
Suasana Kota Timika beberapa hari lalu
MIMIKA, BM
Apa yang ditakutkan dan dikhawatirkan selama masa New Normal ini akhirnya terjadi. Penularan dan penyebaran virus Covid-19 di Mimika semakin tidak terhindarkan.
Dalam kondisi ini, sangat sulit untuk menyalahkan pemerintah daerah atau masyarakat yang menjadi biang kerok, mengapa keberadaan virus Wuhan ini semakin liar dan tidak terbendung di Mimika.
Pemerintah telah mengeluarkan sejumlah regulasi daerah untuk membentengi virus ini. Bahkan kepercayaan pemerintah terhadap masyarakat juga dibuktikan dengan memberlakukan masa Tanggap Darurat New Normal.
Tujuannya agar warga Mimika tidak terhipnotis dan hidup dalam ketakutan berlebihan terhadap wabah ini. Selain itu, keberlangsungan hidup masyarakat dari ekonomi sehari-hari juga jangan sampai morat-marit.
Akses bandara dibuka, tidak ada pemberlakukan jam malam, pasar terbuka bebas, rutinitas kembali seperti sediakala, niatnya agar masyarakat Mimika dapat hidup berdampingan dengan Covid-19, pastinya dengan penerapan protokol kesehatan.
Di satu sisi, kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan juga sebenarnya tidak terlalu longgar. Banyak warga Mimika mulai taat, patuh dan memahami secara edukasi bagaimana terhindar dari Covid-19.
Walau demikian, tidak bisa dipungkiri karena masih ada pula sebagian masyarakat yang selengean (takaruang-red) terhadap situasi saat ini.
Mereka masa bodoh, tidak ada lagi ketakutan, tidak mawas diri bahkan tidak sedikit yang mulai berasumsi dan beropini virus ini merupakan sebuah proyek pemerintah pusat termasuk pemerintah daerah.
Persepsi sempit yang tidak didasari dengan pengetahuan yang matang terhadap keadaan saat ini, sudah jelas membuat virus ini hidup dan berpesta pora dalam ketidaktahuan masyarakat.
Jika memang disimpulkan siapa yang salah dan siapa yang menjadi penyebab mata rantai ini terus menjalar, jawabannya sudah pasti sebagian kelompok masyarakat ini. Mereka yang tidak patuh dan tidak lagi takut terhadap Covid-19.
BeritaMimika mencatat, selama pemberlakuan New Normal jumlah kasus Covid-19 di Mimika mengalami penurunan namun setiap hari kasus baru selalu aktif.
BM mencatat selama New Normal, jumlah kasus baru di Mimika sebanyak 47 kasus sementara jumlah pasien sembuh 44 orang. Angka kasus terbanyak terjadi pada Kamis (9/7) dengan 15 kasus. Sementara kasus sembuh tertinggi terjadi pada Selasa (7/7) pekan lalu.
Kumulatif kasus positif secara keseluruhan hingga 12 Juli adalah 440 kasus. 369 orang sudah dinyatakan sembuh namun 65 masih dalam perawatan. Jumlah ODP 8 orang, PDP 75 dan OTG sebanyak 1050 orang.
Untuk pesebaran kasus, masih ada wilayah yang ditetapkan sebagai zona merah dan kuning. Wania yang beberapa hari lalu dikategorikan kuning kini menjadi zona merah bersama Tembagapura dan Mimika Baru yang selalu betah di zona ini.
Distrik Kuala Kencana juga paling sering berubah statusnya, walau hingga 12 April kembali menjadi zona kuning. Karena lonjakan kasus dari wilayah ini pun masih terus naik, Kelurahan Kuala Kencana masih ditetapkan sebagai Zona merah.
Jika melihat tabulasi data di atas, kebanyakan orang akan berpikir bahwa Mimika aman, apalagi lonjakan kasus tidak sebanyak 1 hingga 2 bulan belakangan.
Sayangnya, banyak yang mengabaikan jumlah OTG yang kini mencapai 1050 orang. Padahal polarisasi penularan Covid-19 di Mimika saat ini lebih dominan terhadap mereka yang masuk dalam kategori ini karena telah terjadi transmisi lokal.
Fokus tracing kasus Tim Gugus Covid-19 Mimika juga hampir tidak lagi terjadi pada penularan melalui cluster terdahulu namun mereka yang kini tidak bergejala. Dengan semua keadaan ini, pada akhirnya ketakutan yang ada selama ini benar-benar terbukti.
Wakil Bupati Mimika Johannes Rettob menyampaikan secara resmi bagaimana kondisi Mimika saat ini pada Paripurna III Masa Sidang II tadi malam tentang Jawaban Pemda Mimika terhadap Pandangan Fraksi-Fraksi di DPRD.
"Tim gugus sudah bekerja keras menekan Covid-19, kita juga sudah bekerja keras siang malam untuk menangani persoalan ini namun angka reproduksi efektif kasus Covid-19 di Mimika kini meningkat," ungkapnya.
"2 Juli kita tetapkan New Normal angka reproduksi efektif penularan 0,34 artinya tidak ada lagi penularan. Hari ini dengan adanya New Normal, angka ini naik dari 0,34 jadi 2 persen," tambah Wabup John.
Padahal menurutnya tinggal beberapa hari lagi Mimika akan mengevaluasi penerapan New Normal yang berlangsung selama 14 hari.
"Kita sekarang harus sangat hati-hati, untuk itu saya berpesan dan meminta dukungan semua pihak agar kita menjaga protokol kesehatan, tetap memakai masker cuci tangan dan hindari kerumunan," harapnya.
Pelaksana Tugas Harian (Plt) Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra, kepada BeritaMimika mengatakan kondisi ini sangat memungkinkan Mimika bisa seperti Jayapura.
Ia mengatakan sejak 2 Juli hingga saat ini saja ada penambahan 47 kasus baru yang terjadi hanya dalam 10 hari. Menurutnya dalam 1 hari ditemukan 5 kasus pada masa New Normal merupakan angka yang tinggi.
"Ini menunjukkan angka yang cukup tinggi, menunjukkan bahwa situasi ini kalau betul-betul kami swab maka Timika ini sama seperti Jayapura. Ini aman-aman saja karena tidak di swab rapid tes lagi. Hitunganya, satu orang menularkan ke dua angka reproduksi jadi kalau ada 45 maka sudah menularkan ke 90 angka," jelasnya.
Reynold Ubra juga menambahkan 80 persen orang positif Covid-19 di Mimika saat ini merupakan orang tidak bergejala.
"New normal menunjukkan masyarakat siap tetapi masyarakat ternyata belum siap sehingga kita perlu terus mengedukasi masyarakat melaksanakan tiga M protokol kesehatan yakni menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan," ujarnya.
Kepada BeritaMimika, Reynold Ubra secara spesifik akan menyampaikan perkembangan kasus Covid-19 di Mimika di masa New Normal ini pada malam nanti melaui video call dengan media-media di Mimika. (Ronald)