Ekonomi dan Pembangunan

Mulai Musim Hujan di Mimika, Puncaknya Juli 24 Jam Bisa Nonstop

Jalan menuju SMA Taruna Nawaripi tergenang air hujan semalam

MIMIKA, BM

Warga Mimika diminta agar selalu waspada terutama saat akan keluar rumah karena saat ini Mimika telah memasuki musim penghujan.

Musim ini telah dimulai sejak Mei lalu dan akan mengalami puncaknya pada Juli nanti.

Forecaster Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Timika, Aji Supraptaji mengatakan, curah hujan di Mimika baru mulai menurun pada Agustus atau pertengahan September.

"Kami minta masyarakat Mimika untuk mulai waspada. Mulai sekarang harus antisipasi, drainase-drainase yang ada segera bersihkan dan jangan sampai terjadi penimbunan di got-got atau selokan. Untuk para petani kalau bisa pilih tanaman yang cocok di tengah curah hujan tinggi seperti saat ini," ungkapnya.

Ia juga mengingatkan sejumlah pekerjaan lapangan yang menjadi proyek pemerintah agar mulai menyiasati musim ini. Para pekerja proyek harus bisa mengukur keadaan saat ini.

"Kalau untuk Juni ini hujan bisa terjadi di sore, malam hingga jelang pagi hari. Tapi kalau Juli nanti hujan bisa nonstop artinya bisa terjadi berhari-hari. Bisa terjadi 24 jam dan lebih banyak kita temui awan hitam pada Juli nanti," jelasnya.

Aji mengakui bahwa Mimika merupakan daerah dengan curah hujan tinggi. Ia menjelaskan, untuk Mimika curah hujan paling rendah rata-rata tiap tahun adalah 300 milimeter. Sementara sesuai standar internasional, curah hujan 150 milimeter ke atas sudah masuk dalam kategori musim hujan.

Bahkan berdasarkan hasil pengukuran BMKG curah hujan di mile poin 50 adalah salah satu yang tertinggi di dunia.

BMKG saat ini sedang mengusulkan ke World Meterological Organization (WMO) agar mile point 50 diakui dan ditetapkan sebagai titik curah hujan paling tinggi di bumi.

"Kita lagi upayakan hal ini. Untuk diketahui tingginya curah hujan di Mimika dipengaruhi karena pergerakan angin dari sisi tenggara yaitu lautan pasifik ke arah Papua. Karena terhalang pegunungan tengah, angin itu berbelok naik ke atas dan mengakibatkan potensi hujan. Ini yang signifikan pengaruhnya sehingga terjadi pembentukan hujan di Timika," ungkapnya. (Ronald)

Wabup John Tinjau Penerapan Protokol Kesehatan di Pasar dan Mall

Wabup John ketika berbincang-bincang dengan sekuriti Diana Mall

MIMIKA, BM

Terhitung lima hari sudah sejak Jumat (5/6) hingga Selasa (9/6) Mimika memberlakukan Status Tanggap Darurat Pra New Normal Covid-19.

Guna melihat sejauh mana penerapan instruksi ini dan bagaimana kepatuhan masyarakat Mimika termasuk dunia usaha, Wakil Bupati Johannes Rettob melakukan lawatan ke sejumlah tempat.

Beberapa tempat yang didatanginya adalah Pasar Sentral, ex Pasar Swadaya, Diana Shoping Centre, Timika Mall dan sejumlah ruko serta kios warga.

Kepada BeritaMimika, Wabup John Rettob mengatakan penerapan protokol kesehatan di pasar tidak berjalan sesuai arahan pemerintah daerah.

Ia mengatakan masih menemui banyak pembeli terutama pedagang atau penjual tidak mematuhi protokol kesehatan. Masih banyak yang ditemui tidak menggunakan masker, tidak ada area pembatasan belanja dan masih banyaknya pedagang maupun pembeli yang berkerumun.

