Budaya

489 Peserta Dari 7 Paroki Berlomba di Pesparani II Katolik Mimika 2023

Suasana pembukaan Pesparani II Mimika 2023

MIMIKA, BM

Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) kedua tingkat kabupaten resmi digelar, Rabu (15/11/2023) hingga 18 November 2023 mendatang.

Ada 489 peserta dari 7 paroki siap berlomba untuk 4 mata lomba yakni Lomba Paduan Suara, Lomba Mazmur, Lomba Cerdas Cermat Rohani dan Lomba Bertutur Kitab Suci.

Pembukaan Pesparani II ini berlangsung di Graha Eme Neme Yauware dengan mengusung tema "Allah Sumber Kasih dan Keselamatan dan sub tema, "Melalui Pesparani Kita Tingkatkan Kasih Insani Persaudaraan Sejati Dalam Keberagaman".

Kegiatan ini diawali dengan misa bersama yang dipimpin langsung oleh Pastor Andreas Madya, SCJ dan didampingi beberapa pastor.

Pastor Andreas Madya dalam khotbahnya yang diambil dari injil Lukas 17:11-19 ini mengisahkan ke 10 orang kusta yang menjadi Tahir karena kuasa Tuhan namun diantara ke 10 orang kusta yang telah menjadi Tahir tersebut justru hanya 1 orang Samaria yang kembali kepada Yesus untuk memuliakan Allah.

"Kiranya semangat yang menjiwai orang Samaria tersebut dalam memuliakan Allah juga dapat kita hidupi dalam menjalani panggilan hidup kita,"kata Pastor Andreas.

Pesparani menurut Pastor Andreas bukan sekedar perayaan begitu saja tetapi juga merupakan suatu bentuk bagaimana kita semua itu dipersiapkan untuk memeriahkan Liturgi ekaristi, perayaan-perayaan ekaristi yang setiap kali kita rayakan di gereja-gereja kita.

Usai misa, dilanjutkan dengan devile para peserta dari 7 paroki diantaranya, 101 peserta dari Gereja Katedral Tiga Raja, 111 peserta dari Gereja Santa Sisilia SP2, 96 peserta dari Gereja Santo Stefanus Sempan, 41 Peserta dari paroki Maria Bintang Laut Kokonao, 11 peserta Paroki Emanuel Mapurujaya, 12 peserta Paroki Kebangkitan Agimuga serta 88 peserta dari Santo Petrus SP3.

Ketua Panitia Kegiatan Petrus Canitius Konjongian, mengatakan, jumlah keseluruhan peserta Pesparani II sebanyak 501 peserta ditambah oficial. Pesparani II Kabupaten Mimika kali ini menampilkan 4 mata lomba Lomba Paduan Suara, Lomba Mazmur, Lomba Cerdas Cermat Rohani dan Lomba Bertutur Kitab Suci.

Petrus mengatakan bahwa pesparani kedua tahun 2023 Kabupaten Mimika ini merupakan aktivitas seni budaya dan kerohanian umat Katolik dalam bentuk pergelaran lomba musik dan nyanyian Liturgi untuk meningkatkan pemahaman, penghayatan dan pengalaman terhadap ajaran agama Katolik sebagai salah satu wujud kekayaan multikulturalisme bangsa Indonesia.

Katanya, perlombaan dan pertemuan kali ini merupakan kesempatan untuk mengembangkan seni budaya dan mendorong umat untuk berekreasi lagu-lagu Liturgi dalam rangka meningkatkan partisipasi umat dalam Liturgi secara sadar dan aktif.

"Musik bukanlah sekedar bunyi dari suara saja, karena di dalam bunyi dan suara itu terdapat unsur-unsur yang memperindah yakni melodi, ritme dan harmoni atau keselarasan. Saya mengutip kalimat Santo Hironimus berkata ketidaktahuan akan kitab suci itu berarti ketidaktahuan juga akan Kristus itu artinya orang yang tidak mengenal kitab suci tentu tidak mengenal Kristus juga dan dalam lomba ini terkait dengan kitab suci adalah lomba CCR (cerdas cermat rohani) tujuan lomba ini adalah membuat para peserta untuk semakin tekun membaca dan mencintai kitab suci dan pada gilirannya mencintai Yesus Kristus,"kata Petrus.

