Nasional

PT Freeport Indonesia Mulai Berikan Vaksin Gotong Royong Kepada 11 Ribu Karyawannya

Sebagian Karyawan PTFI saat menunggu antrean guna mendapatkan vaksin

MIMIKA, BM

PT Freeport Indonesia terhitung hari ini, Senin (28/6), mulai melaksanakan Program Vaksinasi Gotong Royong (sinovam) kepada karyawannya di seluruh areal kerja PTFI baik di lowland maupun highland.

Pembukaan program vaksin gotong royong PTFI dilakukan di Basecamp, oleh Soleiman Falu, Senior Management Nemangkawi dan dihadiri manajemen PTFI, perwakilan privatisasi dan kontraktor serta perwakilan serikat pekerja.

Senior Management Nemangkawi PTFI, Soleiman Falu mengatakan manajemen PT Freeport Indonesia sangat mendukung upaya pemerintah dalam mitigasi pandemi Covid-19 melalui pelaksanaan program vaksinasi gotong royong.

Sejak awal, pandemi Covid-19 tahun 2020 lalu, PT Freeport Indonesia telah melakukan langkah-langkah mitigasi menyeluruh guna memastikan keselamatan dan kesehatan seluruh karyawan dan keluarga.

"Melalui program vaksinasi ini, diharapkan kita dapat mendukung terbentuknya kekebalan kelompok atau Herd Immunity di area kerja, lingkungan sekitar kita hingga pada akhirnya juga dapat berkontribusi dalam upaya mitigasi Covid-19 di Papua dan Indonesia," terangnya.

Kesedian karyawan untuk divaksin merupakan wujud tanggungjawab pribadi dan sosial. Tanggungjawab pribadi untuk melindungi diri dan keluarga sementara tanggungjawab sosial adalah melindungi sesama karyawan yang sehari-hari bekerja bersama.

"Marilah kita jadikan program vaksinasi ini sebagai momentum untuk mendukung lingkungan kerja yang sehat guna mencapai produksi aman, selamat dan berkelanjutan," harapnya.

Ia juga meminta seluruh karyawan PTFI, kontraktor dan privatisasi agar terus menjalankan protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan dan menjaga fisik dengan orang lain.

"Kami menyampaikan terimakasih atas dukungan pemerintah dalam program vaksinasi gotong royong ini. Ucapan yang sama juga untuk ISOS beserta seluruh petugas medis yang bertugas di areal PTFI serta dukungan seluruh karyawan yang merupakan aset utama perusahan," ucapnya.

Sementaa itu, Manager Eksternal Corporate Communication, Kerry Yarangga mengatakan kegiatan vaksin gotong royong ini telah dimulai bagi karyawan PTFI di Jakarta pada pekan lalu.

"Kami PTFI mendapat 11.000 dosis vaksin gotong royong dan hari ini hari pertama secara serempak kami lakukan di sini, di higland dan lowland. Kita berharap karyawan dapat mengikuti program vaksinasi ini sampai tuntas karena kita berharap heard immunity bisa mencapai populasi 70-80 persen," ujarnya.

Selain vaksin gotong royong, PTFI juga telah bekerjasama dengan pemerintah untuk penggunaan vaksin sinovac.

"1000 lebih karyawan kami sudah divaksin menggunakan vaksin sinovac yang merupakan program pemerintah dan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Mimika," ujarnya.

Pemberian vaksin sinovac yang sudah dilakukan kepada 1000-an karyawan PTFI, privtasisasi dan kontraktor diprioritaskan kepada para pekerja publik seperti PSU dan petugas medis.

"95 persen dari petugas medis ISOS sudah divaksin. Kita bersyukur program ini sudah berjalan sangat baik. Kita berharap semua proses vaksin ini dapat dimanfaatkan sampai selesai dengan baik," harapnya. (Ronald)

Tiap Tahun Kemenhub Tentukan Tarif Angkut Subsidi Pesawat Perintis

Pesawat Susi Air (Foto Google)

MIMIKA, BM

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) setiap tahunnya menentukan tarif angkutan subsidi pesawat perintis.

Penentuan tarif angkutan subsidi pesawat perintis setiap tahunnya selalu mengalami perubahan dan ditentukan oleh Kementerian Perhubungan.

Plt Kasubdit Pembinaan Pengusahaan dan Tarif Angkutan Udara, Kementerian Perhubungan, Sarbani Barus saat ditemui di Hotel Horison Ultima Timika, Senin (21/6) menyampaikannya kepada BM.

Dikatakan, bahwa untuk biaya subsidi anggarannya berasal dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang mana anggaran ini ditempatkan di 21 koordinator wilayah di seluruh Indonesia.

