Budaya

Berkah Ramadhan, Polres Mimika Bagikan Takjil ke Masyarakat

Kapolres Mimika, AKBP Billyandha Hildiario Budiman, S.I.K, M.H saat memberikan Takjil kepada warga yang melintas di depan Kantor Polres Pelayanan.

MIMIKA, BM

Kepolisian Resor (Polres) Mimika membagikan 250 paket takjil gratis kepada masyarakat menjelang waktu berbuka puasa di depan di depan kantor Pelayanan Polres Mimika di Jalan Cenderawasih Minggu sore (09/03/2025).

Pembagian takjil gratis ini diselenggarakan oleh Sat Reskrim Polres Mimika dengan dipimpin langsung oleh Kapolres Mimika, AKBP Billyandha Hildiario Budiman, S.I.K, M.H dengan didampingi Wakapolres, Kompol Hermanto SH, SIK, MH. Serta para Pejabat Utama (PJU) Polres Mimika dan sejumlah personel Polres Mimika.

Kegiatan yang diselenggarakan ini merupakan bentuk kebersamaan dan kepedulian kepolisian terhadap masyarakat, terutama di bulan suci Ramadan

Kapolres Mimika, AKBP Billyandha Hildiario Budiman, S.I.K, M.H, menuturkan bahwa pembagian takjil gratis ini rutin dilakukan selama bulan Ramadan.

"Jadi hari pertama ini di depan Kantor Sentra Pelayanan Polres Mimika, dan untuk hari berikutnya itu lokasinya nanti di acak," tuturnya.

Dengan berbagi kebersamaan ini, Kapolres berharap masyarakat saling menghormati dan saling toleransi dalam menjalani ibadah terutama didalam ibadah puasa Ramadhan.

Kegiatan berbagi takjil ini mendapat apresiasi dan respons positif dari masyarakat. Warga menyambut baik inisiatif Polres Mimika, yang diharapkan dapat semakin mempererat hubungan antara kepolisian dan masyarakat setempat. (Ignasius Istanto)

Ribuan Umat Katolik Padati Katedral Tiga Raja Ikut Misa Rabu Abu



Suara pemberian abu di dahi sebagai tanda pertobatan

MIMIKA, BM

Ribuan umat Katolik memadati Gereja Katedral Tiga Raja untuk mengikuti Misa Rabu Abu, Rabu (5/3/2025) sebagai awal masa Prapaskah atau 40 hari sebelum hari Paskah.

Rabu Abu merupakan momen penting bagi umat Katolik yang menandai dimulainya masa Prapaskah, masa penuh refleksi, pertobatan, dan pembaruan diri.

Pada hari ini, umat menerima tanda abu di dahi sebagai simbol pertobatan dan pengingat akan kefanaan manusia.

Lebih dari sekadar ritual, prosesi ini memiliki makna mendalam yang telah diwariskan selama ribuan tahun.

Misa Rabu Abu ini dipimpin langsung oleh Pastor Amandus Rahadat, Pr.

Pastor Amandus dalam khotbahnya mengatakan, hari ini diawali dengan puasa dan pantang selama 40 hari kedepan. Hanya 2 hari puasa dan pantang yaitu Rabu Abu dan Jumat Agung. Sementara pantang hanya 6 hari di hari Jumat.

"Mengapa orang bilang ringan dan tidak terasa, itu karena mereka membandingkan puasa orang Katolik dengan puasa Muslim. Muslim puasa full, siang hari tidak makan dan minum, tunggu gelap baru makan dan minum,"kata Pastor Amandus.

Kenapa puasa orang Katolik ringan? Kata Pastor Amandus, puasa tidak makan dan tidak minum itu bukan tujuan tapi hanya sarana dan sebagai sarana yang diutamakan dan itu bukan aturan yang mengikat tetapi haluan umum sebagai pegangan.

Apa haluan umum pantang dan puasa orang Katolik? Ada 2 yakni melakukan kebaikan-kebaikan di berbagai bidang dan haluan kedua menghindari yang jahat di segala bidang.

"Gereja tidak mengatur warganya dengan aturan-aturan, tidak boleh ini, tidak boleh itu, harus begini, harus begitu, itu anak kecil. Anak kecil yang aturan harus jelas, orang Katolik bukan anak kecil, orang Katolik adalah orang beriman dewasa dan sebagai orang dewasa cukup disodorkan pedoman,"ujarnya.

Pastor Amandus juga menyerukan umat untuk memperbanyak tindakan mati raga dengan membatasi keinginan ragawi, mengurangi hal-hal yang menyenangkan seperti menghindari pesta pora, membatasi minum-minuman keras, kurangi merokok dan sebagainya.

Selain itu, pastor juga mengingatkan umat mengenai dalil umum puasa orang Katolik yaitu melakukan hal-hal baik dan menghindari hal jahat serta memperbanyak aktivitas doa.

