Nasional

PTFI dan UNIPA Manfaatkan Lahan Tailing untuk Hasilkan Variasi Pangan Berkualitas yang Aman Dikonsumsi

Bukti pemanfaatan lahan tailing yang kini ditumbuhi sayuran dan buah-buahan

MIMIKA, BM

PT Freeport Indonesia (PTFI) bersama Fakultas Pertanian Universitas Papua (Faperta UNIPA) telah melaksanakan rangkaian penelitian terkait pemanfaatan lahan tailing PTFI di Mimika sebagai lahan produktif bagi tanaman pangan.

Hasil penelitian bersama menunjukkan bahwa lahan tailing PTFI dapat dimanfaatkan sebagai lahan tumbuh yang aman bagi berbagai jenis tanaman pangan.

Didukung pemupukan dan pemberantasan hama secara alami, tanaman yang tumbuh pun memiliki kualitas teruji dan aman dikonsumsi, sehingga dapat meningkatkan kemandirian pangan Mimika.

Pratita Puradyatmika, Pengawas Umum Reklamasi Daratan Tinggi PT Freeport Indonesia mengatakan melalui rangkaian penelitian dan pengujian restorasi lahan tailing, mereka telah mampu menanam lebih dari 140 jenis tumbuhan di lebih dari 1.000 hektar lahan tailing yang direklamasi.

"Hasil uji coba yang kami lakukan menyatakan bahwa beberapa jenis tanaman pertanian dan perkebunan dapat dibudidayakan di lahan tailing PTFI, bahkan beberapa tanaman buah-buah seperti nenas, melon, buah naga dan mangga, mampu menghasilkan buah dengan rasa yang lebih manis dibandingkan buah sejenis yang tumbuh di media tanam lain” ungkapnya.
 
Selain itu, hasil pengujian laboratorium yang dilakukan PTFI dan UNIPA menyatakan bahwa tanaman sayur dan buah yang tumbuh di lahan tailing PTFI memiliki kadar logam tembaga (Cu),seng (Zn), Timbal (Pb), Arsen (As) dan Air raksa (Hg) yang jauh lebih rendah dari ambang batas aman makanan yang ditetapkan pemerintah dalam SK Dirjen POM No. 03725/B/SK/VII/89.

"Kami memastikan bahwa tanaman buah dan sayuran yang tumbuh subur di lahan tailing PTFI aman dan layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Kami berharap agar pengelolaan lahan tailing PTFI terus diteliti lebih lanjut sehingga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif lahan produktif akan mampu memperkuat kemandirian pangan Mimika,” tambah Pratita.
 
Untuk mendukung optimalisasi lahan tailing PTFI sebagai lahan produktif bagi tanaman pangan, PTFI bersama UNIPA juga meneliti pemanfaatan pupuk organik untuk menghasilkan tanaman yang lebih baik.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa penggunaan pupuk organik berupa kotoran ayam dan kotoran sapi bagi tanaman di area tailing PTFI memberikan hasil panen tanaman yang lebih tinggi dan lebih produktif dibandingkan hasil panen tanaman yang tidak diberi pupuk organik.

Dr. Sartji Taberima, M.Si,  Peneliti Jurusan Tanah Faperta UNIPA yang melakukan penelitian penggunaan berbagai jenis pupuk organik menjelaskan, hasil penelitian yang mereka lakukan, misalnya pada tanaman kakao, memperlihatkan bahwa pemberian pupuk organik sebagai amelioran dapat menekan serapan logam berat dalam jaringan buah kakao dan memperbaiki kesuburan tanah.

"Dengan demikian secara alami, lahan tailing sebagai media tanam mampu meningkatkan ketersediaan kandungan unsur hara esensial, sehingga berdampak pada peningkatan kualitas tanaman dan buah kakao yang dihasilkan. Tidak hanya itu, pupuk organik yang digunakan pun mampu mengurangi serapan logam besi (Fe), seng (Zn), tembaga (Cu), dan mangan (Mn) pada tanaman,” jelasnya.
 