Penentuan tarif subsidi ini, lanjut Sarbani dilihat dari daya beli masyarakat dan juga mempertimbangkan masukan dari pemerintah daerah di wilayah masing-masing dan akan dievaluasi di kantor pusat.

"Untuk tarif penerbangan perintis dan penerbangan komersial jelas berbeda. Sehingga hadirnya pemerintah untuk memberikan subsidi kepada masyarakat. Pasti lebih murah berapa persennya itu yang kita lihat PDRBnya, daya beli masyarakatnya dan juga kita melihat masukan-masukan dari pemda," jelasnya.

Sementara Kepala Kantor UPBU Mozes Kilangin Timika, Soekarjo di tempat yang sama mengatakan, untuk di Timika ada dua maskapai penerbangan perintis yakni Susi Air dan Asian One. Kedua maskapai ini juga memiliki perbedaan harga untuk masing-masing rute.

"Semua rute itu ada penentuan harga tiketnya," kata Soekarjo.

Selain tarif, penentuan tarif yang dituangkan dalam SK menteri juga mengatur tentang jumlah flight dalam satu minggu.

"Berapa flight dalam 1 minggu dan berapa penumpang yang akan diangkut, semua diatur dalam SK menteri," ujarnya.

Semetara itu, Flight Operation Officer, dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU), Kapten Sutan M Lubis mengatakan, pihaknya terus melakukan peninjauan secara teknis.

"Sehingga walaupun sudah dibayarkan pemerintah secara subsidi tetapi tidak melanggar regulasinya, margin of safetynya tetap kita dapat," ungkapnya. (Shanty)

Setelah Anjing Bernyanyi dan Kepiting, PTFI Kembali Temukan Jenis Katak Baru di Papua

Litoria lubisi, memiliki warna yang lebih mencolok dibandingkan katak hijau lainnya,  ukurannya dapat mencapai 70 mm

MIMIKA, BM

Sungguh kaya dan begitu diberkati Bumi Cenderawasih ini. Negeri yang indah dan elok ini tidak hanya memiliki hasil alam tambang saja yang melimpah namun juga kekayaan flora dan faunanya.

Kekayaan alam ini dibuktikan dengan terus ditemukannya sejumlah spesies baru selama berapa tahun terakhir oleh tim peneliti PT Freeport Indonesia yang bekerjasama dengan sejumlah universitas terkemuka di Indonesia dan lembaga peneliti.

Pada 2018 lalu, PTFI yang bekerjasama dengan Universitas Cenderawasih (UNCEN) dan Universitas Negeri Papua (UNIPA) serta New Guinea Highland Wild Dog Foundation (NGHWDF) menemukan Anjing bernyanyi di dataran tinggi Papua.

Di tahun 2020, PTFI dan LIPI kembali menemukan Dua Spesies Kepiting Baru di Kawasan Muara Sungai Ajkwa. Setelah melalui proses pengkajian selama hampir 4 tahun, kedua spesies tersebut pun dinyatakan sebagai spesies baru. Adapun kekhasan ciri fisik utama keduanya terletak pada bentuk tubuh dan capitnya.

Tidak hanya itu, di tahun yang sama bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, PT Freeport Indonesia (PTFI) mengumumkan penemuan satu spesies tumbuhan baru di area kerja PTFI di Mimika yang dinamakan Diplycosia puradyatmikai Mustaqim, Utteridge & Heatubun sp. nov.

Penemuan spesies baru ini telah dipublikasikan secara resmi dalam jurnal internasional Phytotaxa 442: 52–60 tanggal 11 Mei 2020.

Memasuki pertengahan tahun 2021 ini, PT Freeport Indonesia yang bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan South Australian Museum kembali menemukan adanya spesies katak baru di Mimika, Papua.

Spesies yang ditemukan adalah Litoria lubisi, sejenis katak pohon hijau besar yang merupakan anggota keluarga Litoria infratrenata.

Penemuan spesies baru ini telah dipublikasikan secara resmi di jurnal internasional Zootaxa 4903 (1): 117 – 126. Nama lubisi diambil dari Dr. Rusdian Lubis yang waktu itu menjabat sebagai Senior VP untuk bidang lingkungan dan keselamatan kerja.
 
Litoria lubisi memiliki fisik yang cukup unik karena ukurannya yang cenderung besar, dengan panjang dapat mencapai 70 mm. Selain itu, katak ini juga terlihat kuat serta memiliki warna yang lebih mencolok dibandingkan dengan katak hijau lainnya.

Katak yang hidup di dataran rendah ini juga memiliki mulut yang lebar dengan masing-masing kerangka giginya terdiri dari 10 gigi kecil dengan garis rahang yang tidak begitu tegas pada permukaan kulitnya.

