Kesehatan

Dukung Pemerintah, 90 Persen Jemaat GBI Mimika Sudah Divaksin


Vaksinasi yang dilakukan pada Senin (30/8) di Kantor Badan Pekerja Wilayah GBI Mimika

MIMIKA, BM

Gereja Bethel Indonesia (GBI) Mimika memiliki 3000-an jemaat dan dari jumlah tersebut, sebanyak 90 persen telah melakukan vaksin.

Vaksinasi dilakukan jemaat GBI Mimika sebagai perwujudan dukungan terhadap program pemerintah dalam mempercepat vaksinasi nasional.

Pendeta Meirets Toisuta, Ketua Badan Pekerja Wilayah GBI Mimika kepada BeritaMimika mengatakan pada Senin (30/8), pihaknya bekerja sama dengan TNI Polri dan Puskesmas Pasar Sentral melakukan vaksinasi di Kantor Badan Pekerja Wilayah GBI, Jalan Cenderawasih.

"Senin kemarin kami lakukan vaksinasi dosis pertama sebanyak 187 dan dosis kedua sebanyak 86. Sekitar 400-500 orang yang datang tapi hanya dibatasi sampai jam 3 sore saja sehingga banyak yang belum," ungkapnya.

Melihat antusias warga GBI dan masyarakat umum untuk mendapatkan vaksin, kerjasama ini kemudian akan dilanjutkan pada Senin (5/9).

"Rencananya tanggal 5, 6 dan 7 selama tiga hari kami akan kembali lakukan vaksin kepada masyarakat umum di Jalan Cenderawasih. Kami saat ini lagi pendataan dan akan gerakan umat dan masyarakat agar datang divaksin," ujarnya.

Selama tiga hari vaksin mulai dilakukan pukul 09.00 Wit hingga pukul 15.00 Wit dengan menargetkan 600-800 orang yang divaksin.

"Kami berharap agar masyarakat Mimika yang belum dan ingin divaksin agar tanggal 5-7 bisa ikut divaksin. Ini kita lakukan untuk mendukung pemerintah dalam upaya percepatan vaksinasi dan mendukung Mimika dalam menghadapi PON dan Pesparawi nanti," ungkap Pendeta Meirets. (Ronald)

Cara Bidang Kesehatan 'Sehatkan' PON XX di Mimika

Ketua Bidang Kesehatan PB PON Papua Sub Mimika, Reynold Ubra bersama timnya melakukan exercise lapangan

MIMIKA, BM

Tim Kesehatan PB PON XX Papua Sub Mimika merupakan satu dari 15 bidang penyelenggaraan PON di Mimika yang sudah siap untuk melakukan apa yang menjadi tugas dan tanggungjawab mereka selama perhelatan berlangsung.

Agar kontingen PON baik itu atlet, pelatih, official maupun tamu undangan lainnya tetap sehat, tidak terkena malaria, terpapar maupun menularkan covid-19 bahkan mengalami cedera parah di lapangan, maka Tim Kesehatan PB PON Mimika telah melakukan sejumlah kesiapan teknis.

Untuk memaksimalkan semua potensi yang ada agar selama PON di Mimika berlangsung dengan baik terutama dalam segi kesehatan maka bidang kesehatan membagi 5 tim guna memudahkan sistem kerja mereka.

Hal ini dijelaskan Koordinator Bidang Kesehatan yang juga kepada Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra kepada BeritaMimika usai melakukan exercise lapangan bersama tim worknya, Kamis (2/9) sore.

Tim pertama merupakan tim yang akan melakukan surveilans, pengendalian penyakit, malaria dan penanganan covid-19.

Tim kedua adalah tim food security atau keamanan pangan yang didalamnya tergabung Dinas Kesehatan, KKP dan Loka POM.

Tim ketiga merupakan tim pelayanan kesehatan dan gawat darurat yang terdiri atas 100 dokter dan para medis.

"Mereka ini juga akan ditempatkan di poliklinik yang akan kita siapkan di hotel yang ditinggali kontingen agar tetap memberikan pelayanan kesehatan terbaik selama kontingen ada di Timika," ujarnya.

Tim keempat adalah tim dopping control yang terdiri atas 100 tenaga farmasi dan laboratorium medis. Sementara kelima adalah tim Inforkes (informasi kesehatan).

