Pendidikan

Mahasiswa Mimika Di Salatiga Keluhkan Perhatian Pemda Mimika, Kapan Bantuan Studi Disalurkan?

Pelajar dan Mahasiswa Mimika di Salatiga Jawa Tengah

MIMIKA, BM

Mahasiswa asal Mimika yang merupakan anak asli suku Kamoro dan Amunge serta lima suku kekerabatan lainnya yang mengenyam pendidikan di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Kota studi Salatiga Jawa Tengah, mengeluhkan perhatian Pemda Mimika.

Mereka merasa bahwa Pemda Mimika tidak memperhatikan mereka karena selama dua tahun yakni tahun 2020 hingga 2022 Pemda Mimika tidak lagi memberikan bantuan pendidikan (beasiswa-red) kepada mereka. Tahun ini katanya dijanjikan namun hingga pertengah September belum ada tanda-tanda pencairan.

"Kami mau mengeluh ke siapa? Kapan diberikan?, kami semua sangat berharap. Pemda Mimika dalam hal ini kepala bagian Sumber Daya Manusia (SDM) Mimika tidak memberikan perhatian kepada kami," ungkap Ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Kabupaten Mimika (IPMAMI) di Jawa Tengah, Lidianus Deikme.

Ia mengatakan selain bantuan studi (beasiswa-red), Pemda Mimika hinga kini juga belum memberikan bantuan biaya operasional bagi mahasiswa dan pelajar di kota studi Salatiga.

Bantuan operasional itu biasanya digunakan merenovasi asrama dan untuk memenuhi kebutuhan dasar lainnya.

Padahal saat ini di kontrakan mereka terjadi kerusakan pada mesin air yang sudah berlangsung hampir dua mingga dan plafon kontrakan mereka juga bocor sehingga sering kemasukan air.

Ia mengatakan, mahasiswa dan pelajar Mimika salatiga merasa kecewa atas keadaan ini. Apalagi kepala SDM Mimika di salah satu media edisi Agustus lalu (09/08/2022) menyampaikan bahwa bantuan sudah disalurkan kepada seluruh mahasiswa asal Kabupaten Mimika.

Menurut Lidianus Deikme, dalam pemberitaan tersebut disebutkan bahwa tiap orang telah diberikan bantuan sebesar Rp4 juta dan biaya operasional sebesar Rp20 juta.

"Itu tidak benar sama sekali karena realitanya belum disalurkan. Sampai sekarang kami belum terima apa-apa. Bukan hanya kami di Salatiga saja tapi semua mahasiswa Mimika di Jawa dan Bali serta daerah lain juga belum terima beasiswa," ungkapnya.

"Kami juga mau pertanyakan mengapa bantuan operasional untuk Ipmami di Salatiga belum disalurkan, sementara kota studi yang lain mereka sudah dapat, kenapa? Dulu uang operasional antara Rp30-50 juta, sekarang Rp20 juta," ungkapnya.

Ia mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan komunikasi dengan SDM namun alasan yang disampaikan adalah masih ada data mahasiswa yang belum lengkap. Katanya, jika lengkap baru dananya didistribusikan.

"Kami sudah setorkan data diri yang diminta seperti ijazah, kartu keluarga, akta kelahiran, KTP, pas foto dan lainnya pada Juni-Juli lalu, tapi katanya belum lengkap. Kenapa setiap tahun selalu begini? Mereka kan punya data kami. Sampai sekarang kami belum terima apa-apa sedangkan teman-teman mahasiswa dari Papua yang lain mereka sudah dibayarkan pada Agustus kemarin," jelasnya.

Sebagai generasi penerus Mimika, Lidianus Deikme bersama teman-temannya merasa kecewa dengan cara pemerintah daerah melalui OPD terkait dalam pengelolaan bantuan dimaksud.

"Kami mahasiswa dan pelajar di sini adalah generasi penerus masa depan Mimika. Bantuan yang diberikan sangat berarti bagi kami, menutupi kekurangan kami. Lalu jika seperti ini caranya, harus bagaimana lagi? Mau tunggu sampai kapan? Kami berharap bantuan itu segera didistribusikan. Kami tidak memaksa tapi itu hak kami sehingga kami punya kewajiban mempertanyakan hal ini," tegasnya.

