30 Tahun Mimika, Rekam Jejak Kepemimpinan dari Masa ke Masa
Gedung Pusat Pemerintahan Kabupaten Mimika, SP3
MIMIKA, BM
Kabupaten Mimika kini genap berusia 30 tahun tepatnya pada 8 Oktober 2026.
Seiring berjalannya waktu, selama tiga dekade kabupaten ini terus berkembang dan mengalami pertumbuhan yang kian pesat khususnya di Kota Timika.
Tanah Amungsa Bumi Kamoro ini didiami oleh dua suku asli yakni Amungme dan Kamoro serta lima suku kekerabatan lainnya. Ada juga para pendatang dari seluruh nusantara.
Dari negeri inilah lahir para pemimpin yang menorehkan sejarah Mimika menjadi salah satu kabupaten yang dapat diperhitungkan di Papua dan Indonesia terutama karena kehadiran PT. Freeport Indonesia.
Pada momen perayaan HUT Mimika ke 30 yang dilaksanakan di Pusat Pemerintahan Kabupaten Mimika pada Senin (12/10/2026), Bagian Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) menampilkan Jejak Kepemimpinan Mimika dari masa ke masa.
Sejarah ini dimulai dari kepemimpinan Bupati Mimika pertama yang berasal dari Suku Kamoro yakni Drs.Titus Oktovianus Potereyauw.
Saat itu, ia menjabat sebagai Bupati Administrasi pada 8 Oktober 1996 hingga tahun 2001.
Kabupaten Mimika kemudian berubah status dari Kabupaten Administratif menjadi Kabupaten Definitif (Otonom)berdasarkan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999 yang disahkan pada tanggal 4 Oktober 1999.
Pada tahun 2001, Klemen Tinal terpilih dan menjabat sebagai Bupati definitif untuk masa jabatan 2001 hingga 2006. Klemen Tinal didampingi oleh Wakil Bupati Drs. Methodius Mamapuku.
Tongkat estafet kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Athanasius Allo Rafra sebagai Penjabat Bupati Mimika untuk tahun 2006-2007.
Setelah itu, Klemen Tinal SE.,MM kembali menorehkan namanya sebagai Bupati Mimika untuk periode 2008 hingga 2013, bersama Wakil Bupati Abdul Muis.
Kemudian, Abdul Muis menjadi Pelaksana Tugas Bupati Mimika untuk sisa masa jabatan periode 2008-2013 dikarenakan Klemen Tinal maju sebagai Calon Wakil Gubernur Papua mendampingi Lukas Enembe dan berhasil terpilih serta dilantik menjadi Wakil Gubernur Papua.
Pada masa transisi, Ausilious You, Spd.,MM menjabat sebagai Pejabat Bupati Mimika untuk periode 2014.
Pada tahun 2014, Eltinus Omaleng yang berasal dari Suku Amungme bersama Yohanis Bassang (OMBAS) maju mengikuti Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota. OMBAS berhasil terpilih dan dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Mimika untuk periode 2014-2019.
Eltinus Omaleng kemudian kembali memimpin Mimika bersama pasangannya Johannes Rettob (OMTOB) untuk periode 2019-2024.
Pada kepemimpinan OMTOB ini sejumlah capaian berhasil ditorehkan. Selain itu, Mimika berhasil terpilih sebagai salah satu tuan rumah pendukung atau klaster penyelenggara Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua meski ditengah pandemi Covid-19.
Sejumlah pembangunan infrastruktur pun digalakkan dan mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi dan kesehatan.
Mimika juga sukses menyelenggarakan Pesparawi XIII (Pesta Paduan Suara Gerejawi) se-Tanah Papua.
Pemerintahan OMTOB ini tak lepas dari isu-isu politik dan permasalahan hukum yang diiringi dengan raihan sejumlah prestasi.
Kemudian pada Juni hingga November 2023 Valentinus S. Sumitro S.IP.,MSi menjabat sebagai Pejabat Bupati Mimika dan dilantik kembali pada 9 September 2024 dan menjabat hingga 14 Juni 2025.
Pada 13 Januari 2025 hingga 25 Maret Yonathan D. Tangdilintin SH.,MH ditunjuk sebagai Pejabat Bupati Mimika.
Akhirnya, pada tahun 2025 Johannes Rettob maju sebagai Calon Bupati Mimika. Ia menggandeng Emanuel Kemong sebagai pasangannya yang dikenal dengan pasangan JOEL.
JOEL berhasil terpilih mengalahkan dua pasangan lainnya AIYE dan MP3. Mereka resmi dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Mimika untuk masa jabatan 2025-2030.
Pemerintahan JOEL kini masih berjalan dan telah melewati satu tahun kepemimpinan tepatnya pada 25 Maret 2026 lalu. Pasangan dengan visi misi membangun dari kampung ke kota ini terus menata dan memperbaiki mulai dari akar rumput.
Pemerintahan JOEL juga berkomitmen menata birokrasi pemerintahan namun dihadapkan akan tantangan seperti adanya peraturan pemerintah pusat yang baru.
Meski demikian, pemerintahan yang masih seumur jagung ini telah menerohkan sejumlah prestasi di tingkat nasional salah satunya adalah Harmony Award, suatu bentuk pengakuan akan hidup masyarakat yang saling berdampingan secara harmonis antara satu agama dengan agama lainnya.
Di sisa waktu kepemimpinan yang masih panjang ini, masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi seperti pengangguran, kemiskinan dan stunting serta persoalan kabut asap kiriman akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian mengganggu kesehatan warga.
Harapannya di usia Mimika yang genap 30 tahun ini, “Mimika Rumah Kita, Bangkit dan Bergerak dari Kampung ke Kota Menuju Gerbang Emas”dapat terwujud demi kesejahteraan masyarakat Mimika sesuai visi misi pemerintah daerah. (Elfrida Sijabat)
