"Hari ini (kemarin-red) kami lakukan exercise lapangan untuk memperkenalkan titik-titik dimana bidang kesehatan harus berperan sebagaimana yang sudah diarahkan atau disepakati pada exercise lapangan dengan TD, Panwasra, PB Pon dan panitia cluster Mimika beberapa waktu lalu," ungkapnya.

Disebutkan Reynold Ubra, total tenaga kesehatan yang nanti terlibat dalam PON XX di Mimika berjumlah 363 orang dan akan tersebar di seluruh venue dan hotel.

Hanya saja dalam kondisi penanganan covid-19 maka akan ada penambahan Liaison Officer (LO) dan volunteer. Volunter yang awalnya 100 akan ditambahkan menjadi 150

Komposisi LO yang yang direkrut adalah tenaga kesehatan yang memang punya sertifikat sebagai tenaga kesehatan dan sertifikat kompotensi seperti untuk penanganan kegawatdaruratan.

"Selain itu kami juga butuh relawan di bidang IT dan komunikasi karena sekretariat kami sudah dibentuk dan akan dikelola oleh mereka yang memahami IT dan komunikasi," ujarnya.

Saat ini, Mimika juga telah memiliki 20 ambulance untuk membackup keberlangsungan PON. 2 merupakan bantuan dari kemenkes sementara 3 sedang di pesan melalui APBD Dinas Kesehatan dan diharapkan tiba dalam waktu dekat.

Masalah Ini Harus Segera Diperhatikan PB PON XX Papua

Hanya saja dibalik semua kesiapan yang dilakukan tim kesehatan, ada satu kendala yang harus segera direspon oleh PB PON Papua XX.

Kendala tersebut adalah hingga saat ini di semua venue tidak ada obat-obatan dan alat kesehatan. Keadaan ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena PON semakin dekat.

"Hampir semua venue, obat-obatan dan alat kesehatan tidak tersedia. Kami melakukan exercise lapangan ini supaya kami dapat mengambil inisiatif untuk mengadakan," ujarnya.

Padahal menurut Reynold Ubra, dalam master plan untuk bidang kesehatan, obat-obatan dan alat kesehatan pengadaanya dilakukan oleh PB PON Papua.

"Nah ini yang sangat menghawatirkan kami termasuk sarana pendukung lainnya. Oleh karena itu kami turun bukan hanya untuk memetakan lokasi dimana protokol kesehatan harus dilakukan tapi mengasesmen jumlah ruangan, tabung oksigen dan berapa emergensi kids yang harus kita pasang. Sejauh ini kita masih menunggu kedatangan mereka ke Mimika," ungkapnya. (Ronald)

Luar Biasa, Stunting di Distrik Wania Turun Hingga 50 Persen


Asisten I Yulianus menyerahkan bantuan makanan dan vitamin kepada ibu dan anak

MIMIKA, BM

Guna mencegah stunting Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Mimika memberikan bantuan berupa makanan, multivitamin dan obat-obatan untuk ibu hamil dan anak-anak.

Tidak hanya itu, bantuan berupa buku-buku membaca, alat peraga bermain berupa puzzle dan seluncuran juga diberikan kepada Paud di Kampung Nawaripi.

Hal tersebut dikemas dalam kegiatan penguatan jejaring antar lembaga penyedia layanan perlindungan perempuan yang berlangsung di Kampung Nawaripi, Selasa (31/8).

Asisten I Bidang Pemerintahan Setda Mimika, Yulianus Sasarari mengatakan, stunting adalah gagal tumbuh pada anak usia dibawah 5 tahun (Balita) akibat kekurangan gizi kronis intensi berulang dan stimulasi psikososial yang tidak memadai terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan yaitu dari janin hingga berusia 2 tahun.

Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar tahun 2018 menunjukkan penurunan prevalensi stunting balita di tingkat nasional sebesar ar-rum, 4 persen selama periode 5 tahun yaitu dari 37,2 persen tahun 2013 menjadi 30,8 persen tahun 2018.

"Strategi nasional percepatan pencegahan anak kerdil atau stunting tujuannya agar mempercepat pencegahan stunting dalam kerangka kebijakan dan institusi yang ada," ujarnya.

