Budaya

Pastor Gaby: Biarlah Terang Kamis Putih Menyinari Tanah Papua

 

Pastor Gaby sedang membasuh kaki umat

MIMIKA, BM

Di awal bulan April 2026 tepatnya pada tanggal 2 malam, umat Katolik di Gereja Santo Stefanus Sempan Timika, Mimika, Papua Tengah merayakan Misa Kamis Putih. Perayaan ini juga dirayakan oleh seluruh umat Katolik di dunia.

Kamis Putih juga menjadi awal rangkaian dari Tri Hari Suci sebelum Jumat Agung dan Sabtu Suci.

Dalam ritus Kamis Putih, tradisi Yesus membasuh kaki keduabelas murid-Nya dan penghormatan Sakramen Maha Kudus biasa dilaksanakan.

Perayaan di Gereja Santo Stefanus Sempan Timika, Mimika didominasi warna putih yang dikenakan umat pada misa kedua pukul 19.00 wit yang dipimpin oleh Pastor Gabriel Ngga, OFM dan bacaan Injil diambil dari Injil Yohannes 13:1-15.

Mengawali homilinya, Pastor yang akrab disapa Pastor Gaby ini mengatakan membasuh kaki adalah tindakan yang sangat rendah pada jaman itu.

“Kaki adalah bagian tubuh yang paling kotor karena debu jalanan sering selalu melengket di kaki apalagi kalau tidak pakai alas kaki,” katanya.

Lanjutnya, dengan membasuh kaki Yesus mengajarkan bahwa kepemimpinan Kristiani bukanlah tentang jabatan atau kuasa melainkan tentang pengabdian, pelayanan dan kerendahan hati.

“Dia mengharapkan hal itu terjadi juga pada para murid-Nya maka Ia berkata jika Aku Tuhan dan gurumu membasuh kakimu maka kamu pun wajib saling membasuh kaki. Satu kata yang kita pegang adalah wajib artinya bukan opsional (pilihan-red) tetapi keharusan,” tandasnya.

Sebagai pengikut Kristus dikatakan Pastor Gaby harus saling melayani dan saling membasuh kaki. Membasuh kaki di Tanah Mimika, Papua berarti mau mendengarkan rintihan sesama, mendengarkan jeritan ketidakadilan dan yang tertindas.

“Mau mendengarkan keluhan mama-mama di pasar yang berjuang demi sesuap nasi, demi sekolah anak-anaknya. Membasuh kaki berarti para pemimpin, pejabat mau turun ke pinggiran menyentuh luka-luka ketidakadilan dan membawa pemulihan bukan sekedar janji,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa membasuh kaki berarti berhenti saling menghakimi antar suku dan golongan.

Mulai saling melayani sebagai satu tubuh di dalam persekutuan dengan Kristus, karena sesungguhnya esensi hakikat dari Koinania dari persekutuan sebagai gereja pengikut Kristus yakni hidup sebagai suatu persekutuan.

“Perjamuan kudus malam ini mengingatkan kita bahwa tidak ada orang yang boleh kenyang sendirian sementara tetangganya kelaparan,” ujarnya.

Pastor Gaby kemudian mengajak umat untuk merenungkan bahwa memecah roti dalam konteks Mimika dan Papua berarti memastikan bahwa kekayaan alam yang Tuhan titipkan di tanah ini benar-benar terpecah dan terbagi secara adil demi kesejahteraan setiap anak bangsa dan orang yang mendiami tanah ini.

“Kita sering berkata Papua adalah tanah yang kaya. Ibarat surga kecil yang jatuh ke bumi namun ironisnya masih ada saudara-saudara kita yang mengalami kekurangan gizi atau kesulitan akses pangan yang layak karena berbagai hal,” ungkapnya.

Pastor Gaby kemudian berpesan setelah mengikuti misa Kamis Putih, umat tidak hanya ingat kenangan akan perjamuan itu melainkan dengan suatu komitmen baru menjadi pembasuh kaki bagi mereka yang terpinggirkan dan lapar akan keadilan.

