Pendidikan

Dikunjungi Bhayangkari, Panti Asuhan Ini Merawat 30 Anak


Ketua Bhayangkari Cabang Papua Ny. Eva Mathius Fakhiri saat memberikan santunan kepada salah satu anak yang ada di Yayasan Peduli Kasih Mimika

MIMIKA, BM

Ketua Bhayangkari Cabang Papua Ny. Eva Mathius Fakhiri memimpin bhakti sosial berbagi kasih dengan anak-anak yang ada di Yayasan Peduli Kasih Mimika dan Babul Jannah, Rabu (2/2).

Kedatangan Ny. Eva Mathius Fakhiri di dua panti asuhan itu didampingi Ketua Bhayangkari Cabang Mimika, Ny Metta Era Adhinata serta pengurus Bhayangkari Polres Mimika.

Kata Ny. Eva Mathius Fakhiri, kegiatan ini dilakukan dalam rangka HUT Yayasan Kemala Bhayangkari ke 42, yang sekaligus merupakan kunjungan kerja.

"Kita melakukan kunjungan di dua panti asuhan itu dimana kita melihat hal berbeda dari berbagai sisi. Saya bersama ibu-ibu Bhayangkari berterima kasih kepada pengurus panti yang mana sudah merawat dan memberikan pendidikan serta kehidupan terbaik, dan semoga Tuhan dapat membalasnya,"katanya.

Menurutnya, anak-anak adalah masa depan kita semua, sehingga diharapkan anak-anak bisa berkembang dan terawat dengan baik.

Sementara itu menurut Ketua Yayasan Peduli Kasih, Carlos Fobia bahwa merawat anak-anak di panti dimulai karena gerakan hati dan rasa kasih serta peduli untuk memberikan perhatian.

"Anak-anak yang ada disini itu mereka yang tidak memiliki orang tua lengkap, ada yang mamanya sudah tidak ada, ada yang ayahnya tidak ada dan bahkan ada yang kedua orang tuanya berpisah," ungkapnya.

Kata Carlos, jumlah awal anak-anak di yayasan ini ada 50 anak. Namun berjalan waktu sebagian dijemput keluarga sehingga tersisa 30 anak.

"Dari 30 anak ini ada yang sementara menempuh pendidikan SD dan yang baru masuk TK. Semua tugas yang kami emban disini adalah untuk melayani anak-anak, dan kami sangat bersyukur ibu bersama rombongan jauh- jauh dari Jayapura bersedia datang untuk memperhatikan kami yang ada di sini,"katanya. (Ignas)

Secara Resmi Mimika Kini Punya Sekolah Tinggi Ilmu Hukum! Ayo Mendaftar

Plt Kepala LLDikti Wilayah XIV Papua dan Papua Barat, Dr Suriel S Mofu membuka tirai papan nama perguruan tinggi

MIMIKA, BM

Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Mimika (STIHM) di Kabupaten Mimika resmi beroperasi setelah  mendapatkan izin operasional dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Tekonologi.

Penyerahan SK Ijin Penyelenggaraan STIH Mimika dilakukan oleh Plt Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XIV Papua dan Papua Barat, Dr Suriel S Mofu kepada Ketua Yayasan Cahaya Timur, Yohanes Rahayaan yang berlangsung di Kampus STIHM, Kamis (27/1).

Persetujuan Mendikbud berdasarkan Nomor 26/E/0/2021 Tentang Ijin Penyelenggaraan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Mimika (STIHM) diselenggarakan oleh Yayasan Cahaya Timur.

Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Yayasan Cahaya Timur resmi membuka penerimaan mahasiswa baru program hukum untuk perkuliahan tahun 2022 dan penerimaan mulai dibuka pada Februari.

Plt Kepala LLDikti Wilayah XIV Papua dan Papua Barat, Dr Suriel S Mofu dal sambutannya mengatakan, STIH Mimika adalah perguruan tinggi ke 74 di tanah Papua dari 75 perguruan tinggi yang ada di seluruh tanah Papua.

Diketahui, ada 5 perguruan tinggi negeri dan 69 perguruan tinggi swasta. Jadi ini adalah perguruan swasta ke 68.

"Nanti saya akan menyerahkan SK baru di Jayapura, namanya Internasional Papua pada Februari nanti. Jadi tahun ini kita mendapatkan 3 perguruan tinggi swasta baru yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Hukum 10 November Jayapura, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Timika dan Universitas Internasional Papua di Jayapura," tutur Suriel.

