Budaya

Jumat Agung : Salib Yesus Adalah Penebusan! Jika Salibmu Terasa Begitu Berat, Belajarlah Dari Nabi Ayub

Penghormatan kepada Salib Yesus 

MIMIKA, BM

Perayaan Jumat Agung di Gereja Katolik Tiga Raja dipimpin langsung Pastor Paroki Amandus Rahadat Pr.

Momen perayaan Jumat Agung diawali dengan tradisi penghormatan khusus kepada Yesus yang wafat di kayu salib menurut tradisi gereja Katolik.

Selain menghormati detik-detik dimana Yesus di salib, Pastor Amandus Rahadat meminta semua umatnya untuk mengheningkan cipta bagi semua para pahlawan bangsa yang telah berpulang.

Di saat momen ini dimulai, banyak terdengar tangis haru di dalam gereja karena sebagian umat tidak bisa menyembunyikan kesedihan mereka terhadap apa yang dialami Yesus di Golgota, ribuan tahun silam.

Pastor Amandus mengatakan bahwa kisah sengsara bersentuhan erat dengan salib, baik yang terlihat secara fisik maupun salib mental yang ada di batin setiap orang.

Ia menjelaskan tentang asal usul salib yang terbagi atas salib yang diciptakan sendiri oleh manusia dan salib dari luar diri manusia atau salib yang berasal dari Tuhan.

"Misalnya salib penyakit. Engkau terkena covid karena tidak jaga kesehatan, tidak patuhi protokol kesehatan. Atau kita terkena TBC karena sering merokok. Kalau kamu mengalami salib seperti ini maka solusinya, berhentilah membuat salib untuk dirimu sendiri," ungkapnya.

Salib yang berasal dari Tuhan pun memiliki tiga kemungkinan yakni salib sebagai teguran, ujian dan salib sebagai penebusan.

Ia mencontohkan salib sebagi teguran dalam kitab suci adalah salib Adam dan Hawa. Keduanya ditempatkan di Taman Getsemani namun melawan apa yang sudah ditegur dan dilarang Allah.

Seorang anak kecil tampak khuzu memberikan penghormatan kepada salib

"Tuhan itu ko pu Bapa to. Ko nakal, ya bapa tegurlah. Adam dan Hawa melawan maka bapa menegur mereka, kamu dua cepat keluar dari taman ini dan inilah yang menandakan lahirlah salib pertama di dunia. Inilah salib teguran," ujarnya.

Kemungkinan kedua adalah salib ujian. Salib ini biasanya diberikan Tuhan sebagai cobaan untuk melihat sejauh mana iman umat kepadaNYA.

"Walau kamu orang baik, rajin berdoa, suka memberi namun bukan berarti Tuhan tidak mencobaimu. Ia ingin menguji seberapa baik imanmu. Apakah ketika ada cobaan, kamu berpaling atau tidak," jelasnya.

Di bagian ini, Pastor Amandus kembali mengutip salib ujian dari perjalanan hidup Nabi Ayub. Dikatakan, Nabi Ayub adalah seseorang yang kaya, sukses dan taat beribadah.

Allah kemudian mengujinya dengan memberikan penyakit kusta untuknya. Ia sangat menderita dan jatuh miskin. Namun dalam penderitaanya itu, iman Ayub tidak goyang.

"Bahkan kalimat Nabi Ayub yang terkenal adalah Tuhan telah memberi, Tuhan telah mengambil, terpujilah namaNYA. Ayub lulus ujian," ujarnya.

Sementara salib penebusan merupakan salib Yesus. Ia tidak memiliki dosa seperti Adam dan Hawa yang kemudian ditegur oleh Bapa di surga. Yesus diberikan salib penebusan untuk menebus dosa umat manusia.

"Salib inilah yang kita rayakan hari ini. Salib inilah yang kita arak-arakan, beri penyembahan dan menghormati dia. Itulah salib Yesus," katanya.

Seorang kakek ketika melakukan penghormatan kepada salib

Di haru Jumat Agung ini, kepada umatnya Pastor Amandus Pr menitipkan dua pesan. Pertama, jika umatnya memiliki salib, maka mereka harus memeriksa salib apa yang ada dalam dirinya. Apakah salib teguran? ujian atau salib penebusan.