“Kiranya terang Kamis Putih menyinari setiap sudut tanah Papua, menyinari setiap sudut tanah Mimika. Menjadikannya tanah yang benar-benar diberkati dimana kasih dan cinta menjadi hukum yang tertinggi. Kita semua hidup didalam harmoni dalam kasih dan damai,” pungkasnya.

Usai perayaan misa Kamis Putih di Gereja Sempan, umat kemudian melaksanakan tuguran atau penghormatan suci kepada sakramen Maha Kudus.

Sementara itu perayaan Kamis Putih di Katedral Tiga Raja Mimika juga berlangsung hikmat dan dihadiri ribuan umat.


Uskup Keuskupan Timika Mgr. bernardus Bofitwos Baru, OSA saat membasuh kaki umat

Misa Kamis Putih yang dimulai pukul 18.00 WIT dan hanya sekali misa ini dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Timika Mgr. bernardus Bofitwos Baru, OSA didampingi Pastor Benny Magai, Pr.

Uskup Keuskupan Timika Mgr. bernardus Bofitwos Baru, OSA dalam homilinya mengatakan, hari ini di seluruh dunia, gereja universal merayakan malam Kamis Putih dengan dua peristiwa penting.

Pertama, Yesus memberikan makna dalam perayaan Paskah Yahudi, memberikan arti yang baru atas roti dan anggur. Dan peristiwa kedua adalah pembasuhan kaki para murid dengan dialog Petrus dengan Yesus.

Uskup juga mengingatkan umat akan tantangan iman di zaman modern. Ia menilai, semangat pengorbanan dan pelayanan kini mulai tergerus oleh gaya hidup instan serta godaan dunia digital yang menjauhkan manusia dari kepedulian terhadap sesama.

“Banyak orang lebih sibuk dengan dunia maya daripada hadir bagi sesamanya yang menderita. Padahal, Ekaristi mengajak kita untuk memberi diri secara nyata melayani, menghibur, dan memperhatikan mereka yang membutuhkan,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menyinggung situasi sosial yang terjadi, khususnya di wilayah pegunungan Papua, yang dinilainya memprihatinkan. Ia mengajak umat untuk menjadikan Paskah sebagai momentum memperjuangkan kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian.

“Iman tidak boleh diam. Kita dipanggil untuk meruntuhkan tembok-tembok kepentingan, baik ideologi, kekuasaan, maupun kelompok, dan mengedepankan martabat manusia,” katanya.

Perayaan kemudian berlanjut dengan liturgi Ekaristi dan persembahan, hingga puncaknya pada pemindahan Sakramen Mahakudus ke tempat penyimpanan khusus.

Altar utama pun dibersihkan dan tabernakel dibiarkan terbuka sebagai tanda memasuki Jumat Agung, hari mengenang sengsara dan wafat Kristus di kayu salib.

Dengan penuh penghayatan, umat meninggalkan gereja dalam suasana hening, membawa pesan refleksi mendalam tentang kasih, pengorbanan, dan panggilan untuk melayani sesama. (Elfrida Sijabat & Shanty Sang)

Pesan Minggu Palma : Mempertahankan Komitmen dan Kebenaran akan Mendapat Banyak Tantangan


Suasana perarakan daun palma menuju Gereja Tiga RaJa

MIMIKA, BM

Ribuan umat Katolik Paroki Katedral Tiga Raja mengikuti misa Minggu Palma, Minggu (29/3/2026) sebagai tanda dimulainya pekan suci dalam tradisi Gereja Katolik.

Misa yang berlangsung pada pukul 08.00 WIT ini diawali dengan pemberkatan daun palma di halaman SD Tiga Raja kemudian berarak ke dalam gereja untuk melanjutkan misa.

Minggu Palma merupakan peringatan akan peristiwa masuknya Yesus ke Yerusalem, di mana Yesus disambut dengan daun palma oleh orang banyak sebagai Raja Damai.

Dalam suasana yang khusyuk namun penuh semangat, umat membawa daun palma dari rumah lalu mengikutkannya selama misa sebagai simbol kemenangan dan pengharapan.