Ia mengatakan bahwa Santo Agustinus juga pernah berkata bagi yang melantunkan nyanyian dengan baik itu sama dengan berdoa dua kali. Hal ini berkaitan dengan mata lomba Mazmur Tanggapan yang mana tujuannya adalah memampukan peserta mengalami Tuhan dengan lebih dekat melalui nyanyian Liturgi dan paduan suara dengan nyanyian liturgi menuju Kristus.

Sementara itu, Pj Sekda Mimika Robert Mayaut dalam sambutannya mengatakan, Pesparani merupakan pesta iman dan bukan sekedar ajang perlombaan, atau kompetensi untuk memenangkan kejuaraan semata, sekalipun aspek kompetisi tidak dapat dihindarkan perlombaan yang diadakan, merupakan sarana pembinaan dan penegembangan mutu iman umat.

"Karena itu haruslah mencerminkan, adanya usaha umat katolik untuk mencari, menemukan dan memuliakan Tuhan yang dalam imannya sebagai kebenaran mutlak," katanya.

Lanjutnya, perlombaan ini merupakan kesempatan untuk mengembangkan seni budaya mendorong umat berkreasi dalam memuji Tuhan lewat lagu, dan meningkatkan partisipasi umat dalam gereja secara sadar dan aktif.

Tema yang diangkat tahun ini adalah" Allah Sumber Kasih dan Keselamatan dan sub tema, Melalui Pesparani Kita Tingkatkan Kasih Insani Persaudaraan Sejati Dalam Keberagaman".

Menurutnya, tujuan istimewa kegiatan Pesparani adalah mengembangkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan umat Katolik terhadap tata ibadah umat Katolik sekaligus memperhatikan, menghargai dan mendorong seni budaya bernafaskan keagamaan dalam gereja Katolik seperti ajang kompetisi lagu-lagu rohani yang lain sebagai wadah mewujudkan rasa cinta sesama memperkuat toleransi menyuarakan kebhinekaan untuk memperkokoh persatuan dan perdamaian.

"Pemerintah daerah sangat mendukung dan sebagai donatur utama pelaksanaan kegiatan ini melalui lembaga yang ada saya berharap untuk seluruh masyarakat di Kabupaten Mimika turut mensukseskan acara ini dan kepada seluruh peserta pesparani dan dewan juri untuk menjaga semangat sportivitas dan persaudaraan. Harapan Kita semua Pesparani ini membuahkan perdamaian dalam keberagaman dengan umat beragama yang lain di Kabupaten Mimika,"ungkapnya.

Selanjutnya, Ketua I LP3KD, Utler Adrianus, dalam sambutannya mengatakan Gereja Katolik merupakan salah satu dari lima gereja agama yang ada di Indonesia yang diakui secara resmi oleh Gereja sebagai suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari agama-agama lain.

"Kita adalah bagian dari NKRI dan memiliki kebebasan dalam mengembangkan kehidupan beragama keagamaan masyarakat Katolik berdasarkan Pancasila dan undang-undang dasar negara Republik Indonesia,"tuturnya.

Seiring dengan itu maka Menteri Agama telah mengeluarkan PMA Nomor 35 tahun 2016 tentang lembaga pembinaan dan pengembangan pesta paduan suara gerejani Katolik. Lewat PMA ini maka secara yuridis LP3K telah dicatat dalam lembaran negara untuk mengembangkan musik Liturgi gereja bagi umat Katolik yang tersebar di seluruh Indonesia.

Adapun yang menjadi tujuan LP3K adalah penyelenggaraan Pesparani yaitu menggali, mengembangkan dan melestarikan kekayaan seni budaya gerejani beserta kandungan nilai-nilai spiritualitasnya dalam perpaduan dengan kekayaan seni budaya lokal sebagai bagian dari kekayaan iman yang perlu terus diwarisi dan dikembangkan gereja.

Kedua, mengingatkan partisipasi umat dalam menyelenggarakan seni budaya dan Liturgi gereja yang bertumpu pada warisan tradisi budaya gerejani dan musik Liturgi dan pengembangan Liturgi yang bersifat inkulturatif.

Ketiga, menggiatkan kecintaan umat terhadap kitab suci dan tradisi gereja dalam rangka meningkatkan pemahaman dan Pengamalan terhadap ajaran resmi gereja sebagai penuntun hidup tempat meningkatkan keimanan dan kesatuan umat dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat dengan kesadaran baru akan pentingnya mewujudkan kehidupan bersama yang sungguh-sungguh sebagai bentuk Liturgi yang hidup bagi kemuliaan Allah dan sebagai pemenuhan tanggung jawab kesatuan gereja dalam kehidupan bermasyarakat.

