Semangat Ilham Merawat Lingkungan lewat Bank Sampah Jadi Inspirasi Kehidupan

Tampak Ilham sedang memotong sampah jeriken plastik untuk selanjutnya diurai menggunakan mesin pencacah

MIMIKA, BM

Kebanyakan orang mungkin akan berpikir bahwa sampah adalah benda yang tidak lagi dapat terpakai. Sampah adalah sesuatu yang tak lagi bermanfaat. Ketika mereka melihat sampah, tak jarang memilih untuk tidak mengacuhkannya.

Hal itu justru berbeda dengan Ilham, seorang pria berdarah Bugis yang saya temui pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia, di pinggiran Kota Timika, Papua Tengah.

Siang itu, Senin (5/6/2023), langit tampak begitu cerah. Saya melaju dengan sepeda motor ke arah barat pinggiran Kota Timika, tepatnya di Jalan Irigasi Ujung.

Terik matahari yang cukup menyengat mengiringi perjalanan saya ke sebuah tempat yang penuh dengan tumpukkan sampah. Mulai dari sampah plastik, kaleng, ember cat, seng, hingga karton-karton bekas yang telah dikemas dan disusun membukit di sana.

Yah, itu adalah lokasi PT Lintas Papua Mandiri, tempat di mana Ilham dan rekan-rekannya bereksperimen untuk menyulap sampah menjadi cuan, sekaligus menjawab persoalan sampah yang masih menjadi momok bagi Kabupaten Mimika.

Saya tiba di sana sekitar pukul 12.45 WIT. Waktu itu, Ilham bersama rekan-rekannya tengah beristirahat. Tanpa menunggu lama, pria paruh bayah itu langsung menjelaskan banyak hal tentang tempat yang disebutnya juga sebagai bank sampah itu.

"Saya bangun ini atas kegelisahan melihat sampah yang sering berserakan di Timika dan sampah-sampah yang semakin menumpuk di TPA. Miris sebenarnya kalau dilihat, karena pasti suatu saat itu akan sangat berdampak buruk pada lingkungan Mimika," jelas Ilham kepadaku.

Sehari-hari di bank sampah ini, Ilham dan 20 karyawannya bekerja keras mengolah sampah dari pagi pukul 8.00 hingga 18.00 menjelang malam.

Di tempat yang terbilang sederhana ini, sudah ada alat pemotong dan alat pengurai yang mendukung kerja-kerja mereka. Adapun dua mobil pick up dan satu mobil box yang siap mengangkut sampah-sampah yang dijual oleh masyarakat.

"Kami sudah bermitra dengan pertokoan, komunitas-komunitas peduli sampah, dan juga dengan masyarakat untuk kami adopsi sampah-sampahnya, terlebih sampah plastik seperti botol minum, botol oli, kemudian kardus, seng, dan kaleng," tuturnya.

Katanya, dalam sehari, bank sampahnya dapat membeli sebanyak 2 ton karton bekas dari masyarakat di Kabupaten Mimika. "Biasanya mereka yang telpon, lalu kami yang ke sana untuk ambil lalu bawa ke sini," kata dia.

"Kalau sampah plastik, biasanya ampai di sini kami bersihkan dulu, kami kumpul, kemudian dipotong dan diuraikan dengan mesin cacah. Setelah itu kami packing sebanyak-banyaknya hingga mencapai target lalu dikirim," jelas Ilham.

Masing-masing item, memiliki target yang berbeda-beda. Untuk karton bekas sendiri, Ilham menargetkan 60 ton per bulan. Sedangkan botol-botol plastik ditargetkan sebanyak satu ton dalam dua bulan.

"Kalau kaleng-kaleng aluminium bekas, biasa kita target 15 ton setiap 2 bulan. Sampai dengan saat ini, kami sudah mengirim sebanyak 30 kontainer sampah dari Timika ke Surabaya untuk didaur ulang," ungkapnya.

Mendengar jumlah pengiriman yang disebut Ilham, tentunya bank sampah ini sudah cukup berkontribusi membantu Pemda Mimika dalam mengurangi sampah yang menumpuk di TPA dan juga telah meminimalisir dampak kerusakan lingkungan Mimika dari cemaran sampah.

"Kita harus kejar Adipura untuk Kabupaten Mimika,” sontak kata Ilham yang membuat saya gelitik bercampur kagum.

Pasalnya, bertahun-tahun Pemkab Mimika telah berupaya untuk meraih penghargaan Adipura, namun hingga kini belum juga berhasil. Meski demikian, impian Ilham ini patut diacungi jempol.

Menurut Ilham, apa yang sedang dikerjakannya hari ini pastinya akan terlihat hasilnya di tahun-tahun yang akan datang. Walaupun begitu, sesekali kerap terbesit di pikirannya untuk berhenti karena kendala tanggungan biaya operasional yang dikeluarkan tak sebanding dengan keuntungan yang didapat.

"Kami banyak keluarkan ongkos operasional dan juga biaya pengiriman. Kadang mereka yang terima di Surabaya itu heran dengan saya, karena saya sering rugi tapi masih mau bergulat dengan sampah-sampah ini. Yah saya pikir ini bukan tentang uang, tapi ini tentang masa depan lingkungan dan anak cucu," ujar Ilham.

Sebagai pekerja mandiri, Ilham tentu sangat berharap adanya perhatian dari pemerintah setempat untuk bersinergi bersama memberantas persoalan sampah di Mimika.

"Yah mungkin bisa kami dibantu lewat subsidi ongkos pengiriman begitu. Tapi itu masukan saja. Kalau didengar ya kita syukuri, tidak pun tetap kita syukuri," tuturnya.

Bagi Ilham persoalan sampah di Mimika dapat terselesaikan bila sinergitas antara pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat bisa saling mendukung untuk mencari solusi terbaik.

"Kita harus bersinergi sama-sama, harus mengolah sampah-sampah ini dengan rasa cinta karena mengingat anak cucu kita yang nanti merasakan dampaknya. Masa depan mereka akan terpuruk dengan lingkungan yang kian memburuk seperti ini. Apalagi plastik ini kan susah terurai, plastik itu puluhan tahun baru terurai itu," tukasnya

"Kalau dari awal saya ego, saya pasti tidak akan meneruskan ini karena tidak menguntungkan. Tapi kan kita pemerhati lingkungan ini. Kita harus rela, kerjakan saja demi anak cucu ke depannya," pungkasnya. (Endy Langobelen)

BERITA EKONOMI & PEMBANGUNAN

Top