STIHM, kata Suriel, telah mendapatkan ijin resmi dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi. Hal ini mengartikan bahwa lulusan yang dihasilkan oleh perguruan tinggi ini akan mendapatkan identitas ijasah Nasional.

"Jadi ijazah yang dikeluarkan oleh STIH Mimika sama dengan ijasah yang dikeluarkan oleh Uncen dan UGM. Ketika mahasiswa terdaftar di STIH Mimika, maka dia punya nomor induk mahasiswa yang langsung terdaftar di Pangkalan Pendidikan Tinggi di Jakarta," ujarnya.

Tidak hanya itu, perkuliahannya pun akan dimonitor langsung dari Pusat mulai semester 1 sampai akhir dan sebelum wisuda akan diverifikasi di LLDikti.

"LLDikti akan cek dulu kuliah betul atau tidak. Nilai-nilai nya betul atau tidak, pindahan ini loncat-loncat atau tidak, ikut aturan semua atau tidak. Jadi hari ini tidak ada lulusan PTS yang lulus begitu saja tapi kita cek satu per satu. Sebelum wisudah harus ada tanda tangan Ketua LLDikti baru bisa wisuda. Ada perguruan tinggi yang tidak bisa wisuda karena tidak memenuhi persyaratan," terangnya.

Kabupaten Mimika harus berbangga karena tidak gampang mendapatkan ijin membuka  sekolah pendidikan tinggi dan tidak semua kabupaten punya perguruan tinggi. Mimika  luar biasa karena telah memiliki 6 perguruan tinggi.

"Di sini ada teknik, ekonomi, guru, hukum dan semua ijinnya resmi. Ini perguruan tinggi milik masyarakat dan masyarakat harus mendukung ini supaya perguruan tinggi ini menghasilkan STIHM yang bisa berkarya bagi bangsa dan negara khususnya Mimika," tuturnya.

Ia meminta warga Mimika agar jangan ragukan kualitas perguruan tinggi ini. Sealin memenuhi syarat dan standar, kualitas perguruan tinggi ini dijamin pemerintah.

"Jadi, Ijazah yang keluar dari perguruan tinggi ini memiliki identitas nasional sehingga lulusannya pun ketika lamar kerja di Sumatera, Bali maupun dimana saja bisa dan ketika di cek secara online pun akan langsung keluar namanya," tambahnya.

Suriel berharap, upaya-upaya untuk mendirikan perguruan tinggi swasta oleh masyarakat perlu disambut oleh pemerintah.

Sebab, inilah salah satu cara untuk memperpendek jarak dan bisa membuka akses seluas-luasnya bagi anak Papua agar bisa berkuliah di tempatnya tanpa harus keluar dari kabupaten ini.

"Kami juga harap jika perguruan tinggi ini berjalan dan ada anak-anak Papua maka pemerintah daerah dapat memberikan beasiswa terutama bagi mahasiswa dari keluarga ekonomi rendah," harapnya.

Ketua Yayasan Cahaya Timur, Yohanes Rahayaan dalam sambutannya mengatakan, STIH berdiri saat ini merupakan langkah awal mewujudkan mimpi.

"Hari ini merupakan moment yang bahagia bagi kita semua masyarakat Mimika lebih khusus kami dari pihak YCTP dan STIH Mimika. Hari ini juga merupakan langkah awal dari mimpi kita yang semakin menjadi nyata dan merupakan hari bersejarah bagi kami YCTP dan STIH Mimika," kata Yohanes.

Yohanes mengatakan, bahwa secara resmi perguruan tinggi ini muncul dan merupakan satu-satunya STIH di bumi Mimika. Setelah menerima SK maka akan dimulai perekrutan mahasiswa untuk tahun ajaran 2022/2023.

"Bulan Februari nanti, kami sudah membuka pendaftaran untuk mahasiwa baru. Untuk itu selayaknya atas nama YCTP ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika atas dukungannya kepada kami secara langsung maupun tidak langsung, sehingga Sekolah Tinggi kami bisa terselenggara di bumi Mimika ini,"ujarnya

Ia berharap dukungan Pemda Mimika terus berlanjut sehingga STIH akan lebih maju dan lebih berkembang dan diharapkan akan menghasilkan calon sarjana hukum yang mumpuni dan mampu merealisasi visi dan misi yayasan maupun STIHM di bumi Amugsa ini.

"Dan kepada Kemendikti  yang telah membantu dalam banyak hal, mengevaluasi lapangan dan memberi ijin pendirian serta pihak lainnya saya juga menyampaikan terimakasih atas dukungannya," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua STIH Mimika, Maria Kotorok mengatakan hari ini dilakukan penyerahan SK pendirian STIH dari Kementrian Pendidikan,Kebudayaan Riset dan Teknologi sesuai SK Nomor 26/E/0/2022.