Perlu diketahui kontrakan asrama yang dibiayai Pemda Mimika ditempati 6 mahasiswa. Lainnya tinggal di kos-kosan sementara jumlah mahasiswa asal Mimika yang kini sedang mengenyam pendidikan di Salatiga berjumlah 87 anak. (Ronald Renwarin)

Agar Guru Dan Murid Cepat Pandai Berbahasa Inggris, Sekolah Asrama Taruna Papua Gunakan Metode Oxford University

Launching program TeachCast with Oxford di SATP, Sabtu (27/8/2022)

MIMIKA, BM

Di era modern saat ini, kemampuan berbahasa Inggris yang baik dan benar telah menjadi kebutuhan dasar bagi setiap orang sebagai bahasa internasional.

Hal ini kemudian memicu dunia pendidikan (sekolah-red) maupun dunia usaha untuk menggunakan metode pembelajaran bahasa Inggris yang efektif, mudah dan cepat agar memudahkan murid dan karyawannya dapat berbahasa inggris secara praktis.

Salah satu metode pembelajaran bahasa Inggris yang kini mulai diadopsi adalah metode TeachCast, yang dikembangkan oleh Oxford University Press, Inggris.

Metode ini melatih kemampuan berbicara siswa melalui percakapan nirkabel secara langsung dengan pengajar dari Amerika Serikat.

Yayasan Pendidikan Lokon (YPL) Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) mulai tahun ini telah memperkenalkan dan memberikan materi TeachCast with Oxford kepada seluruh siswa kelas 3 SD hingga kelas 9 SMP.

Kepala Perwakilan Yayasan Pendidikan Lokon, Andreas Ndityomas mengatakan, Ini suatu program kerja sama antara YPL dengan PT Indomobil Edukasi Utama dalam rangka mendidik anak-anak serta membangkitkan keberanian komunikasi dalam bahasa Inggris.

"Ini adalah komitmen YPL dalam kemitraan dengan YPMAK sebagai pengelola dana PTFI untuk menyelenggarakan pendidikan yang bermartabat dan bermutu sebagai persiapan bagi anak-anak ini bisa mampu berkompetisi secara global," kata Andreas.

Adapun program TeachCast ini sudah teruji sampai di jenjang perguruan tinggi. Dengan fasilitas dan biaya yang sangat mahal, hal ini dilakukan demi generasi ‘telur emas’ anak-anak Kamoro dan Amungme.

Walau penguatan bahasa Inggris mulai dilakukan namun SATP tetap menomorsatukan bahasa ibu, Amungme dan Kamoro bagi anak didik mereka.

Andreas mengatakan, program ini kemungkinan pun sudah diterapkan di tempat lain namun untuk Timika dan Papua ini merupakan yang pertama dan satu-satunya.

"Rencananya program ini akan berlangsung selama 5 tahun dan itu untuk seluruh siswa kelas 3 SD sampai seluruh kelas 9 SMP termasuk 83 guru pembina baik sekolah maupun asrama sehingga ini adalah sebuah program persiapan menuju pembelajaran bilingual language dalam proses pendidikan dan pembinaan SATP," tutur Andreas.

Untuk persiapan sarana dan prasarana, kata Andreas, sudah siap semuanya dengan 3 ruangan untuk moving class dan kemampuan internet yang stabil, fasilitas smart Televisi 70 Inci di setiap ruangan kelas. Artinya, dari sisi teknologi, komunikasi, informasi pembelajaran sudah sangat siap.

Sementara itu, Kepala Sekolah SATP, Johana M.M Tnunay mengatakan, dalam membuat program ini tentu pihak yayasan maupun sekolah memiliki persiapan berkomunikasi dalam kelas untuk feedback antara guru dari Oxford dengan siswa maupun guru dari SATP.

"Itu sudah kami siapkan sehingga kami berani untuk launching. Sejak awal dalam wacana pun kami sudah mempersiapkannya. Tentunya literasi-literasi atau buku yang akan menunjang siswa dan guru juga sudah disiapkan," tutur Johana.

Dari program TeachCast ini para siswa mendapat tempat yang paling disyukuri karena kesempatan ini tidak didapat semua siswa lain. Semua siswa yang sudah disiapkan lewat program yang dikelola oleh YPL diharapkan bisa menjadi manusia pilihan untuk dapat melakukan yang terbaik untuk Papua dan Mimika pada khususnya.

“Satu-satunya program yang  diterapkan di Papua, dengan konteks pendidikan yang sudah dipikirkan oleh YPL, anak-anak kalianlah yang menerimanya, sebagai tonggak sejarah untuk menjadi pemimpin-pemimpin Papua, Amungme dan Kamoro,”jelas Yohana.

Menurutnya, sebelum di launching program ini sudah dilakukan uji coba dan ternyata membuahkan hasil dan sangat bermanfaat.

