Pendidikan

Sekelompok Pelajar di Timika Tolak MBG, Pendidikan Gratis Lebih Penting

Terlihat sekelompok pelajar saat membubarkan diri sesuai melakukan aksi tertutup terkait menolak MBG.

MIMIKA, BM

Sebelumnya beberapa daerah di wilayah Papua para pelajar sudah melakukan aksi demo damai sebagai bentuk penolakan program makan bergizi gratis (MBG), kali ini di Timika sekelompok pelajar melakukan hal yang sama di halaman Gereja Bahtera ,Jalan C Heatubun, Rabu (26/02/2025).

Pantauan wartawan dilapangan aksi yang dilakukan sekelompok pelajar ini tergabung dari beberapa SD, SMP, SMA maupun dari perguruan tinggi.

Mereka tidak melakukan orasi melainkan secara tertutup melakukan pertemuan atau tatap muka. Aksi yang tidak memakan waktu lama ini juga mendapat pengamanan dari pihak kepolisian.

Yoki Sondegau selaku koordinator aksi dan juga ketua BEM Universitas Timika mengakui aksi iini dilakukan karena menurut mereka program MBG tidak terlalu penting.

"Bagi kami yang penting itu pendidikan gratis sehingga kami tolak MBG. Karena ada satu dua hal sehingga kami tadi hanya lakukan jumpa pers saja, "ujarnya.

Walau hanya melakukan pertemuan sekelompok pelajar terkait penolakan program MBG namun kedepannya mereka berencana akan beraudiens dengan pemerintah daerah.

"Langkah kedepannya kami akan audiens dengan pemerintah daerah, tapi nanti kami akan datangi ke sekolah-sekolah sampai dengan perguruan tinggi supaya ada perwakilan saat audiens nanti,"ujarnya.

Kabag Ops Polres Mimika, AKP Hendri Alfredo Korwa menyampaikan bahwa untuk pengamanan para pelajar dalam melaksanakan aksinya ini dikerahkan 30 personil.

"Tidak ada gangguan dan semuanya berjalan lancar. Karena mereka juga tidak ada surat pemberitahuan sehingga kami menyampaikan kepada korlab untuk lakukan disini saja, dan itu mereka juga menyampaikan atas kesalahannya mereka," ujarnya. (Ignasius Istanto)

Novena Kepada Bunda Maria dan Janji Di Depan Sekolah Mengubah Kehidupan Dr Leonardus Tumuka

Dr. Leonardus Tumuka

MIMIKA, BM

Bagi sebagian orang yang hidupnya berkecukupan karena keberadaan ekonomi orangtua yang mapan dan mumpuni, mereka akan bisa dengan mudah meraih dan memperoleh apapun.

Bahkan tentang hak dasar seperti pendidikan saja, mereka akan sangat mudah menggapainya apalagi dibarengi dengan kemauan dan kemampuan yang baik.

Namun hal ini sangat berbanding terbalik dengan mereka yang terlahir dari keluarga yang sederhana yang bahkan tidak memiliki apapun. Jangankan untuk bersekolah, makan sehari saja kadang sudah sangat membahagiakan bagi mereka.

DR, Leonardus Tumuka yang sebelumnya bekerja sebagai karyawan PT Freeport Indonesia dan kini menjabat sebagai Direktur YPMAK Mimika adalah salah satu sosok yang berada dalam kelompok kedua yang disebutkan di atas.

Leo kecil terlahir di Pasir Hitam, kampung Lama Koperapoka dari kedua orangtua yang dangat sederhana yakni Anakletus Tumuka (Ayah) dan Lidia Nawaripi (Ibu) dan merupakan anak pertama dari 10 bersaudara.

Karena keadaan ekonomi saat itu, kehidupan yang selalu berpindah-pindah dan tidak ada sekolah ketika Leo masih kecil, maka mama tuanya, Suster Yohana Nawaripi yang merupakan suster pertama asal suku Kamoro datang dan membawanya ke Nabire.

Di Nabire, Leo bersekolah di SD Inpres Siriwini sampai kelas tiga SD. Saat itu ia merasa sangat merindukkan kedua orangtuanya sehingga saat libur sekolah tiba, ia diizinkan untuk berlibur ke Timika.

