Kesehatan

Kader Posyandu KASANA Binaan TP PKK Mimika Diharapkan Menjadi Kader Yang Mandiri

Ketua Bidang Pokja IV Ny. Alice I Wanma, Ketua Pokja IV Ny. Endang Farmasi beserta pengurua mengunjungi salah satu posyandu yang ada di Kecamatan Asemworo

SURABAYA, BM

Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Mimika melalui Pokja IV melaksanakan kunjungan ke salah satu posyandu mandiri yang ada di Kecamatan Asemrowo, kota Surabaya pada Kamis (13/11/2025).

Rombongan disambut dengan ramah oleh Camat Asemrowo Muhammad Khusnul Amin.

Ketua TP PKK Mimika Ny. Susy Herawaty Rettob melalui Ketua Pokja IV Ny. Endang Farmasi mengatakan PKK Mimika melaksanakan kunjungan untuk melihat bagaimana pelayanan posyandu mandiri yang dimulai dari pendaftaran ke langkah 1 hingga langkah 5.

“Dari situ kita dapat melihat ternyata posyandunya maju sekali karena kadernya itu inisiatifnya tinggi sekali. Jadi, mereka menjemput bola,” katanya.

Ia mengambil contoh ketika ada pasien lanjut usia (lansia) yang tidak terdaftar namun mereka mendengar, maka kadernya akan menjemput dan mencarinya.

“Inisiatif kadernya sangat tinggi sekali mangkanya dibilang posyandu mandiri itu betul-betul mandiri mereka. Memang ada tenaga kesehatan (Nakes) yang mendampingi tetapi untuk Nakes hanya pengambilan sampel darah, kalau untuk mengukur tensi mereka sudah bisa mandiri sendiri,” ungkapnya.

Sementara pelayanan untuk bayi, balita dan ibu hamil para kadernya dikatakan juga mandiri.

“Seandainya, ada yang tidak ada kendaraannya atau sakit di rumah, kadernya jemput dan memang kalau perlu dibawa ke Nakes, mereka yang membawakannya,” imbuhnya.

Sementara untuk fasilitas posyandu sendiri dari RT RW-nya memang sudah ada fasilitasnya sendiri sehingga dianggap tempat layak untuk ditempati posyandu.

“Harapan kami semoga kader-kader yang ada di Timika bisa kita latih mandiri seperti yang kami lihat di lapangan. Mereka tidak berpikir untuk saya dapat uang berapa tapi kesadaran sendiri untuk bagaimana anak-anak bisa maju dan ibu hamil baik. Itu yang terpenting,” tandasnya.

Ny. Endang menyebut posyandu binaan TP PKK Mimika Posyandu KASANA saat ini memiliki enam orang kader Posyandu.

“Kami harap kader Posyandu KASANA bisa seperti mereka menjemput bipa. Para kader jiwa sosailanya tinggi sekali sehingga sudah ada masing-masing kader baik untuk bayi dan lansia tersendiri. Mereka jemput bola dengan notor. Bagus disitu. Semoga kader kita bisa menjadi kader mandiri seperti mereka,” pungkasnya. (Elfrida Sijabat)

Pemprov Papua Tengah Gelar Rakerkesda II Tahun 2025 di Mimika

Plt Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, Dr. drg Yohanes Tebai didampingi Narasumber dan Kepala Dinas Kesehatan Mimika Reynold Ubra saat memukul tifa

MIMIKA, BM

Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Kesehatan melaksanakan Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) II Provinsi Papua Tengah tahun 2025 di Kabupaten Mimika, Senin (10/11/2025).

Rakerkesda II yang dilaksanakan di Hotel Grand Tembaga ini dihadiri oleh Wakil Bupati Mimika, Emanuel Keming, para Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten, Direktur Rumah Sakit, Direktur Ketahanan Farmasi dan Alkes, serta berbagai pemangku kepentingan di bidang kesehatan lainnya.

Tema yang diusung pada kegiatan ini ialah "Aksi Bersama Untuk Papua Tengah Sehat, Strategi, Efektif Peningkatan Kesehatan".

Adapun beberapa hal penting yang dibahas dalam Rakerkesda II ini, yaitu peningkatan akses layanan kesehatan primer dan rujukan, penyiapan Tenaga Kesehatan (Nakes), penyediaan sarana prasarana kesehatan serta perencanaan anggaran kesehatan daerah.

Plt Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, Dr. drg Yohanes Tebai dalam sambutannya menjelaskan kondisi geografis Papua Tengah dan data fasilitas kesehatan yang ada di dalamnya menjadi tantangan pemerintah saat ini dalam mencari model pelayanan kesehatan agar bisa menjangkau masyarakat hingga ke pelosok.

