Pendidikan

3.187 Siswa SMA-SMK Wilayah Mee Pago B Mulai Ujian Sekolah

Wabup John Retton saat melakukan penyerahan soal ujian sekolah

MIMIKA, BM

Sebanyak 3.187 siswa SMA-SMK dari 21 SMA dan 23 SMK wilayaj Mee Pago B yang terdiri dari Mimika, Asmat dan Puncak mulai mengikuti ujian sekolah tahun ajaran 2021-2022.

Pembukaan ujian sekolah dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Mimika, Johanes Rettob, di SMKN 5, Senin (21/3).

Wakil Bupati Mimika, Johanes Rettob saat membuka rangkaian ujian mengatakan, dari seluruh wilayah Papua ternyata sekolah terbanyak ada di wilayah Mee Pago B.

Di wilayah ini ada 21 SMA yang terdiri dari 6 Sekolah Negeri dan sisanya swasta. Selain itu ada 23 SMK, 5 merupakan negeri dan sisanya adalah sekolah swasta.

"Yang ikut ujian 3000an lebih. Tahun lalu 4000an. Bayangkan kita akan mencetak anak-anak yang bisa jadi vokasi, atau kita ciptakan penganguran yang baru. Jadi ini perjuangan bagi kita, kalau dia teruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi artinya tidak ada soal kedepannya," kata Wabup John.

Wabup mengingatkan semua pendidik bahwa setiap tahun ribuan anak di Papua terutama di wilayah Mee Pago B lulus dari sekolah.

Masa depan mereka dimulai dari pendidikan dan masa depan mereka merupakan tanggungjawab semua pihak, tidak hanya guru dan orangtua saja.

"Saya berterimakasih atas perjuangan guru-guru terhadap anak-anak. Walau SMA-SMK sudah di tingkat Provinsi Papua tapi yang kalian ajar adalah anak-anak Mimika. Jadi, tentunya pemerintah kabupaten harus mempunyai perhatian lebih dan luar biasa kepada mereka. Kita akan terus perjuangkan agar perhatian pemerintah daerah harus tetap memperhatikan tingkatan sekolah mereka," ujarnya.

Sementara, perwakilan MKPS Edy Soeryono mengatakan, siswa SMA-SMK yang mengikuti ujian ini adalah generasi penerus Mimika.

Dijelaskan, ujian sekolah ini bukan penentu kelulusan namun ada rangkaian yang lain termasuk UKK yang turut menentukan. Penentuan mereka lulus atau tidak ditentukan melalui rapat dewan guru.

"Kami pengawas tetap mengawas dan mendampingi proses ujian di setiap sekolah," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua MKKS SMK, John Lemauk, mengatakan SMA-SMK hari ini melakukan pembukaan ujian tahun 2021-2022.

Ada 21 SMA dan 23 SMK yang melakukan ujian. Dari 21 sekolah SMA ada 6 sekolah negeri dan dari 23 SMK ada 5 sekolah negeri.

"Dalam pelayanan SDM ini kami dari MKKS tidak melihat itu sekolah negeri atau swasta tapi kami melihat dari keseluruhan untuk menyelamatkan anak-anak bangsa. Dan kami semua melakukan visi misi bupati dan wakil bupati untuk hal ini," kata John.

John mengatakan, walau pengalihan status kini dialihkan ke provinsi namun pelayanan tetap dilakukan sebagaimana sebelumnya. Artinya, proses belajar mengajar untuk anak bangsa di Mimika tidak mengalami kendala berarti.

Untuk tahun ini jumlah anak SMA yang mengikuti ujian adalah 1.044 siswa. Siswa laki-laki 761 sementara perempuan 683 siswa.

Sementara total peserta ujian SMK ada 1.743 siswa, 1.008 siswa laki-laki dan perempuan ada 735 siswa. 

"Sehingga total peserta ujian SMA-SMK adalah 3.187 siswa. Tahun lalu ada 4.000-an siswa. Jumlah ini sudah tergabung dalam wilayah Mee Pago B terdiri dari Asmat, Mimika dan Puncak," ungkapnya. (Shanty)

Peduli, Wabup John dan Jubir Yohanes Kunjungi Pelajar dan Mahasiswa di Yogyakarta


Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob saat berbicara dengan pelajar dan mahasiswa di Yogya

MIMIKA, BM

Wakil Bupati Mimika Johannes Rettob bersama Juru Bicara Bupati, Johannes Kemong menunjukan kepedulian mereka sebagai orangtua dan kaka, dengan mengunjungi pelajar dan mahasiswa yang berada di Kota Kembang, Yogyakarta.

Kunjungan keduanya pada Sabtu (12/3) dilakukan usai bersama-sama mengikuti pembahasan soal tapal batas Mimika dan Nduga di Jakarta.

Keduanya bertemu di Jogja karena disaat bersamaan, puteri bungsu Wabup John dan anak Yohannes Kemong yang sama-sama kuliah di salah salah satu universitas di Jogja, diwisuda.

Yohanes Kemong kepada BeritaMimika via telepon mengatakan kehadiran keduanya di rumah kos yang merupakan tempat berkumpulnya anak-anak Himpunan Mahasiswa dan Pelajar Mimika (Hipmami) disambut sukacita dan kegembiraan.

"Kami sama-sama ke Yogya hadiri wisuda anak kami dan disana kami sepakat untuk datang, lihat dan temui adek-adek pelajar dan mahasiswa yang kuliah di sana," ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, Wabup John Rettob maupun Jubir Yohanes Kemong memberikan petuah, semangat dan masukan agar anak-anak Hipmami melanjutkan sekolah dengan baik dan benar demi masa depan mereka.