Katak ini memiliki tiga selaput memanjang di antara keempat jarinya, dengan bentuk kaki memanjang yang memperkokoh genggaman dan cengkramannya.

Bagian tubuh hewan ini meliputi beberapa warna yang terdiri dari warna kuning di bagian bawah badan dan ujung jari kaki, warna biru pucat di sepanjang lipatan kulit, serta warna coklat kemerahan pada beberapa garis di bagian perut dan selaput kaki. Katak ini ditemukan hanya di hutan sagu yang ada di Mimika, Papua.
 
Penelitian terhadap Litoria lubisi ini sudah dilakukan sejak tahun 2006 oleh dua penulis dan peneliti, yakni Stephen Richards dari South Australian Museum dan seorang peneliti independen Burhan Tjaturadi yang telah bekerja di Tanah Papua sejak tahun 1999 saat bergabung dengan WWF dan Conservation International.

Keduanya melakukan penelitian keanekaragaman hayati di hutan rawa sagu di selatan Timika, Papua, dan berhasil mengumpulkan satu spesimen dari spesies tambahan yang menunjukkan atribut morfologi dari grup Litoria infratrenata.

Penelitian ini kemudian dilanjutkan oleh tim peneliti LIPI, yaitu Mumpuni, Hellen Kurniati, dan Evy Arida. Setelah melalui penelitian selama 15 tahun, akhirnya tim peneliti dapat mengonfirmasi bahwa spesies yang diteliti merupakan spesies baru yang belum pernah dicatat dalam silsilah taksonomi.

Penelitian ini memakan waktu yang cukup lama melalui beberapa tahap identifikasi dan verifikasi. Hasil penemuan ini pun telah dicatat dan dipublikasikan dalam jurnal internasional Zoo Taxa yang sekaligus mengkonfirmasi sebagai spesies baru.
 
“Salah satu tantangan utama kami dalam melakukan penelitian ini adalah medan yang cukup sulit. Kami berterima kasih kepada PT Freeport Indonesia yang telah membantu kami menyelesaikan penelitian ini dengan memberi dukungan fasilitas selama penelitian dilaksanakan. Ke depannya, kami berharap dapat melanjutkan kerja sama dengan PTFI untuk terus menyibak kekayaan alam yang ada di Papua dan memajukan ilmu pengetahuan di Indonesia,” ujar Burhan Tjaturadi, peneliti independen yang terlibat dalam penelitian ini.
 
Environmental Senior Manager PTFI Gesang Setyadi menyampaikan bahwa penemuan spesies baru ini sekali lagi menunjukkan keanekaragaman hayati di area kerja PTFI.

"Area kerja PTFI masih menyimpan potensi kekayaan flora dan fauna yang belum dapat dipelajari secara menyeluruh. Untuk itu, PTFI selalu menjalankan kebijakan lingkungan yang salah satunya adalah berkontribusi dalam konservasi keanekaragaman hayati. Oleh karena itu kami selalu bekerja sama dengan berbagai pihak dalam berbagai upaya konservasi dan keanekaragaman hayati, khususnya di area kerja PTFI,“ kata Gesang.
 
Penelitian dan pemantauan keanekaragaman hayati PTFI tidak terbatas untuk suatu lembaga tertentu saja, namun juga melibatkan banyak pihak lain, seperti lembaga pendidikan, kantor Konservasi Sumber Daya Alam, badan penelitian, museum, ataupun peneliti mandiri.

Sebagai contoh, selain bermitra dengan LIPI, PTFI juga secara rutin berkolaborasi dengan Natural History Museum of United Kingdom (NHMUK), South Australian Masters Athletics (SAMA) of Adelaide, dan University of Papua New Guinea (UPNG).

Hal ini dilakukan untuk memperkaya khazanah keanekaragaman hayati di tanah Papua. “PTFI akan terus berupaya merealisasikan komitmen untuk berkontribusi terhadap lingkungan melalui program pelestarian dan perlindungan alam, maupun mendukung berbagai program kegiatan penelitian yang dapat menguak kekayaan keanekaragaman hayati yang ada di  Papua,” tutup Gesang.

Penemuan ini menambah daftar panjang penemuan spesies baru di area kerja PTFI (sejak tahun 1997 yang terbentang dari kawasan pesisir hingga hutan alpin berketinggian lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut menjadi 29 flora dan 101 fauna, terdiri dari 50 spesies serangga, 2 spesies mamalia, 26 spesies reptil, 2 jenis ikan, 21 jenis kepiting, dan beberapa jenis lainnya. (Red)

Top