Pendidikan

SD Inpres Koperapoka Rayakan HUT Ke-42 Dengan Meriah, Perkuat Komitmen Pendidikan Lebih Baik

Kepala Sekolah SD Inpres Koperapoka I, Margarita bersama Kabid SD, Andri Patiung saat memotong kue ulang tahun

MIMIKA, BM

Suasana penuh semangat, kebersamaan, dan nuansa budaya mewarnai perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-42 SD Inpres Koperapoka I yang dirangkaikan dengan Ibadah awal tahun ajaran 2026/2027 yang digelar di halaman sekolah, Sabtu (18/7/2026).

Kepala Bidang SD pada Dinas Pendidikan Mimika, Andri Patiung menyampaikan, selamat ulang tahun ke 42 untuk SD Inpres Koperapoka I. Sekaligus mengajak semua pihak baik itu guru, alumni dan orang tua untuk merefleksi melihat ke belakang bagaimana perkembangan sekolah ini. 

"Saya berharap para alumni, orang tua, guru untuk selalu bekerjasama, berkolaborasi meningkagkat mutu pendidikan," kata Andri.

Andri menambahkan, bahwa dengan usia sekolah yang sudah 42 tahun ini maka sudah ada kurang lebih 36 generasi atau angkatan.

Oleh sebab itu, diharapkan agar para alumni dapat memperhatikan sekolah ini karena para alumni bisa seperti saat ini karena mengenyam pendidikan di sekolah ini.

"Lulusan dari sekolah ini ada yang jadi ASN, TNI/Polri, pengusaha, anggota dewan semua itu karena mengenyam pendidikan di SD Inpres Koperapoka I," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SD Inpres Koperapoka 1, Margarita Abraham mengatakan, hari ulang tahun bukan sekedar perayaan seremonial ataupun bertambahnya usia sebuah lembaga pendidikan.

Lebih dari pada itu, hari ulang tahun merupakan momentum yang sangat berharga bagi semua pihak atas perjalanan panjang yang telah dilalui sekaligus memperkuat komitmen dalam membangun masa depan pendidikan yang lebih baik.

"Sejak berdiri sampai saat ini sudah 42 tahun, SD ini telah melewati dinamika, tantangan-tantangan dan perubahan jaman. Namun, berkat kerja keras, dedikasi, komitmen semua pihak mulai dari guru, peserta didik, orang tua, alumni sehingga sekolah ini masih berdiri kokoh," ujar Margarita.  

Ia mengajak, untuk patut disyukuri atas prestasi yang telah diraih dalam bidang akademik maupun nok akademik.

Katanya, dunia pendidikan terus mengalami perubahan yang begitu cepat. Bahkan, perkembangan teknologi membuat sekolah harus berdaptasi dan berinovasi.

"Namun, ditengah kemajuan itu kita tidak boleh melupakan jati diri sebagai bangsa yang menjunjung nilai-nilai karakter, budi pekerti, budaya dan kearifan lokal," tuturnya.

Menurutnya, sebagai sekolah yang berada di tanah Papua tentu memiliki tanggungjawab untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya kepada peserta didik melalui berbagai program sekolah.

Ia berharap, anak-anak tidak hanya tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas akademik tapi juga memberi karakter yang kuat, mencintai budayanya, mencintai keberagaman serta bangga menjadi anak Papua dan Indonesia.

"Memasuki usia ke 42 tahun ini, saya mengajak semua pihak untuk terus meningkatkan kompetensi dan memperkuat kolaborasi serta memberi pelayanan pendidikan yang lebih baik. Mari ciptakan lingkungan belajar yang aman, menyenangkan dan mampu menginspirasi. Dan untuk anak-anak, teruslah belajar dan raihlah cita-citamu setinggi langit. Dimanapun kalian berada harus menjadi anak-anak yang penuh berkarakter,"pungkasnya.

Wakil Ketua Alumni SDI Koperapoka I, Erik mengatakan, SD Inpres Koperapoka I ini adalah sekolah tertua di Kabupaten Mimika bahkan sekolah pertama di Mimika.

"Jadi, sudah 36 angkatan dan sekarang sudah usia 42 tahun namun sekolah ini masih berdiri megah. Dan, sekolah ini juga sudah mengorbitkan lulusan yang sangat luar biasa, ada yang jadi anggota dewan provinsi, pengusaha sukses, TNI/Polri, ASN," tututpnya. (Shanty Sang)

Satgas MBG Mimika Mulai Petakan Wilayah 3T

Ketua Satgas Program MBG Mimika, Emanuel Kemong saat memimpin rapat koordinasi

MIMIKA, BM

Satuan Tugas (Satgas) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Mimika mulai melakukan petakan wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) .