Namun saat berada di Timika, ia baru menyadari bahwa kedua orang tuanya sakit. Leo kecil tidak tahan melihat kondisi kedua orangtuanya yang terlihat begitu kurus.

“Tubuh yang kuat saat saya pergi dulu sudah terlihat terlalu lemah karena sakit apalagi kurangnya perlakuan yang baik dari keluarga juga. Akhirnya saya putuskan menetap di Timika dan tidak ingin kembali ke Nabire lagi,” ungkap Dr Leonardus Tumuka saat mengisahkan masa kecilnya.

Di Timika ia kemudian sekolah di SD Koperapoka namun ia tidak fokus belajar karena kedua orangtuanya sakit sehingga ia selalu berusaha untuk membantu mereka.

“Sekolah tidak fokus karena orang tua saya sakit sehingga saya sering membantu mencari ikan bersama almarhum Marsel, ade saya. Saat itu belum ada bendungan. Saya harus bantu mereka supaya menyambung kehidupan kami. Akhirnya saya berhenti sekolah,” ujarnya.

Leo mengisahkan, rumah mereka saat itu hanya beratapkan terpal dan berdinding terpal. Rumahnya saat itu sangat tidak layak dan menurutnya sangat mirip seperti rumah atau tempat tinggal pendulang.

“Karena saya tidak sekolah, suatu saat saudara sepupu saya, almarhum Paulus Omoko datang dan mengajak saya untuk kembali sekolah. Kami bicara banyak hal dan saya pun akhirnya mau sekolah lagi,” ungkapnya.

Saat itu ia bersekolah di SD Inpres Koperapoka namun kemudian pindah ke SD YPPK dan kembali lagi di SD Inpres Koperapoka.

“Ketika saya masuk sekolah kembali, teman-teman saya sudah SMP, saya tetap di SD. Inilah kehidupan. Orang tua saya juga sakit sehingga saya harus bantu mereka,” katanya.

Karena melihat kondisi ekonomi yang terus saja tidak ada perubahan, orang tua Leo (Ayahnya) yang walau dalam keadaan sakit, terpaksa harus menguatkan diri untuk mencari pekerjaan.

Ia ingin agar Leo dan adek-adeknya dapat terpenuhi secara ekonomis terutama untuk masa depan mereka di dunia pendidikan.

“Walaupun bapak dalam keadaan sakit namun dia kemudian memutuskan untuk mencari pekerjaan. Bapak dapat kerja di di CV. Tom Irja yang saat itu adalah kontraktor PT Freeport. Jadi dengan sakit sepanjang malam beliau harus tidur dan paginya dengan sakit itu juga beliau harus pergi kerja,” kenangnya.

“Keyakinan bapak adalah saya harus memberikan makan istri dan anak anak saya meskipun dalam keadaan sakit,” ujarnya.

Semangat yang ada dalam diri bapaknya ini membuat Leo semakin termotivasi. Menurutnya sikap sejati sang ayah ini terus melekat dan memotivasi hidupnya hingga saat ini.

“Kami melihat, kami menyaksikan bagaimana perjuangan bapa dan mama. Mama juga sakit tapi dalam kondisi itu mama masih harus mencari sayur, beli jual beras dan harus bantu cuci pakaian orang di sekitar pasar lama. Ini semua kami alami dan lihat sehingga itu menjadi semacam motivasi bagi saya sebagai anak pertama dari 10 bersaudara,” terangnya.

Semangat dan kekuatan perjuangan yang terus ditunjukkan kedua orangtuanya, membuat Leo berikrar dalam dirinya untuk terus bersekolah, walau apapun yang akan terjadi.

“Sebelum lulus, di depan SD Inpres Koperapoka saya pernah berjanji bahwa hanya sakit dan kematian saja yang memisahkan saya dari berhenti sekolah. Saya akan terus bersekolah, apapun yang terjadi,” ujarnya.

Bahkan untuk menguatkan keinginannya ini, Leo melakukan devosi khusus kepada Bunda Maria melalui Novena. Ia meminta Bunda Maria sebagai perantara untuk hidup yang dijalaninya.