Selain mengembangkan pemanfaatan pupuk organik untuk meningkatkan produktivitas tanaman, PTFI dan UNIPA juga meneliti potensi pemanfaatan tanaman sebagai pestisida Alami.  

Dari 277 jenis tumbuhan lokal yang diamati dan diidentifikasi, terdapat 14 jenis tumbuhan yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pestisida alami, baik untuk menghambat nafsu makan hama, menolak hama, menghambat perkembangan hama, menghambat aktivitas Hama, dan membunuh hama sebagai organisme pengganggu tanaman.

"Pemanfaatan pestisida alami sangat baik untuk tanaman karena materinya yang cepat terurai, memiliki toksisitas yang rendah, serta tidak meracuni dan merusak tanaman. Selain itu, Pestisida Alami pun cenderung lebih hemat biaya karena pembuatannya yang mudah,” terang Ir. Maria J. Sadsoeitoeboen, M.Si, Pakar Biologi FMIPA UNIPA yang terlibat dalam penelitian ini.
 
Pratita Puradyatmika, kembali menjelaskan sejak tahun 1998, PTFI bersama berbagai perguruan tinggi seperti UNIPA, Universitas Cendrawasih, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Sriwijaya, dan Universitas Lambung Mangkurat secara berkelanjutan melakukan berbagai penelitian lingkungan.

Penelitian dilakukan sebagai upaya PTFI meminimalisasi dampak operasi perusahaan terhadap lingkungan, mempercepat pemulihan lingkungan di lahan bekas operasi, serta mengoptimalkan nilai tambah perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat melalui upaya pelestarian keanekaragaman hayati dan peningkatan produksi pangan, perikanan, dan perikanan di Mimika.

"Kami berharap kolaborasi yang PTFI lakukan bersama dunia pendidikan mampu menjadi kontribusi perusahaan bagi kemajuan ilmu pengetahuan, serta memberi manfaat langsung bagi masyarakat di sekitar area kerja perusahaan,” tutup Pratita melalui release yang diterima BeritaMimika. (Ronald

Setelah Membuat Langit Mimika Cerah, Kepala UPBU Ambar Suryoko Pindah ke Surabaya

Foto bersama Wakil Bupati Mimika Johannes Rettob, usai acara pisah sambut

MIMIKA, BM

Setelah 1 tahun 8 bulan menjalankan tugas sebagai Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Mozes Kilangin, Ambar Suryoko akhirnya berpindah tugas dan dipercayakan menjabat Kepala Bidang Pelayanan dan Pengoperasian Bandar Udara Surabaya.

Tongkat estafet kepemimpinan Kepala UPBU Mozes Kilangin dipercayakan kepada Syamsuddin Soleman yang sebelumnya bertugas di Kantor UPBU Morotai, Maluku Utara.

Pada Kamis (10/9), keluarga besar UPBU Mozes Kilangin menggelar acara pisah sambut yang dilangsungkan di Kantor UPBU Mozes Kilangin.

Prosesi acara pisah sambut diwarnai dengan penyerahan cenderamata dan pemutaran video keberhasilan Ambar Suryoko saat masih menjabat Kepala UPBU Mozes Kilangin.

Adapun program yang sudah berhasil dikerjakan Ambar Suryoko diantaranya penandatanganan Letter Of Operational Coordination Agreement (LOCA) dan dibukanya penerbangan Batik Air dan Wings Air ke Timika

Selain itu, ia juga berhasil membuka penerbangan Cargo Timika-Wamena oleh Maskapai Trigana Air dan Jayawijaya, menghadirkan pelayanan subisidi Cargo Perintis oleh Asian One dan pelayanan subsidi Angkutan Penumpang Perintis oleh Smart Air.

Ambar Suryoko dalam sambutannya mengatakan, salah satu perjuangan berat baginya adalah penandatangan LOCA.

Menurutnya, nota ini bisa ditandatangani tanggal 16 Oktober karena atensi khusus Wakil Bupati Mimika Johanes Rettob yang mana dalam program 100 hari kerja pasangan Omtob, harus ada penerbangan baru yang masuk.

