Harumkan Papua Tengah, Meilani Teniwut Terpilih Sebagai Pemudi Duta Kebudayaan Indonesia 2023

Meilani Teniwut mengenakan mahkota Pemudi Duta Kebudayaan Indonesia 2023
MIMIKA, BM
Ajang kompetisi Pemilihan Duta Kebudayaan Indonesia 2023 Generasi II yang diselenggarakan oleh Yayasan Arunika Cipta Abadi telah selesai diselenggarakan.
Pada pengumuman malam grand final yang dilangsungkan di Bali, provinsi Bali pada Selasa (11/07/2023) nama Papua Tengah disebut dimana Meilani Teniwut berhasil keluar sebagai juara 1 untuk pemudi sementara pemuda diraih Jawa Timur atas nama Farhan Alfayi.
Selain keluar sebagai juara 1, ia juga berhasil meraih penghargaan Best Performance, Duta Pemudi Favorit, dan Duta Pemudi Sport Competition.
Kemenangan yang diraihnya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan karena perjuangan yang dilalui dimulai dari tahap seleksi panjang dan ketat yang diikuti oleh 387 peserta. Dari 387 terpilih 16 peserta yang berhasil lolos dan salah satunya adalah Meilani dari Papua Tengah.
Kepada BeritaMimika Kamis (13/7/2023) melalui obrolan Whatsapp Meilani mengisahkan keberhasilannya.
“Setelah lolos seleksi, kami mengikuti Pra-karantina secara daring (online-red) kemudian memasuki masa karantina di Bali untuk menuju puncak malam Grand Final,” kisahnya.
Meilani saat menerima piala dan penghargaan dari Yayasan Arunika Cipta Abadi
Pemudi yang sejak kecil menetap di Kabupaten Mimika ini masih berprofesi sebagai mahasiswi di Universitas Presiden, Fakultas Humaniora, jurusan Komunikasi di Jakarta. Saat ini ia menempuh semester akhir dan tengah mempersiapkan diri untuk skripsi.
Meski demikian, ia tetap menyatakan komitmen, bertekad untuk membawa dan mengharumkan budaya Papua terutama Papua Tengah melalui ajang ini.
Teriring restu dan doa dari kedua orang tua dan keluarga besarnya, akhirnya Meilani berhasil mengharumkan nama Papua Tengah dan keluar menjadi Pemudi Duta Kebudayaan Indonesia 2023.
“Memang benar, saya berasal dari kepulauan Kei, Maluku Tenggara. Namun yang membuat saya terdorong atau termotivasi dalam mengikuti ajang ini adalah karena sejak kecil saya dibesarkan di lingkungan dan alam Papua yang membuat saya begitu jatuh cinta akan budaya di sana,” ungkapnya.
“Nilai natural yang diekspresikan dalam kehidupan masyarakat membuat saya sangat mencintai budaya Papua hingga akhirnya tergerak mengikuti serangkaian ajang ini,” imbuhnya.
Berbekal talenta, wawasan dan kecerdasan yang dimiliki serta kesederhanaan, ia memantapkan langkah tersebut.
Meilani saat mengenakan baju rajutan dari Papua
“Memang ada banyak kendala sebenarnya yang terjadi selama masa karantina ini. Saat ini kan saya studi di Jakarta, jadi kerap kali susah dengan pengiriman atribut juga pakaian adat Papua dari Timika. Semua benar-benar ditanggulangi dengan biaya sendiri (orang tua-red),” ungkapnya.
Selain orang tua, Meilani menuturkan perjuangan yang diraihnya juga berkat dukungan keluarga dan semua masyarakat yang telah memberikan vote untuknya sehingga nama Papua Tengah terangkat.
“Duta kebudayaan yang Meilani ikuti ini juga bukan sekedar pegeant yang menjadi sebuah pajangan. Dari kemenangan ini saya harus mampu memperjuangkan dengan pendirian dan visi misi yang telah dipersiapkan,” tandasnya.
Ia mengajak seluruh anak muda di Indonesia untuk peka terhadap semua perubahan yang terjadi di era globalisasi saat ini.
“Jadi pesan saya untuk anak muda cintailah budaya layaknya mencintai diri sendiri, karena budaya adalah identitas. Anak muda teruslah berjuang, lakukan apa yang bisa kita lakukan, dan jangan takut mengambil sebuah komitmen,” pungkasnya. (Elfrida Sijabat)