“Saya ini orang yang pemalas dan merasa tidak ada masa depan jadi saya harus lakukan sesuatu dengan sekolah. Saya berdoa buat doa novena 3 kali salam Maria saat itu. Saya meminta kepada Bunda Maria untuk kasih saya kekuatan dan jalan untuk saya,” kisahnya.

“Dengan gaya anak-anak saat itu tapi saya meminta kepada Bunda Maria kasih saya jalan. Puji Tuhan tidak lama setelah itu saya tamat sekolah lalu saya buat janji depan SD bahwa saya akan terus melanjutkan sekolah,” ungkapnya.

Leo kemudian melanjutkan sekolah di SMP YPPK Santo Bernadus dan tamat pada tahun 2002.
Di sekolah ini Leo semakin memantapkan niatnya untuk terus bersekolah. Ia bahkan mulai sering rajin belajar untuk membantu meraih apa yang ia inginkan.

“Puji Tuhan saya kemudian dapat beasiswa dari Dirjen Pendidikan Memengah Umum dan saya termasuk dalam 72 anak-anak Papua yang bersekolah di Jawa. Kami sebanyak 15 orang ditempatkan di Madiun. Saya ambil jurusan IPA di SMA Negeri 2 Madiun dan tamat tahun 2005,” kisahnya.

Leonardus Tumuka kemudian melanjutkan sekolahnya di Universitas Pasudan Bandung mengambil Jurusan Hubungan Internasional dan tamat tahun 2009.

“Tuhan sangat baik, saya lulus cumlaude. Saya kemudian melanjutkan sekolah S2 di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, program Management Sumber Daya Manusia (MSDM). Saat itu saya sempat ditawari oleh LPMAK untuk sekolah dimana saja tapi saya kemudian memilih untuk mengambil S3 di Filipina,” kenangnya.

Di Filipina Leonardus melanjutkan study S3 di University of the Philippine Los Baños, Laguna mengambil Community Development (pengembangan masyarakat) dengan dua spesifikasi. Ia kemudian lulus setelah 3,5 tahun mengenyam pendidikannya sebagai seorang Doctor of Philosophy (Ph.D).

Saat study di The University of The Philippine Los Baños, Leonardo dipilih sebagai Presiden Mahasiswa Asing 2013 yang beranggotakan 29 negara. Ia merupakan orang pertama asal Indonesia yang terpilih sebagai presiden mahasiswa di kampus tersebut.

“Saya setahun memimpin. Semua meminta saya untuk terus memimpin tapi karena sudah sibuk dengan disertasi jadi saya harus fokus. Mereka dari Filipina, Thailand, Vietnam dan lainnya minta saya supaya lanjut tapi kau bagaimana, kita mahasiswa dan harus selesaikan study agar cepat pulang,” ungkapnya.

Sekembalinya dari Filipina, Dr. Leonardus Tumuka mengabdi di RSMM Caritas sebagai kepala bagian Sumber Daya Manusia. Ia juga kemudian diminta sebagai konsultan PTFI dan selama 2 tahun dipercayakan memimpin Yayasan Caritas.

Leo kecil yang dulunya adalah seorang anak yang mengorbankan sekolahnya demi membantu orangtuanya, kini mulai menikmati hasil dari kesetiaan dan kegigihannya berjuang di dunia pendidikan.

Dengan semangat dan keyakinan yang teguh, Dr. Leonardus Tumuka kini menjadi tokoh muda inspirasi bagi anak-anak muda di Papua dan Mimika, khususnya suku Kamoro dan Amungme.

Pria kelahiran 20 Juli 1984 yang sebelumnya bekerja sebagai karyawan PT Freeport ini kini menjabat sebagai Ketua Pengurus Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Suku Amungme-Kamoro (YPMAK), lembaga yang mengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia. Ia dilantik dan dikukuhkan pada 18 Desember 2024.

Selain kini menjabat sebagai Direktur YPMAK, Dr. Leonardus Tumuka sebelumnya adalah ketua Pemuda Katolik Komisariat Cabang (Komcab) Mimika.

Di akhir kisah yang diceritakan kepada BM, Dr. Leonardus Tumuka pada kesempatan ini mengucapkan Terimakasih kepada semua pihak yang selalu mendukung dan menyemangati perjalanan hidupnya, terutama kedua orangtua dan isterinya.