Pastor Benyamin Magai, Pr dalam Homilinya yang diambil dari Injil Matius mengatakan, sebuah perjuangan, penderitaan, penghinaan dan kerja keras seseorang akan membawakan hasil yang bisa memuaskan.

Dalam bacaan pertama Nabi Yesaya pasal 50:4-7 dan juga dalam Injil Matius 26:11-54 menjelaskan sebuah kisah Yesus dalam perjuangan, penderitaan, penghinaan dan kerja keras untuk merebut buah-buah penebusan bagi manusia.

"Dalam bacaan pertama Yesaya katakan seseorang akan menderita, menerima penghinaan bahkan janggut pun di cabut. Dan orang yang melakukan sesuatu yang baik, mempertahankan kebenaran serta komitmen yang baik, akan mendapat banyak tantangan," kata Pastor Benyamin.

Pastor Benyamin mengatakan, bahwa dalam kisah Yesus, ada orang-orang terdekat, mereka yang tadinya mengatakan terpujilah Engkau raja segala bangsa, alam semesta, putra Daud namun tiba-tiba di depan Pilatus mereka katakan salibkan dia, salibkan dia.

Rupanya, kata Pastor Benyamin, komitmen atau kata-kata yang saat itu memuji tidak berkomitmen. Dan itulah yang Yesus hadapi saat itu, Yesus hadapi banyak penderitaan dan penghinaan.

"Walau manusia saat itu dan kini memuji anak Allah tetapi besok berteriak salibkanlah dia, salibkanlah dia. Tetapi Yesus menerima dalam kerendahan hati, Ia laksanakan untuk mendapat sebuah hadiah,” ujarnya.

“Sebuah hadiah yang tidak Ia dapatkan saat itu, tapi semua pekerjaan itu, penghinaan itu Ia terima dan tetap komitmen menjalani misi Allah, misi keselamatan,"lanjutnya.

Hadiah yang dimaksud ada dalam bacaan kedua yaitu dari sebab itu Allah mengagungkan Yesus dan menganugerahkan kepada-NYA nama yang paling luhur supaya makhluk di surga maupun di bumi bertekuk lutut menghormati Yesus dan diakui sebagai Kristus.

"Akhirnya di bacaan kedua Yesus diagungkan oleh Allah sendiri," tuturnya.

Ia mengatakan, saat Yesus masuk ke Yerusalem, kenapa Yesus tidak memilih ternak kuda tetapi memilih keledai, karena Yesus itu maha kuasa, anak Allah dan semua akan menyembah dan memuji Dia.

Terkadang manusia ingin memperoleh sesuatu dengan cara yang enak, instan, tidak sudi di hina, diganggu atau juga mengganggu zona nyamannya.

"Namun, hari ini Yesus mengajarkan kepada saya dan kita semua bahwa sebuah perjuangan harus melalui penderitaan, penghinaan dan kerja keras maka akan membuahkan hasil," ucapnya.

Katanya, kebanyakan orang di Papua Tengah dan dimana-mana itu selalu mengutamakan "Si Online" dan menganggap itu hal yang baik untuk mendapatkan uang.

Padahal, orang itu punya kemampuan, intelektual yang hebat, ide cermerlang, jabatan yang hebat tapi masih mau bermain si online untuk mendapat uang. Syukur kalau dapat uang, kalau tidak dapat uang maka muncul masalah yang lain.

"Sesuatu yang membawa suka cita, kegembiraan, kebahagiaan membutuhkan proses panjang, penderitaan dan disitulah kita akan merasakan yang paling positif adalah senang, bahagia dan bersyukur serta katakan Tuhan terimakasih saya dapat hasil keringat saya," ujarnya.

Oleh sebab itu, Yesus memberikan tantangan bahwa untuk memperoleh keberhasilan ini di dunia maupun di surga harus melalui perjuangan, penderitaan, penghinaan.

“Penghinaan itu, ketika mengetahui orang cerita kita yang tidak baik, baru kita tidak lakukan apa yang diceritakan. Maka, tentu akan sakit hati,” ujarnya.