Keempat, meningkatkan kualitas komunitas gerejani terutama dalam hal persaudaraan, keharmonisan, persatuan dan kesatuan, kerjasama, solidaritas dan semangat pengorbanan dari masyarakat Katolik agar dapat mewujudkan diri dan perannya dengan baik dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat.

"Perlombaan dan pertemuan pada Pesparani 2 Ini merupakan kesempatan yang baik bagi umat Katolik di Kabupaten Mimika terutama di tujuh Paroki untuk membangun persaudaraan sejati serta mengembangkan seni budaya,"ungkapnya.

Pastor Administrator Keuskupan Timika di wakilkan oleh RP Andreas Madya, SCJ, mengucapkan banyak terima kasih yang pertama adalah pada pemerintah daerah dalam upayanya sungguh-sungguh mendukung memfasilitasi Gereja Katolik di dekenat Mimika Agimuga.

"Apa yang menjadi tujuan dari lembaga ini kami menunggu bagaimana perwujudan dari misi Lembaga ini bersama-sama dengan gereja lokal khususnya di dekenat Mimika Agimuga ini,"pungkasnya. (Shanty Sang)

Ini Kriteria Penilaian Yang Perlu Diperhatikan Peserta Pesparani II Mimika

Juri Kategori Lomba Paduan Suara dan Mazmur Pesprani II Katolik Kabupaten Mimika, Pastor Berri Rahawarin, Pr

MIMIKA, BM

Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) II Katolik Kabupaten Mimika resmi dibuka di pelataran Graha Eme Neme Yauware pada Rabu (15/11/2023).

Terdapat tujuh kontingen paroki yang siap berlomba untuk meriahkan Pesparani II di 4 mata lomba yakni Lomba Paduan Suara, Lomba Mazmur, Lomba Cerdas Cermat Rohani (CCR) dan Lomba Bertutur Kitab Suci.

Untuk lomba Paduan Suara dan Mazmur menghadirkan salah satu juri yang juga pernah dipercaya menjuri saat pagelaran Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) XIII di Tanah Papua bernama Pastor Bernard Rahawarin, Pr atau lebih akrab disapa Pastor Berri.

Ditemui BeritaMimika di Hotel Horizon Ultima Rabu (15/11/2023) ia mengatakan untuk penjurian pada kategori paduan suara berprinsip pada kriteria-kriteria penilaian musica mundi namun disesuaikan.

“Kita buat penyesuaian dari apa yang kita kenal dengan kriteria musica mundi. Tapi kita tidak terapkan, namun kita mengambil inspirasi dari itu lalu membuat penyesuaian mengingat ini Pesparani tingkat kabupaten," ungkapnya.

"Kita buat penyesuaian karena sebuah kriteria itu jangan melupakan situasi riil di tempat dimana dilaksanakan lomba. Tetapi tetap juga pada faktor intonasi, kualitas suara, kesetiaan kepada partitur dan impresi artistiknya,” jelasnya.

Sementara untuk kategori mazmur, menurut Pastor Berri dipakai kriteria tersendiri yakni kemerduan, penghayatan dan penampilan.

“Pembawaannya dalam perayaan misa kudus sehingga kemerduan suara itu memang perlu, kemudian teknik pembawaan sangat penting karena mazmur dalam bahasa Indonesia berbeda kalau dalam bentuk Gregorian, sehingga itu perlu membedakan dalam hal teknis,” terangnya.

Pastor Berri menuturkan penghayatan berkaitan dengan tuntutan mazmur baik yang sifatnya inkulturatif umum atau mazmur yang Gregorian.

“Penghayatan lebih tentang bagaimana dia membawakan, bertolak dari syair, kemudian akan muncul dalam penafsiran, ekspresi, komunikasi, bernyanyi dengan umat jemaat liturgis. Secara penampilan, untuk panggung umum berbeda pada konteks liturgis,” imbuhnya.

Menurutnya, peserta lomba harus menguasai materi karena ini sifatnya sangat fundamental ketika tampil.

“Setelah kuasai materi, kita menggembangkan dengan penafsiran yang mendukung penghayatan nanti. Penafsiran itu berdasarkan syair. Karena lagu liturgis itu diciptakan dengan metode melodi mengabdi syair, sehingga pesan di lagu-lagu itu ada pada syair," jelasnya.

