
Obor Patimura saat dinyalakan untuk di arak dari Jalan Busiri menuju Graha Eme Enem Yauware
MIMIKA, BM
Ikatan Keluarga Maluku (IKEMAL) Kabupaten Mimika menyelenggarakan Perayaan HUT Pahlawan Nasional Kapitan Patimura ke-206 tahun di graha Eme Neme Yauware, Sabtu (3/6/2023).
Perayaan ini merupakan sebuah momen rekonsiliasi untuk menyatukan seluruh tumpah darah anak Maluku mulai dari Maluku Utara sampai Tenggara Barat Jauh untuk bersatu, terus bersaudara dan bergandengan tangan dalam membangun Mimika.
Perayaan yang dikemas dengan penuh cita rasa nuansa budaya, Pela Gandong dan Ale Rasa Beta Rasa ini juga sebagai bagian dari silaturahmi momen Idul Fitri dan Paskah 2023.
Katong Satu, Katong Kuat merupakan tema yang diusung perayaan ini sebagai wujud penyatuan kembali anak-anak Maluku yang selama ini tercerai berai dan saling melupakan antara satu dengan lainnya.
Tema ini mengingatkan kembali orang Maluku di Papua, terutama di Mimika bahwa 'Katong Tercerai-Berai Saja Katong Kuat, Apalagi Katong Satu dan Menyatu?!
Perayaan yang dikemas dengan berbagai atraksi budaya dan tradisi yang menjadi kebiasaan orang Maluku ini membuat banyak warga Maluku yang hadir tidak kuasa menahan haru tangis.
Mereka yang hadir merasa seakan dibawa untuk mengenang dan mengingat kembali kehidupan orangtua dolo-dolo yang penuh dengan damai, baku sayang dan saling baku jaga.
Mereka merasakan kerinduan yang dalam pada negeri para leluhur dan semua kebiasaan hidup di negeri raja-raja sana yang jauh di mata tapi selalu dekat di hati.
Namun terpenting dari momen ini juga adalah bahwa orang Maluku harus bangga sebagai orang Maluku karena perjuangan dan pengabdian Thomas Matulesi dan teman-teman seperjuangannya mampu menunjukan kepada dunia dan Indonesia bahwa Maluku adalah Kabaresi, Tombak Merah, Parang Salawaku, Salempang Berang dan Satu Darah.

Plt Bupati Mimika, Johannes Rettob saat disambut oleh Ketua IKEMAL Mimika Piet Rafra dan panitia HUT Patimura
"Dia (Patimura) tidak mundur walau harus kehilangan nyawa. Tulang belulang orang Maluku sudah ada di tanah ini (Papua) sejak dahulu kala. Terus jaga persaudaraan, saling baku sayang, tinggalkan dendam, kebencian diantara katong basudara," tegas Wakil Ketua Bidang Organisasi IKEMAL Pusat, Dedy Patiwael.
Sama seperti spirit yang selalu dibawa turun temurun, orang maluku harus hidup saling menghargai dan menghormati sesuai semboyan Ale Rasa Beta Rasa, Potong Di Kuku Rasa Di Daging.
"Ini ajang dan momentum untuk kita rekonsiliasi semua anak Maluku di Mimika.
Jalin silaturahmi dengan semua suku di Mimika terkhususnya penduduk asli Timika karena di mana kaki dipijak, disitu langit di junjung," harapnya.
Orang Maluku harus mendukung program dan kebijakan pemerintah dalam berbagai aspek, bersama TNI Polri menciptakan Mimika yang aman dan damai.
“Ini menjadi tugas kita bersama karena di seluruh tanah Papua, kalau nama orang Maluku, orang Papua juga tahu kita laki-laki Kabaresi. Sebab itu patutlah kita beri rasa aman bagi semua yang datang di tanah Papua," ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa beberapa waktu ke depan secara nasional termasuk Papua dan Mimika akan berada dalam tahun politik.
‘Paguyuban atau kerukunan itu bukan organisasi politik tapi lewat paguyuban, ada banyak orang Maluku jadi orang. Banyak anak Maluku diorbitkan, sebab itu tetap jaga kebersamaan sebagai anak negeri Maluku! Sudah saatnya kita saling mendukung, bukan hanya kata-kata, harus bersatu untuk mencapai tujuan bersama,” ungkapnya.
Ketua Ikemal Piet Rafra mengatakan dalam sambutannya, momen syukuran HUT Pahlawan Nasional Patimura merupakan kebanggaan bagi setiap orang Maluku.