"Saya dipacu sama bapak wabup untuk itu dan akhirnya saya kerjakan apa yang menjadi keinginan beliau dan pada akhirnya bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, Batik Air masuk ke Timika," ungkapnya.

Keberadaan Batik Air sangat membantu masyarakat dalam pilihan penerbangan karena tingginya permintaan walau Mimika telah terlayani oleh Garuda dan Sriwijaya Air.

"Dalam waktu dekat juga Lion Air akan masuk dengan rute Manado-Timika pulang pergi (PP). Jadi kedepannya Timika semakin akan tumbuh dan semakin besar," ujarnya.

Kepala UPBU Mozes Kilangin yang baru, Syamsuddin Soleman mengatakan, keberhasilan Ambar Suryoko akan menjadi motivasi baginya.

Syamsuddin juga mengatakan akan membangun komunikasi dan menjadi mitra kerja dengan pemerintah daerah. Apa yang diinginkan Pemda Mimika akan ditindaklanjutinya.

"Pada intinya kita harus bangun Mimika ini lebih bagus lagi. Saya juga minta dukungan Pemda Mimika dalam hal ini untuk program-program dari pusat supaya langit Mimika lebih berwarna," tutur Syamsuddin.

Kepala Bandara Mozes Kilangin, Subagio dalam sambutannya mengiyakan bahwa pengurusan Loca bukanlah pekerjaan yang mudah.

Namun, dalam program 100 hari bupati dan wakil bupati harus dijalankan bagaimanapun caranya sehingga kemudian diawali dengan pembuatan MoU antara AVCO dan UPBU.

"Karena kalau tunggu pusat akan agak lama makanya kita tabrak saja. Kenapa lama sekali nota itu karena kita utamakan keselamatan tapi karena kepala UPBU sanggup maka terjadilah nota tersebut," kata Subagio.

Sementara itu Wakil Bupati Mimika, Johanes Rettob dalam sambutannya mengatakan, keberhasilan Ambar Suryoku bukan hanya lima kegiatan di atas namun ada dua lagi yang belum disebutkan.

Menurutnya pada masa kepemimpinan Ambar, pada Juni lalu terminal bandara baru seharusnya mulai beroperasi, namun karena situasi pandemi, hal ini belum dapat dilakukan.

"Lion Air juga sebenarnya sudah minta Juli harus masuk tapi karena keadaan saat ini, mudah-mudahan bulan ini sudah bisa masuk. PR untuk kepala UPBU yang baru adalah mengoperasikan terminal UPBU," ujar Wabup John.

Wabup berharap, kepemimpinan UPBU yang baru ini dapat membuat langit Timika lebih berwarna. Ia juga berharap terminal segera dapat dioperasikan walau nantinya hanya menggunakan lantai satu.

"Kepala UPBU yang baru harus bisa buat bandara lebih baik lagi. Langit Timika harus lebih berwarna namun yang paling utama adalah keselamatan penumpang" harap Wabup John kepada kepala UPBU Syamsudin Soleman. (Shanty)

Sejak Awal Operasi, PTFI Terus Melakukan Restorasi Lahan Eks Tambang Terbuka Gresberg

Upaya restorasi yang sedang dilakukan PTFI

MIMIKA, BM

PT Freeport Indonesia (PTFI) terus merestorasi kawasan bekas tambang terbuka Grasberg agar dapat dimanfaatkan kembali sebagai area konservasi yang memadai bagi flora dan habitat yang aman bagi berbagai jenis satwa liar.

Upaya restorasi telah berlangsung sejak awal masa operasional Grasberg dan masih akan terus dilakukan hingga masa operasional seluruh tambang PTFI berakhir.

Langka ini mendapatkan dukungan dari akademisi dan pakar lingkungan, seperti Fakultas Pertanian Universitas Papua (FAPERTA UNIPA) dan Pusat Studi Reklamasi Tambang Institut Pertanian Bogor (IPB), melalui pelaksanaan sejumlah penelitian.
 
