbaunya. (Red)

Top