Hari ini (kemarin-red) masyarakat Maluku di Mimika mengenang kembali peristiwa sejarah 15 Mei yang tiap tahun diperingati sebagai hari pahlawan.
Di momen ini warga Maluku harus merefleksi bersama bahwa peringatan atas momen hari pahlawan ini bukan semata seremonial saja namun yang terpenting adalah mengambil keteladanan sosok pahlawan, Thomas Matulesi.
Menurutnya, yang sangat diperlukan saat ini adalah jangan sedikitpun menghilangkan arti perjuangan Patimura.
“Perayaan tahun ini dikenal dan dikemas dalam ungkapan syukur sekaligus halal bil halal keluarga besar Maluku di Timika,” ujarnya.

Tarian tradisonal Maluku dipentaskan saat menyambut kedatangan Plt Bupati Mimika, Johanes Rettob
Ia megatakan perjuangan Thomas Matulesi bersama Melchior Kesaulya, Anthoni Rebhok, Philip Latumahina dan Ulupaha dan Martha Christina Tiahahu adalah para pahlawan yang telah gigih dan gugur dalam perjuangan untuk mengusir penjajah tanpa rasa takut dan gentar.
“Perjuangan Patimura dan kawan-kawan ini membuat kita semua kini berada dalam fase kemerdekaan yang membutuhkan pemikiran, kemompakan untuk membangun negeri yang kita pijaki saat ini," ujarnya.
Peringatan HUt Patimura memotivasi semua warga Maluku untuk saling bahu membahu, tolong menolong, bersatu padu bersama dengan masyarakat Mimika untuk memajukan Mimika semakin lebih baik.
"Mimika membutuhkan Patimura-Patimura muda yang gagah berani, tanpa kemalasan dan berjiwa patriot untuk berperang melawan kezilaman," katanya.
Rafra menegaskan, generasi muda dituntut membalas perjuangan Patimura yang berjuang hanya dengan parang salawaku, tombak dan bambu runcing dalan mengusir penjajah sampai titik darah penghabisan.
"Kami boleh puna dan mati tapi akan muncul Patimura-Patimura muda yang akan meneruskan perjuangan kami! Jangan malas, jangan terpecah belah, jangan membuat kehormatan diri, keluarga dan martabat kita hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu saja," tegasnya.
"Baku keku, jangan baku kuku supaya katong satu di tanah ini, karena kalau katong satu, katong kuat! Satukan tekad, kokohkan langkah, maju bersama untuk Maluku dan Mimika tercinta," ujarnya berpesan.
Piet Rafra juga mengingatkan bahwa setelah momen HUT Patimura ini akan dilakukan Musyawatah Besar IKEMAL Mimika. Ia berharap dukungan semua orang Maluku agar kepengurusan baru nanti semakin lebih baik.

Plt Bupati Mimika, John Rettob saat menyampaikan sambutan
Sementara itu, Plt Bupati Mimika, Johannes Rettob mengatakan, peringatan HUT Patimura ini mungkin merupakan momen pertama baginya untuk berdiri dan berbicara di depan keluarga IKEMAL Mimika.
Walau demikian, ia selalu mengikuti perkembangan IKEMAL dan ikut mengapresiasi keberadaan organisasi ini sedari awal didirikan.
“Dalam perjalanan ke depan, saya berharap IKEMAL semakin dekat dengan kita semua, termasuk dekat dengan saya,” ujarnya disambut tepukan meriah masyarakat Maluku.
JR mengatakan, IKEMAL merupakan organisasi masyarakat yang luar biasa karena memiliki ustad, pendeta dan pastor.
“Ini satu kesempatan luar biasa yang harus kita pakai sebagai peluang besar untuk mempersatukan orang Maluku dari Maluku Utara sampai Maluku Tenggara Barat Jauh yang hidup di Mimika dengan kebersamaan dan perbedaan yang ada," ungkapnya.
Mimika merupakan satu daerah yang sangat multi etnis, agama dan culture sehingga sebagai orang Maluku harus dapat menyatukan diri bersama dengan lainnya untuk maju, bekerja dan menjadi mitra pemerintah dalam membangun negeri ini dengan baik.
"Kita harus sadari sepenuhnya, bahwa perjalanan pertama orang Mimika bisa sampai seperti saat ini, dimulai bersama orang Maluku," ujarnya.