"Kamu yang tahu apa jawabannya. Jenis salib apa yang ada di pundakmu. Periksa diri," ujarnya.

Pesan kedua, setelah umat mengetahui salib yang ada dalam dirinya maka ia meminta mereka mengambil sikap. Jika salib teguran, maka berhentilah sehingga tidak ditegur Allah.

"Jika salibmu adalah salib teguran maka pesan untukmu di Jumat Agung ini adalah belajarlah dari pengalaman Nabi Ayu. Kuatkan iman seperti dirinya. Badai pasti akan berlalu seiring dengan kuatnya iman dalam menghadapi badai ujian itu," ungkapnya.

Namun jika salib yang dimiliki umat adalah salib penebusan, maka Pastor Amandus mengatakan bersyukurlah.

"Tidak semua orang punya salib jenis ini. Engkau berada di posisi Yesus. Sama seperti Yesus, engkau dipercayakan Tuhan untuk menebus salib penebusan itu, maka pandanglah salib penebusanmu, kemudian peluklah erat dan berjalanlah bersama Yesus menapaki via dolorosa menuju puncak Golgota," ungkapnya di akhir khotbah. (Ignas)

Pesan Paskah : Jangan Berani untuk Bersaksi Jika Engkau Sendiri Tidak Mengenal Tuhan


Misa Perayaan Paskah di Gereja Katedral Tiga Raja 

MIMIKA, BM

Dalam kitab suci disebutkan bahwa ada beberapa tokoh seperti Maria Magdalena, Maria Kleopas dan para murid yang lain adalah saksi awal yang menyampaikan tentang kebangkitan Yesus Kristus.

Kesaksian ini kemudian mereka sampaikan dan wartakan kepada orang tentang apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan.

Mereka sungguh-sungguh mengalami hidup bersama Yesus dan ketika Yesus bangkit dari antara orang mati, mereka menjadi saksi awal yang sungguh luar biasa.

Pastor Okto Taena, Pr mengisahkan kembali kisah ini saat memimpin Perayaan Paskah, Minggu (4/4) di Gereja Katedral Tiga Raja pada Misa kedua pukul 10.00 Wit.

Pastor Okto mengatakan, gereja pada saat ini tetap menjadi saksi iman di tengah dunia. Gereja dan umat adalah saksi. Namun umat hendaklah menjadi saksi yang benar tentang Allah itu sendiri.

"Bagaimana kita menjadi saksi Tuhan di tengah kehidupan dan kelompok atau komunitas kita kalau kita sendiri secara pribadi belum mengalami dan mengenal siapa itu Tuhan, siapa itu Allah yang hidup, mati dan bangkit?," tanyanya.

Menurutnya, setiap orang harus mengalami keakraban dan keintiman dengan Tuhan sehingga dapat dikatakan sebagai seorang saksi yang baik dan benar di tengah dunia ini.

Dikatakan, selama ini kesaksian tentang kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus tetap terpelihara dan dijaga keutuhan, keaslian serta keotentikannya.

"Para rasul, para murid menyampaikan apa yang mereka alami dan lihat lalu itu menjadi iman kita sehingga setiap perayaan, doa dan setiap minggu kita mengungkapakan syahadat para rasul, iman para rasul kepada Tuhan," ujarnya.

Pastor mengingatkan kembali bahwa sebagai umat Allah, setiap orang bisa menjadi saksi yang baik dan benar jika ia sendiri sudah mengenal siapa itu Tuhan dan apa kehendaknya dalam kehidupan ini.

"Jangan berani untuk bersaksi kalau engkau sendiri tidak mengenal Tuhan. Jangan berani untuk menjadi saksi kebenaran hidup kepada orang lain kalau engkau sendiri belum mengalami siapa itu Tuhan," tegasnya.

"Karena jika demikian maka kesaksianmu akan menjadi tawar, orang lain yang melihatnya kurang percaya atau bisa saja mereka pergi, tidak mau mendengar apa yang kamu sampaikan dan wartakan," ungkapnya.

Kesaksian para murid dan rasul pada saat itu haruslah menjadi pelajaran bagi umat dan gereja. Maka untuk menjadi saksi yang baik dan benar hal pertama adalah umat harus mengenal lebih dahulu siapa itu Tuhan dan apa itu kebangkitan dalam iman katolik.

