Budaya

Organisasi Sayap Partai Golkar Beri Bantuan Al-Qur’an ke Tiga Panti Asuhan

Foto bersama usai pembagian Al-Qur’an di salah satu panti asuhan

MIMIKA, BM

Al-Hidayah, salah satu Organisasi Sayap Partai Golkar memberikan bantuan kasih berupa Al-Qur’an kepada tiga yayasan Yatim Piatu di Timika.

Pembagian Al-Qur’an dilakukan oleh pengurus Al-Hidayah DPD Partai Golkar Provinsi Papua dan DPD Kabupaten Mimika di Panti Asuhan Bunda Mulia, Baiturasul dan Al Furqon.

“Pembagian Al-Qur’an sesuai dengan jumlah yang ada di tiga panti asuhan. Ada yang 20, 30 dan 40,” ujar Imran Ibrahim salah satu pengurus DPD Partai Golkar Mimika.

Menurutnya, pemberian Al-Qur’an yang dilakukan ini merupakan bagian dari momentum menyambut Bulan Suci Ramadan.

“Ini awal karena ke depan kami akan datang untuk memberikan batuan sembako karena mereka butuh perhatian dan kasih sayang dari kita semua. Mereka adalah anak yatim dan semua agama ada,” ujarnya.

Pengurus Golkar lainnya, Paula Tunya menambahkan, Al-Hidayah merupakan organisasi sayap Partai Golkar yang berisikan ibu-ibu pengajian. Dan kunjungan kasih ini adalah bisa dari program kerja mereka.

“Jadi selain berbagi Al-Qur’an kami juga datang untuk melihat apa yang jadi kekurangan mereka. Ke depan kami akan batu dalam bentuk yang lain dan rencananya pada 1 Maret nanti kami akan berikan bantuan sembako,” ungkapnya.

Terkait berapa besar sembako yang nanti diberikan kepada tiga panti asuhan ini, Paula mengatakan sedang dilakukan pendataan.

“Kita lagi data sehingga bantuan yang diberikan nanti diharapkan sesuai dan dapat memenuhi kebutuhan mereka, apalagi disana bukan hanya anak yatim saja tapi ada juga orangtua lansia,” ungkapnya. (Ronald R)

Hari Pertama Puasa, Warga Mimika Ramai-Ramai Berburu Takjil

Takjil di Jalan Kihajar Dewantara

MIMIKA, BM

Hari pertama di bulan Suci Ramadan di Kabupaten Mimika sungguh terasa istimewa bagi umat Muslim, terutama saat berbuka puasa di rumah bersama keluarga.

Nah, di hari pertama Ramadan, Kamis, (19/2/2026), banyak orang memburu hidangan takjil di Jalan Kihajar Dewantara. Sejak sore jalanan dipadati pedagang takjil.

Aktivitas ribuan warga yang membeli takjil di lokasi tersebut, menyebabkan kemacetan yang lumayan panjang.

Pantauan Beritamimika.com, deretan stand yang berjajar di pinggir jalan dipenuhi pembeli dari berbagai kalangan. Beragam jajanan seperti kolak, es buah, gorengan, risoles, puding, makanan hingga hidangan manisan lainnya.

Tidak hanya di seputaran Jalan Kihajar Dewantara saja, tetapi di sepanjang jalan Budi Utomo, Pendidikan, Bougenvile para penjual juga menyediakan stand mereka untuk berjualan takjil.

Suasana berburu takjil tidak hanya diramaikan oleh umat Muslim. Warga non muslim pun turut meramaikan suasana. Mereka tampak menyusuri setiap stand, memilih jajanan kesukaan mereka.

Seorang warga bernama Siti dan Mega , mengaku kalau setiap tahun memang selalu membelk takjil di sini (Depan Masjid Babusalam) karena sudah tersedia berbagai jajanan dan makanan.

"Apa lagi kami yang bekerja begini pastinya akan mencari takjil untuk kita pulang dan berbuka puasa,"ujar keduanya.

Ternyata fenomena yang sekali setahun ini, bukan hanya tradisi musiman, tetapi juga menjadi berkah bagi para pedagang atau pelaku usaha kecil menengah. Momen ramadhan menjadi kesempatan untuk menambah rezeki.

Di sisi lain, banyak orang terbantu dengan hadirnya para pedagang ini. Misalnya para pekerja atau keluarga yang tidak sempat mempersiapkan bekal berbuka puasa.

Sementara itu salah satu pedagang mengaku, sengaja berjualan di sini karena setiap Ramadan tempat itu menjadi pusat berjualan takjil.

“Untuk mencari rezeki yang barokah. Hari ini yang beli lumayan banyak. Semoga sampai akhir Ramadan ini,”ungkapnya. (Shanty Sang)

Rabu Abu : Gereja Soroti Kasus Begal, Kerusakan Alam dan Konflik di Kapiraya. Serukan Pertobatan

Pastor Ricky Yeuyanan saat mengoleskan abu di dahi umat

MIMIKA, BM

Umat Katolik kini tengah memasuki masa Pra Paskah yang dimulai dengan Rabu Abu yang jatuh pada Rabu (18/2/2026).

Misa pertama Rabu Abu yang dilaksanakan di Gereja Katedral Tiga Raja Timika dipimpin oleh Pastor Ricky Karol Yeuyanan, Pr.

Dalam homilinya, Pastor Ricky berkata abu sebagai tanda bahwa manusia berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu.

“Kita ini orang berdosa, manusia yang sepenuhnya berharap kepada Pencipta karena ciptaan-Nya. Kita tidak bisa buat apa-apa tanpa Tuhan. Masa Pra Paskah kita diajak pertama-tama untuk kembali kedalam diri masing-masing, mengubah apa yang perlu dan apa yang mendesak,” tuturnya.