Dalam sejarah agama, Belanda membagi bagian selatan Papua untuk didatangi oleh orang Maluku Tenggara, Agama Katolik. Wilayah Utara, didatangi Maluku Utara, agama Protestan.
Sementara wilayah kepala burung hingga ke Fak-Fak, merupakan pemerintahan Sultan Tidore. Perjalanan agama untuk wilayah ini diberikan kepada Maluku Utara.
"Sekarang bagaimana menggunakan momen ini secara baik karena kita semua hadir disini untuk membangun," ujarnya.

Foto bersama para tokoh Maluku, panitia HUT Patimura bersama Plt Bupati Mimika, John Rettob
Orang Maluku pertama di Papua, membawa terang. Mereka datang membawa pendidikan dan untuk merubah perilaku, wawasan berpikir, merubah banyak hal melalui agama dan pendidikan.
“Kita sekarang masanya untuk melanjutkan perjuangan orang tua-tua kita. Bagaimana kita berbuat dengan profesi masing-masing, membuat masyarakat asli kabupaten ini bisa seperti dulu. Saya berharap kita semua orang Maluku di Mimika satukan hati," jelasnya.
IKEMAL harus dipakai sebagai sarana silahturahmi dan persatuan, satu hati, bergandengan tangan, jangan saling baku serang dan baku sikut.
"Kita harus bangga jadi orang Maluku! Kita yang datang hidup disini harus bersatu, berangkulan dan bergandengan tangan! Jangan ada orang Maluku yang maju, kelompok maluku lagi yang hantam kiri kanan supaya dia jatuh, padahal seharusnya dia didukung. Lihat keluarga besar yang lain mereka bersatu dan kompak," jelasnya.
"Tapi Puji Tuhan, kita semua bisa hadir disini! Tidak usah khawatir. Saya akan bantu penuh untuk Musyawarah IKEMAL. Kita harus saling bergandengan tangan. Mari kita satukan hati untuk bergandengan tangan membangun negeri ini," tegasnya.
Untuk musyawarah nanti, Plt JR mengingatkan agar panitia tegas berpedoman pada AD/ART supaya tidak menciptakan konflik. Tidak boleh lari dari aturan yang ada. Pemilihan harus dilakukan secara demokrasi dan badan pengurus harus konsisten.
“Kita yang tua-tua mari kita jadi penengah, jadi penasehat, penunjuk arah, kita gerakan anak-anak muda Maluku untuk maju dan memimpin kita. Kalau mereka salah, kita marah, kita arahkan dan rangkul karena mereka anak-anak kita dan kita orangtua mereka," ujarnya.
Salah satu momen paling menharuhkan dari perayaan ini adalah ketika Plt Bupati John Rettob, Ketua IKEMAL Pit Rafra, Waket IKEMAL Pusat, Dedy Patiwael, Ketua Panitia Hj Rampenai Rachman beserta ketu-ketua kerukunan Maluku di Mimika berada di atas panggung.
Dengan penuh rasa persaudaraan mereka saling bergandengan tangan sembari menyanyikan lagu dari Ujung Halmahera Sampe Tanggara Jauh Katong Samua Basudara dan lagu Maluku Tanah Pusaka.
Perayaan HUT Patimura tahun ini di Mimika diawali dengan menyalakan obor Patimura yang diarak sebelumnya dari Jalan Busir dengan berjalan kaki menuju pelataran Eme Neme Yauware. Obor Patimura ini di arak oleh ribuan warga Maluku di Timika.
Pada momen ini, warga Maluku secara bersama juga mendoakan salah satu tokoh pejuang kemanusiaan asal Mimika, Almarhum Bapak Tom Beanal yang pada Sabtu kemarin dimakamkan di waktu bersamaan.
Bahkan acara yang sebelumnya digelar pukul 14.00 Wit harus ditunda hingga pukul 17. 00 Wit karena Plt Bupati Mimika, Johannes Rettob bersama forkompinda sedang mengikuti pemakaman Almarhum Tom Beanal.
"Saya mohon maaf, hati saya sedikit gelisah karena hari ini (kemarin-red) kita makamkam Almarhum Bapak Tom Beanal. Beliau adalah tokoh gereja, perdamaian, pejuang keadilan dan hak asasi serta kesejahteraan masyarakat. Kami upayakan semua harus dilakukan sebaik mungkin. Saya tidak bisa tinggalkan momen itu sehingga saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Terimakssih karena semua bersabar dan menunggu saya di acara ini," ungkap Plt JR waktu mengawali sambutannya. (Ronald Renwarin)