"Kalau anda dan saya belum mengalami kebangkitan, jangan anda pulang wartawakan tentang kebangkitan, tulis di status mantap, padahal hidupmu tidak mencerminkannya.
Anda dan saya harus betul-betul mengalami kebangkitan barulah kita menyampaikan kebangkitan kepada orang lain. Karena kalau kita belum mengenal Tuhan lebih baik maka pasti orang yang dengar, baca dan lihat akan pergi dan berlalu," jelasnya.

Menurutnya, selama ini gereja terus-menerus mewartakan kebaikan Tuhan. Mewartakan karya-karya Allah yang terus berjalan. Di setiap malam Paskah selalu dikisahkan tentang penciptaan dan karya agung Allah.

Allah bukan saja sekali menciptakan, atau berkarya kepada umat manusia namun Ia terus melakukannya dalam sejarah kehidupan umat manusia.

"Asal kita punya kepekaan untuk merasakan, mengerti dan memahami apakah ini karya Allah, atau karya lain. Kita sebagai gereja umat Allah hendaklah memiliki kepekaan iman itu. Membaca tanda-tanda zaman untuk melihat bahwa ini benar-benar kehendak Allah atau kehendak manusia," ungkapnya.

Pastor Okto Taena, Pr mengatakan, dalam kisah penciptaan, manusia terjatuh dalam noda dosa karena memiliki sifat ego dan kesombongan. Dosalah yang kemudian menjadi penyebab putusnya hubungan intim antara manusia dengan Allah.

"Maka itu Yesus hadir untuk meluruskan kembali jalan yang telah rusak. Kita bersyukur bahwa rahmat kebangkitan Tuhan Yesus Kristus memulihkan hubungan manusia dengan Allah,"ujarnya.

Pastor juga mengingatkan umatnya bahwa Hari Raya Paskah hendaknya menjadi sebuah momen pembaharuan diri karena Paskah sesungguhnya adalah pembaharuaan diri, berubah dari sesuatu yang tidak baik menjadi lebih baik.

"Pembaharuan dimana kita mau merubah dan memperbaiki serta mengevaluasi apa yang baik harus ditingkatkan dan yang kurang baik coba untuk diperbaiki. Berubah menjadi lebih baik sesuai dengan kehendak Allah. Dalam hidup kita harus seperti ini," terangnya.

Sebelum mengakhiri khotbahnya, Pastor Okto juga memberikan pesan khusus kepada setiap orang tua. Ia mengatakan, jika orangtua mau agar anaknya berbuat hal yang baik maka mereka harus terlebih dulu menjadi contoh.

"Anak akan mengikuti apa yang dilakukan orangtuanya. Jika orangtua saja tidak mau melakukan hal yang baik dan benar maka jangan menyesal kalau anak-anak nanti juga menjadi seperti itu. Mereka merekam semua hal yang mereka lihat dan rasakan dari orangtua. Maka itu, hadirkan dirimu sebagai iman dan orangtua yang benar di tengah keluargamu," ujarnya berpesan. (Ronald)

Kamis Putih : Kebesaran Seorang Katolik Terletak Pada Pelayanan dan Kasih

Prosesi pembasuhan kaki oleh 6 isteri kepada suami mereka

MIMIKA, BM

Di hari pertama bulan April, Kamis (1/4) seluruh umat Katolik di dunia merayakan Kamis Putih, termasuk di Mimika.

Tahun ini tema yang diangkat yakni “Tuhan Sungguh Telah Bangkit dan Tetap Bersama Engkau, Alleluia” (Mazmur 139:5b, Lukas 24:34) dan Sub tema : “Meningkatkan Relasi Yang Harmonis Dengan Allah dan Berbelarasa Dengan Umat”.

Di Gereja Katolik Paroki Santo Stefanus Sempan Timika, umat merayakan Misa Kamis Putih dalam dua misa yakni pukul 16.00 wit dan 18.30 wit.

Kamis Putih merupakan ritual membasuh kaki yang biasanya dilakukan oleh pastor kepada umat.

Kamis Putih merupakan ritual untuk mengenang bagaimana Yesus mencium dan membasuh kaki 12 murid-Nya pada perjamuan malam sebelum ia ditangkap dan disalibkan.

