Hukum & Kriminal

Dua Terdakwa Kasus Korupsi BLT Dana Desa Ternyata Tidak Ditahan : Kuasa Hukum Beri Penjelasan

Supriyanto Teguh Sukma selaku kuasa hukum kedua terdakwa

MIMIKA, BM

Tim hukum dua terdakwa tindak pidana korupsi BLT Dana Desa yakni TY (kepala kampung) dan YT (bendaha Kampung) Bintang Lima Distrik Kwamki Narama angkat bicara terkait kasus kedua kliennya.

Supriyanto Teguh Sukma, kuasa hukum keduanya menjelaskan bahwa pihaknya tidak mengajukan eksepsi (bantahan) atas dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang perdana atau pertama di Pengadilan Negeri Jayapura, Senin (4/10).

"Dalam sidang perdana pembacaan dakwaan oleh JPU pada Intinya kami dari kuasa hukum tidak ada eksepsi karena dalil penuntut umum terkait data pribadi klien, tempat dan waktu kejadian tidak berbeda artinya sudah sesuai," ujar Supriyanto Teguh Sukma saat ditemui Kamis (6/10).

Ia mengatakan, terkait nota pembelaan atau pledoi nanti di agenda selanjutnya dimana pihaknya akan melakukan pembuktian terkait dugaan kasus tersebut.

"Untuk agenda sidang berikutnya itu tanggal 11 Oktober mendatang minggu depan untuk pemeriksaan saksi," ungkapnya.

Sebagai kuasa hukum ia juga memastikan kliennya (dua terdakwa) tetap kooperatif untuk tetap hadir setiap kali ketika dipanggil dalam persidangan.

"Secara keseluruhan permohonan kami juga kepada Majelis Hakim Tipikor agar klien kami tidak ditahan juga dikabulkan. Ini poin plusnya dari langka hukum awal yang kami lakukan sehingga keduanya masih bisa beraktifitas di luar," ungkap Supriyanto.

Untuk diketahui kedua terdakwa ini terlibat tindak pidana korupsi penyalahgunaan Dana Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD) di Kampung Bintang Lima tahun anggaran 2020 yang mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp522.134.000. (Ignasius Istanto)

Diduga Baku Tikam, Dua Orang Ditemukan Bersimbah Darah Di Salah Satu Hotel

Polisi saat mendatangi TKP

MIMIKA, BM

Seorang wanita bersama seorang lelaki ditemukan bersimbah darah di salah satu Hotel yang beralamat di Jalan Yos Sudarso Kamis (6/10).

Kejadian ini kemudian segera ditindaklanjuti oleh pihak Kepolisian Mimika sembari mendalami modusnya.

Kasat Reskrim Polres Mimika, Iptu Sugarda Aditya B. Trenggoro saat dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut.

"Kasus ini sudah ditangani dan sedang dilakukan pendalaman terkait modus kejadiannya,"katanya.

Berdasarkan informasi, akibat kejadian tersebut perempuan berinisial N yang merupakan warga Jalan Busiri kelahiran Makassar 1991 ini menderita luka tusuk dan meninggal dunia di RSUD Mimika.

Sementara pria berinisial LA yang ditemukan bersama N di TKP telah dievakuasi ke IGD RSUD Mimika karena mengalami hal serupa akibat terkena benda tajam.

Polisi masih menyelidiki motif kasus ini namun berdasarkan informasi, kejadian ini diduga karena masalah asmara. (Ignasius Istanto)

Warning! Kecelakaan Perairan Cukup Tinggi Terjadi Di Wilayah Timika-Asmat : 30 Orang Belum Ditemukan

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Timika George L.M. Randang

MIMIKA, BM

Kantor Pencarian dan Pertolongan Timika memberikan peringatan bahwa tingkat kecelakaan di perairan terutama di wilayah Timika-Asmat dalam beberapa waktu terakhir cukuplah tinggi.

Warga diminta lebih waspada dan hati-hati dalam melakukan perjalanan laut Timika-Asmat pun sebaliknya dan Kaimana-Timika, juga sebaliknya.

Diingatkan, jangan mengambil resiko melakukan perjalanan di dua wilayah ini menggunakan perayu layar yang tidak memenuhi standar, namun baiknya harus menggunakan jasa trasportasi kapal.

"Jadi ini tolong diantisipasi bersama demi keselamatan bersama. Harus selalu memperhatikan data cuaca karena cuaca terkadang sering berubah-ubah,"ungkap Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Timika George L.M. Randang saat ditemui Rabu (5/10).

Perlu jadi perhatian karena berdasarkan data informasi terkait kecelakaan perairan dalam empat bulan terakhir, sudah ada 30 korban yang hingga saat ini tidak ditemukan oleh tim gabungan.

"Dalam pencarian korban-korban yang belum ditemukan itu sudah kita lakukan semkasimal mungkin sampai 7 hari namun tidak ada tanda-tanda keberadaan korban,"ungkapnya.

Lanjutnya,"Yang menjadi kesulitan kita dalam melakukan pencarian itu karena lokasi atau medannya yang mana berada di daerah pesisir pantai selatan yang arusnya cukup deras dan mudah bergeser," sambungnya. (Ignasius Istanto)

Top