"Dan dia mesti kuasai dulu materi. Familiar materi untuk menunjang pembawaannya dari situ dia bisa tampil dengan optimal. Kalau tidak maka tidak optimal atau kebetulan, namun itu sangat minim terjadi,” terangnya.

Pada kesempatan itu Pastor Berri menjelaskan bahwa Pesparani Katolik Kabupaten Mimika yang pertama digelar pada saat Almarhum Mgr. John Philip Saklil masih ada.

“Yang kedua dibuat outdoor (luar gedung-red) seremoninya supaya ada gemanya di masyarakat Mimika. Penyelenggaraan ini sasaran pertamanya adalah pembinaan, yang penting ada even ini umat bisa berkumpul. Karena ketika berkumpul banyak hal bisa dibuat untuk saling mendukung dan memotivasi,” paparnya.

Pesparani ini dikatakan Romo Berri adalah suatu bentuk pembinaan yang sangat kongkrit dengan bernyanyi.

“Entah dia mencapai hasil yang sangat gemilang atau tidak, tetapi dengan berpratisipasi, para peserta sudah dimasukan dalam konteks action (aksi-red) pembinaan. Jadi ketika dia pulang ke paroki masing-masing kita sudah punya orang untuk mem-follow up kegiatan ini sesuai mata lomba masing-masing,” terangnya.

“Kedepan siapa tahu dia bisa jadi pelatih di tempatnya berbekal latihan selama ini. Karena belajar harus terjun kalau tidak akan ada kesulitan untuk maju. Supaya banyak orang dibina untuk kemudian dia bisa melaksanakan tugas ini didalam perayaan liturgi,” imbuhnya.

Ia menyebut apa gunanya Pesparani meriah tapi perayaan liturgi kosong? Sasaran paling nyata yakni ketika bernyanyi bagus maka berdampak bagus pada perayaan liturgi. Kalaupun belum nantinya juga akan menjadi bagus walau perlahan.

“Sasaran jangka panjang adalah pengembangan sumber daya manusia (sdm) mencakup dia (peserta-red) bisa menjadi pelatih. Itu saja yang kita perlu capai tapi susah untuk dicapai,” ujarnya.

Lanjutnya, untuk mencapai semuanya diperlukan frekuensi yang tetap agar Pesparani berjalan baik dan teratur. Paduan suara atau pemazmur di gereja pasti akan berkembang karena hal ini  terbukti di tempat lain. Kesenjangan kemeriahan liturgi antara paroki-paroki di kota dan di luar kota juga akan semakin terjembatani.

“Tadi (pembukaan seremoni-red) saya lihat paduan suara saat misa ada potensi. Dimana-mana ada potensi sehingga perlu ada kegiatan atau even untuk kemudian potensi itu ada tempat yang subur dimana bisa tumbuh dan berkembang,” pungkasnya.

Pastor Berri Adalah Ketua Komite Lomba Provinsi Maluku, Juara Umum Pesparani Nasional III

Dalam kesempatan tersebut, Pastor Berri  yang juga merupkan Ketua Komisi Lomba Provinsi Maluku berbagi pengalamannya ketika mengikuti Pesparani Nasional III di Jakarta pada bulan Oktober lalu.

Provinsi Maluku berhasil keluar sebagai juara umum untuk kedua kalinya di ajang ini.

“Pesparani melembaga mulai dari “Maluku untuk Indonesia”. Buah yang kita bisa lihat secara kongkrit adalah kesenjangan antara suara di desa dan kota itu semakin kecil. Kalau ikut misa dimana saja ke Maluku ini rata-rata paduan suaranya rata-rata sama. Itu suatu hasil dari Pesprani yang dibuat berjenjang. Itu jiwa pembinaan dan pengembangannya dapat,” tuturnya.

Dikatakan untuk mengumpulkan orang tidak mudah tetapi harus konsisten. Kuncinya ada di konsistensi.

“Penjadwalan kegiatan perlu konsisten. Maluku juara umum Pesparani nasional orang melihat juaranya tapi dibalik itu kita berdarah-darah,” katanya.

Perjuangan untuk mempertahankan konsistensi itu perlu kerja keras, menyelenggarakan seleksi yang adil, proposional dan objektif.

