Budaya

YPMAK Lanjutkan Sosialisasi Perubahan Nama Kepada Tomas di Mile 32

Sosialisasi perubahan nama LPMAK menjadi YPMAK di Mile 32

MIMIKA, BM

Yayasan Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), kembali melanjutkan sosialisasi perubahan nama kepada tokoh masyarakat dan intelektual Amungme di wilayah mile 32, Selasa (27/4).

YPMAK telah terbentuk pada 18 Desember 2019 berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan HAM Rai Nomor AHU-001883. AH. 01.04 tahun 2019 dengan daftar yayasan Nomor AHU-0025286. AH. 01.12 tahun 2019 dan akte pendirian Nomor 12 12 tanggal 16 Desember 2019.

Maksud dari pendirian yayasan adalah untuk mendukung pelestarian, pengembanhan dan pemberdayaan berkelanjutan masyarakat Asli Papua yang berasal dari suku Amungme dan Kamoro serta masyarakat asli Papua lainnya dalam bidang sosial, kemanusian dan keagamaan.

Kepala Divisi Humas YPMAK, Feri Magai Uamang mengatakan, perubahan ini sudah berjalan satu tahun hanya saja selama ini belum ada sosialisasi sehingga baru kali ini dilakukan sosialisasi ke masyarakat.

Sebelumnya, tim YPMAK beberapa hari lalu sudah melakukan sosialisasi serupa di Kokonao dan Agimuga.

"YPMAK tidak bisa jalan sendiri karena segala hal kami akan selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda) Mimika. Artinya, sasaran kami ini masyarakat yang ada di Mimika baik kota, pesisir dan pedalaman," tutur Feri.

Lanjutnya, YPMAK saat ini masih dalam masa transisi sehingga dalam sosialisasi ini tidak menjelaskan tentang program-program di bidang ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Walaupun sudah berubah nama, jelas Feri, tidak terganggu dengan program utama yakni pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Jadi, anak-anak yang dibiayai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi tetap dibiayai YPMAK.

"Tidak ada alasan untuk terganggu, artinya jangan ada yang punya alasan karena lembaga menjadi yayasan program-program terganggu, atau biaya terganggu. Itu tidak ada," tutur Feri.

Selain itu, masyarakat juga masih bisa berobat gratis di RSMM dan di mitra-mitra yayasan yang lain.

Dalam sosialisasi ini banyak pertanyaan seputar ekonomi karena waktu masih LPMAK, ada kepala biro 7 suku sehingga masyarakat yang mau menjalankan usaha kelompok-kelompok binaan langsung dibawahi biro ekonomi.

"Karena hanya satu kepala divisi makanya masyarakat banyak yang bertanya hal ini. Bahkan, mereka juga sempat ragu dengan adanya satu kepala devisi karena menurut mereka sulit untuk mengakomodir seluruh masyarakat yang menjadi kelompok binaan selama ini," jelasnya kepada BM.

Walau demikian Feri mengaku pihaknya audah menjamin semua hal tersebut kepada masyarakat. Walau saat ini hanya satu kepala divisi saja namu programnya justru direncanakan untuk lebih banyak fokuskan di kampung, pesisir dan pedalaman.

"Artinya, untuk ke depan program ekonomi lebih fokus nanti di pedalaman dan pesisir. Di sana ada masyarakat atau tidak tetap fokusnya di sana,"katanya.

Ia juga memastikan bahwa anggaran ekonomi untuk kelompok-kelompok binaan masih ada dan akan terus berlangsung, hanya saja lebih dipusatkan ke pedalaman dan pesisir terutama yang tidak dapat bagian selama ini.

"Justru mereka yang pesisir dan pedalaman akan lebih banyak mendapat manfaat nanti," tuturnya.

Lanjutnya, "Sekarang peran lembaga yang langsung mengambil alih itu sudah tidak ada, kita hanya menjadi pendonor saja. Kita akan persiapkan semua yang berkaitan dengan dokumen dan untuk menjalankan semua yakni pihak ketiga. YPMAK tidak urus lagi sampai di pelaksanaan,"jelasnya. (Shanty)

TP-PKK Mimika Ikuti Rakerda IV Provinsi Papua, Bawa Pulang Piala Juara II dan Harapan I

 

Dua pakaian adat Mimika yakni Amungme dan Kamoro yang ditampilkan Ketua dan Bendahara TP-PKK Mimika 

MIMIKA, BM

Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Mimika mengikuti Rapat Kerja Daerah (Rakerda) IV yang diselenggarakan oleh TP-PKK Provinsi Papua.

Rakerda tersebut dilaksanakan dalam rangka kesinambungan program kerja Gerakan PKK dalam menjabarkan 10 program pokok PKK dan menyatukan pemahaman mengenai perencanaan program dan kegiatan yang tersusun dalam rencana induk dan strategi.

Hal ini merupakan amanat Peraturan Menteri Dalam Negeri No 36 Tahun 2020 Tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 99 Tahun 2017 Tentang Gerakan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga.

Rakerda IV dipimpin oleh Ketua TP-PKK Provinsi Papua Ny. Yulce Enembe mengusung tema “Sinergitas dan Kemitraan Menjadi Kunci Dalam Mewujudkan Keluarga Berdaya dan Sejahtera”.

Kegiatan digelar tiga hari sejak (19/4) hingga (21/4) di Hotel Horison Kotaraja Jayapura dan dikuti oleh 25 kabupaten kota yang se-Provinsi Papua.