Lokasi Grasberg yang berada di ketinggian sekitar 4.000 meter di atas permukaan laut membuat area ini memiliki ekosistem alami yang belum tentu dapat dijumpai di daerah lain, seperti didominasi oleh padang rumput dan dilengkapi tumbuhan semak serta herba eksotis.

Dengan ketinggian dan karakteristik tersebut, tantangan untuk merestorasi kondisi ekologi lingkungan semakin meningkat.

Beberapa di antaranya adalah suhunya yang bisa mencapai 7° Celcius, curah hujannya yang begitu tinggi, intensitas cahayanya yang sangat rendah dan kawasannya yang dihampari bebatuan tanpa tanah, yang membuat kemampuan tumbuh berbagai jenis vegetasi menjadi sangat lambat.
 
Oleh karena itu, salah satu upaya restorasi yang tengah dilakukan adalah melakukan upaya konservasi plasma nutfah, yakni menggunakan sepenuhnya spesies tumbuhan lokal di sekitar Grasberg menjadi tumbuhan yang ditanam di area reklamasi.

"Konservasi plasma nutfah telah membantu kami melakukan upaya restorasi kawasan bekas tambang Grasberg di dataran tinggi dengan lebih optimal, mengingat membudidayakan tanaman dari dataran rendah sangat sulit dilakukan di Grasberg. Kami berharap, tambang terbuka Grasberg yang telah kami tutup dapat kembali pulih dan menjadi ekosistem yang sehat bagi flora dan fauna,” ujar General Superintendent of Highland Reclamation and Monitoring PT Freeport Indonesia Pratita Puradyatmika.
 
Selain menggunakan plasma nutfah, upaya lain yang juga bisa dilakukan untuk menyokong program restorasi Grasberg adalah memulihkan area Grasberg dengan menggunakan metode biologi, atau bioremediasi.

Wakil Dekan 1 FMIPA UNIPA Maria Massora yang pernah terlibat dalam penelitian restorasi Grasberg mengatakan, bakteri yang diisolasi dari batuan bijih di tambang Grasberg berpotensi untuk dimanfaatkan dalam program restorasi melalui program bioremediasi untuk membantu mempercepat pemulihan lingkungan di sekitar area Grasberg.

"Kemampuan bakteri untuk mengembangkan mekanisme resistensi terhadap logam membuat bakteri tersebut dapat hidup pada media yang memiliki kadar logam tinggi seperti di area Grasberg, menunjang ketersediaan hara bagi tumbuhan, serta membantu mempercepat pemulihan lingkungan di area Grasberg," ungkapnya.
 
Kerja sama penelitian yang dilakukan PTFI dan kalangan akademisi ini pun mendapat dukungan dari pakar lingkungan lainnya.

Peneliti Pusat Studi Reklamasi Tambang Institut Pertanian Bogor Dr. Ir. Iskandar mengatakan, upaya restorasi kawasan Grasberg, dengan berbagai keunikan alam dan tantangan yang dimilikinya, membutuhkan kolaborasi yang kuat dan berkelanjutan antar berbagai sektor.

"Kerja sama yang PTFI lakukan dengan dunia akademisi sangat membantu mempercepat upaya optimalisasi pemulihan kondisi ekologi tambang terbuka Grasberg," terangnya.
 
Aktivitas restorasi tidak hanya dilakukan PTFI di area bekas pertambangan Grasberg, namun juga di wilayah operasi lainnya di dataran rendah.

Khusus di Grasberg, restorasi sudah dilakukan sejak tahun 1999 dengan melibatkan berbagai pihak, baik kalangan akademisi maupun Pemerintah Kabupaten Mimika dan pemerintah pusat.

"Pemulihan lingkungan di seluruh area kerja PTFI merupakan salah satu bentuk komitmen kami untuk mewujudkan produksi yang aman dan berkelanjutan, tidak hanya bagi masyarakat, namun juga bagi lingkungan tempat kami beroperasi,” tutup Manajer Lingkungan Hidup PTFI Gesang Setyadi. (Red)

Top