Sehingga pada momen ini, di setiap Gereja Katolik, pembasuhan dilakukan oleh pastor kepada 12 umatnya. Namun karena pandemi, tahun ini di lakukan dalan suasana yang berbeda dari tradisinya.

Di Gereja Sempan, pembasuhan kaki dilakukan hanya oleh enam pasang suami istri. Para isteri yang melakukannya kepada suami mereka.

Dalam homili, Pastor Paroki Santo Stefanus Sempan Timika Maximilianus Dora, OFM mengatakan dalam tradisi gereja Katolik, Kamis Putih adalah simbol dari Tri Suci menjelang perayaan Paskah yakni hari Kebangkitan Yesus Kristus dari kematian di kayu salib.

“Kamis Putih secara khusus mengenang malam perjamuan terakhir Yesus bersama dua belas murid-Nya sebagai simbol pelayanan yang tulus dari seorang pemimpin. Tradisi ini terus dipertahankan dan masih ada pada setiap perayaan Kamis Putih. Hanya dalam kondisi pandemi tentu secara lain,” tuturnya.

Pastor Maxi mengemukakan bahwa Kamis Putih juga mengenang peristiwa sebelum Yesus disalibkan. Dalam perjamuan tersebut Yesus berbagi roti Paskah dan membasuh kaki para murid-Nya.

Hal ini menjadi teladan bagi umat Katolik dimana pun berada karena membasuh kaki dimaknai sebagai lambang kerendahan hati dan melayani.

“Yesus mengajarkan sebagai seorang pemimpin bukanlah pihak yang dilayani melainkan harus melayani bahkan yang hina sekalipun. Ia pun mengajarkan suatu hal yang penting yakni mencintai dan mengasihi dengan tulus ikhlas. Dia adalah sang guru cinta kasih,” imbuhnya.

Lanjutnya, Allah adalah kasih. Siapa yang mengasihi Dia adalah pengikut Sang Kasih. Kasih yang berasal dari Allah Bapa nyata dalam perbuatan bukan perkataan semata. Kasih harus dalam kerendahan hati, pelayanan, pengampunan dan pengorbanan diri.

Ia mengatakan kurang lebih setahun pandemi Corona terjadi di negeri ini. Bukan hanya itu, banyak keluarga juga dalam kondisi bermasalah. Ada terjadi kekerasan, perceraian, pisah ranjang, intimidasi, perselingkuhan, pelecehan seksual hingga pembunuhan.

“Agama, gereja dan kita semua harus menampilkan bait-bait Allah yang penuh belas kasih. Hanya orang yang rendah hati yang mau melayani dan melupakan diri sendiri demi kebahagiaan dan kegembiraan orang lain,” pesannya

Ia mengulas pada Kamis Putih 2016, Paus Fransiskus melakukan ritual mencium dan membasuh kaki para imigran Muslim, Katolik, Hindu dan Kristen.

Hal tersebut merupakan bentuk solidaritas ditengah sentimen anti migran. Paus Fransiskus mengatakan bahwa manusia adalah pendosa dan memiliki cacat. Manusia tidaklah sempurna maka harus saling melayani dan mengampuni.

“Semoga kita berani merendahkan diri menjadi pelayan, menjadi hamba yang rela dan mau membersihkan diri dalam karya-karya pelayanan. Hamba yang mau membersihkan kotoran dalam hati dan keluarga. Hamba yang mau dan memberi dirinya untuk orang lain dan hidup seturut kehendak Tuhan," harapnya.

"IA berkata kalau Aku Tuhan dan gurumu sudah membasuh kakimu, kamupun harus membasuh kaki sesamamu karena kebesaran seorang Katolik terletak pada pelayanan bukanlah kekuasaan,” tutupnya.

Perayaan Kamis Putih tadi malam sangat identik dengan warna putih. Umat yang hadir di Gereja Sempan sebagian besar menggunakan corak putih dalam perayaan ini.

Perayaan berlangsung khidmat dan dijaga ketat oleh puluhan pasukan gabungan yang terdiri atas TNI Polri dan organisasi masyarakat (ormas). Mereka berjaga di setiap sudut gereja hingga perayaan selesai dilaksanakan. (Elfrida)

Top