Lirik Lagu 'Home' Mewakili Curhatan Masyarakat 3 Kampung yang Rindu Rumah Mereka

Warga 3 kampung foto bersama Kuasa hukum FPHS Haris Azhar usai menyampaikan curhatan mereka
MIMIKA, BM
'Home Sweet Home' adalah ungkapan yang sering digunakan banyak orang untuk mewakili rasa rindu akan rumah dan kampung halaman.
Rumah merupakan tempat terakhir yang paling dirindukan tiap orang karena di sana semuanya berawal. Di rumah selalu ada cinta dan senyum, tawa dan keceriaan, kebersamaan dan kenangan, walau semuanya mungkin dilalui dengan begitu sederhana.
Mimika adalag rumah bagi semua orang namun untuk masyarakat yang tinggal di pedalaman dan pesisir, di sanalah merupakan rumah mereka yang sesungguhnya.
'Let me go home, I'm just too far, From where you are, I wanna come home' yang merupakan penggalan bait dari lagu Home yang dinyanyikan Michael Buble merupakan ungkapan kerinduan masyarakat tiga kampung yang kini berada di Mimika terhadap kampung halaman mereka di Distrik Tembagapura.
Selama tujuh bulan diungsikan ke Timika karena faktor keamanan yang mereka alami, membuat rasa rindu akan kampung halaman tidak lagi terbendung. Bagaimanapun keadaanya nanti, mereka minta segera dipulangkan.
Curhatan ini disampaikan masyarakat Kampung Banti dan Opitawak melalui tokoh perempuan, Ibu Marta Kelanangame dan kepala suku Banti Kolinus Beanal kepada kuasa hukum Forum Pemilik Hak Sulung (F PHS), Haris Hazar.
Marta Kelanangame saat bertemu kuasa hukum F PHS menjelaskan bagaimana awal mula kisah mereka diturunkan ke Timika dan bagaimana kerasnya menghadapi kehidupan sehari-hari di sini.
Dikisahkan, mereka diungksikan karena adanya kontak tembak antara pihak TNI Polri dan TPN-OPM.
Saat itu banyak masyarakat yang menginginkan untuk dievakuasi ke sporthall di Tembagapura, sehingga jika situasi sudah kembali kondusif bisa langsung dikembalikan ke rumah, namun mereka dievakuasi ke Timika.
Setibanya di Timika, masyarakat yang dievakuasi langsung diantar ke lokasi dan tempat dimana keluarga mereka berada.
Sayangnya, apa yang disampaikan dan dijanjikan kepada mereka berbeda dengan kenyataan yang mereka alami. Banyak warga merasa diabaikan. Bahkan untuk mencari tempat tingga saja mereka kesulitan.
Wanita paruh baya itu mengungkapkan, selama kurang lebih 7 bulan, ada beberapa warga yang meninggal karena tidak bisa beradaptasi dengan iklim di Mimika, bahkan untuk makan saja, mereka kadang begitu kesulitan.
"Sejak dievakuasi ke Timika, kami hidup sangat susah. Banyak hal yang kami rasakan dan alami, kami rasakan sendiri," kata Martha, di honai F PHS jalan C Heatubun, Senin (26/10) saat menceritakan kisah mereka selama dievakuasi awal tahun 2020.
Martha mengatakan hidup di Mimika bebanya begitu berat karena semua menggunakan uang. Sedangkan masyarakat yang dievakuasi tidak memiliki cukup uang untuk sekedar memenuhi kebutuhan mereka.
Berbeda halnya dengan kehidupan di kampung, walau tidak mewah dan penuh kesederhanaan, namun segala sesuatu sudah ada. Mereka tinggal megambilnya untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Ia meminta kuasa hukum F PHS agar membantu dan mengupayakan caranya agar memulangkan mereka ke kampung halaman.
"Kami cuma minta pulang ke rumah, kami tidak inginkan apa-apa," kata Martha sambil menyeka air mata dipipinya.
Sementara itu kepala suku Banti Kolinus Beanal menegaskan, masyarakat meminta sebelum hari Natal 2020, mereka sudah kembali ke kampung halaman, sebab ini merupakan kerinduan mereka.
"Kami semua mau sebelum desember kami sudah pulang ke kampung, itu saja permintaan saya mewakili warga," kata Kolinus, Senin (26/10).
Menanggapi keluhan masyarakat, Kuasa hukum F PHS, Haris Azhar mengungkapkan, perwakilan masyarakat dan F PHS beserta kuasa hukum akan bertemu untuk membicarakan semua hal terkait rencana memulangkan masyarakat.
"Nanti kita semua bertemu lagi secara bersama-sama untuk bicara masalah ini, apapun halangan tetap kita harus hadapi," tegas Haris.
Terkait stabilitas keamanan di wilayah Distrik Tembagapura, khususnya kampung masyarakat, Haris menegaskan jangan lagi ada alasan yang membuat masyarakat selalu menjadi korban.
Masalah stabilitas keamanan merupakan menjadi tanggung jawab TNI Polri, untuk itu negara harus menjamin rasa aman kepada warga negara.
"Setiap kejadian di beberapa daerah di Papua, masyarakat yang menjadi korban, dan ini menjadi tanggung jawab pihak keamanan," kata Haris. (Rafael)