Tim TP-PKK Mimika saat mengikuti Rakerda IV di Jayapura

Kepada BeritaMimika Minggu (25/4) Ketua TP-PKK Mimika Ny. Kalina Omaleng yang diwakili oleh Wakil Ketua I Ny. Suzy Rettob mengatakan bahwa ada hal utama yang menjadi perhatian dalam Rakerda IV.

Hal tersebut adalah melakukan pembinaan terhadap PKK di tingkat kabupaten dan posyandu-posyandu yang ada di distrik sehingga dapat berintegrasi secara baik dengan kampung-kampung.

“Usai Rakerda IV, kami TP-PKK Mimika juga akan melaksanakan Raker dan meneruskan program-program priortias yang telah ditetapkan dari Rakerda IV Provinsi Papua,” tuturnya.

Ny. Suzy menambahkan dalam momen tersebut TP-PKK juga memeriahkan Hari Kartini sehingga dilaksanakan sejumlah lomba untuk meriahkan hari emansipasi perempuan.

“Iya, karena usai Rakerda bertepatan dengan Hari Kartini jadi lanjut dengan beragam lomba seperti lomba busana kebaya nasional, busana adat, lomba puisi dan yospan. Puji Tuhan TP-PKK Mimika berhasil membawa piala untuk lomba busana daerah. Ini prestasi yang patut untuk diapresiasi dan banggakan,” ujarnya.

TP-PKK Mimika berhasil membawa pulang piala dalam Lomba Busana daerah sebagai Juara II dengan pakaian adat Kamoro sementara Juara Harapan I dengan mengangkat pakaian adat Amungme dan Jawa.

“Kami mengharapkan ibu-ibu PKK se-Mimika tetap sehat dan kuat dalam menjalankan kegiatan di masa pandemi ini dan tetap memperhatikan protokol kesehatan 3M. Semoga ibu-ibu dapat menjadi pahlawan terutama untuk keluarga dalam mengabdi untuk masyarakat Mimika tercinta,” tutupnya. (Elfrida)

Kurang Personel, LPPD Mimika Laksanakan Audisi untuk Padus Kategori Etnik

Koordinator Pelatih LPPD Mimika, Pice Miktada

MIMIKA, BM

Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) XIII akan di gelar di Mimika pada 30 Oktober hingga 6 November 2021 dengan mempertandingkan 12 kategori lomba.

Sejumlah persiapan pun telah dilaksanakan oleh tuan rumah dimana untuk 11 kategori para pelatih dan penyanyi tengah rutin melaksanakan latihan guna memaksimalkan persiapan.

Sementara untuk satu kategori yakni paduan suara etnik masih belum mencukupi kuota sehingga pada Sabtu (17/4) di Universitas Timika (UTI) dilaksanakan audisi untuk menggenapi kekurangan personel.

Untuk Mimika, paduan suara kategori etnik masih membutuhkan tujuh personel dengan kemampuan suara bass dan lima personel untuk suara tenor.

Ditemui disela kegiatan, Koordinator Pelatih LPPD Mimika, Pice Mitakda mengatakan audisi tersebut dilaksanakan berdasarkan keputusan bersama LPPD Kabupaten Mimika terkait jumlah yang kurang untuk paduan suara etnik.

Menurut Pice, audisi yang dilaksanakan di UTI ini untuk merekrut penyanyi mahasiswa dan mahasiswi untuk menjadi anggota padus etnik. Menurutnya anak muda memiliki jiwa enerjik, stamina mumpuni, suara yang merdu serta memiliki kelenturan yang bagus.

Pasalnya, dalan perjalananan ini ada beberapa penyanyi yang keluar sehingga harus dicarikan penggantinya. Paduan suara untuk kategori etnik harus terdiri dari 40 penyanyi ditambah lima musisi.

“Kita mencari penyanyi yang punya keterampilan membawakan lagu-lagu bernuansa etnik tapi bukan hanya suara bagus saja tapi juga bisa menari dengan rekomendasi gerak Amungme dan Kamoro,” imbuhnya.

Dikatakan mereka membutuhkan tujuh penyanyi bersuara bass dan lima penyanyi tenor. Sementara jumlah untuk sopran dan alto sudah cukup.

Namun untuk mengantisipasi kekurangan penyanyi jika nantinya ada lagi yang ke luar maka pada audisi sore tadi juga dilakukan bagi penyanyi perempuan.

“LPPD Mimika merekomendasikan kita untuk ikut semua kategori. 11 kategori sudah latihan selama ini dan berjalan baik, sisa padus etnik saja yang harus dilengkapi," ujarnya.

Ia juga mengatakan, masalah pandemi yang kini masih melanda Mimika kadang juga berpengaruh terhadap kehadiran peserta paduan suara.

"Pandemi ini menyebabkan orang takut bergerak dan keluar sehingga berpengaruh terhadap kehadiran. Padahal kita butuh disiplin baik itu kehadiran, waktu dan latihan yang rutin sehingga hasilnya nanti lebih baik," ungkapnya.

Pice menuturkan agar para pelatih di semua kategori dapat menangani hal tersebut. Penanganan teknis ada di pelatih baik dari segi konsep maupun metode.

“Pesparawi XII yang lalu, Mimika rata-rata goal dengan nilai 80 keatas. Tahun ini berbeda, sistem penilaian yang digunakan yakni penilaian musica mundi artinya jika peserta mencapai nilai yang ditentukan maka dinyatakan lolos bukan sistem juara I,II dan III lagi. Dengan sistem ini padus merasa dihargai. Kita berharap nantinya Mimika dapat menang di banyak kategori sehingga dapat keluar sebagai Juara Umum,” harapnya (Elfrida)

Top