“Di pasar jauh dari apa yang kita harapkan. Makanya saya sudah ingatkan petugas untuk perketat dan pertegas arel pasar. Siapapun yang masuk tidak pakai masker disuruh balik. Semua penjual harus pakai masker dan tidak boleh berkerumun dalam kelompok-kelompok kecil. Ini masih saja terjadi sehingga harus terus diingatkan,” ungkapnya.

Menurutnya, penularan corona paling nyata saat ini adalah tempat keramaian. Pasar dan tempat perbelanjaan semisal swalayan dan ruko termasuk kios warga tanpa disadari bukan hanya menjadi tempat transaksi ekonomi namun juga virus. Karena ramai dengan aktifitas. Kondisi ini semakin runyam jika para pemiliknya tidak mengindahkan protokol kesehatan.


Sebelum memasuki Timika Mall, Wabup Mimika mencuci tangannya

“Ini yang harus kita semua sadari bersama. Harus ada jarak transaksi antara penjual dan pembeli. Ini baru berapa hari penerapan new normal tapi melihat kondisi di pasar, kita harus atur dengan baik. Kita semua akan upayakan ini supaya keadaan di pasar lebih tertib. Muda-mudahan kita bisa buat,” ungkapnya.

Ketika di Diana Mall, Wabup John memuji penerapan protokol kesehatan yang diterapkan manajemen Diana. Menurutnya apa yang dilakukan sudah sangat standar.

“Diana sudah cukup bagus. Orang sebelum masuk harus cuci tangan, wajib pakai masker, suhu udara juga di cek, di dalamnya juga tidak boleh berdesak-desakan. Seperti ini yang kita harapkan. Timika Mall juga sama hanya belum semua, harapan kita mudah-mudahan tempat lain juga menerapkan hal yang sama. Kios dan ruko juga ada yang menerapkan ini misalnya tempat pencucian tangan tapi ada juga yang belum, terutama atur jarak pembeli dan penjual,” jelasnya.

Ia meminta agar petugas keamanan di pusat-pusat perbelanjaan baik di pasar maupun tempat swalayan termasuk mall harus tegas dalam menerapkan protokol kesehatan.

“Kita akan lihat trend kasusnya seperti apa setelah Pra New New Normal baik di pasar maupun tempat perbelanjaan lainnya. Kalau masih 30 persen hasilnya sama maka kita belum bisa menuju ke New Normal, statusnya bisa saja diperpanjang. Tapi kalau keadaanya semakin mengkhawatirkan maka kita bisa juga kembali terapkan PSDD. Kita masih punya beberapa hari untuk evaluasi semua ini,” ungkapnya.

Sementara itu Lina, Direktur Unit Usaha Diana Shoping Centre mengatakan sejak awal virus ini mendapat perhatian serius oleh pemerintah daerah, pihaknya telah memberlakukan protokol kesehatan.

“Kalau secara pedapatan ada perbedaan karena kami biasa tutup jam 10 malam. Tapi dibandingkan sebelumnya (PSDD-red) ini mulai naik lagi walaupun belum normal. Kalau protokol kesehatah kita dari awal sudah terapkan mulai dari tempat cuci tangan, pemeriksaan suhu, wajib gunakan masker dan pemberlakukan jarak di dalam. Karena customer sehingga kami selalu ingatkan dengan pendekatan secara baik-baik. Tapi pada prinsipnya kalau suhu badan capai 38, tidak mau gunakan masker dan cuci tangan maka tidak diizinkan untuk masuk ke dalam,” ungkapnya. (Ronald)

PTFI Serahkan Bantuan Sosial Tahap Kedua Kepada Warga 5 Kampung

Distribusi bantuan ke masyarakat oleh Tim Community Realtions PTFI

MIMIKA, BM

PT Freeport Indonesia (PTFI) melalui tim Community Relations kembali menyalurkan bantuan sosial berupa bahan pokok kebutuhan sehari-sehari.

