Founder dan Panitia : Terimakasih Warga Timika, TIFA 2023 Sukses

Tarian budaya nusantara Indonesia warnai pagelaran TIFA 2023 dari sanggar-sanggar

MIMIKA, BM

Timika Inside Festival of Art (TIFA) 2023 telah terselenggara selama tiga hari sejak tanggal 25 hingga 27 Mei 2023 di halaman Graha Eme Neme Yauware.

Founder dan para panitia TIFA 2023 pun turut mengucapkan terimakasih atas dukungan, antusias dan kerja sama dari berbagai pihak.

Even ini tidak hanya melibatkan tuan rumah Kabupaten Mimika, Papua Tengah saja tetapi juga kota Jayapura, Wamena, Pekanbaru bahkan hingga luar negeri.

Dalam kesempatan tersebut, Jumat (26/5/2023) di Graha Eme Neme Yauware, Founder TIFA Alfo Kan Smith beserta seluruh panitia mengungkapkan rasa terimakasihnya sehingga even tersebut dapat terselenggara dengan sukses.

“Proses menuju 2024 akan lebih megah lagi. Karena selama proses pertunjukan berlangsung tong (kami-red) sudah berpikir dan belajar apa lagi tahun depan untuk terobosan baru,” ucapnya

Ia menyebut kesuksesan TIFA 2023 bukan hanya berkat kerjasama dari keterlibatan seluruh pihak baik sponsor, ketua panitia, keluarga, rekan-rekan, para pengisi acara, bazaar dan stand saja tetapi juga karena kepanitiaan yang terdiri dari para generasi muda yang peduli akan kelestarian budaya di Papua.

“Ada yang dari Jayapura jauh-jauh datang perform membantu kami, tidur sembarangan, makan minum seadanya, semua seadanya hanya untuk menyukseskan TIFA 2023. Dari Pekanbaru juga ada datang lima orang. Ini sudah anak-anak yang menyukseskan TIFA 2023. Terimakasih,” katanya.

Tema yang diangkat kali ini adalah Balutan Nusantara dari Timur Indonesia Untuk Perdamaian Abadi.

“Perdamaian bukan dari peperangan atau kejahatan tetapi melalui mentalitas, fisik dan kebersamaan dalam harmonisasi budaya,” tandasnya.

Foto Bersama Kepanitiaan TIFA 2023

Tanggapan Masyarakat Atas Terselenggaranya TIFA 2023

Selama kegiatan berlangsung BeritaMimika berkesempatan menemui para peserta yang hadir untuk memberikan tanggapannya.

Analis Kebijakan Ahli Madya, Wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua, Kemenparekraf RI, Diana Indriati mengatakan TIFA belum diusulkan sebagai even nasional oleh pemerintah daerah kabupaten Mimika ke provinsi Papua Tengah.

“TIFA belum diusulkan oleh kabupaten ke provinsi Papua Tengah tetapi memang ini sudah tahun kedua kita mensupport kegiatan ini. Tapi belum bisa dibilang ini even nasional karena memang belum masuk ke dalam Karisma Even Nusantara,” katanya.

Kemenparekraf memberi dukungan untuk even-even seperti TIFA karena sebenarnya komunitas di Papua banyak hanya bagaimana dapat berkolaborasi kemudian membuat sebuah even dengan rekomendasi dari Dinas Pariwisata, karena rekomendasi yang utama sebenarnya adalah dari Dinas Pariwisata Kabupaten Mimika. Harus ada komitmen dari pemerintah daerah untuk mendukung even-even.

“Mangkanya ini kita beri kesempatan, mungkin nanti ada evaluasi dari penyelenggaraan even ini mangkanya kita memonitor. Kita mensupport, memberikan rekomendasi apa yang harus diperbaiki sebagai evaluasi kedepan, kan even ini sudah ketiga kali,” imbuhnya.

Dikatakan, Kemenparekraf memberikan dukungan tidak dalam bentuk cash money (uang tunai-ted) melainkan bagaimana untuk dapat meningkatkan kualitas even itu sendiri.

Sementara itu, para stand yang ikut terlibat tidak lupa mengucapkan terimakasih. Tiga diantaranya mendukung kegiatan ini dan berharap untuk diselenggarakan kembali tahun depan.

“Even ini bagus sekali kalau bisa diadakan setiap tahun jadi memberikan kesempatan untuk kita sebagai media untuk menyalurkan bakat dan memperkenalkan seni kerajinan rotan dari Wamena,” kata Kornelia di Stand Honai Made.

Adapun Mama Sifora Novita Serontou dari UMKM Walri Masata Papua, Jayapura memberikan masukan agar informasi mengenai TIFA sudah disebarkan sejak satu bulan sebelum pelaksanaan agar menggema bahkan hingga ke UMKM yang ada di pelosok.

“Ketika kita tanya tong masyarakat diluar sana, tidak semua diluar tahu ada kegiatan even ini. Kedepan kalau bisa informasi tidak hanya lewat media sosial saja tetapi lewat baliho atau brosur supaya masyarakat yang dipelosok bisa ikut ambil bagian sehingga UMKM terdampak,” ujarnya.

Tak ketinggalan dari stand Fangnanan Evav, Kei, Maluku Tenggara. Di hari pertama Nona Rettob menyajikan makanan khas suku Kei yakni sayur sisir, pisang embal, embal bunga dan bubuhuk, serta olahan ayam.

“Dari even ini kita bisa mengembangkan usaha dan kerajinan dari Kei supaya orang Papua dan Timika juga tahu. Sekarang kan kerangnya bermacan-macam dan masih ada lagi kerajinan yang lebih bagus lagi yang belum dipamerkan seperti nyiru dan ayak. Ada juga embal variasi rasa seperti embal kacang, gula, keju dan coklat. Semoga tahun depan kita diundang lagi,” harapnya.

Sementara itu, dari beberapa penonton yang hadir tidak sedikit yang mengakui, salut dan mengapresiasi bahwa ada even seperti TIFA di Mimika.

“Ini bagus untuk mengangkat budaya Papua dan nusantara. Luar biasa apalagi ini anak-anak muda yang buat. Salut,” ucap Lara.

“Ini harus diadakan lagi supaya menambah pengetahuan dan kita rindu ada festival budaya di Mimika,” seru Kevin.

Papua kaya akan alam dan budaya. Kalau bukan generasi muda yang melestarikan lalu siapa lagi. (Elfrida Sijabat)

Top