“Kuncinya adalah dimana segala kebijakan itu dibicarakan bersama. Kalau pada tingkat provinsi maka melibatkan semua kabupaten/kota dalam penetepan regulasinya sehingga semua mengerti. Dengan demikian, regulasi yang ada semua pihak merasa dia punya, sehingga halangan-halangan bisa diminimalisir karena tidak gampang mengatur manusia,”  jelasnya.

“Jika dikerjakan secara bersama-sama mulai dari tingkat regulasi sampai petunjuk teknis pelaksanaan itu nanti lebih membantu kita untuk makin berkembang dalam teknis penyelenggaraan,” lanjutnya.

Ia menambahkan pada tingkat kabupaten/kota maka seluruh elemen yang ada harus ikut terlibat. Jika semua orang tahu, maka jangankan potensi konflik, kesulitan yang riil juga akan bisa dihadapi.

“Konsistensi, transparan dan dikerjakan bersama seluruh unsur. Strategi rekrutmen peserta dan pelatihan persiapan untuk even dikaji secara teliti karena tidak bisa memisahkan rekrutmen dan pelatihan,” pungkasnya. (Elfrida Sijabat)

Paroki Katedral Tiga Raja Juara Umum Pesparani II Mimika, Kokonao Dinilai Unik Dengan Ciri Khasnya

Ketua Dewan Juri Pesparani II Mimika, Ernest Mariyanto

MIMIKA, BM

Kontingen Paroki Katedral Tiga Raja keluar sebagai Juara Umum Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) II Katolik Kabupaten Mimika dengan perolehan lima champion.

Lima champion tersebut diperoleh dari mata lomba Mazmur Dewasa, Lomba Cerdas Cermat Remaja, Paduan Suara dewasa dan OMK Gregorian, Paduan Suara Campuran dan Tutur Kitab Suci.

Sementara itu, Paroki Santo Stefanus Sempan meraih dua champion yakni Lomba Cerdas Cermat Rohani (CCR) Anak dan paduan suara anak.

Satu champion diraih oleh Paroki Emanuel Mapurujaya untuk champion Mazmur Anak, Bintang Laut Kokonao champion Mazmur Remaja dan paroki Santa Sisilia SP2 berhasil meraih champion Mazmur OMK.

Usai lomba hari kedua digelar kepada BeritaMimika di Gedung Tongkonan Jumat (17/11/2023), Ketua Dewan Juri Ernest Mariyanto mengatakan selama dua hari jalannya perlombaan para kontingen dinilai luar biasa.

"Paduan suara yang tampil malam ini menurut kami luar biasa. Dalam arti mereka punya suara dan usaha yang bagus, bisa menampilkan paduan seperti itu sangat bagus," tuturnya.

Ernest yang juga pernah menjadi juri pada Pesparani DKI Jakarta dan Pesparani Nasional III ini menyebut jika dibandingkan dengan DKI Jakarta, Mimika jauh lebih baik.

"Potensi paduan suara disini luar biasa tinggal ditingkatkan lagi. Saran saya konsen pada liturgi, bahwa koor-koor yang pada malam ini tampil dan pemazmur harus tampil dalam perayaan liturgi. Mulai melayani liturgi," ucapnya.

Ia pun kagum dikarenakan baru pertama kali ini ada paroki yang memiliki koor anak yakni Paroki Sempan yang tampil bagus.

"Kalau saya melihat potensi ini, Mimika bisa untuk terus tampil ke kabupaten, provinsi lalu ke nasional tergantung pada pengolahannya nanti. Kalau melihat tampilan waktu Pesparani yang baru lalu, dia (Mimika-red) tidak jauh dari prestasi yang mereka capai, jadi kalau dipoles sedikit bisa setara," ungkap Ernest.

Kepada media ini ia mengaku terkesan dengan penampilan dari paroki Bintang Laut Kokonao.

"Yang berkesan justru dari Kokonao. Mereka tampil sangat unik dan asli. Meskipun sebagai paduan suara masih kurang tetapi suara mereka unik, itulah Papua," ujarnya dengan senyum.

Namun, Kokonao masih perlu untuk diolah sebagai paduan suara dan bukan menampilkan perorangan.

"Belum balance (seimbang-red) dan blending (menyatu-red). Yang mazmur juga bagus dari sana. Kalau tampil sendiri suara oke tapi ketika tampil bersama masing-masing orang menampilkan keunikannya jadi perpaduannya harus dipadu," pesannya. (Elfrida Sijabat)

Top