Dosen ITB Sebut Mimika Smart City Versi 1.0 Belum Optimal

Dosen Institut Teknologi Bandung, Ir. Windy Gambetta, MBA saat melakukan audience dengan ASN Mimika

MIMIKA, BM

Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), Ir. Windy Gambetta, MBA., yang juga merupakan pendamping Smart City Mimika menyebutkan bahwa program Mimika Smart City versi 1.0 belum optimal.

Menurutnya ada beberapa hal yang menjadi kelemahan dalam keberlangsungan program Mimika Smart City yang sudah berjalan kurang lebih 7 tahun belakangan.

"Kelemahannya, Dewan Smart City belum berjalan maksimal. Belum semua OPD berpartisipasi atau terlibat dalam program smart city dan kegiatannya belum terpadu," ujarnya dalam kegiatan FGD pengembangan dan pengelolaan ekosistem kabupaten/kota cerdas Tahun Anggaran 2023, Selasa (30/05/2023) di Timika.

"Sehingga bisa dikatakan bahwa Mimika Smart City versi 1.0 masih terbatas dan belum optimal," imbuhnya.

Satu hal yang bagi Windy merupakan sisi positif dari hasil evaluasi Smart City versi 1.0 di Mimika adalah pembuatan master plan yang sudah dilakukan.

Di sisi lain, Windy juga menegaskan bahwa sesungguhnya program Smart City bukan hanya untuk dilakukan oleh Dinas Kominfo atau pemda setempat, melainkan seluruh masyarakat harus berpartisipasi.

"Seluruh masyarakat juga harus berpartisipasi atau terlibat dalam program smart city, untuk pembangunan yang inovatif, terintegrasi, dan berkelanjutan," ujar Windy.

Menurutnya, untuk mewujudkan Smart City di Mimika, diperlukan komitmen dari setiap pihak, mulai dari pimpinan daerah hingga seluruh lapisan masyarakat.

"Perlu dukungan anggaran dari masing-masing OPD dan yang terpenting kegiatan Pemda harus terpadu dan tidak saling tumpangi tindih," tuturnya.

Dijelaskannya, meski Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Mimika akan berakhir, namun banyak hal yanh masih tetap berkelanjutan.

"Tujuan Smart City ini supaya layanan dirasakan oleh masyarakat, baik di kota maupun di kampung. Layanan pada masyarakat tidak selalu harus menggunakan fasilitas internet, sehingga harus dipikirkan layanan apa yang bisa sampai pada masyarakat di kampung. Kalau perlu jemput bola memberikan pelayanan pada semua lapisan masyarakat," pungkasnya. (Endi Langobelen)

Top