Luas wilayah Provinsi Papua Tengah adalah 61.000 km dan jumlah penduduk sekitar 1.400.000 orang. Artinya, rata-rata terdapat 24 keluarga yang mendiami setiap 1 km luas wilayah.

"Sementara jumlah Puskesmas yang tersedia di Papua Tengah adalah 150 Puskesmas dan yang teregistrasi masih 130 Puskesmas, dan yang terakreditasi masih dalam angka puluhan," kata drg Yohanes.

Melihat kondisi ini, kata Yohanes, akses pelayanan kesehatan masih menjadi tantangan besar karena penyebaran penduduk yang tidak merata dan tidak berpusat.

Menurut Yohanes, sangat wajar apabila Papua Tengah meminta penambahan akses pelayanan masyarakat, seperti Puskesmas, Pustu maupun Posyandu agar bisa menjangkau masyarakat hingga pelosok.

"Kita tidak lagi menggunakan pelayanan di dalam gedung terpusat, karena di dalam 1 km hanya 24 keluarga yang bisa kita jangkau. Kalau kita hanya menunggu di Puskesmas, maka yang bisa kita layani dengan jangkauan Puskesmas itu kurang lebih 5 km dikalikan dengan 24 keluarga," ujarnya.

Selain kurangnya fasilitas kesehatan, Provinsi Papua Tengah juga masih mengalami keterbatasan Nakes. Di mana setiap kabupaten masih minim ketersediaan dokter gigi dan dokter spesialis lainnya. Untuk itu, sangat diperlukan skema untuk mengatur Nakes.

"Inilah gambaran akses pelayanan kesehatan primer dan juga rujukan di mana kita harus menambah fasilitas kesehatan, menambah Nakes, menyediakan sarana prasarana demi peningkatan kesehatan masyarakat," ungkapnya. (Shanty Sang)

Ini Pesan Ketua IDI Mimika Ketika Dampingi Kunker Ketua TP PKK di 3 Distrik

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Mimika dr. Leonard Pardede SpOG (syal merah) saat memeriksa ibu hamil

MIMIKA, BM

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Mimika dr. Leonard Pardede SpOG mendampingi Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Mimika Ny. Susy Herawaty Rettob dalam Kunjungan Kerja (Kunker) ke Potowaiburu, Distrik Mimika Barat Jauh pada Sabtu (1/11/2025).

Selama kunker tersebut, ia bersama TP PKK melalui Pokja IV memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat terutama untuk ibu hamil.

dr. Leonard mengatakan untuk mengubah suatu generasi maka diperlukan pasangan yang sehat, gizi, kebiasaan ibu hamil yang baik dan pengetahuan karena akan lahir para pemimpin dari negeri ini.

Selain Potowaiburu, ia juga pernah mendampingi TP PKK Mimika saat kunker ke Distrik Agimuga dan Distrik Mimika Timur Jauh.

Selama kunker ketiga distrik tersebut, Ia mendapati bahwa di masing-masing distrik sudah memiliki alat USG namun masih terdapat ibu hamil yang belum memiliki pengetahuan bagaimana mempersiapkan sumber daya manusia (sdm) yang baik.

Menurutnya, setiap orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi generasi yang lebih baik dari orang tuanya.

“Jadi, dengan Kunker bupati dan Ketua TP PKK ini akan mendapatkan real data (data pasti) akan ibu hamil dan bagaimana kondisinya,” katanya.

Secara teori, ia menyampaikan bahwa protein sangat dibutuhkan oleh ibu hamil dan ibu hamil perlu untuk memiliki kebiasaan yang baik saat hamil seperti membaca atau mendengarkan musik klasik.

“Saya gembira karena pimpinan daerah dan TP PKK mau terjun melihat, meraba dan merasakan kondisi masyarakat dan berdasarkan itu bisa tahu apa yang mau dibuat untuk masyarakat. Saya siap membantu tentu dalam bidang kesehatan,” ucapnya.

Ia menuturkan bahwa Dinas Kesehatan (Dinkes) tidak dapat berjalan sendiri sehingga diperlukan kerjasama antar lintas sektoral untuk menciptakan generasi yang baik dan sehat.

“Saya two thumbs (dua jempol-red) bahwa dari janji kampanye untuk membangun dari kampung ke kota itu dinantikan masyarakat. Ketua TP PKK dan Bunda PAUD care (peduli-red) dan mau cari data. Saya apresiasi bapak bupati, wakil bupati dan Ketua TP PKK, ibu Wakil Ketua TP PKK yang sama-sama berjalan. Ini merupakan nilai plus,” tandasnya. (Elfrida Sijabat)

Top