Keduanya mengingatkan pelajar dan mahasiswa Hipmami bahwa ke depan mereka harus kembali dengan sukses untuk mengabdi dan membangun Mimika yang adalah rumah mereka.

"Kami hadir sebagai seorang bapak dan kaka untuk mereka. Saya dan pak wakil sharing pengalaman dengan ade-ade supaya mereka sekolah dan kuliah sampai selesai. Wabup dulu sekolah di Jakarta dan saya di Surabaya. Pengalaman itulah yang kami bagikan ke mereka," ungkapnya.

Ia mengatakan, pertemuan tersebut dihadiri oleh hampir 100-an anak-anak Mimika yang tergabung dalam Hipmami. Mereka bukan hanya anak-anak Kamoro dan Amunge saja namun juga dari suku kekerabatan lain termasuk anak perintis dan lahir besar di Mimika.

"Mereka semua bersatu dan belajar di sana, semua berasal dari Mimika. Jadi bukan hanya Kamoro dan Amungme saja tapi suku-suku lain yang lahir dan besar di Mimika juga. Mereka semua baik-baik saja," ujarnya.

Kemong juga mengatakan bahwa selain sebagai pelajar, anak-anak Mimika yang kuliah di Yogya mengambil jurusan beragam. Baik pendidikan, kesehatan, teknik, pemerintahan hingga kedokteran.

Kemong juga mengungkapkan bahwa di Yogya tidak ada asrama anak-anak Hipmami. Yang ada hanyalah rumah sewa dengan 7 kamar dimana satu kamar ditempati 3 anak.

"Kalau keluhan, mereka bilang bahwa bagian SDM jarang mengunjungi mereka. Rumah  mereka dikontrak dua tahun dan sepertinya tahun ini selesai. Satu tahun nilai kontraknya Rp40 juta," ungkapnya.

Melihat kondisi tersebut, Kemong berharap agar ke depan Pemda Mimika menyewakan tempat yang lebih besar kepada mereka agar juga dapat menampung anak-anak yang lain.

"Tidak ada asrama di Yogya jadi kalau bisa ke depan pemda cari rumah kontrakan yang besar supaya mereka bisa leluasa dan juga menampung yang lain," harapnya.

Yohanes Kemong atau yang biasa disapa YK juga mengatakan bahwa tidak semua anak Hipmami yang bersekolah dan kuliah di Jogja mendapatkan beasiswa. Baik melalui YPMAK maupun Pemda Mimika.

"Ada yang dapat beasiswa YPMAK dan Pemda Mimika tapi ada juga yang kuliah dibiayai orangtua mereka. Kita doakan semoga ade-ade kita Hipmami di Yogya maupun di kota pelajar lain mereka semua sukses dalam studi agar dapat membanggakan orangtua dan menjadi penerus kita semua untuk membangun Mimika tercinta," harapnya. (Ronald)

Dikunjungi Bhayangkari, Panti Asuhan Ini Merawat 30 Anak


Ketua Bhayangkari Cabang Papua Ny. Eva Mathius Fakhiri saat memberikan santunan kepada salah satu anak yang ada di Yayasan Peduli Kasih Mimika

MIMIKA, BM

Ketua Bhayangkari Cabang Papua Ny. Eva Mathius Fakhiri memimpin bhakti sosial berbagi kasih dengan anak-anak yang ada di Yayasan Peduli Kasih Mimika dan Babul Jannah, Rabu (2/2).

Kedatangan Ny. Eva Mathius Fakhiri di dua panti asuhan itu didampingi Ketua Bhayangkari Cabang Mimika, Ny Metta Era Adhinata serta pengurus Bhayangkari Polres Mimika.

Kata Ny. Eva Mathius Fakhiri, kegiatan ini dilakukan dalam rangka HUT Yayasan Kemala Bhayangkari ke 42, yang sekaligus merupakan kunjungan kerja.

"Kita melakukan kunjungan di dua panti asuhan itu dimana kita melihat hal berbeda dari berbagai sisi. Saya bersama ibu-ibu Bhayangkari berterima kasih kepada pengurus panti yang mana sudah merawat dan memberikan pendidikan serta kehidupan terbaik, dan semoga Tuhan dapat membalasnya,"katanya.

Menurutnya, anak-anak adalah masa depan kita semua, sehingga diharapkan anak-anak bisa berkembang dan terawat dengan baik.

Sementara itu menurut Ketua Yayasan Peduli Kasih, Carlos Fobia bahwa merawat anak-anak di panti dimulai karena gerakan hati dan rasa kasih serta peduli untuk memberikan perhatian.

"Anak-anak yang ada disini itu mereka yang tidak memiliki orang tua lengkap, ada yang mamanya sudah tidak ada, ada yang ayahnya tidak ada dan bahkan ada yang kedua orang tuanya berpisah," ungkapnya.

Kata Carlos, jumlah awal anak-anak di yayasan ini ada 50 anak. Namun berjalan waktu sebagian dijemput keluarga sehingga tersisa 30 anak.

"Dari 30 anak ini ada yang sementara menempuh pendidikan SD dan yang baru masuk TK. Semua tugas yang kami emban disini adalah untuk melayani anak-anak, dan kami sangat bersyukur ibu bersama rombongan jauh- jauh dari Jayapura bersedia datang untuk memperhatikan kami yang ada di sini,"katanya. (Ignas)

Top