"Jadi jangan pernah menyerah tapi selalu berkomitmen, selalu pada prinsipnya, punya motivasi dan mimpi yang mau kita perjuangankan walau kita dapat tantangan, rintangan atau juga godaan," pesannya.

Ia kemudian memberikan tiga pesan pada peringatan Minggu Palma ini karena menurutnya dalam hidup setiap orang akan menjalani dua situasi yakni suka dan duka.

Perasan pertama, umat haus selalu kuat dalam iman dan melakukan yang baik maka Allah akan datang menolong.

"Hidup kita itu tidak pernah jalan mulus, lurus-lurus saja, tentu ada tantangan, godaan, tapi ada juga kegembiraan dan suka cita yang penting kita selalu tabah, beriman pada Tuhan maka Tuhan akan datang pada waktunya untuk menolong kita," jelasnya.

Pesan kedua, syukurilah hidup apa adanya jangan ada apanya. Orang yang bersyukur dan pasrah pada penyelenggaraan ilahi, apapun keberhasilannya, dia akan mengatakan semata-mata karena Tuhan.

Orang yang tidak bersyukur akan pasrah pada dirinya sendiri bahwa ia hebat, luar biasa dan mampu, sehingga tidak pernah bersyukur.

"Yesus selalu rendah hati, meminta doa pada dan bersyukur kepada Bapa-NYA, termasuk saat menyembuhkan orang. Maka marilah kita tanamkan syukur dalam hidup kita dan menerima diri apa adanya bukan ada apanya,"tegasnya.

Dan pesan ketiga adalah selalu katakan ya untuk hal yang harus dikatakan ya dan tidak untuk hal yang tidak. Jangan abu-abu dan tidak jelas.

"Katakan ya kalau itu benar dan katakan salah kalau itu salah," ungkapnya berpesan sembari menutup homilinya. (Shanty Sang)

ASN Non Muslim Distrik Wania Ikut Menjaga Pelaksanaan Shalat Ied di Tiga Mesjid 

Kadistrik Wania Ria Mandiwa bersama salah satu tim pengawasan Shalat Ied berdiri bersama usai melakukan pengamanan

MIMIKA, BM

Aparatur Sipil Negara (ASN) Distrik Wania yang non muslim turut serta melakukan pengamanan jalannya Shalat Ied di tiga mesjid di Wania.

Pengamanan ini juga melibatkan pihak kepolisian, lurah dan juga kepala kampung di distrik tersebut.

Kadistrik Wania, Ria Mandiwa mengatakan sebelumnya pada Jumat kemarin, pihaknya telah mendatangi tiga mesjid ini untuk memantau kesiapan dan kebersihan pelaksanaan Shalat Ied.

Adapun tiga mesjid tersebut adalah Mesjid Jami’ Baiturrahman (SP4), At-Taubah (SP1) dan Mesjid Jami’ Ai Muhajirn (SP1).

“Kami turun langsung agar masyarakat dapat merasakan kehadiran pemerintah terutama di momen seremonial keagamaan seperti ini. Dan kami bersyukur karena pelaksanaan Shalat Ied di tiga mesjid ini berjalan aman dan lancar,” ungkap Kadistrik Wania.

Pengamanan dan pengawasan ini juga melibatkan 8 anggota kepolisian Polsek Mimika Baru.

“Sebelumnya kami juga menyurati Polsek Mimika Baru untuk bantuan pengamanan. Jadi pengamanan di tiga mesjid ini kami lakukan bersama pihak keamanan,” ungkapnya.

Ria Mandiwa mengatakan pengamanan dan pengawasan di tiga mesjid ini dibagi dalam tiga kelompok. Tiap kelompk terdiri atas 10 orang.

“Tujuan dari pengamanan ini juga sebagai
bentuk toleransi dan kita pemerintah harus menjadi yang terdepan sehingga masyarakat tahu bahwa kami ada, tidak hanya dalam pelayanan pemerintahan saja namun juga dalam urusan sosial maupun keagamaan,” ungkapnya. (Ronald R)

Top