Tarian Kolosal Opening Ceremony Pesparawi XIII Karya Alfo Kan Smith Membuat Takjub dan Memukau Penonton

Tarian Kolosal Maha Karya Alfo Kan Smith yang dipentaskan pada pembukaan Pesparawi XIII di MSC, Sabtu (30/10)
MIMIKA, BM
Opening Ceremony Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) XIII se Tanah Papua telah dilangsungkan di Mimika Sport Complex (MSC) Sabtu (30/10) tadi malam.
Opening yang penuh kemeriahan dan decak kagum ini ditayangkan secara live streaming, mengingat kondisi pandemi agar masyarakat dapat menyaksikannya dari rumah.
Kegiatan tersebut telah sukses diselenggarakan. Hal ini tidak lepas dari peranan seluruh panitia pelaksana dan pengisi acara. Salah satunya adalah tarian kolosal karya Alfo Kan Smith.
Tarian kolosal Opening Ceremony Pesparawi XIII yang mereka tampilkan tadi malam mengisahkan tentang sejarah Pesparawi di Indonesia hingga berlangsung di Mimika.
Tarian ini memadukan tarian dua suku asli Mimika yakni Amungme dan Kamoro yang dikoreografikan dengan berbagai tarian dari 20 kabupaten kota lain yang mengikuti Pesparawi.
Mereka padukan semua nuansa alam dan budaya dengan musik yang kemudian dikontemporerkan dengan begitu padunya.
50 penari yang terdiri atas 25 laki-laki dan 25 perempuan ini merupakan gabungan dua kelompok sanggar yakni Amuta Wipuri dan Sanggar Noken Star Papua Indonesia.
Mereka semua digabungkan dan dilatih oleh Alfo. Sebenarnya bukan hanya Pesparawi, pada PON XX Papua di Mimika kemarin, Alfo juga membuat karya serupa untuk ditampilkan. Apalagi Alfo sendiri tergabung pada Sosial Budaya PB PON Provinsi.
Kepada BeritaMimika, Alfo mengatakan Pesparawi XIII adalah salah satu kesempatan emas untuk menampilkan karya terbaiknya dari sekian banyak karya yang telah ia ciptakan.
“Saya menampilkan histori tentang perjalanan Pesparawi yang ada di Indonesia. Saya menggabungkan budaya Amungme dan Kamoro serta keseluruhan budaya yang ada di Papua. Ada satu gerakan yang menjadi simbol petik cahaya atau roh Ilahi yang berarti berkat untuk seluruh tanah Papua,” kisahnya.
“Saya berharap mereka (para penari-red) mendapatkan pengalaman yang luar biasa dan kedepannya bisa membagikan pengalaman yang didapat ke seluruh masyarakat di Indonesia,” harapnya.
Sementara itu, Penata Musik Leman LE Q mengatakan baru pertama kali datang ke Papua dan merasa sangat senang di Mimika serta bangga bisa ikut terlibat dalam memeriahkan Pesparawi XIII.
“Saya bangga bisa menggarap musik di Opening Ceremony Pesparawi XIII. Saya juga banyak belajar disini terutama akan adat dan budaya di Papua,” katanya.
Dikatakan, dalam prosesnya tentu ada kesulitan tersendiri namun seiring jalan ia mendapatkan kemudahan.
“Ketika kita berusaha untuk menjadi yang terbaik dan membuat sesuatu yang luar biasa maka kesulitan itu pada akhirnya menjadi suatu kemudahan,” ungkapnya.
Senada dengan itu, para penari kolosal usai tampil mengatakan sangat bangga dapat terlibat pada perhelatan Pesparawi XIII.
Penari Anjas Pombangka, Kristin Nawarisa dan Astonia Marani mewakili teman-teman mereka, menyampaikan hal ini.
“Saya bangga dan bersyukur bisa terlibat dalam karya tersebut. Bisa membanggakan Mimika, tim dan teman-teman,” kata Kristin Nawarisa.
“Dulu saya pernah ikut Alfo dalam karyanya Tubuhku adalah Hidupku dan sekarang di Pesparawi XIII, Dari Mimika Untuk Kedamaian Indonesia saya bangga,” ucap Anjas.
Tarian Kolosal Opening Ceremony Pesparawi XIII yang dipentaskan semalam tampil begitu memukau dan sempurna karena didukung panggung yang luas dan pencahayaan yang fantastis.
Penonton pun dibuat berdecak kagum. Mereka tidak henti-henti memberikan tepukan tangan meriah di setiap atraksi yang disuguhkan.
Momen ini sangat terasa hingga akhir pentas Alfo crew ketika mereka mengantar perwakilan peserta melakukan defile kontingen sebagai peserta Pesparawi XIII se-Tanah Papua di Mimika. (Elfrida)