Selain siswa, program yang sama juga ditujukan untuk guru-guru karena ini sesuai dengan tujuan pembelajaran bermutu dan berkualitas kepada anak-anak maka guru-guru pun semua yang ada perlu untuk dipersiapkan.

"Awalnya program ini masuk di ektrakurikuler tapi kami sudah persiapan untuk menuju kurikulum karena menjawab tantangan-tantangan ke depan," ungkapnya.

Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Kurikulum SD, Dewa Komang Tri Mahayana mengapresiasi pihak YPL yang memiliki komitmen yang luar biasa melalui program ini.

"Untuk kesiapan sendiri dari guru kita sudah 100 persen siap dan untuk ruangan juga sudah siap. Sementara untuk teknis kita memiliki asisten teachers. Asisten guru ini yang akan terus mendampingi anak pada saat moving class," kata Dewa.

Ia mengatakan, pada saat proses pembelajaran nanti anak-anak akan dibantu dan mendapatkan pendampingan karena tidak akan menggunakan bahasa Indonesia.

"Memang kita juga membuat program ini dengan berani. Sebelum ada program ini juga kami sudah memiliki kelas internasional sejak tahun 2020. Walau awalnya sulit tapi sejalannya waktu kita dapat beradaptasi juga," ungkapnya.

Salah satu siswi SATP Kelas 9A Patresia Bela Kemong mengaku sangat senang mengikuti program ini. Ia mengatakan melalui program ini dirinya bisa lebih mengetahui pelajaran Bahasa Inggris secara baik dan mudah.

Awalnya ia mengaku belum terlalu mampu berbahasa Inggris namun melalui program ini, ia akan komitmen terus belajar.

“Saya memang belum terlalu lancar bicara bahasa Inggris, tapi saya mau terus belajar untuk harus bisa,” ujarnya dengan senyum. (Shanty)

Sering Buang Sampah Di Jalan Sembarangan, Malulah Pada Anak SD dan SMP 

Pelajar SD Inpres Sempan saat membersihkan sampah di Jalan Yos Sudarso

MIMIKA, BM

Ada sebagian masyarakat Mimika yang tidak memiliki kepedulian sama sekali dalam menjaga kebersihan umum.

Tidak heran jika sering kita temui ada yang dengan sengaja membuang sampah mereka di jalan raya seenaknya saja.

Bayangkan, jika hal ini dilakukan oleh banyak orang secara bersamaan dan berulang-ulang, maka sebanyak apapun petugas kebersihan, kota ini akan terus kotor dan penuh sampah.

Nah, bagi kamu yang masih saja lakukan hal seperti ini, mulailah memiliki rasa malu karena sampah yang kalian buang seenaknya di jalan raya dan sekitarnya, dipungut oleh pelajar SD dan SMP se-Kota Timika.

Sebagai orang dewasa, kitalah yang harus mengajarkan mereka untuk tidak membuang sampah di sembarangan tempat, namun kini, malah mereka balik mengajarkan kita. Malu ka tidak?

Hari ini, Jumat (26/8/2022), seluruh sekolah SD dan SMP, baik swasta maupun negeri se-Kota Timika, melakukan bhakti sosial membersihkan kota Timika.

Kegiatan gotong royong bersih-bersih Kota Timika ini dikomandani oleh Dinas Pendidikan Dasar Mimika yang dimulai sejak pukul 07.30 Wit.

Para siswa dan guru dari tiap sekolah diberikan tugas dan tanggungjawab membersihkan lingkungan yang merupakan tempat di mana sekolah mereka berada.

Kepala Sekolah SD Inpres Sempan, James Parera, ditemui di Jalan Yos Sudarso, mengatakan sekolahnya kebagian membersihkan wilayah seputaran pasar damai hingga lapangan Jayanti.

"Hari ini seluruh siswa SD dan SMP termasuk para guru membersihkan kota. Kami kebagian dari pasar damai hingga Jayanti. Kami hanya sertakan anak kelas 4, 5 dan 6 saja," ungkapnya saat menemani anak muridnya melakukan pembersihan di depan kantor Dispenda.

Didampingi para guru, anak-anak SD Inpres Sempan terlihat antusias dan penuh semangat membersihkan kota! Beberapa anak bahkan bahkan sesekali berlomba memungut sampah yang mereka temui di jalan.

Sementara itu disaat bersamaan, pelajar dan para guru SMP Negeri 7 juga melakukan hal sama. Kepada BM, salah seorang guru mengatakan bahwa mereka kebagian membersihkan dari Timika Maal hingga depan RSUD Mimika. (Red)

Top