"Berpuasa agar dilihat oleh orang itu juga tidak bisa. Alangkah baik berpuasa tanpa menunjukkan wajah muram dan lesu. Sama halnya ketika memberi amal, janganlah sampai diketahui orang,"ungkapnya. (Shanty Sang)

Rabu Abu, Pastor Madya Ajak Umat Bersedekah, Berdoa dan Berpuasa Jangan Seperti Orang Munafik

 Sekretaris Jenderal Keuskupan Timika, Pastor Andreas Madya Sriyanto, SCJ. didampingi Frater menandai salib dari abu di dahi umat 

MIMIKA, BM

Setiap tahun umat Katolik mengikuti misa Rabu Abu untuk menerima tanda salib abu di dahi sebagai perlambang pertobatan.

Itu adalah momen awal dimana selama 40 hari lamanya umat Katolik akan menjalankan pantang dan puasa.

Seperti di Gereja Katolik Santo Stefanus Sempan, Timika, nampak ribuan umat hadir mengikuti Misa Rabu Abu yang dilaksanakan Rabu (5/3/2025).

Pada misa kedua yang dimulai pukul 19.00 wit, misa dipimpin oleh Sekretaris Jenderal Keuskupan Timika, Pastor Andreas Madya Sriyanto, SCJ.

Dalam khotbahnya yang diambil dari Injil Matius 6:1-5, 16-18, Pastor Madya mengatakan ada tiga pilar keutamaan sebagai orang beriman yakni memberi sedekah, berdoa dan berpuasa.

“Tiga praktek yang sungguh-sungguh mau menunjukkan begitulah sebagai orang yang beriman, orang yang percaya akan Tuhan. Tiga hal itulah juga yang banyak dipraktekan bukan hanya oleh orang Katolik saja tetapi orang yang beragama lain pun juga menjalankan tiga keutamaan ini,” tuturnya.

Pastor Madya mengatakan bahwa tradisi yang demikian sebenarnya berawal dari kebiasaan agama Yahudi, yang juga sudah dijalankan pada waktu Tuhan Yesus hadir di dunia ini.

“Dan karena Tuhan Yesus adalah guru rohani, guru yang membicarakan berkaitan dengan hidup manusia dalam bidang kerohanian juga harus berbicara tentang tiga hal ini,” jelasnya.

Lanjutnya, praktek yang dikritik oleh Tuhan Yesus adalah seperti orang-orang Farisi, Saduki, kelompok-kelompok yang ada pada waktu itu karena dalam menjalankan praktek-praktek kehidupan sebagai orang beragama ada sesuatu motivasi yang berbeda daripada yang seharusnya.

“Maka Tuhan Yesus mengatakan mereka adalah orang-orang munafik, yang menjalankan sesuatu yang baik supaya dilihat orang. Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu dihadapan orang supaya dilihat mereka, itu adalah perbuatan orang munafik,” tandasnya.

Pastor Madya menambahkan praktek keagamaan yang sangat baik seperti memberi derma dan membantu orang yang berkekurangan ditentukan dari nilai perbuatannya.

“Tuhan Yesus mengatakan kalau kamu memberi sedekah janganlah tangan kirimu tahu apa yang dilakukan tangan kanan,” kutipnya dari Injil.

“Harus memberikan dari hati, dari cinta kita, dari kedalaman hati untuk memberi. Kalau ada tujuan supaya ada orang lain melihat dan ingin dipuji, nah, itu yang tidak benar,” imbuhnya.

Lain dalam hal berdoa. Pastor Madya menjelaskan berdoa adalah bagaimana menjalin relasi dengan Tuhan.

“Tetapi kalau kita berdoa di tikungan jalan supaya orang lain melihat dan memuji itu adaah kesalehan yang sia-sia,” paparnya.

Demikian juga dengan berpuasa. Berpuasa dalam Gereja Katolik boleh makan kenyang sekali.

“Berpuasa hanya dua kali yakni hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Yang lebih penting bukan berat ringannya tapi bagaimana kita menghayati puasa,” ucapnya.

Lanjutnya, Tuhan Yesus mengatakan kalau kalian berpuasa minyakilah rambutmu, cucilah mukamu supaya wajah tetap cerah dan orang tidak melihat bahwa kamu sedang berpuasa.

“Itulah tiga praktek keutamaan sebagai seorang beriman yang mulai hari ini kita jalankan dengan berdoa, berpuasa dan memberi derma. Yang penting adalah bagaimana sikap batin kita pada saat menjalakan,” pesannya.

Ia menjelaskan mengapa umat menerima abu yakni untuk mengingatkan kata-kata Tuhan sendiri bahwa manusia berasal dari abu dan debu. Manusia akan kembali menjadi debu.

“Dalam masa pertobatan kita diingatkan sebagai ciptaan Tuhan yang sebenarnya berasal dari debu maka haruslah kita berani juga untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan dan tidak menyombongkan diri di hadapan sesama. Meski kita debu tetapi tetap dicintai-Nya,” pungkasnya. (Elfrida Sijabat)

Top