"Jadi kita sudah memiliki legal izin dari pemerintah untuk bisa melaksanakan pendidikan tinggi lebih khusus sarjana pendidikan Ilmu Hukum di Mimika,"tutur Maria.

Untuk program studi, lanjutnya ada tiga jurusan yakni Hukum Tata Negara (HTN), Pidana dan Perdata, yang akan mulai dibuka pendaftarannya pada 17 Februari hingga 17 Juli 2022 untuk tahun ajaran 2022/2023.

"Anak Mimika ayo mari, ini kita sediakan untuk kalian bukan untuk kami. Ayo mari belajar hukum. Hukum itu sangat menyenangkan dan bermanfaat di semua lini kehidupan. Jadi mari sebanyak-banyaknya silahkan bergabung,"ajak Maria. (Shanty)

Terungkap!! Akibat Kurangnya Guru, Masih Ada Anak Sekolah di Atuka yang Belum Bisa Membaca dan Berhitung

Wabup Mimika, Johannes Rettob saat bermain gitar dan bernyanyi bersama dengan anak-anak Kampung Atuka

MIMIKA, BM

Pendidikan pada umumnya merupakan bekal bagi setiap anak untuk mencapai masa depan mereka. Namun sayangnya, pendidikan kadang menjadi suatu hal yang disepelehkan atau diabaikan.

Hal ini dialami anak-anak yang ada diwilayah pesisir khusunya di Kampung Atuka, Distrik Mimika Tengah.

Mereka seharusnya anak-anak memperoleh pendidikan yang sama seperti di kota, namun anak-anak di kampung tersebut malah kekurangan guru.

Dampaknya, ada anak-anak usia sekolah baik kelas 3,4 dan 5 yang ditemukan ternyata belum bisa membaca dan berhitung.

Oleh karena itu Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob mengatakan bahwa hal ini adalah bukti perhatian di sekolah sangat kurang.

"Kita pemerintah harus malu bahwa ternyata kondisi anak-anak seperti ini. Kita belum bisa berikan perhatian yang luar biasa buat anak-anak disini. Hari ini saya lihat banyak anak-anak yang sudah kelas 3, 4 dan 5 tidak bisa baca dan berhitung. Alasannya kekurangan guru padahal disini ada dua sekolah yaitu SD Inpres dan SD YPPK," kata Wabup saat meninjau langsung kegiatan yang dilakukan oleh komunitas Pi Ajar bagi anak-anak di Kampung Atuka, Jumat (21/1).

Melihat metode belajar yang dilakukan oleh komunitas Pi Ajar bagi anak-anak di Kampung Atuka, Wabup Mimika memberikan apresiasi karena komunitas ini telah meluangkan waktu dan tenaga untuk datang dan memberikan hal yang baik demi masa depan anak-anak.

"Anak-anak ini sangat ingin tahu tentang segala macam namun tenyata bukti perhatian di sekolah sangat kurang. Kita lihat anak-anak yang belajar di ruang terbuka di pinggir sungai ini kelihatan mereka sangat senang," ungkap Wabup Mimika.

Menurut orang nomor dua di Mimika bahwa metode yang dilakukan oleh komunitas Pi Ajar dengan belajar di luar ruang sekolah perlu digerakan.

"Saya pikir metode-metode seperti begini perlu kita coba gerakan sehingga bisa memberikan motifasi yang baik untuk anak-anak kita demi masa depan mereka. Saya juga tadi sudah diskusikan dengan kadistrik bahwa kita perlu memperhatikan anak-anak ini secara baik," ungkapnya.

"Sebab metode seperti ini semangatnya anak-anak luar biasa, karena mereka punya keinginan yang luar biasa . Kesan saya juga bahwa memang pendidikan di sekolah di pesisir ini mungkin tidak terlalu maksimal. Kita pemerintah harus malu, pendidikan harus malu karena ini adalah wajah," lanjut Wabup John.

Menanggapi hal tersebut, selaku Kadistrik Mimika Tengah, Samuel Yogi mendesak Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika segera prioritaskan tenaga guru. Pasalnya sangat dibutuhkan bagi anak-anak demi masa depan.

"Kami minta dipriotiskan tenaga guru disini baik untuk di SD Inpres dan SD YPPK, supaya ink sama dengan di kota karena kami disini tenaga pengajarnya menjadi kendala,"ungkapnya. (Ignas)

Top