“Semua kesuksesan saya sejak S1 sampai S3 itu tidak lepas dari peran isteri saya. Dia seorang wanita yang luar biasa dan telah memberikan saya tiga orang anak. Kedua orangtua saya dan adek-adek saya juga sangat luar biasa,” ungkapnya.

“Mereka ini semua jadi alasan saya bisa mencapai semua ini. Namun dibalik semua ini, Tuhan Yesus dan Bunda Maria adalah segalanya,” ungkapnya mengakhiri dengan senyum kebahagiaan di malam itu. (Ronald Renwarin)

Sekolah Santa Maria Peringati Dies Natalis Ke-19, Diawali Dengan Parade Nusantara

Foto bersama warga sekolah sebelum Parade Nusantara

MIMIKA, BM

Dalam rangka menyongsong Dies Natalis ke-19 yang jatuh pada tanggal 9 Februari, Yayasan Santa Maria menggelar Pekan Dies Natalis.

Adapun rangkaian kegiatan yang diselenggarakan pada Pekan Dies Natalis tersebut diawali dengan Parade Nusantara yang dilaksanakan pada Selasa (4/2/2025).

Para siswa dan orang tua berbalut pakaian nusantara dari suku masing-masing seperti Papua, Kei, Batak, Ambon, Toraja dan NTT.

Kemudian, Parade Nusantara dimulai dimana para rombongan akan berjalan kaki menyusuri jalan Budi Utomo menuju Jalan Hasanudiin. Lalu, dilanjutkan menuju Jalan Yos Sudarso hingga kembali di sekolah Santa Maria di Jalan Busiri.

Disela-sela kegiatan kepada BeritaMimika, Kepala Kampus Santa Maria, Maria Novita Lesomar mengatakan seluruh warga sekolah turut terlibat baik TK, SD, SMP dan SMA beserta orang tua, guru, kepala sekolah dan yayasan.

“Kegiatan Parade Nusantara ini merupakan kegiatan tahunan dan tahun ini mengambil tema “Sekolahku Nusantaraku” artinya kami mau menyampaikan kepada masyarakat Mimika bahwa Sekolah Santa Maria tidak hanya untuk satu suku saja tetapi terbuka untuk semua suku dan agama,” katanya.

Ia menambahkan rangkaian kegiatan selanjutnya adalah pada Jumat (7/2/2025) dimana Sekolah Santa Maria mengundang 20 sekolah yang ada di Mimika untuk mengikuti Lomba Tari.

“Ini kami lakukan karena kami memiliki ekstrakulikuler Tari di sekolah. Di tahun 2024, kami menjadi juara lomba. Kami juga lolos di Festival Lomba Seni Siswa Nasiona (FLS2N) mewakili Mimika di tingkat provinsi, disana kami juara satu,” ungkapnya.

Menurutnya, hal ini juga akan menjadi motivasi untuk anak-anak Tari di Santa Maria untuk semakin bersemangat dan lebih baik lagi dalam mengembangkan bakat.

Selanjutnya, pada Sabtu (8/2/2025) akan diadakan Lomba Kuliner Nusantara yang melibatkan para orang tua.

“Orang tua akan bekerja sama dengan anak sebagai tempat pendidikan keluarga. Mereka berkolaborasi menampilkan makanan dari suku masing-masing. Kami mengundang dari Dinas Pendidikan sebagai juri. Juara 1,2 dan 3 akan mendapatkan uang tunai dari yayasan,” ucapnya.

Lalu pada puncak peringatan Pekan Dies Natalis ke-19 yakni Minggu (9/2/2025), Maria menuturkan Santa Maria akan terlibat dalam pelayanan di Gereja Santo Stefanus Sempan pada misa ketiga, baik koor maupun tarian persembahan.

“Dengan adanya ini, umat Sempan tahu kami berulang tahun dan memang selama ini kami pelayanan di gereja juga. Tapi kali ini spesial karena ulang tahun kami. Kami harap anak-anak Katolik semakin banyak yang sekolah di Santa Maria karena 54 persen siswa disini adalah Protestan,” harapnya. (Elfrida Sijabat)

Top