"Wilayah 3T untuk program MBG ini harus menjadi perhatian, di mana harus diketahui kriteria dari 3T. Misalnya, tertinggal itu apa saja yang perlu diperhatikan, terdepan dan terluar ini kategorinya apa ?Jangan sampai ada kesalahan pemetaan ke depannya,” kata Ketua Satgas Program MBG Mimika, Emanuel Kemong.

Emanuel menjelaskan, pemetaan 3T di Mimika dapat juga diperhatikan dengan situasi ekonomi suatu wilayah, apabila ekonomi wilayah tersebut meningkat maka tidak dapat disebut wilayah 3T, namun apabila wilayah tersebut memiliki situasi ekonomi rendah maka dapat disebut wilayah 3T.

“Kalau kita lihat ekonominya sudah meningkat maka tidak usah kita jadikan wilayah 3T, kalau ekonominya lemah maka akan kita usulkan menjadi wilayah 3T,”ungkapnya.

Sementara itu, Pendamping Kepala Regional Papua Tengah, Suherman Bondar mengatakan, pemetaan 3T untuk Mimika tidak ada, namun untuk program MBG ini, dapat mengusulkan wilayah 3T apabila dirasa wilayah tersebut merupakan wilayah 3T.

Namun tentunya pengusulan 3T ini harus dibarengi dengan penelusuran dari beberapa pihak.

“Kalau di Mimika tidak dapat kita pastikan wilayah 3T nya, tapi kalau mau diusulkan bisa sesuai dengan penelusuran beberapa pihak. Setelah kita tentukan kita harus usulkan ke Pusat, jadi nanti Pusat yang akan menentukan layak dan tidaknya wilayah tersebut,” pungkasnya. (Shanty Sang)

Enam SPPG Masih Dihentikan Sementara, Ketua Satgas MBG : Kita Akan Lakukan Monitoring

Enam SPPG Masih Dihentikan Sementara, Ketua Satgas MBG : Kita Akan Lakukan Monitoring

MIMIKA, BM

Sebanyak 6 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari 20 SPPG yang ada di Kabupaten Mimika masih berstatus suspend atau penghentian sementara.

Menyikapi hal ini, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Mimika, Emanuel Kemong akan melakukan monitoring intensif sebelum fasilitas tersebut resmi beroperasi.

“Kita sepakati akan lakukan monitoring SPPG, termasuk SPPG yang di suspend juga kita akan pantau,”kata Ketua Satgas MBG yang juga Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong.

Emanuel menjelaskan, dalam monitoring ada beberapa yang akan diperiksa yakni, pemeriksaan sanitasi dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) guna memastikan standar kesehatan terpenuhi, kemudian audit kesiapan dapur MBG agar distribusi makanan bergizi berjalan lancar.

“Jadi dalam monitoring ini, kita akan melibatkan OPD terkait, misalnya SPPG bermasalah dengan kesehatan lingkungannya maka akan kita koordinasikan dengan Dinkes,”ujarnya.

Ia juga menegaskan usai monitoring, Satgas pun akan melakukan evaluasi, sehingga monitoring bukan hanya sebatas proses namun juga menjadi solusi untuk memastikan program MBG berjalan sesuai prosedur.

“Setelah monitoring kita lakukan evaluasinya, apa yang perlu diperbaiki kita lakukan, agar MBG ini berjalan dengan prosedur,”ungkapnya.

Sementara itu, Pendamping Kepala Regional Papua Tengah, Suherman Bondar mengatakan, dari total 20 SPPG di Kabupaten Mimika, sebanyak 6 unit SPPG masih berstatus suspend. Enam dapur suspend terbagi dua kategori, 3 dapur masih dalam proses penyusunan IPAL dan pengajuan pembukaan kembali oleh pusat.

Dan 3 dapur lainnya terkendala administrasi, menunggu pemenuhan dokumen agar pusat mengeluarkan surat penarikan suspend.

“Untuk SPPG yang di suspend ini kami menunggu arahan pusat, memang batas waktunya sudah habis, namun kami menargetkan seluruh dapur dapat kembali beroperasi sehingga sekolah penerima bisa aktif kembali, dan siswa memperoleh makanan bergizi,” pungkasnya. (Shanty Sang)

Top