Kali ini, bantuan senilai Rp800 juta tersebut diberikan kepada warga 5 Kampung binaan (Nayaro, Nawaripi, Koperapoka, Ayuka, dan Tipuka), guna meringankan perekonomian warga akibat pandemi Covid-19.

Bantuan bahan pokok yang diberikan adalah beras, minyak goreng, telur, gula dan mie instan yang diserahkan oleh perwakilan PTFI dari tim Community Relations, Alfonsus Ramidi dan diterima secara simbolis oleh Kepala Kampung bersama perwakilan warga.

Adapun penyerahan dilakukan dengan tetap berpedoman pada protokol kesehatan yakni menggunakan masker dan menjaga jarak.  

“Di tengah pandemi yang berdampak pada kehidupan masyarakat, kami berharap PTFI dapat membantu memastikan kebutuhan pokok mereka tetap terpenuhi. Semoga bantuan ini dapat meringankan ekonomi warga 5 Kampung yang terdampak,” ujar Yohanes Bewahan, Manager Community Economic Development PTFI.

Bantuan sosial ini merupakan kelanjutan dari distribusi bahan makanan yang PTFI berikan kepada sekitar 4.200 masyarakat Amungme dan Kamoro yang tinggal di sekitar area perusahaan pada April 2020 lalu.

Bantuan diserahkan secara simbolis kepada kepala kampung

Selain bantuan langsung dari PTFI, melalui dana kemitraan Freeport yang dikelola oleh Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme Kamoro (YPMAK) juga telah didistribusikan bantuan senilai Rp9 miliar untuk masyarakat tujuh suku di Kabupaten Mimika.

“Setelah ini, PTFI akan melanjutkan penyaluran bantuan sosial kepada warga ex-kampung Banti yang kini berada di area Timika,” lanjut Bewahan.

Pemberian bantuan sosial tahap kedua dilakukan bersama Keuskupan Timika. Selain bahan makanan juga diserahkan bantuan berupa 2.400 masker.

Seluruh bantuan ini menyasar pada masyarakat asli Papua yang mayoritas bekerja secara informal sebagai petani dan nelayan di lima kampung binaan PTFI tersebut.

Keuskupan Mimika yang telah lama bekerja sama dengan PTFI, khususnya dalam bidang pengembangan ekonomi, berharap agar bantuan ini dapat membantu warga menghadapi wabah pandemi yang terjadi tidak hanya di Papua, tetapi juga di seluruh dunia.

Benyamin Meo, Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Mimika yang juga adalah Manager Koperasi Maria Bintang Laut (KMBL) menjelaskan, bantuan-bantuan tersebut sangat membantu ketahanan pangan masyarakat setempat.

Menurutnya, dengan adanya berbagai pembatasan yang diakibatkan virus corona, produktivitas warga seperti yang bergerak di bidang perkebunan dan perikanan, menjadi berkurang.

“Seluruh bahan makanan yang diberikan telah melalui pemeriksaan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk memastikan kondisinya baik dan layak dikonsumsi. Semoga bantuan ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat, sambil kita berdoa agar keadaan segera pulih seperti sebelumnya,” harap Benyamin. (Ronald)
 

BERITA EKONOMI & PEMBANGUNAN

Jamin Keandalan Listrik Nataru, PLN UP3 Timika Siagakan Personel 24

Ekonomi dan Pembangunan 2025-12-23 12:06:31

Jelang Nataru Disnakkeswan Sidak Pedagang Daging di Pasar Sentral

Ekonomi dan Pembangunan 2025-12-19 13:15:56

Dukung Swasembada Pangan, Polres Mimika Panen 2 Ton Jagung

Ekonomi dan Pembangunan 2025-12-19 05:09:09

80 Peserta UMKM Diberi Pelatihan Sistem E-Katalog

Ekonomi dan Pembangunan 2025-12-12 04:04:51

BPS Mimika Catat Inflasi Mimika 1,77 Persen Pada November 2025

Ekonomi dan Pembangunan 2025-12-02 13:03:39

Top