Menurutnya ha ini telah tertuang dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional tahun 2000 sampai 2024 yang menetapkan target penurunan prevalensi stunting sebesar 14 persen pada tahun 2024," tutur Yulianus.

Harapan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika melalui DP3AP2KB tahun ini adalah melakukan kegiatan penguatan jenjang antar lembaga penyedia layanan perlindungan perempuan khususnya pembagian vitamin dan makanan tambahan kepada anak balita yang mengalami stunting dan ibu hamil

"Semoga dengan bantuan ini dapat membantu penurunan angka stunting di Kabupaten Mimika secara khusus di Distrik Wania," ungkapnya.

Sementara, Kepala DP3AP2KB Maria Rettob mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk menuntaskan stunting. Hal ini ni juga berkaitan dengan instruksi Presiden RI untuk menurunkan stunting.

"Sehingga dengan Dinas Kesehatan kami bersama-sama memberantas kasus stunting dengan memberikan makanan tambahan dan memberikan vitamin untuk tumbuh kembang anak. Kegiatan ini bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK)," tutur Maria.

Maria mengatakan, bahwa stunting ini untuk anak yang hanya dari kandungan, sehingga diberikan vitamin kepada ibu hamil untuk anak-anak didalam kandungan sehat.

Katanya, kegiatan ini sudah setiap tahun dilaksanakan. Bahkan di kampung-kampung daerah pesisir dan pedalaman juga dilakukan hal yang serupa.

"Kami mulai fokus dulu di kampung terdekat dulu yaitu wilayah Distrik Wania. Karena kebetulan Distrik Wania adalah salah satu locus stunting yang ada di Kampung Nawaripi dan Kamoro Jaya," ujarnya.

Untuk Mimika, stunting tertinggi ada di Kampung Nawaripi dan Kamoro Jaya, sehingga fokus di wilayah Distrik Wania khususnya Kampung Nawaripi. Setelah itu, program ini akan menyasar di kampung-kampung lain guna pencegahan stunting.

Pada tahun 2020 jumlah stunting di Distrik Wania sebanyak 86 dan di tahun 2021 mengalami penurunan menjadi 40 kasus dan sekarang mengalami penurunan menjadi hanya 36 kasus.

"Yah mudah-mudahan kita menekan terus karena ini tidak bisa langsung, tidak semudah membalik telapak tangan langsung selesai, ini butuh waktu dan proses. Bahkan, ini bukan hanya pemerintah daerah tapi kita harapkan semua pihak masyarakat kita sama-sama menurunkan stunting ini," kata Maria.

Selanjutnya, Kepala Kampung Nawaripi, Norman Ditubun mengatakan, sebenarnya yang harus hadir sesuai data stunting Kampung Nawarpi untuk tahun 2021 ini 40 orang yang kena dampak stunting namun karena pertimbangan pandemi sehingga hanya 2 orang yang diutus mewakili.

"Nawaripi ini termasuk penanganan stunting yang bagus. Tahun lalu itu 86 orang stunting dan tahun 2021 ini sudah turun jadi 40, berarti ini termasuk kerja keras pustu, Puskesmas Wania dan aparat kampung yang bekerja keras sampai kita bisa memangkas dari 86 turun menjadi 40 orang," tutur Norman.

Ia menganggap itu suatu keberhasilan karena tinggal menyisahkan setengahnya. Lebih lanjut, stunting ini juga merupakan tanggungjawab pemerintah kampung namun pihaknya tidak bisa berjalan sendiri karena masalah stunting ini berhubungan dengan SDM.

"Kalau SDM bagus yah baru kita bisa tahu kalau kawin umur 16 tahun maka sudah bertentangan dengan ilmu Kesehatan. Kenapa begitu karena SDMnya. Jujur bahwa SDM kami disini masih rendah," ujarnya.

Nor juga mengucapkan terima kasih kepada Kepala Puskesmas Wania yang mana telah membantu pemerintahan kampung untuk penanganan stunting dengan cepat.

"Terima kasih juga kepada bupati, kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan karena telah memilih Nawaripi. Saya berterima kasih banyak karena sudah ada perhatian dari pemerintah daerah," ungkapnya. (Shanty)

Top