Pastor mengatakan bahwa orang yang tidak pernah menyadari dirinya berdosa adalah orang yang memiliki dosa paling besar.

“Menarik bahwa dalam Injil Matius hari ini, Yesus menekankan tiga praktek rohani yakni doa, sedekah dan puasa. Sesungguhnya ketiga hal ini mau mengajak untuk merekonstruksi diri, memperbaiki diri dari dalam dan pada akhirnya membangun relasi dengan Tuhan,” ucapnya.

Pastor Ricky mengatakan inti ketiga praktek rohani adalah apa yang mau diubah dari dalam itu urusan dengan Tuhan. Semua itu dilakukan dengan diam ditempat tersembunyi.

“Kalau kita baca Injil baik-baik kata tersembunyi itu diulang berkali-kali. Itu artinya bahwa Yesus mau menegaskan bahwa relasi dengan Tuhan tidak butuh panggung, tidak menuntut untuk mencari popularitas dan penilaian dari manusia,” tandasnya.

Relasi dengan Tuhan yang mau diperbaiki hendaknya bukan menjadi konsumsi publik tapi menjadi keintiman itu sendiri dengan Tuhan. Hal ini yang paling menentang di jaman ini adalah soal pencitraan rohani.

Pastor Ricky kemudian menambahkan agar memanfaatkan media sosial sebagai sarana pewartaan dan bukan untuk mencari like atau subscriber naik atau popularitas semata.

“Kita harus mengingat dengan baik bertobat itu berarti orang berubah dan punya buah, buah itu tidak kita makan sendiri tapi orang lain bisa merasakan nikmat dan manisnya buah itu,” ujarnya.

Ia kemudian mengajak umat merenungkan bersama tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di Mimika belakangan ini seperti begal, kerusakan alam dan konflik tapal batas di Kapiraya.

“Kita di Timika gembar-gembor soal begal dimana-mana. Hampir setiap hari orang mati dengan cara yang wajar dan tidak wajar. Kita juga dipertontonkan dengan rusaknya alam ini. Kita juga setiap hari melihat secara langsung dan tidak langsung tentang eksploitasi alam, intimidasi dan lain-lain;” ungkapnya.

Dikatakan ketika urusan dengan Allah yang sudah selesai di tempat yang tersembunyi mengajak umat agar keluar karena iman tanpa perbuatan adalah mati.

Relasi dengan Allah diperbaiki secara pribadi namun jika tidak punya dampak terhadap sesama, terhadap alam maka iman itu tidak menyelamatkan orang lain.

Ia menegaskan bahwa manusia akan terlihat egois jika hanya memperbaiki kerohanian tanpa melihat keselamatan orang lain.

“Berbagai kasus-kasus ini adalah suara-suara yang berteriak dalam kesunyian minta pertolongan kita. Suara-suara manusia yang sengaja dibungkam dan bisikan dari mama-mama kita, orang-orang yang mencintai kita dalam doa-doa mereka setiap waktu,” imbuhnya.
.
“Tuhan saya tidak mau anak saya mati lagi, Tuhan saya mau alam ini tetap pelihara saya, Tuhan saya mau hutan saya ini tetap terjaga dengan lestari karena disana kami ambil hal-hal yang bisa menghidupi kami.
Tuhan kami mau hidup kami tenang, kami tidak mau ada hal-hal lain yang merusak kedamaian dan ketenangan diantara kami,” ungkapnya.

Kemudian, ia menyoroti peristiwa yang memanas di Mimika yakni Kapiraya.

“Kita bisa melihat sebuah kehidupan yang terjaga dari dulu di tempat itu. Relasi daripada orang tua kita. Mereka sudah membangun relasi yang cukup baik dan harmonis,” ucapnya.

Pastor Ricky menyebut dulu di Kapiraya ada hal yang membangun disana seperti pertukaran budaya, namun kini jadi tempat perebutan dan cukup menggemparkan.

“Kita bisa melihat berbagai penilaian yang muncul dari banyak pihak soal peristiwa ini. Tetapi yang bisa kita suarakan bersama untuk mereka yang sedang bertikai, berselisih disana bahwa perang sama sekali tidak menyelesaikan apa-apa,” tandasnya.

Perang hanya melahirkan kasus-kasus baru. Jika ini soal martabat, harga diri itu hal yang mulia. Maka ada cara yang lebih mulia untuk menjaga martabat dan harga diri itu.

“Jika ada pihak ketiga yang berusaha merusak kedamaian disana, maka seruan hari ini adalah pertobatan yang sungguh-sungguh untuk semua, terutama mereka yang bergerak dari kerakusan untuk merusak segala yang baik, yang telah tumbuh lama di tempat itu,” serunya.

Pastor juga mengajak umatnya bahwa di masa pantang ini umat harus berani bersuara terhadap nilai kemanusiaan yang makin patah dan pincang.

Umat harus bersuara bagi alam yang adalah ibu bagi manusia yang kian hari makin terancam dan dirusak.

“Dan pada akhirnya seruan yang paling mendasar bagi kita semua adalah bertobat,” serunya.

Pertobatan ekologis dikatakan menjadi perjalanan perenungan bersama di masa Prapaskah ini. Ia mengucapkan selamat menjalankan masa puasa dan selamat memantangi apa yang selayaknya dipantangi selama 40 hari kedepan.

“Semoga semua itu dapat membentuk dan mengubah kita menjadi manusia yang dapat mencintai diri kita sendiri, mencintai dan menghargai sesama, serta alam ciptaan di Tanah Papua ini. Semoga Tuhan memberkati kita semua,” pungkasnya. (Elfrida Sijabat)

Top